Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Logo Indische Partij.
Logo Indische Partij.

AYOBANDUNG.ID - Sejarah Indische Partij selalu terasa singkat, nyaris seperti catatan kaki, padahal dampaknya panjang. Didirikan di Bandung pada akhir 1912, partai ini menjadi organisasi pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh. Bukan perbaikan nasib, bukan pengakuan budaya, melainkan perpisahan politik. Sebuah tuntutan yang membuat pemerintah kolonial langsung gelisah.

Pada awal abad ke 20, Hindia Belanda hidup dalam suasana yang serba ambigu. Pemerintah kolonial baru saja mengumumkan Kebijakan Etis sejak 1901, sebuah program yang diiklankan sebagai bentuk tanggung jawab moral Belanda terhadap tanah jajahan. Pendidikan diperluas, sekolah dibuka, dan kata kemajuan mulai rajin dipakai dalam laporan resmi. Namun di balik itu, struktur kolonial tetap kokoh. Hak politik nyaris tidak ada, pembagian rasial tetap kaku, dan kekuasaan tetap satu arah.

Dari situ lahir generasi baru yang tidak sepenuhnya puas. Mereka adalah kaum terdidik, pembaca koran, penulis pamflet, dan pengunjung rapat rapat kecil. Mereka tahu sistem sedang berubah, tapi juga sadar perubahan itu terlalu lambat dan terlalu dikendalikan dari atas. Kesadaran inilah yang melahirkan berbagai organisasi pergerakan, masing masing dengan watak dan strategi sendiri.

Baca Juga: Parlemen Pasundan dan Sejarah Gagalnya Siasat Federalisme Belanda di Tanah Sunda

Budi Utomo berdiri pada 1908 dengan pendekatan kultural dan elitis. Sarekat Islam muncul pada 1911 dengan basis massa yang besar dan semangat solidaritas ekonomi. Keduanya penting, tetapi keduanya juga berhati hati. Politik masih disentuh dengan ujung jari, bukan dengan genggaman penuh. Di tengah suasana itu, Indische Partij hadir sebagai pembawa kabar buruk bagi pemerintah kolonial.

Partai ini digerakkan oleh Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, seorang Indo yang hidup di ruang abu abu kolonial. Ia berdarah Eropa, tetapi tidak sepenuhnya diterima sebagai orang Belanda. Ia bukan Bumiputera, tetapi mengalami pembatasan yang tidak jauh berbeda. Dari pengalaman itu, Douwes Dekker melihat bahwa sistem kolonial tidak dibangun untuk keadilan, melainkan untuk menjaga hierarki.

Sebelum mendirikan Indische Partij, Douwes Dekker aktif di Indische Bond, organisasi kaum Indo yang telah berdiri sejak 1898. Namun ia segera menyadari keterbatasan organisasi berbasis satu golongan. Kolonialisme bukan masalah satu ras saja. Ia adalah persoalan bersama. Maka gagasan membentuk partai politik yang terbuka bagi semua mulai ia dorong sejak 1911.

Bandung menjadi panggung penting bagi rencana itu. Kota ini sedang tumbuh pesat sebagai pusat administrasi dan pendidikan. Letaknya strategis, suasananya relatif kondusif, dan komunitas intelektualnya cukup hidup. Pada 6 September 1912, sebuah rapat digelar di Bandung oleh Komite Tujuh yang dibentuk untuk mempersiapkan kelahiran organisasi baru. Dari pertemuan inilah nama Indische Partij disepakati.

Baca Juga: Hikayat Sunda Empire, Kekaisaran Pewaris Tahta Julius Caesar dari Kota Kembang

Tak lama setelah itu, Douwes Dekker dan rekan rekannya melakukan perjalanan keliling Jawa. Mereka mengunjungi kota kota besar, menggelar pertemuan publik, dan mendirikan cabang partai. Strategi mereka sederhana namun efektif. Tidak membangun dari nol, melainkan mengajak aktivis dari organisasi yang sudah ada. Anggota Budi Utomo, Sarekat Islam, Kartini Club, hingga komunitas Tionghoa diajak bergabung.

Dalam proses ini, Douwes Dekker bertemu dengan dua tokoh penting yang kelak dikenal sebagai Tiga Serangkai. Suwardi Suryaningrat, aktivis tajam yang kritis terhadap ketidakadilan kolonial, dan Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter yang kecewa pada arah Budi Utomo yang dianggap terlalu lunak. Ketiganya memiliki latar belakang berbeda, tetapi bertemu dalam satu kegelisahan yang sama.

