5 Rekomendasi Wisata Bandung Zaman Kolonial, Plesiran Orang Eropa dalam Lintasan Sejarah

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Potret Lembang tahun 1900-an. (Sumber: KITLV)
Potret Lembang tahun 1900-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Wilayah Bandung sejak dulu sudah dikenal sebagai kawasan wisata, dan konon sejak era kolonial orang-orang Belanda sudah mengibaratkannya sebagai ruang jeda dari kesibukan Batavia yang pengap. Mereka datang dengan kereta api yang meliuk di antara tebing dan jurang, seakan perjalanan itu sendiri semacam prosesi kecil menuju kesejukan. Bandung menyambut mereka dengan hawa yang lebih ramah, aroma kopi dari lereng Priangan, dan janji bahwa segala kesuntukan bisa ditanggalkan di tengah udara pegunungan yang tenang namun tidak pernah betul-betul hening.

Di Braga, toko-toko bergaya art deco berdiri rapat seperti deretan tamu undangan yang menjaga pesta tak berkesudahan. Hotel-hotel tua menawarkan kamar dengan balkon yang menghadap jalan, tempat para pelancong menyesap pagi sambil membiarkan matahari naik pelan. Dari Lembang, kabut turun seperti selimut yang tak ingin dibuka terlalu cepat. Semua itu membuat Bandung bukan hanya tujuan, melainkan semacam ruang karantina bagi ingatan: tempat orang mengumpulkan kembali diri mereka, sebelum kembali pulang membawa sedikit keteduhan yang diselipkan diam-diam di antara koper.

Pada dekade 1920-an, Bandung berada pada puncak kejayaannya sebagai kota peristirahatan Eropa di Hindia Belanda. Ketika panduan wisata Gids van Bandung en Omstreken terbit dari percetakan N.V. Vorkink pada tahun 1921, kota ini telah dikenal luas sebagai Parijs van Java. Panduan setebal 108 halaman yang disusun oleh S. A. Reitsma dan W. H. Hoogland itu menjadi acuan penting bagi para pekebun kaya yang ingin menikmati wisata akhir pekan mereka di kawasan pegunungan yang sejuk.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

Dalam edisi kedua yang terbit tahun 1927, cakupan panduan diperluas dan diberi judul Gids van Bandung en Midden-Priangan. Di dalamnya terdapat foto, peta lipat, tabel perjalanan, serta deskripsi lebih lengkap mengenai kawasan Bandung dan sekitarnya.

Dari sekian banyak lokasi yang dicatat dalam panduan kunjungan, ada beberapa di antaranya jadi tempat pelsir favorit.

1. Gunung Tangkubanparahu, Wisata Vulkanik Favorit Kolonial

Di antara semua tempat yang disebutkan dalam Gids van Bandoeng, Tangkuban Perahu adalah yang paling menonjol. Gunung berapi berbentuk perahu terbalik ini sudah menjadi tujuan wisata sejak awal abad ke-20, ketika para pendatang Eropa dan kalangan berada dari pribumi mulai datang untuk melihat kawahnya yang mengepulkan uap dan menghirup udara pegunungan yang jernih.

Salah satu daya tarik utama gunung ini adalah aksesnya yang mudah. Pada tahun 1928, organisasi Bandoeng Vooruit membangun jalan aspal yang menembus lereng gunung sehingga pengunjung dapat mencapai tepi Kawah Ratu dengan mobil. Hal ini menandai perubahan besar dalam kegiatan wisata di Hindia Belanda, sebab orang tidak lagi harus menempuh pendakian panjang untuk mencapai kawah.

Dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan, Tangkubanparahu digambarkan sebagai gunung berapi aktif yang merupakan bagian dari sebuah massa vulkanik yang luas. Dataran tinggi yang mencakup Cisarua, Lembang, dan Leuweung Datar dibatasi pegunungan di sisi selatan yang merupakan dinding kaldera purba. Di dalam kaldera raksasa itu kemudian tumbuh Burangrang, Tangkuban Perahu, dan Bukit Tunggul sebagai gunung berapi parasit.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Gunung Tangkubanparahu (Sumber: Gids van Bandung en Midden-Priangan)
Gunung Tangkubanparahu (Sumber: Gids van Bandung en Midden-Priangan)

Tangkubanparahu digambarkan memiliki bentuk kerucut paling utuh, sedangkan Burangrang telah terbelah oleh jurang dalam akibat erosi yang lebih panjang. Panduan tersebut juga mencatat legenda Sangkuriang, yang menceritakan bagaimana perahu raksasa yang terbalik kemudian menjelma menjadi gunung yang kini dikenal sebagai Tangkuban Perahu.

2. Jalan Braga, Champs-Élysées-nya Bandung

Jika ada satu jalan yang benar-benar mencerminkan julukan Parijs van Java, maka Jalan Braga adalah tempatnya. Panduan Gids mencatat bahwa kawasan ini menjadi pusat kehidupan sosial kota pada tahun 1920-an.

Pada awalnya jalan ini hanya dikenal sebagai Karreweg atau Pedatiweg, sebab hanya dapat dilalui kendaraan sederhana. Namun dalam beberapa dekade, Braga bertransformasi menjadi jalan promenade paling bergengsi di Hindia Belanda. Di sepanjang jalan yang lebarnya hanya sepuluh meter itu berdiri toko-toko perusahaan mobil Eropa seperti Chrysler, Plymouth, dan Renault. Toko buku kolonial, gerai jam tangan dan perhiasan, serta butik mewah menjadi ciri khas utama kawasan ini.

