Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Keramaian Jalan Raya Pos bagian timur di Bandung di era kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)
Keramaian Jalan Raya Pos bagian timur di Bandung di era kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Di awal abad ke-17, Bandung belum punya alun-alun atau Braga Street. Ia hanyalah bentangan rawa dan hutan di pedalaman Priangan, dikelilingi pegunungan yang menahan awan. Jalanan belum ada; untuk mencapai wilayah ini, orang harus menyusuri Sungai Citarum dengan perahu. Orang Sunda menyebut kawasan itu Tatar Ukur, tanah subur milik Dipati Ukur, bangsawan yang kelak dipenggal Belanda karena pemberontakan. Tak ada yang membayangkan, daerah yang kala itu hanya dihuni rumah-rumah panggung seadanya, akan menjelma kota besar yang disanjung dengan julukan Paris van Java.

Sejarah awal Bandung terekam dalam catatan VOC. Pada 1641, seorang Mardijker bernama Yulian de Silva menulis dalam Dagregister: “Aen een negorij genaemt Bandong, bestaende uijt 25 ‘a 30 huysen..…” yang berarti ada sebuah negeri bernama Bandong, terdiri dari 25 sampai 30 rumah. Jika setiap rumah dihuni empat jiwa, jumlah penduduknya tak lebih dari seratus dua puluhan orang Sunda. Fakta ini tercatat dalam Sejarah Kota Bandung dari “Bergdessa” (Desa Udik) Menjadi Bandung “Heurin Ku Tangtung” (Metropolitan) yang ditulis Nandang Rusnandar, peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. Menurutnya, dari sinilah cikal bakal Bandung bermula—sebuah kampung kecil yang kelak mendunia.

Dengan mengtip Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, disbtkan bahwa penamaan Bandung mulai disebut secara resmi dalam arsip Belanda sebagai Negorij Bandong atau West Oedjoeng Broeng. Namun bagi orang Sunda, kawasan ini tetap Tatar Ukur. Kala itu, Kompeni mengirim mata-mata dari Batavia untuk memantau wilayah ini. Bahkan, orang asing pertama yang mendaki Tangkubanparahu, Abraham van Riebeek, adalah bagian dari gelombang awal kedatangan orang Eropa ke pedalaman Priangan. Ia membawa benih kopi ke Bandung, tanaman yang kelak mengubah budaya masyarakat dan wajah kota ini.

Baca Juga: Jejak Sejarah Gempa Besar di Sesar Lembang, dari Zaman Es hingga Kerajaan Pajajaran

Paradise in Exile, Surga dalam Pembuangan

Bandung abad ke-18 bukan kota impian. Ia lebih mirip neraka hijau: hutan lebat, rawa-rawa, dan sisa danau purba. Orang Sunda punya istilah top maung top badak, siap dimakan harimau atau badak. Belanda pun menjadikan wilayah ini tempat pembuangan pegawai nakal.

Kisah “surga dalam pembuangan” dimulai tahun 1741, ketika Kopral Arie Top ditempatkan di Bandung. Setahun kemudian datang kakak beradik Ronde dan Jan Geysbergen serta seorang buangan dari Batavia. Mereka membuka hutan, membangun penggergajian, dan memulai geliat ekonomi. Di mata orang Eropa yang terpaksa tinggal di sini, Bandung terasa seperti kampung asing yang jauh dari Batavia—maka lahirlah julukan Paradise in Exile. Julukan ini ironis, mengingat akses ke Bandung kala itu hanya lewat Sungai Citarum. Bayangkan pegawai VOC di Batavia yang dihukum buang: mereka harus naik rakit berhari-hari, melewati hutan rimba, dan tiba di sebuah “sorga” yang sunyi dan berbahaya.

Perdagangan kopi membuat Bandung mulai dikenal. Van Riebeek, anak Gubernur Jenderal Joan van Riebeek, mendaki Gunung Papandayan dan Tangkubanparahu pada 1713. Ia meninggal dalam perjalanan pulang, tapi jasanya dikenang: dialah pembawa benih kopi ke Priangan. Kopi tumbuh subur, melahirkan budaya ngopi di kalangan masyarakat Sunda. Bahkan lahirlah lagu rakyat terkenal:

Dengkleung déngdék, buah kopi raranggeuyan, ingkeun anu déwék ulah pati diheureuyan.

“Dengkleung déngdék, buah kopi bertangkai-tangkai, biarkan! Dia itu milik saya, jangan sering diganggu.”

Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe menyebut lagu ini sindiran bagi para mandor kebun dan tuan Belanda yang suka mengganggu pemetik kopi perempuan. Dari sinilah kata ngopi tak hanya berarti minum kopi, tapi juga ajakan makan atau ngobrol santai. Sebuah tradisi yang kini hidup di kafe-kafe Bandung dengan latte art dan WiFi gratis.

Potret pribumi pekerja kopi di Jawa tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Potret pribumi pekerja kopi di Jawa tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

Baca Juga: Jejak Sejarah Freemason di Bandung, Loji Sint Jan yang Dilarang Soekarno

Pada 1786, jalur kuda mulai dibuka dari Batavia ke Cianjur dan Bandung. Jalur ini mempermudah pengangkutan kopi, menggantikan jalur Sungai Citarum. Meski demikian, Bandung tetap terpencil dan dianggap “tempat buangan.” Semua berubah ketika seorang Gubernur Jenderal bernama Herman Willem Daendels datang.

Daendels dan Kota Impian

Daendels adalah gubernur jenderal flamboyan yang terkenal dengan proyek jalan raya ambisiusnya: De Grote Postweg, jalan sepanjang 1.000 kilometer dari Anyer ke Panarukan. Jalan ini dibangun 1808-1811 untuk mempercepat komunikasi dan mobilisasi pasukan. Namun, jalur ini tak melewati pusat Kabupaten Bandung di Karapyak (Dayeuh Kolot).

Daendels tak suka kota yang tak ada di jalurnya. Pada 25 Mei 1810, ia mengeluarkan surat keputusan memerintahkan pemindahan ibu kota Bandung ke tepi jalan raya. Dalam suratnya, Daendels menulis:

“…pemindahan itu akan meningkatkan tanaman-tanaman, karena tanah di sekitar tempat yang diusulkan menjadi ibu kota itu sangat subur…”

Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829) melaksanakan perintah itu. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tepi Sungai Cikapundung, dekat jalur Jalan Raya Pos. Penentuan lokasi dilakukan dengan tatali karuhun atau kearifan Sunda: mencari tanah garuda ngupuk (tanah berbentuk burung garuda mengepak), menghadap timur laut, dekat sumber air. Menurut Nandang Rusnandar, tradisi memilih tanah seperti ini rasional. Dengan kemiringan ke arah timur menunjukkan bahwa sinar matahari ultraviolet akan lebih banyak diterima dan penghuni kampung ini akan lebih sehat.

Tanggal 25 September 1810, Bandung diresmikan jadi ibu kota Kabupaten Bandung. Dayeuh lama dijuluki Dayeuh Kolot. Saat meresmikan jembatan Cikapundung yang kini membelah Jalan Asia Afrika, Daendels menancapkan tongkatnya dan meminta Bandung dibangun jadi sebuah kota.

“Coba usahakan, bila saya datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!”

Di titik itu berdiri tugu kilometer nol Bandung. Dari perintah inilah Bandung mulai dibangun menjadi kota kolonial dengan alun-alun, pendopo, dan jalan raya.

Baca Juga: Jejak Bandung Kota Kreatif Berakar Sejak Zaman Kolonial

Dari Desa Udik ke Paris van Java

Bandung tumbuh pesat sepanjang abad ke-19. Jalan Raya Pos menjadi urat nadi perdagangan. Kota ini tak lagi sekadar tempat buangan pegawai nakal, melainkan pusat pemerintahan dan ekonomi. Lambat laun, orang Eropa mendirikan rumah-rumah mewah di sepanjang Jalan Braga.

Dalam risalahnya itu Nandang Rusnandar menulis transformasi Bandung dari desa udik menjadi kota metropolitan adalah perpaduan kolonialisme dan kearifan lokal. Penentuan lokasi kota dengan konsep tanah bahè ngètan membuktikan bahwa orang Sunda memahami aspek ekologi jauh sebelum perencana kota modern.

Kini, Bandung dikenal dengan sebutan Paris van Java. Namun, di balik jalan Braga yang fotogenik dan factory outlet yang ramai, kota ini punya sejarah getir: tempat buangan, tanah rawa, dan proyek kolonialisme. Bandung adalah kota yang dibangun dari visi seorang gubernur flamboyan dan kebijaksanaan seorang bupati Sunda.

Kalau kamu menikmati kopi di kafe hipster Bandung atau berfoto di Gedung Merdeka, ingatlah bahwa kota ini dulunya hanyalah rawa-rawa di pedalaman Priangan. Bandung adalah puzzle sejarah yang tak lengkap, tapi keindahannya tetap memikat.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)