Hikayat Paseh Bandung, Jejak Priangan Lama yang Diam-diam Punya Sejarah Panjang

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Desa Drawati di Kecamatan Paseh. (Sumber: YouTube Desa Drawati)
Desa Drawati di Kecamatan Paseh. (Sumber: YouTube Desa Drawati)

AYOBANDUNG.ID - Orang sering mengenal Paseh hanya sebagai kawasan di Bandung Timur yang dipenuhi pabrik tekstil. Padahal, sebelum suara mesin pemintal benang mengisi udara, wilayah ini lebih dulu mengalir sebagai bagian penting Priangan lama. Paseh pernah menjadi lintasan pelancong kolonial, tanah subur incaran Preanger Planters, dan ruang hidup desa-desa Sunda yang tumbuh mengikuti aliran sungai.

Pada masa Hindia Belanda, pemerintah kolonial memandang wilayah Priangan sebagai mesin uang yang tidak boleh macet. Tanahnya subur, musimnya ramah, dan airnya berlimpah. Tak heran banyak perkebunan teh, kopi, dan kina bermunculan.

Di tengah geliat itu, Paseh ikut kebagian perhatian. Desa Loa di Kecamatan Paseh disebut terbentuk sejak zaman kolonial Belanda sekitar tahun 1890-an, menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19 kawasan Paseh sudah mulai berkembang sebagai wilayah pemukiman yang terorganisir. Nama-nama desa di Paseh seperti Cipaku, Cipedes, Cigentur, dan lainnya mencerminkan tradisi penamaan Sunda yang khas, dengan penggunaan kata "Ci" yang berarti air atau sungai dalam bahasa Sunda, menunjukkan bahwa kawasan ini kaya akan sumber air.

Baca Juga: Hikayat Banjaran, dari Serambi Priangan ke Simpang Tiga Zaman Bandung

Berdasarkan cerita orang tua-tua, Desa Cipedes telah terbentuk sejak zaman penjajahan Belanda, bahkan beberapa puluh tahun sebelum 1900. Hal ini mengindikasikan bahwa struktur pemerintahan desa di Paseh sudah mulai terbentuk pada paruh kedua abad ke-19, sejalan dengan sistem administrasi kolonial yang diterapkan pemerintah Belanda di Jawa.

Kehidupan desa pada abad ke-19 terus berkembang seiring struktur administratif kolonial. Penduduk dicatat, batas wilayah ditetapkan, dan pusat ekonomi baru bermunculan. Bahkan organisasi Bandoeng Vooruit ikut membangun jalan menuju Kawah Kamojan, menjadikan Paseh bagian dari rencana pengembangan pariwisata kolonial.

Paseh dalam Catatan Wisata Kolonial

Gambaran paling hidup tentang Paseh pada awal abad ke-20 bisa ditemukan dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan tulisan Steven Anne Reitsma tahun 1927. Panduan itu memberikan cerita perjalanan yang begitu rinci, sampai-sampai pembacanya seolah ikut berada di dalam kereta kuda yang berangkat dari Bandung pada pukul setengah enam pagi.

Rutenya dimulai dari sisi barat lapangan pacuan lalu menuju Bandjaran. Udara masih dingin sehingga Reitsma menyarankan membawa mantel atau selimut. Perjalanan kemudian melewati Sangkoeriang, Dayeuhkolot dengan pusat tenaga uapnya, hingga jembatan di atas Citarum. Setelah itu, jalur membelok menuju Ciparay dan Majalaya, mengikuti rel trem yang menembus kawasan makmur dengan sumber air berlimpah.

Baca Juga: Hikayat Cileunyi, Kampung Sunyi yang jadi Kawasan Sibuk di Bandung Timur

Dari Majalaya, pelancong diarahkan ke jalan pegunungan yang lebih sempit. Reitsma menyebut bahwa perjalanan menuju Paseh sangat indah. Sungai Citarum terlihat berbuih di kejauhan, jembatan besar dan aquaduct berdiri megah sebagai bukti kerja kolonial, dan instalasi irigasi Tjikaso menjaga aliran air tetap stabil. Sekitar pukul tujuh pagi, rombongan sudah sampai di pasanggrahan Paseh.

Setiba di sana, panduan itu menyarankan pelancong segera memesan makan siang kepada mandoer. Bila butuh kuda atau tandu, bantuan bisa diminta kepada camat. Dari Paseh yang berada sekitar 3000 kaki di atas permukaan laut, jalan menanjak menuju Gunung Guntur. Pemandangannya terbuka lebar: hamparan Citarum, Cikudapateuh, Ujungberung, hingga Cicalengka terlihat jelas. Setelah mendaki cukup tinggi, pelancong memasuki bekas perkebunan kopi yang sudah kembali menjadi rimbunan vegetasi alami. Reitsma juga mengingatkan bahwa siapa pun yang ingin bermalam di Paseh harus mengajukan permohonan ke Bupati Bandung terlebih dahulu.

Baca Juga: Sejarah Soreang dari Tapak Pengelana hingga jadi Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung

Desa Drawati di Kecamatan Paseh. (Sumber: YouTube Desa Drawati)
Desa Drawati di Kecamatan Paseh. (Sumber: YouTube Desa Drawati)

Jadi Sentra Tekstil

Paseh mengalami perubahan besar pada abad ke-20 ketika tekstil mulai menjadi tulang punggung ekonomi Bandung Raya. Perkembangan ini tidak lepas dari berdirinya Textiel Inrichting Bandoeng (TIB) pada 1922. Lembaga itu dibangun untuk memodernisasi industri tekstil rakyat melalui pelatihan dan penelitian.

Empat perempuan dari Majalaya kemudian dikirim untuk mempelajari teknik ATBM Dalenoord pada 1928. Keahlian mereka menyebar seperti riak air, membangkitkan sentra tenun rakyat yang kemudian membesar menjadi industri tekstil Priangan.

Pada 1970 sampai 1990-an, industri tekstil Indonesia memasuki masa keemasan. Paseh ikut merasakan lonjakannya. Pabrik-pabrik muncul, lapangan kerja tumbuh, dan masyarakat yang sebelumnya agraris beralih ke dunia industri. Struktur sosial berubah, cara hidup berubah, dan ritme desa pun mulai mengikuti shift kerja.

Walau industri berkembang, identitas budaya Sunda masih kuat. Di Cipaku terdapat makam keramat Panjalu, Buyut Narsipan, dan Gajah Lumayung yang terus diziarahi. Di Kampung Pabeyan, kerajinan teko tanah liat masih bertahan meski jumlah pengrajinnya menyusut. Tradisi itu menjadi pengingat bahwa Paseh tidak sepenuhnya larut dalam modernisasi.

Baca Juga: Bandung Teknopolis di Gedebage, Proyek Gagal yang Tinggal Sejarah

Kini Paseh dikenal sebagai kawasan industri, tetapi riwayatnya jauh lebih panjang daripada sekadar deretan pabrik. Dari tanah subur Priangan, rute wisata kolonial ala Reitsma, sampai modernisasi tekstil, Paseh membentuk dirinya melalui banyak zaman. Setiap lapisan sejarahnya masih bisa ditemukan bagi siapa pun yang mau melihatnya dengan lebih perlahan, mengikuti alur cerita Citarum yang tak pernah berhenti mengalir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)