Societeit Concordia, klub eksklusif bagi warga Eropa yang dibangun tahun 1895, menjadi pusat kehidupan Braga. Para pekebun kaya yang mengagumi gaya hidup Prancis membangun gedung-gedung hiburan, butik, penjahit, hotel, kafe, dan restoran yang menyajikan menu khas Eropa. Toko Au Bon Marché yang didirikan tahun 1913 menjual pakaian impor terbaru dari Paris yang diminati pelanggan dari Bandung hingga Batavia.

Pada tahun 1906, pemerintah kota mulai mengaspal jalan dan menerapkan aturan arsitektur baru yang mendorong perkembangan bangunan Art Deco. Sekitar separuh bangunan bersejarah tersebut masih bertahan hingga sekarang. Braga menjadi tempat berkumpulnya para nyonya kolonial yang menikmati kopi sambil membicarakan mode terbaru, menjadikannya ruang publik yang penuh kemewahan dan simbol status sosial.

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga yang Konon Pernah Dijuluki Jalan Culik

Suasana di sekitar Sociëteit Concordia (Gedung Merdeka) tahun 1935. (Sumber: KITLV)
Suasana di sekitar Sociëteit Concordia (Gedung Merdeka) tahun 1935. (Sumber: KITLV)

3. Lembang, Tempat Peristirahatan Elit Eropa di Lereng Gunung

Dalam panduan Gids, Lembang digambarkan sebagai daerah peristirahatan yang sejuk di lereng Tangkuban Perahu. Perjalanan dari Bandung dapat ditempuh dengan mobil melalui Kininefabriek dan Cihampelas atau melalui jalan Lembang kedua. Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat melihat pemandangan indah ke arah dataran Bandung. Pada kilometer kelima belas, tibalah mereka di Lembang yang berada pada ketinggian sekitar empat ribu lima ratus kaki. Terdapat pula layanan mobil pemerintah yang berangkat tiga kali sehari dari Stasiun Bandung.

Lembang disebut sebagai desa wisata lengkap, dengan dua hotel terkenal yaitu Beau Séjour dan Grand Hotel Lembang. Wisatawan dapat menyewa kuda atau tandu untuk menjelajahi wilayah sekitarnya. Daerah ini juga terkenal sebagai penghasil susu, sayuran, buah, dan bunga, termasuk stroberi yang dikirim sampai Batavia.

Dekat jalan menuju kawah ganda Tangkuban Perahu terdapat makam Dr. Franz Junghuhn, seorang ahli botani ternama. Makam tersebut ditandai sebuah obelisk marmer dan dikelilingi berbagai jenis tanaman kina. Abu Dr. de Vrij ditempatkan di lokasi terpisah di belakangnya. Dari bangku di dekat obelisk, pengunjung dapat menikmati panorama Lembang yang menawan.

4. Curug Dago, Dicari Para Pelancong 1920-an

Dalam Gids, Curug Dago digambarkan sebagai tujuan pelesir pendek yang mudah dicapai dari kota. Untuk menuju air terjun ini, pengunjung dapat mengikuti jalan dari Jalan Merdeka menuju Dago. Setelah melewati percabangan menuju Technische Hoogeschool dan bangunan Huis Dago, pengunjung mengambil jalur kiri.

Jalan setapak menuju air terjun menurun cukup curam, melewati jembatan kecil dan bukit beralangalang. Suara air yang jatuh sudah terdengar dari kejauhan. Dari bagian atas, terlihat cekungan batu dalam tempat air menghantam dasar. Jika pengunjung menuruni jalur lebih jauh, mereka akan melihat aliran air lebar yang jatuh di antara liana dan pakis sebelum mengalir melewati batu-batu besar menuju Bandung.

Di bawah tebing terdapat batu dengan inisial Putra Mahkota Siam yang berkunjung ke lokasi ini pada tahun 1901. Penduduk setempat menghormati sekaligus berhati-hati terhadap air terjun ini, sebab beberapa kecelakaan pernah terjadi dan korban tidak ditemukan kembali karena aliran bawah tanah yang kuat.

Baca Juga: Sejarah Dago, Hutan Bandung yang Berubah jadi Kawasan Elit Belanda Era Kolonial

Curug Dago. (Sumber: Gids van Bandung en Midden-Priangan)
Curug Dago. (Sumber: Gids van Bandung en Midden-Priangan)

5. Curug Jompong, Bencana yang Berubah jadi Berkah

Dalam Gids, Curug Jompong disebut sebagai tempat peristirahatan populer bagi warga Belanda. Air terjun yang terletak di sekitar Jelegong, Kutawaringin ini merupakan bagian dari aliran hilir Sungai Citarum yang dijadikan lokasi wisata pada tahun 1930.

Keistimewaan Curug Jompong tidak hanya terletak pada keindahannya, tetapi juga nilai geologisnya. Dalam sebuah buku kebumian tahun 1936, ahli geologi Van Bemmelen mencatat bahwa pertemuan Sungai Cimahi dan Citarum berada di sekitar lokasi ini. Ia juga menemukan batu garnet berukuran kecil di daerah tersebut.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Curug Jompong sebagai lokasi wisata karena nilai ilmiah dan sejarah geologisnya yang penting. Air terjun ini merupakan bagian dari proses panjang pembentukan dataran Bandung. Bagi wisatawan kolonial yang menyukai petualangan, Curug Jompong menawarkan suasana alam yang memukau sekaligus kesempatan memahami sejarah bumi Priangan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)