5 Rekomendasi Wisata Bandung Zaman Kolonial, Plesiran Orang Eropa dalam Lintasan Sejarah

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 05 Des 2025, 17:43 WIB
Potret Lembang tahun 1900-an. (Sumber: KITLV)

Potret Lembang tahun 1900-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Wilayah Bandung sejak dulu sudah dikenal sebagai kawasan wisata, dan konon sejak era kolonial orang-orang Belanda sudah mengibaratkannya sebagai ruang jeda dari kesibukan Batavia yang pengap. Mereka datang dengan kereta api yang meliuk di antara tebing dan jurang, seakan perjalanan itu sendiri semacam prosesi kecil menuju kesejukan. Bandung menyambut mereka dengan hawa yang lebih ramah, aroma kopi dari lereng Priangan, dan janji bahwa segala kesuntukan bisa ditanggalkan di tengah udara pegunungan yang tenang namun tidak pernah betul-betul hening.

Di Braga, toko-toko bergaya art deco berdiri rapat seperti deretan tamu undangan yang menjaga pesta tak berkesudahan. Hotel-hotel tua menawarkan kamar dengan balkon yang menghadap jalan, tempat para pelancong menyesap pagi sambil membiarkan matahari naik pelan. Dari Lembang, kabut turun seperti selimut yang tak ingin dibuka terlalu cepat. Semua itu membuat Bandung bukan hanya tujuan, melainkan semacam ruang karantina bagi ingatan: tempat orang mengumpulkan kembali diri mereka, sebelum kembali pulang membawa sedikit keteduhan yang diselipkan diam-diam di antara koper.

Pada dekade 1920-an, Bandung berada pada puncak kejayaannya sebagai kota peristirahatan Eropa di Hindia Belanda. Ketika panduan wisata Gids van Bandung en Omstreken terbit dari percetakan N.V. Vorkink pada tahun 1921, kota ini telah dikenal luas sebagai Parijs van Java. Panduan setebal 108 halaman yang disusun oleh S. A. Reitsma dan W. H. Hoogland itu menjadi acuan penting bagi para pekebun kaya yang ingin menikmati wisata akhir pekan mereka di kawasan pegunungan yang sejuk.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

Dalam edisi kedua yang terbit tahun 1927, cakupan panduan diperluas dan diberi judul Gids van Bandung en Midden-Priangan. Di dalamnya terdapat foto, peta lipat, tabel perjalanan, serta deskripsi lebih lengkap mengenai kawasan Bandung dan sekitarnya.

Dari sekian banyak lokasi yang dicatat dalam panduan kunjungan, ada beberapa di antaranya jadi tempat pelsir favorit.

1. Gunung Tangkubanparahu, Wisata Vulkanik Favorit Kolonial

Di antara semua tempat yang disebutkan dalam Gids van Bandoeng, Tangkuban Perahu adalah yang paling menonjol. Gunung berapi berbentuk perahu terbalik ini sudah menjadi tujuan wisata sejak awal abad ke-20, ketika para pendatang Eropa dan kalangan berada dari pribumi mulai datang untuk melihat kawahnya yang mengepulkan uap dan menghirup udara pegunungan yang jernih.

Salah satu daya tarik utama gunung ini adalah aksesnya yang mudah. Pada tahun 1928, organisasi Bandoeng Vooruit membangun jalan aspal yang menembus lereng gunung sehingga pengunjung dapat mencapai tepi Kawah Ratu dengan mobil. Hal ini menandai perubahan besar dalam kegiatan wisata di Hindia Belanda, sebab orang tidak lagi harus menempuh pendakian panjang untuk mencapai kawah.

Dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan, Tangkubanparahu digambarkan sebagai gunung berapi aktif yang merupakan bagian dari sebuah massa vulkanik yang luas. Dataran tinggi yang mencakup Cisarua, Lembang, dan Leuweung Datar dibatasi pegunungan di sisi selatan yang merupakan dinding kaldera purba. Di dalam kaldera raksasa itu kemudian tumbuh Burangrang, Tangkuban Perahu, dan Bukit Tunggul sebagai gunung berapi parasit.

Baca Juga: Sejarah Lembang, Kawasan Wisata Primadona Bandung Sejak Zaman Kolonial

Gunung Tangkubanparahu (Sumber: Gids van Bandung en Midden-Priangan)
Gunung Tangkubanparahu (Sumber: Gids van Bandung en Midden-Priangan)

Tangkubanparahu digambarkan memiliki bentuk kerucut paling utuh, sedangkan Burangrang telah terbelah oleh jurang dalam akibat erosi yang lebih panjang. Panduan tersebut juga mencatat legenda Sangkuriang, yang menceritakan bagaimana perahu raksasa yang terbalik kemudian menjelma menjadi gunung yang kini dikenal sebagai Tangkuban Perahu.

2. Jalan Braga, Champs-Élysées-nya Bandung

Jika ada satu jalan yang benar-benar mencerminkan julukan Parijs van Java, maka Jalan Braga adalah tempatnya. Panduan Gids mencatat bahwa kawasan ini menjadi pusat kehidupan sosial kota pada tahun 1920-an.

Pada awalnya jalan ini hanya dikenal sebagai Karreweg atau Pedatiweg, sebab hanya dapat dilalui kendaraan sederhana. Namun dalam beberapa dekade, Braga bertransformasi menjadi jalan promenade paling bergengsi di Hindia Belanda. Di sepanjang jalan yang lebarnya hanya sepuluh meter itu berdiri toko-toko perusahaan mobil Eropa seperti Chrysler, Plymouth, dan Renault. Toko buku kolonial, gerai jam tangan dan perhiasan, serta butik mewah menjadi ciri khas utama kawasan ini.

