Relevansi Tingkat Pengangguran, Pola Konsumsi, Limbah Makanan, dan Krisis Iklim

6 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Fakta Jawa Barat sebagai provinsi termiskin ke dua justru berbanding terbalik dengan pola konsumsi yang tinggi yang menghasilkan limbah terbanyak kedua setelah limbah styrofoam. (Sumber: Freepik)
Fakta Jawa Barat sebagai provinsi termiskin ke dua justru berbanding terbalik dengan pola konsumsi yang tinggi yang menghasilkan limbah terbanyak kedua setelah limbah styrofoam. (Sumber: Freepik)

Berdasarkan data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada September 2024 Jawa Barat termasuk peringkat kedua sebagai provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia. Dengan jumlah yang tercatat 3.67 juta warga Jabar yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat Darwis Sitorus menyatakan bahwa kondisi ekonomi makro yang membaik menjadi faktor penting dalam penurunan angka kemiskinan di Jabar.

Berdasarkan BPS Kota Bandung sebagai Ibu Kota Jawa Barat menduduki peringkat ke-16 dari jumlah kab/kota yang ada di Jawa Barat. Meski posisinya di tengah tapi tetap saja jumlah pengangguran di Kota Bandung turut menyumbang angka kemiskinan di Jawa Barat.

Dilansir dari kumparan.com bahwa daya beli masyarakat menjadi salah satu parameter yang bisa diperhitungkan dalam pertumbuhan ekonomi. Daya beli masyarakat yang rendah justru mempengaruhi kondisi pasar yang semakin lesu. Pergerakan roda perekonomian yang melambat akan menimbulkan inflansi.

Hal ini sejalan dengan kondisi pasar tradisional yang semakin lesu. Beberapa waktu yang lalu saat melintasi kawasan Pasar Baru Kota Bandung hampir tidak terlihat kehidupan di sana. Pasar yang dulunya dipenuhi dengan sejumlah warga yang sering berbelanja kini hampir hilang dari hingar-bingar tersebut. Sejumlah ruko bahkan sudah banyak yang tutup.

Tidak jauh dari Pasar Baru, Pasar ITC Kebon Kepala juga mengalami kondisi yang sama. Beberapa akun pedagang di pasar tersebut sering memberitakan informasi perihal kondisi pasar yang semakin lesu melalui media sosial. Mereka mengatakan bahwa hampir setiap hari pengunjung yang datang berjumlah sedikit bahkan sesekali tidak ada. Tak hanya itu bahkan sejumlah pedagang yang mencoba berjualan dengan cara live di tiktok juga tidak semudah itu menarik pelanggan.

Penjualan secara digital memang tidak bisa dihalangi karena perkembangan zaman sudah semakin maju. Hanya saja regulasi perihal penjualan di media digital perlu dibenahi agar tidak terjadi ketimpangan.

Pola Konsumsi Masyarakat Kota Bandung

Pada umumnya semakin tinggi kesejahteraan masyarakat suatu wilayah, pangsa pengeluaran pangan penduduknya semakin kecil, demikian sebaliknya (Deaton dan Muelbauer dalam Ilham Sinaga 2007,1).

Menurut data yang dihimpun oleh BPS konsumsi bukan makanan di Jawa Barat sebesar Rp.912.925 per kapita sebulan, yang mana lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi makanan sebesar Rp.803. 842 per kapita sebulan.

Pernyataan ini mungkin bisa saja selaras dengan tren antrean I-Phone 17 yang ada di Bandung. Mengingat Jawa Barat sebagai provinsi termiskin kedua ternyata berbanding terbalik dengan kondisi dan fakta di masyarakat yang justru memperlihatkan gaya hidup sosialita.

Antusiasme masyarakat dalam memberi barang mewah memang tidak lepas dari tren global dan tekanan status sosial di masyarakat. Berapa banyak dari masyarakat yang benar-benar memiliki "Uang Dingin" di luar kebutuhan kehidupan sehari-hari. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa sebagian besar masyarakat justru sudah menunjukkan perilaku konsumen yang konsumtif. Di mana sebetulnya barang mewah tersebut bukan kebutuhan mobilitas tapi keinginan untuk mendapat pengakuan dari sosial.

Akhirnya untuk memenuhi tren dan tekanan status sosial menjadikan masyarakat melakukan segala hal untuk memenuhi keinginannya salah satunya melalui judi online dan pinjaman online. Berapa banyak data dan berita yang menunjukkan sebagian masyarakat yang terjerat masalah dunia digital karena menggunakan uang untuk memenuhi gaya hidup konsumtif dan bukan untuk kebutuhan primer.

Berapa banyak karyawan yang dipecat oleh perusahaan karena ditemukan telah melakukan judol dan pinjol. Kondisi masyarakat seperti ini yang justru menjadi penyumbang angka pengangguran khususnya di Jawa Barat.

Baca Juga: Menyelamatkan Kebosanan Beragama dari Para Penganutnya

Pengelolaan sampah di pasar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengelolaan sampah di pasar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Meski pola pengeluaran makanan di Jawa Barat lebih kecil dari pengeluaran bukan makanan. Namun fakta di lapangan justru mengungkapkan bahwa sebagian besar limbah sisa makanan menjadi masalah terbesar di Kota Bandung.

