Surat Cinta untuk Bandung

3 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Foto rel kereta api di stasiun Kiaracondong. (Foto: Trisno Yuwono)
Foto rel kereta api di stasiun Kiaracondong. (Foto: Trisno Yuwono)

Sudah sepuluh bulan Muhammad Farhan dan Erwin Satya Putra memimpin Kota Bandung. Sebuah periode yang sebenarnya masih sangat awal, namun cukup untuk memberi gambaran tentang arah kota ke depan.

Bandung hari ini berada di persimpangan: antara peluang untuk berbenah atau kembali terseret dalam pola lama yang membuat kota ini stagnan sejak satu dekade terakhir.

Di lapangan, warga merasakan banyak hal simultan: antusiasme perubahan, frustrasi pada layanan dasar, dan kegamangan karena arah kebijakan belum sepenuhnya jelas. Pada momen penutup tahun ini.

Arah Kebijakan yang Belum Nyata Terasa

Sampai hari ini, warga masih bertanya: apa sebenarnya prioritas pemerintahan Farhan–Erwin? Narasi besar mengenai Bandung Kota Harmoni, kota yang aman dan nyaman, atau kota ramah keluarga memang sudah berulang kali disampaikan. Namun implementasi di lapangan masih tampak sporadis.

Beberapa program unggulan mulai bergerak—seperti Bandung Bersih 2028, penataan layanan kesehatan, restrukturisasi BUMD, dan dorongan digitalisasi layanan. Tetapi tanpa peta jalan yang terukur, langkah-langkah tersebut sulit dibaca sebagai strategi jangka panjang. Kota terasa berjalan dari satu isu ke isu lain, tanpa orkestrasi yang solid.

Pada akhirnya, warga tidak membutuhkan jargon. Yang dibutuhkan adalah arah yang konsisten dan dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari: transportasi yang lebih manusiawi, ruang publik yang terawat, pelayanan birokrasi yang rapi, serta kepastian tata ruang yang tidak berubah mengikuti kepentingan kelompok tertentu.

Bersihkan Birokrasi dari Praktik Mafia

Satu hal yang nyaris disepakati warga adalah ini: Bandung tidak akan berubah jika birokrasi tidak dibersihkan. Bukan rahasia lagi bahwa praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme telah berurat-berakar di tubuh Pemkot sejak lama. Banyak kebijakan yang tersangkut dalam permainan perizinan, pengadaan, hingga penataan aset.

Farhan dan Erwin sebenarnya mewarisi masalah struktural berat-dan tugas paling mendasar seharusnya dimulai dari sini. Tanpa pembersihan menyeluruh, program unggulan apa pun akan pincang. Anggaran tak akan tepat sasaran, implementasi kacau, dan ruang publik terus dirampas oleh kepentingan mafia perizinan dan tata ruang.

Kalau pemerintah kota ingin dikenang, inilah tempat memulainya: memulihkan integritas birokrasi.

Warga melintas di dekat bentangan spanduk perlawanan warga Dago Elos di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LL. RE. Martadinata, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Warga melintas di dekat bentangan spanduk perlawanan warga Dago Elos di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LL. RE. Martadinata, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Di tengah hiruk-pikuk administrasi, isu ekologis masih diperlakukan sekunder, padahal Bandung sedang krisis. Setiap tahun banjir semakin meluas, kualitas udara memburuk, alih fungsi lahan berjalan lebih cepat dari revisi kebijakan, dan kapasitas lingkungan menurun drastis.

Perlindungan DAS masih parsial. Pengendalian pembangunan vertikal dan komersial tidak menunjukkan rem yang jelas. Kampung-kampung terhimpit, sementara ruang hijau publik terus tergerus. Ini bukan lagi sekadar masalah penataan ruang—ini ancaman eksistensial bagi Bandung sebagai kota yang secara ekologis rapuh.

Krisis ekologis hanya bisa dihadapi jika pemerintah kota berani mengambil posisi yang jelas: menolak pembangunan yang destruktif, memperkuat kapasitas warga dalam menjaga lingkungan, serta mengembalikan ruang hidup Bandung pada prinsip daya dukung - bukan pada prinsip keuntungan.

Seni dan Budaya yang Direduksi Menjadi Panggung Selebritas

Bandung adalah kota kreatif bukan karena kampanye, tetapi karena roh kebudayaannya. Sayangnya, cara pandang pemerintah terhadap seni dan budaya masih cenderung bersifat selebritisasi: festival diadakan, panggung didirikan, tetapi ruang tumbuhnya seni—yang lahir dari komunitas, keheningan, keberanian bereksperimen—justru kurang terperhatikan.

Program kebudayaan lebih sering diarahkan pada event, bukan ekosistem. Bandung membutuhkan ruang alternatif, sanggar kecil, dan komunitas yang tumbuh natural—bukan sekadar kurasi yang mengejar citra kota. Di sinilah jarak antara pemerintah dan kultur Bandung tampak begitu lebar: kreativitas bukan sesuatu yang bisa diinstruksikan; ia harus dipersubur, bukan dipoles.

Baca Juga: Seakan Tidak Ada Habisnya, Juru Parkir Liar makin Bertambah di Beberapa Kawasan Bandung

Pada akhirnya, kota tidak hanya ditentukan oleh wali kota dan wakilnya. Kota Bandung dibentuk oleh warga, oleh napas kolektifnya, oleh cara kita menjaga ruang bersama. Melalui Catatan Warga, kita belajar bahwa kritik tidak lahir dari kebencian, tetapi dari harapan agar Bandung bisa bergerak ke arah yang lebih sehat dan adil.

Kita ingin pemerintah kota yang bekerja jujur, birokrasi yang bersih, arah kebijakan yang jelas, dan ruang hidup yang dipulihkan. Kita ingin seni budaya tumbuh dari akar, bukan dari panggung semata. Kita ingin Bandung yang bisa kita banggakan tanpa harus menutup mata dari masalahnya.

Sepuluh bulan pertama adalah cermin awal - belum terlambat untuk berbenah. Tetapi waktu tidak menunggu. Bandung membutuhkan langkah yang lebih tenang, lebih terukur, dan lebih berani.

Karena kota ini terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan tanpa arah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)