Societeit Concordia, klub eksklusif bagi warga Eropa yang dibangun tahun 1895, menjadi pusat kehidupan Braga. Para pekebun kaya yang mengagumi gaya hidup Prancis membangun gedung-gedung hiburan, butik, penjahit, hotel, kafe, dan restoran yang menyajikan menu khas Eropa. Toko Au Bon Marché yang didirikan tahun 1913 menjual pakaian impor terbaru dari Paris yang diminati pelanggan dari Bandung hingga Batavia.

Pada tahun 1906, pemerintah kota mulai mengaspal jalan dan menerapkan aturan arsitektur baru yang mendorong perkembangan bangunan Art Deco. Sekitar separuh bangunan bersejarah tersebut masih bertahan hingga sekarang. Braga menjadi tempat berkumpulnya para nyonya kolonial yang menikmati kopi sambil membicarakan mode terbaru, menjadikannya ruang publik yang penuh kemewahan dan simbol status sosial.

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga yang Konon Pernah Dijuluki Jalan Culik

Suasana di sekitar Sociëteit Concordia (Gedung Merdeka) tahun 1935. (Sumber: KITLV)
Suasana di sekitar Sociëteit Concordia (Gedung Merdeka) tahun 1935. (Sumber: KITLV)

3. Lembang, Tempat Peristirahatan Elit Eropa di Lereng Gunung

Dalam panduan Gids, Lembang digambarkan sebagai daerah peristirahatan yang sejuk di lereng Tangkuban Perahu. Perjalanan dari Bandung dapat ditempuh dengan mobil melalui Kininefabriek dan Cihampelas atau melalui jalan Lembang kedua. Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat melihat pemandangan indah ke arah dataran Bandung. Pada kilometer kelima belas, tibalah mereka di Lembang yang berada pada ketinggian sekitar empat ribu lima ratus kaki. Terdapat pula layanan mobil pemerintah yang berangkat tiga kali sehari dari Stasiun Bandung.

Lembang disebut sebagai desa wisata lengkap, dengan dua hotel terkenal yaitu Beau Séjour dan Grand Hotel Lembang. Wisatawan dapat menyewa kuda atau tandu untuk menjelajahi wilayah sekitarnya. Daerah ini juga terkenal sebagai penghasil susu, sayuran, buah, dan bunga, termasuk stroberi yang dikirim sampai Batavia.

Dekat jalan menuju kawah ganda Tangkuban Perahu terdapat makam Dr. Franz Junghuhn, seorang ahli botani ternama. Makam tersebut ditandai sebuah obelisk marmer dan dikelilingi berbagai jenis tanaman kina. Abu Dr. de Vrij ditempatkan di lokasi terpisah di belakangnya. Dari bangku di dekat obelisk, pengunjung dapat menikmati panorama Lembang yang menawan.

4. Curug Dago, Dicari Para Pelancong 1920-an

Dalam Gids, Curug Dago digambarkan sebagai tujuan pelesir pendek yang mudah dicapai dari kota. Untuk menuju air terjun ini, pengunjung dapat mengikuti jalan dari Jalan Merdeka menuju Dago. Setelah melewati percabangan menuju Technische Hoogeschool dan bangunan Huis Dago, pengunjung mengambil jalur kiri.

Jalan setapak menuju air terjun menurun cukup curam, melewati jembatan kecil dan bukit beralangalang. Suara air yang jatuh sudah terdengar dari kejauhan. Dari bagian atas, terlihat cekungan batu dalam tempat air menghantam dasar. Jika pengunjung menuruni jalur lebih jauh, mereka akan melihat aliran air lebar yang jatuh di antara liana dan pakis sebelum mengalir melewati batu-batu besar menuju Bandung.

Di bawah tebing terdapat batu dengan inisial Putra Mahkota Siam yang berkunjung ke lokasi ini pada tahun 1901. Penduduk setempat menghormati sekaligus berhati-hati terhadap air terjun ini, sebab beberapa kecelakaan pernah terjadi dan korban tidak ditemukan kembali karena aliran bawah tanah yang kuat.

Baca Juga: Sejarah Dago, Hutan Bandung yang Berubah jadi Kawasan Elit Belanda Era Kolonial

Curug Dago. (Sumber: Gids van Bandung en Midden-Priangan)
Curug Dago. (Sumber: Gids van Bandung en Midden-Priangan)

5. Curug Jompong, Bencana yang Berubah jadi Berkah

Dalam Gids, Curug Jompong disebut sebagai tempat peristirahatan populer bagi warga Belanda. Air terjun yang terletak di sekitar Jelegong, Kutawaringin ini merupakan bagian dari aliran hilir Sungai Citarum yang dijadikan lokasi wisata pada tahun 1930.

Keistimewaan Curug Jompong tidak hanya terletak pada keindahannya, tetapi juga nilai geologisnya. Dalam sebuah buku kebumian tahun 1936, ahli geologi Van Bemmelen mencatat bahwa pertemuan Sungai Cimahi dan Citarum berada di sekitar lokasi ini. Ia juga menemukan batu garnet berukuran kecil di daerah tersebut.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Curug Jompong sebagai lokasi wisata karena nilai ilmiah dan sejarah geologisnya yang penting. Air terjun ini merupakan bagian dari proses panjang pembentukan dataran Bandung. Bagi wisatawan kolonial yang menyukai petualangan, Curug Jompong menawarkan suasana alam yang memukau sekaligus kesempatan memahami sejarah bumi Priangan.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)