Menurut Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas Lingkungan Hidup Jabar, Eko Damayanto mengungkapkan bahwa kondisi sampah di Jawa Barat tercatat 25.333 ton per hari dengan dominasi sisa sampah makanan sebanyak 40.60% disusul sampah plastik sebesar 19.69% dan sampah kertas 13.28%.

Data tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan. Pertama, di tengah angka pengangguran yang tinggi berbanding terbalik dengan fakta limbah sisa makanan yang justru berada di tingkat pertama.

Kedua, apakah limbah sisa makanan dihasilkan dari mereka yang hidup berkecukupan lalu menjadikan makanan sebagai komoditas yang layak untuk disia-siakan. Jika pertanyaan kedua jawabannya iya maka seharusnya perlu dilakukan pengorganisiran terhadap masyarakat kalangan berkecukupan untuk mengumpulkan sejumlah makanan yang masih dalam kondisi baik kemudian bisa berguna dengan cara membagikan kepada mereka yang membutuhkan. Dengan demikian maka limba sisa makanan akan jauh menyusut. Bahkan Aksata Pangan sudah melakukan kegiatan pengumpulan makanan layak melalui Bank Makanan.

Ketiga, apakah justru limbah sisa makanan dihasilkan dari mereka yang pengangguran tapi memiliki pola konsumsi yang konsumtif. Jika jawabannya iya maka fakta ini sejalan dengan angka pengangguran di masyarakat yang lebih mementingkan gaya hidup konsumtif dibandingkan dengan kebutuhan primer. Bahkan kondisi ini tidak hanya membuat masyarakat berjudi dan berhutang tapi juga menjadi penyumbang limbah makanan yang dianggap hanya komoditas bukan sesuatu yang seharusnya disyukuri.

Distraksi barang mewah tersebut yang membuat masyarakat tidak lagi menghargai makanan sebagai sesuatu yang penting. Misalnya melakukan kegiatan makan sambil scroll media sosial yang menghilangkan meaningfull dalam prosesnya.

Krisis Iklim dari Limbah Sisa Makanan

Berdasarkan penelitian bahwa limbah sisa makanan bisa menyumbang 8-10% kerusakan alam dan perubahan iklim. Pernyataan ini selaras dengan pernyataan Karina Nursyafira sebagai Chief Resources Development Aksata Pangan.

Berdasarkan angka FAU, setelah dilakukan penelitian bahwa 1/3 makanan yang diproduksi atau dikonsumsi itu hilang atau terbuang disebut Food loss and waste.  Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh WRI pada waktu itu dinyatakan bahwa 8% dari emisi rumah kaca dihasilkan oleh sampah makanan. Jika 8% itu dianggap sebagai sebuah negara maka dia dianggap akan melewati Tiongkok dan Amerika. Jadi emisi rumah kaca itu memiliki gas yang bernama metana. Gas ini merupakan yang paling dahsyat karena dia 25-80 x lebih besar bahayanya daripada Co2

Fenomena ini sudah terbukti dengan kejadian yang pernah menimpa TPA Leuwi Gajah pada tahun 2005 yang meledak akibat gas metana yang disebabkan oleh limbah sisa makanan. Tentu masalah ini bukan hanya krusial bagi individu tapi juga untuk bumi yang semakin menua.

Meski imbauan terhadap pemilihan sampah organik dan anorganik sudah sering dilakukan. Fakta di lapangan mengungkapkan bahwa masih ada mis persepsi yang terjadi antara masyarakat dengan petugas. Sebagian masyarakat yang sudah memisahkan sampah justru tidak sejalan dengan petugas yang kemudian tetap menyatukan kedua jenis sampah tersebut.

Hal ini yang justru membuat masyarakat jadi enggan dan malas untuk memisahkan sampah karena dianggap sia-sia. Kondisi ini diperparah dengan sebagian masyarakat lain yang justru tidak memiliki kesadaran bahwa pemilihan jenis sampah bisa berdampak terhadap lingkungan.

Indonesia sendiri menjadi negara peringkat ke 5 penghasil sampah makanan di dunia dan peringkat 1 di ASEAN. Berdasarkan kajian dari BAPERNAS, Indonesia bisa menghasilkan 23-48 juta ton/ tahun atau 115-180 kg/kapita/tahun yang tentu memberi efek yang tidak baik terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi. Hal ini menjadi ironi ketika Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam tapi justru ada ketimpangan terkait makanan tersebut bagi masyarakat yang membutuhkan.

Karena semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah maka pangsa pengeluran pangan di masyarakat semakin kecil. Sementara fakta di Jawa Barat khususnya di Kota Bandung tingkat pengangguran yang tinggi tidak sebanding dengan pola konsumi pangan yang besar di masyarakat. Dimana ditandai dengan limbah sisa makanan yang semakin tinggi.

Kemudian sisa limbah makanan ini akan menjadi penyumbang krisis iklim tak hanya untuk Indonesia tapi untuk dunia. Itu kenapa kemungkinan terbesar Kota Bandung tidak terpilih sebagai perwakilan kota paling berkelanjutan 2025 karena berbagai macam faktor tersebut. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)