Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Surat Cinta untuk Bandung

Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Rabu 03 Des 2025, 08:59 WIB
Foto rel kereta api di stasiun Kiaracondong. (Foto: Trisno Yuwono)

Foto rel kereta api di stasiun Kiaracondong. (Foto: Trisno Yuwono)

Sudah sepuluh bulan Muhammad Farhan dan Erwin Satya Putra memimpin Kota Bandung. Sebuah periode yang sebenarnya masih sangat awal, namun cukup untuk memberi gambaran tentang arah kota ke depan.

Bandung hari ini berada di persimpangan: antara peluang untuk berbenah atau kembali terseret dalam pola lama yang membuat kota ini stagnan sejak satu dekade terakhir.

Di lapangan, warga merasakan banyak hal simultan: antusiasme perubahan, frustrasi pada layanan dasar, dan kegamangan karena arah kebijakan belum sepenuhnya jelas. Pada momen penutup tahun ini.

Arah Kebijakan yang Belum Nyata Terasa

Sampai hari ini, warga masih bertanya: apa sebenarnya prioritas pemerintahan Farhan–Erwin? Narasi besar mengenai Bandung Kota Harmoni, kota yang aman dan nyaman, atau kota ramah keluarga memang sudah berulang kali disampaikan. Namun implementasi di lapangan masih tampak sporadis.

Beberapa program unggulan mulai bergerak—seperti Bandung Bersih 2028, penataan layanan kesehatan, restrukturisasi BUMD, dan dorongan digitalisasi layanan. Tetapi tanpa peta jalan yang terukur, langkah-langkah tersebut sulit dibaca sebagai strategi jangka panjang. Kota terasa berjalan dari satu isu ke isu lain, tanpa orkestrasi yang solid.

Pada akhirnya, warga tidak membutuhkan jargon. Yang dibutuhkan adalah arah yang konsisten dan dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari: transportasi yang lebih manusiawi, ruang publik yang terawat, pelayanan birokrasi yang rapi, serta kepastian tata ruang yang tidak berubah mengikuti kepentingan kelompok tertentu.

Bersihkan Birokrasi dari Praktik Mafia

Satu hal yang nyaris disepakati warga adalah ini: Bandung tidak akan berubah jika birokrasi tidak dibersihkan. Bukan rahasia lagi bahwa praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme telah berurat-berakar di tubuh Pemkot sejak lama. Banyak kebijakan yang tersangkut dalam permainan perizinan, pengadaan, hingga penataan aset.

Farhan dan Erwin sebenarnya mewarisi masalah struktural berat-dan tugas paling mendasar seharusnya dimulai dari sini. Tanpa pembersihan menyeluruh, program unggulan apa pun akan pincang. Anggaran tak akan tepat sasaran, implementasi kacau, dan ruang publik terus dirampas oleh kepentingan mafia perizinan dan tata ruang.

Kalau pemerintah kota ingin dikenang, inilah tempat memulainya: memulihkan integritas birokrasi.

Warga melintas di dekat bentangan spanduk perlawanan warga Dago Elos di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LL. RE. Martadinata, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Warga melintas di dekat bentangan spanduk perlawanan warga Dago Elos di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LL. RE. Martadinata, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Di tengah hiruk-pikuk administrasi, isu ekologis masih diperlakukan sekunder, padahal Bandung sedang krisis. Setiap tahun banjir semakin meluas, kualitas udara memburuk, alih fungsi lahan berjalan lebih cepat dari revisi kebijakan, dan kapasitas lingkungan menurun drastis.

Perlindungan DAS masih parsial. Pengendalian pembangunan vertikal dan komersial tidak menunjukkan rem yang jelas. Kampung-kampung terhimpit, sementara ruang hijau publik terus tergerus. Ini bukan lagi sekadar masalah penataan ruang—ini ancaman eksistensial bagi Bandung sebagai kota yang secara ekologis rapuh.

Krisis ekologis hanya bisa dihadapi jika pemerintah kota berani mengambil posisi yang jelas: menolak pembangunan yang destruktif, memperkuat kapasitas warga dalam menjaga lingkungan, serta mengembalikan ruang hidup Bandung pada prinsip daya dukung - bukan pada prinsip keuntungan.

Seni dan Budaya yang Direduksi Menjadi Panggung Selebritas

Bandung adalah kota kreatif bukan karena kampanye, tetapi karena roh kebudayaannya. Sayangnya, cara pandang pemerintah terhadap seni dan budaya masih cenderung bersifat selebritisasi: festival diadakan, panggung didirikan, tetapi ruang tumbuhnya seni—yang lahir dari komunitas, keheningan, keberanian bereksperimen—justru kurang terperhatikan.

Program kebudayaan lebih sering diarahkan pada event, bukan ekosistem. Bandung membutuhkan ruang alternatif, sanggar kecil, dan komunitas yang tumbuh natural—bukan sekadar kurasi yang mengejar citra kota. Di sinilah jarak antara pemerintah dan kultur Bandung tampak begitu lebar: kreativitas bukan sesuatu yang bisa diinstruksikan; ia harus dipersubur, bukan dipoles.

Baca Juga: Seakan Tidak Ada Habisnya, Juru Parkir Liar makin Bertambah di Beberapa Kawasan Bandung

Pada akhirnya, kota tidak hanya ditentukan oleh wali kota dan wakilnya. Kota Bandung dibentuk oleh warga, oleh napas kolektifnya, oleh cara kita menjaga ruang bersama. Melalui Catatan Warga, kita belajar bahwa kritik tidak lahir dari kebencian, tetapi dari harapan agar Bandung bisa bergerak ke arah yang lebih sehat dan adil.

Kita ingin pemerintah kota yang bekerja jujur, birokrasi yang bersih, arah kebijakan yang jelas, dan ruang hidup yang dipulihkan. Kita ingin seni budaya tumbuh dari akar, bukan dari panggung semata. Kita ingin Bandung yang bisa kita banggakan tanpa harus menutup mata dari masalahnya.

Sepuluh bulan pertama adalah cermin awal - belum terlambat untuk berbenah. Tetapi waktu tidak menunggu. Bandung membutuhkan langkah yang lebih tenang, lebih terukur, dan lebih berani.

Karena kota ini terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan tanpa arah. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)