Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Bandung Teknopolis di Gedebage, Proyek Gagal yang Tinggal Sejarah

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 09 Sep 2025, 15:19 WIB
Blueprint peta Bandung Teknopolis di Gedebage yang gagal dibangun.

Blueprint peta Bandung Teknopolis di Gedebage yang gagal dibangun.

AYOBANDUNG.ID - Gedebage pada mulanya hanyalah hamparan sawah di timur Bandung. Orang-orang di sana hidup sebagai petani, lumbung pangan kota. Kawasan ini adalah titik terendah di cekungan Bandung, warisan Danau Purba yang kering ribuan tahun lalu. Maka tak heran jika Gedebage selalu akrab dengan genangan air.

Di awal 2000-an, wali kota Bandung, Dada Rosada, punya ide menjadikan Gedebage sebagai Kawasan Pertumbuhan Primer. Biar Bandung tak hanya padat di tengah kota. Maka lahirlah proyek mercusuar: Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Stadionnya memang jadi, megah pula, tapi sayang kasus korupsi ikut meramaikan. Stadionnya berdiri, tapi meninggalkan bau tak sedap di buku sejarah hukum kota.

Sepeninggal Dada, datang Ridwan Kamil dengan ide lebih futuristik. Ia melihat Gedebage tak hanya cocok untuk stadion bola, tapi juga untuk proyek ambisius bernama Bandung Teknopolis. Inspirasinya? Tentu saja Silicon Valley di Amerika. Sebagian orang Bandung kan memang suka membandingkan dirinya dengan luar negeri.

Baca Juga: Sejarah Stadion GBLA, Panggung Kontroversi yang Hampir Dinamai Gelora Dada Rosada

Ridwan Kamil menyebut Teknopolis sebagai “penyempurnaan” dari konsep lama. Katanya, Bandung butuh pusat baru, kalau tidak, kota bisa mengalami “kiamat planologis”. Di atas lahan 17 hektare yang sebagian besar dikuasai Summarecon, ditambah kontribusi Pemprov Jabar, Pertamina, dan Polda, ia ingin membangun kota kecil berbasis teknologi informasi.

Kantor Pemkot mau dipindah ke sana, ribuan lapangan kerja dijanjikan, investor asing sudah diiming-imingi. Tahun 2015, ia bahkan sempat menggelar dialog dengan warga Gedebage, menegaskan bahwa Teknopolis bukan sekadar perumahan elite. Warga, entah sungguh percaya atau sekadar sungkan, menyatakan dukungan.

Perumahan Summarecon di kawasan Gedebage.
Perumahan Summarecon di kawasan Gedebage.

Semua itu terdengar seperti dongeng indah. Sayang, dongengnya tamat sebelum sempat jadi buku.

Teknopolis yang Tinggal di Brosur Sejarah

Begitu Ridwan Kamil naik jadi gubernur pada 2018, Teknopolis ikut-ikutan menguap. Tak ada wali kota setelahnya yang benar-benar peduli melanjutkan. Yang berdiri di Gedebage malah Masjid Al Jabbar yang megah, kompleks Summarecon dengan rumah berderet rapi, jalur kereta cepat, dan exit tol KM 149. Semuanya membuat Gedebage ramai, tapi tidak ada hubungannya dengan pusat teknologi informasi.

Baca Juga: Senjakala Sepeda Boseh Bandung: Ramai Saat Weekend, Sepi Saat Weekday

Kenapa Teknopolis gagal? Jawabannya sebenarnya tidak perlu rumit. Proyek ini lahir dari kepala Ridwan Kamil, dan ketika ia sudah tak lagi duduk di kursi wali kota, mimpi itu ikut pergi bersamanya. Seperti Stadion GBLA di masa Dada Rosada, Teknopolis pun ikut bernasib malang: ditinggal tuannya, lalu merana.

Gedebage sejak awal juga bukanlah tanah yang ramah untuk ambisi sebesar itu. Silicon Valley di California berdiri di lembah dengan udara segar dan bukit-bukit hijau. Gedebage justru kebalikannya: sebuah baskom raksasa peninggalan Danau Bandung Purba. Setiap musim hujan, daerah ini bisa berubah jadi kolam renang gratis.

Sawah yang dulu setia menyerap air pelan-pelan digusur menjadi perumahan. Dalam tujuh tahun, dari 2014 sampai 2021, luas sawah di sana menyusut lebih dari seratus hektare. Drainase kecil dan dangkal, pembangunan yang terburu-buru, semuanya membuat banjir makin akrab dengan warga.

Dan tentu saja, mimpi besar selalu butuh biaya besar. Teknopolis dihitung perlu lima triliun rupiah dan waktu sepuluh tahun. Angka yang bikin banyak pejabat garuk kepala. Pemerintah jelas tak punya kantong sebesar itu, sementara investor lebih doyan membangun cluster rumah dengan nama keren ketimbang membangun ekosistem riset dan teknologi. Maka lahirlah Summarecon Valley, bukan Silicon Valley.

Begitulah nasib Teknopolis: proyek yang lahir dengan gegap gempita, dijual dengan janji manis, tapi kandas di rawa-rawa Gedebage sebelum sempat jadi nyata.

Kini Gedebage dikenal bukan karena kecanggihan teknologi, melainkan karena banjir musiman. Pada 2016 dan 2020, banjir besar menenggelamkan Rancabolang, Cimincrang, dan sekitarnya. Air bisa setinggi pinggang orang dewasa, bertahan sampai seminggu. Kalau di California startup bisa tenggelam karena gagal cari investor, di Gedebage rumah-rumah tenggelam karena hujan deras.

Baca Juga: Ujungberung dan Gedebage Langganan Banjir, Seberapa Berdampak Kolam Retensi?

Bandung Teknopolis akhirnya jadi contoh klasik utopia ala pejabat. Rencana besar untuk bikin kota teknologi masa depan kandas oleh banjir, gonta-ganti pemimpin, dan lebih kuatnya kepentingan developer. Semua yang tersisa hanyalah brosur cantik dan pidato manis.

Sekarang, kalau orang menyebut Gedebage, yang terbayang bukanlah pusat teknologi, melainkan pasar cimol, cluster perumahan, tol, masjid megah, kereta cepat, dan tentu saja banjir. Teknopolis tinggal jadi catatan kecil di dokumen RTRW Kota Bandung.

Barangkali suatu saat nanti, proyek ini akan bangkit lagi dengan nama baru, menunggu pemimpin yang doyan proyek gimmick. Di negeri ini, proyek besar memang sering berganti nama sesuai siapa yang berkuasa. Tapi untuk sekarang, Bandung Teknopolis pantas masuk museum proyek gagal, sejajar dengan monorel yang tak pernah jalan.

Bedanya, kalau monorel hanya berhenti di tiang pancang, Teknopolis sudah lebih dulu tenggelam di rawa-rawa Gedebage.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)