Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 03 Feb 2026, 16:31 WIB
Logo Indische Partij.

Logo Indische Partij.

AYOBANDUNG.ID - Sejarah Indische Partij selalu terasa singkat, nyaris seperti catatan kaki, padahal dampaknya panjang. Didirikan di Bandung pada akhir 1912, partai ini menjadi organisasi pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh. Bukan perbaikan nasib, bukan pengakuan budaya, melainkan perpisahan politik. Sebuah tuntutan yang membuat pemerintah kolonial langsung gelisah.

Pada awal abad ke 20, Hindia Belanda hidup dalam suasana yang serba ambigu. Pemerintah kolonial baru saja mengumumkan Kebijakan Etis sejak 1901, sebuah program yang diiklankan sebagai bentuk tanggung jawab moral Belanda terhadap tanah jajahan. Pendidikan diperluas, sekolah dibuka, dan kata kemajuan mulai rajin dipakai dalam laporan resmi. Namun di balik itu, struktur kolonial tetap kokoh. Hak politik nyaris tidak ada, pembagian rasial tetap kaku, dan kekuasaan tetap satu arah.

Dari situ lahir generasi baru yang tidak sepenuhnya puas. Mereka adalah kaum terdidik, pembaca koran, penulis pamflet, dan pengunjung rapat rapat kecil. Mereka tahu sistem sedang berubah, tapi juga sadar perubahan itu terlalu lambat dan terlalu dikendalikan dari atas. Kesadaran inilah yang melahirkan berbagai organisasi pergerakan, masing masing dengan watak dan strategi sendiri.

Baca Juga: Parlemen Pasundan dan Sejarah Gagalnya Siasat Federalisme Belanda di Tanah Sunda

Budi Utomo berdiri pada 1908 dengan pendekatan kultural dan elitis. Sarekat Islam muncul pada 1911 dengan basis massa yang besar dan semangat solidaritas ekonomi. Keduanya penting, tetapi keduanya juga berhati hati. Politik masih disentuh dengan ujung jari, bukan dengan genggaman penuh. Di tengah suasana itu, Indische Partij hadir sebagai pembawa kabar buruk bagi pemerintah kolonial.

Partai ini digerakkan oleh Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, seorang Indo yang hidup di ruang abu abu kolonial. Ia berdarah Eropa, tetapi tidak sepenuhnya diterima sebagai orang Belanda. Ia bukan Bumiputera, tetapi mengalami pembatasan yang tidak jauh berbeda. Dari pengalaman itu, Douwes Dekker melihat bahwa sistem kolonial tidak dibangun untuk keadilan, melainkan untuk menjaga hierarki.

Sebelum mendirikan Indische Partij, Douwes Dekker aktif di Indische Bond, organisasi kaum Indo yang telah berdiri sejak 1898. Namun ia segera menyadari keterbatasan organisasi berbasis satu golongan. Kolonialisme bukan masalah satu ras saja. Ia adalah persoalan bersama. Maka gagasan membentuk partai politik yang terbuka bagi semua mulai ia dorong sejak 1911.

Bandung menjadi panggung penting bagi rencana itu. Kota ini sedang tumbuh pesat sebagai pusat administrasi dan pendidikan. Letaknya strategis, suasananya relatif kondusif, dan komunitas intelektualnya cukup hidup. Pada 6 September 1912, sebuah rapat digelar di Bandung oleh Komite Tujuh yang dibentuk untuk mempersiapkan kelahiran organisasi baru. Dari pertemuan inilah nama Indische Partij disepakati.

Baca Juga: Hikayat Sunda Empire, Kekaisaran Pewaris Tahta Julius Caesar dari Kota Kembang

Tak lama setelah itu, Douwes Dekker dan rekan rekannya melakukan perjalanan keliling Jawa. Mereka mengunjungi kota kota besar, menggelar pertemuan publik, dan mendirikan cabang partai. Strategi mereka sederhana namun efektif. Tidak membangun dari nol, melainkan mengajak aktivis dari organisasi yang sudah ada. Anggota Budi Utomo, Sarekat Islam, Kartini Club, hingga komunitas Tionghoa diajak bergabung.

Dalam proses ini, Douwes Dekker bertemu dengan dua tokoh penting yang kelak dikenal sebagai Tiga Serangkai. Suwardi Suryaningrat, aktivis tajam yang kritis terhadap ketidakadilan kolonial, dan Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter yang kecewa pada arah Budi Utomo yang dianggap terlalu lunak. Ketiganya memiliki latar belakang berbeda, tetapi bertemu dalam satu kegelisahan yang sama.