Deklarasi resmi pendirian Indische Partij dilakukan pada 25 Desember 1912 di Bandung. Sejak awal, partai ini tidak menyembunyikan sikapnya. Tujuannya jelas, bahasanya lugas, dan posisinya konfrontatif. Indische Partij menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial dan secara terbuka menyatakan bahwa Hindia tidak seharusnya berada di bawah Belanda.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kelahiran Partai Fasis Indonesia di Bandung, Supremasi ala Pribumi yang Bikin Heboh Wangsa Kolonial

Tiga serangkai (Soewardi Soerjadiningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoema). (Sumber: Museum Kebangkitan Nasional)
Tiga serangkai (Soewardi Soerjadiningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoema). (Sumber: Museum Kebangkitan Nasional)

Penentang Kolonialisme yang Berumur Pendek

Yang membuat Indische Partij berbeda dari organisasi pergerakan lain adalah keberaniannya menyeberang batas. Partai ini tidak berbicara soal perbaikan administrasi atau perluasan pendidikan semata. Ia langsung menyentuh inti masalah, yakni kolonialisme itu sendiri. Bagi pemerintah Belanda, ini bukan sekadar kritik, melainkan ancaman.

Keanggotaan Indische Partij bersifat inklusif. Tidak ada pembatasan ras, agama, atau latar belakang sosial. Siapa pun yang mengakui Hindia sebagai tanah airnya dipersilakan bergabung. Konsep ini sangat maju untuk zamannya, ketika masyarakat masih dipisahkan secara administratif antara Eropa, Timur Asing, dan Bumiputera.

Pertemuan publik digelar secara rutin. Di Bandung, Semarang, Surabaya, dan kota kota lain, rapat Indische Partij selalu menarik perhatian. Bahasa yang digunakan tajam, penuh sindiran, dan mudah dipahami. Dalam hitungan bulan, cabang partai berdiri di puluhan kota dengan ribuan anggota. Bandung menjadi salah satu basis terkuat, sekaligus pusat perhatian aparat kolonial.

Selain pertemuan, media cetak menjadi senjata penting. Surat kabar De Expres digunakan untuk menyebarkan gagasan dan kritik. Tulisan tulisan yang terbit tidak hanya mengkritik kebijakan, tetapi juga membongkar ironi kolonialisme dengan gaya satir yang menyakitkan. Puncaknya terjadi pada 1913, ketika pemerintah Belanda merencanakan perayaan seratus tahun kemerdekaannya dari Prancis di tanah jajahan.

Baca Juga: Jejak Lutung Kasarung, Film Indonesia Perdana Diputar di Bandung Tahun 1926

Bagi Indische Partij, rencana itu adalah ironi yang terlalu telanjang. Bagaimana mungkin sebuah bangsa merayakan kemerdekaan sambil terus menjajah bangsa lain. Reaksi mereka keras dan terbuka. Pemerintah kolonial pun merespons dengan cara yang sama kerasnya.

Surat kabar disita, kantor partai diawasi, dan para tokohnya ditangkap. Pada 4 Maret 1913, izin berdiri Indische Partij resmi dicabut. Partai ini dinyatakan terlarang. Hukuman pembuangan dijatuhkan kepada para pendirinya. Awalnya ke pulau pulau terpencil, lalu dialihkan ke Belanda atas permintaan mereka sendiri.

Secara administratif, Indische Partij bubar pada akhir Maret 1913. Usianya bahkan belum genap empat bulan sejak deklarasi resmi. Namun pembubaran ini tidak menghentikan gagasannya. Para anggota melanjutkan perjuangan melalui organisasi lain. Insulinde menjadi wadah baru bagi semangat yang sama.

Baca Juga: Jejak Sejarah Bandung Dijuluki Kota Kembang, Warisan Kongres Gula 1899

Sekembalinya dari pengasingan, Douwes Dekker mengubah Insulinde menjadi Nationale Indische Party pada 1919. Beberapa tahun kemudian, gagasan nasionalisme politik yang diperjuangkan Indische Partij menemukan bentuknya yang lebih matang dalam Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada 1927. Suwardi Suryaningrat memilih jalur pendidikan melalui Taman Siswa. Tjipto Mangoenkoesoemo tetap menjadi suara kritis yang sulit dibungkam.

Warisan Indische Partij terletak pada keberaniannya menyebut kemerdekaan sebagai tujuan politik utama, jauh sebelum kata itu menjadi arus utama. Dari Bandung, sebuah partai singkat umur telah mengajarkan bahwa kolonialisme tidak bisa diperbaiki, hanya bisa diakhiri. Dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, Indische Partij mungkin hanya hadir sebentar, tetapi jejaknya tertanam jauh lebih lama dari usia organisasinya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)