Bandung Teknopolis di Gedebage, Proyek Gagal yang Tinggal Sejarah

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Blueprint peta Bandung Teknopolis di Gedebage yang gagal dibangun.
Blueprint peta Bandung Teknopolis di Gedebage yang gagal dibangun.

AYOBANDUNG.ID - Gedebage pada mulanya hanyalah hamparan sawah di timur Bandung. Orang-orang di sana hidup sebagai petani, lumbung pangan kota. Kawasan ini adalah titik terendah di cekungan Bandung, warisan Danau Purba yang kering ribuan tahun lalu. Maka tak heran jika Gedebage selalu akrab dengan genangan air.

Di awal 2000-an, wali kota Bandung, Dada Rosada, punya ide menjadikan Gedebage sebagai Kawasan Pertumbuhan Primer. Biar Bandung tak hanya padat di tengah kota. Maka lahirlah proyek mercusuar: Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Stadionnya memang jadi, megah pula, tapi sayang kasus korupsi ikut meramaikan. Stadionnya berdiri, tapi meninggalkan bau tak sedap di buku sejarah hukum kota.

Sepeninggal Dada, datang Ridwan Kamil dengan ide lebih futuristik. Ia melihat Gedebage tak hanya cocok untuk stadion bola, tapi juga untuk proyek ambisius bernama Bandung Teknopolis. Inspirasinya? Tentu saja Silicon Valley di Amerika. Sebagian orang Bandung kan memang suka membandingkan dirinya dengan luar negeri.

Baca Juga: Sejarah Stadion GBLA, Panggung Kontroversi yang Hampir Dinamai Gelora Dada Rosada

Ridwan Kamil menyebut Teknopolis sebagai “penyempurnaan” dari konsep lama. Katanya, Bandung butuh pusat baru, kalau tidak, kota bisa mengalami “kiamat planologis”. Di atas lahan 17 hektare yang sebagian besar dikuasai Summarecon, ditambah kontribusi Pemprov Jabar, Pertamina, dan Polda, ia ingin membangun kota kecil berbasis teknologi informasi.

Kantor Pemkot mau dipindah ke sana, ribuan lapangan kerja dijanjikan, investor asing sudah diiming-imingi. Tahun 2015, ia bahkan sempat menggelar dialog dengan warga Gedebage, menegaskan bahwa Teknopolis bukan sekadar perumahan elite. Warga, entah sungguh percaya atau sekadar sungkan, menyatakan dukungan.

Perumahan Summarecon di kawasan Gedebage.
Perumahan Summarecon di kawasan Gedebage.

Semua itu terdengar seperti dongeng indah. Sayang, dongengnya tamat sebelum sempat jadi buku.

Teknopolis yang Tinggal di Brosur Sejarah

Begitu Ridwan Kamil naik jadi gubernur pada 2018, Teknopolis ikut-ikutan menguap. Tak ada wali kota setelahnya yang benar-benar peduli melanjutkan. Yang berdiri di Gedebage malah Masjid Al Jabbar yang megah, kompleks Summarecon dengan rumah berderet rapi, jalur kereta cepat, dan exit tol KM 149. Semuanya membuat Gedebage ramai, tapi tidak ada hubungannya dengan pusat teknologi informasi.

Baca Juga: Senjakala Sepeda Boseh Bandung: Ramai Saat Weekend, Sepi Saat Weekday

Kenapa Teknopolis gagal? Jawabannya sebenarnya tidak perlu rumit. Proyek ini lahir dari kepala Ridwan Kamil, dan ketika ia sudah tak lagi duduk di kursi wali kota, mimpi itu ikut pergi bersamanya. Seperti Stadion GBLA di masa Dada Rosada, Teknopolis pun ikut bernasib malang: ditinggal tuannya, lalu merana.

Gedebage sejak awal juga bukanlah tanah yang ramah untuk ambisi sebesar itu. Silicon Valley di California berdiri di lembah dengan udara segar dan bukit-bukit hijau. Gedebage justru kebalikannya: sebuah baskom raksasa peninggalan Danau Bandung Purba. Setiap musim hujan, daerah ini bisa berubah jadi kolam renang gratis.

Sawah yang dulu setia menyerap air pelan-pelan digusur menjadi perumahan. Dalam tujuh tahun, dari 2014 sampai 2021, luas sawah di sana menyusut lebih dari seratus hektare. Drainase kecil dan dangkal, pembangunan yang terburu-buru, semuanya membuat banjir makin akrab dengan warga.

Dan tentu saja, mimpi besar selalu butuh biaya besar. Teknopolis dihitung perlu lima triliun rupiah dan waktu sepuluh tahun. Angka yang bikin banyak pejabat garuk kepala. Pemerintah jelas tak punya kantong sebesar itu, sementara investor lebih doyan membangun cluster rumah dengan nama keren ketimbang membangun ekosistem riset dan teknologi. Maka lahirlah Summarecon Valley, bukan Silicon Valley.

Begitulah nasib Teknopolis: proyek yang lahir dengan gegap gempita, dijual dengan janji manis, tapi kandas di rawa-rawa Gedebage sebelum sempat jadi nyata.

Kini Gedebage dikenal bukan karena kecanggihan teknologi, melainkan karena banjir musiman. Pada 2016 dan 2020, banjir besar menenggelamkan Rancabolang, Cimincrang, dan sekitarnya. Air bisa setinggi pinggang orang dewasa, bertahan sampai seminggu. Kalau di California startup bisa tenggelam karena gagal cari investor, di Gedebage rumah-rumah tenggelam karena hujan deras.

Baca Juga: Ujungberung dan Gedebage Langganan Banjir, Seberapa Berdampak Kolam Retensi?

Bandung Teknopolis akhirnya jadi contoh klasik utopia ala pejabat. Rencana besar untuk bikin kota teknologi masa depan kandas oleh banjir, gonta-ganti pemimpin, dan lebih kuatnya kepentingan developer. Semua yang tersisa hanyalah brosur cantik dan pidato manis.

Sekarang, kalau orang menyebut Gedebage, yang terbayang bukanlah pusat teknologi, melainkan pasar cimol, cluster perumahan, tol, masjid megah, kereta cepat, dan tentu saja banjir. Teknopolis tinggal jadi catatan kecil di dokumen RTRW Kota Bandung.

Barangkali suatu saat nanti, proyek ini akan bangkit lagi dengan nama baru, menunggu pemimpin yang doyan proyek gimmick. Di negeri ini, proyek besar memang sering berganti nama sesuai siapa yang berkuasa. Tapi untuk sekarang, Bandung Teknopolis pantas masuk museum proyek gagal, sejajar dengan monorel yang tak pernah jalan.

Bedanya, kalau monorel hanya berhenti di tiang pancang, Teknopolis sudah lebih dulu tenggelam di rawa-rawa Gedebage.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)