Deklarasi resmi pendirian Indische Partij dilakukan pada 25 Desember 1912 di Bandung. Sejak awal, partai ini tidak menyembunyikan sikapnya. Tujuannya jelas, bahasanya lugas, dan posisinya konfrontatif. Indische Partij menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial dan secara terbuka menyatakan bahwa Hindia tidak seharusnya berada di bawah Belanda.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kelahiran Partai Fasis Indonesia di Bandung, Supremasi ala Pribumi yang Bikin Heboh Wangsa Kolonial

Tiga serangkai (Soewardi Soerjadiningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoema). (Sumber: Museum Kebangkitan Nasional)
Tiga serangkai (Soewardi Soerjadiningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoema). (Sumber: Museum Kebangkitan Nasional)

Penentang Kolonialisme yang Berumur Pendek

Yang membuat Indische Partij berbeda dari organisasi pergerakan lain adalah keberaniannya menyeberang batas. Partai ini tidak berbicara soal perbaikan administrasi atau perluasan pendidikan semata. Ia langsung menyentuh inti masalah, yakni kolonialisme itu sendiri. Bagi pemerintah Belanda, ini bukan sekadar kritik, melainkan ancaman.

Keanggotaan Indische Partij bersifat inklusif. Tidak ada pembatasan ras, agama, atau latar belakang sosial. Siapa pun yang mengakui Hindia sebagai tanah airnya dipersilakan bergabung. Konsep ini sangat maju untuk zamannya, ketika masyarakat masih dipisahkan secara administratif antara Eropa, Timur Asing, dan Bumiputera.

Pertemuan publik digelar secara rutin. Di Bandung, Semarang, Surabaya, dan kota kota lain, rapat Indische Partij selalu menarik perhatian. Bahasa yang digunakan tajam, penuh sindiran, dan mudah dipahami. Dalam hitungan bulan, cabang partai berdiri di puluhan kota dengan ribuan anggota. Bandung menjadi salah satu basis terkuat, sekaligus pusat perhatian aparat kolonial.

Selain pertemuan, media cetak menjadi senjata penting. Surat kabar De Expres digunakan untuk menyebarkan gagasan dan kritik. Tulisan tulisan yang terbit tidak hanya mengkritik kebijakan, tetapi juga membongkar ironi kolonialisme dengan gaya satir yang menyakitkan. Puncaknya terjadi pada 1913, ketika pemerintah Belanda merencanakan perayaan seratus tahun kemerdekaannya dari Prancis di tanah jajahan.

Baca Juga: Jejak Lutung Kasarung, Film Indonesia Perdana Diputar di Bandung Tahun 1926

Bagi Indische Partij, rencana itu adalah ironi yang terlalu telanjang. Bagaimana mungkin sebuah bangsa merayakan kemerdekaan sambil terus menjajah bangsa lain. Reaksi mereka keras dan terbuka. Pemerintah kolonial pun merespons dengan cara yang sama kerasnya.

Surat kabar disita, kantor partai diawasi, dan para tokohnya ditangkap. Pada 4 Maret 1913, izin berdiri Indische Partij resmi dicabut. Partai ini dinyatakan terlarang. Hukuman pembuangan dijatuhkan kepada para pendirinya. Awalnya ke pulau pulau terpencil, lalu dialihkan ke Belanda atas permintaan mereka sendiri.

Secara administratif, Indische Partij bubar pada akhir Maret 1913. Usianya bahkan belum genap empat bulan sejak deklarasi resmi. Namun pembubaran ini tidak menghentikan gagasannya. Para anggota melanjutkan perjuangan melalui organisasi lain. Insulinde menjadi wadah baru bagi semangat yang sama.

Baca Juga: Jejak Sejarah Bandung Dijuluki Kota Kembang, Warisan Kongres Gula 1899

Sekembalinya dari pengasingan, Douwes Dekker mengubah Insulinde menjadi Nationale Indische Party pada 1919. Beberapa tahun kemudian, gagasan nasionalisme politik yang diperjuangkan Indische Partij menemukan bentuknya yang lebih matang dalam Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada 1927. Suwardi Suryaningrat memilih jalur pendidikan melalui Taman Siswa. Tjipto Mangoenkoesoemo tetap menjadi suara kritis yang sulit dibungkam.

Warisan Indische Partij terletak pada keberaniannya menyebut kemerdekaan sebagai tujuan politik utama, jauh sebelum kata itu menjadi arus utama. Dari Bandung, sebuah partai singkat umur telah mengajarkan bahwa kolonialisme tidak bisa diperbaiki, hanya bisa diakhiri. Dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, Indische Partij mungkin hanya hadir sebentar, tetapi jejaknya tertanam jauh lebih lama dari usia organisasinya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)