Jejak Lutung Kasarung, Film Indonesia Perdana Diputar di Bandung Tahun 1926

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Para pemain film Loetoeng Kasaroeng. (Sumber: KITLV)
Para pemain film Loetoeng Kasaroeng. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Suasana malam pergantian tahun di Bandung pada akhir 1926 riuh. Di dua bioskop prestisius di Jalan Braga, Oriental dan Elita, sebuah film pribumi untuk pertama kalinya naik layar. Judulnya Loetoeng Kasaroeng, sebuah kisah rakyat Sunda yang selama berabad-abad mengembara dari mulut para juru pantun berubah wujud ke dalam bingkai film bisu. Itu adalah sebuah lompatan budaya.

Pada malam itu, Bandung tak hanya merayakan pergantian tahun, tetapi juga kelahiran satu bab penting sejarah sinema Indonesia.

Loetoeng Kasaroeng disambut dengan hawa penasaran. Penonton di kota mode Hindia Belanda itu terbiasa dengan film impor dari Eropa dan Hollywood, sehingga melihat film lokal tampil di panggung yang sama jelas mengundang rasa campur aduk antara bangga dan khawatir. Bagaimanapun hasilnya, film itu tetap menjadi penanda bahwa masyarakat pribumi mulai masuk ke gelanggang yang selama ini didominasi produksi luar negeri.

Karya ini berdurasi sekitar satu jam, penuh adegan dramatis, tanpa suara, dan diiringi gamelan Sunda yang mengisi kekosongan dialog.

Baca Juga: Batavia jadi Sarang Penyakit, Bandung Ibu Kota Pilihan Hindia Belanda

Cerita yang diangkat bukan sembarang dongeng. Lutung yang sebenarnya pangeran tampan ini memang salah satu legenda paling populer di Tatar Sunda. Dalam film, tokoh Purbasari dan Purbararang berseteru dengan penuh intrik, tipu daya, dan sedikit sentuhan keangkuhan bangsawan yang merasa hidupnya lebih rapi daripada rambut sang adik. Konflik memuncak ketika lutung rewel bernama Guru Minda menunjukkan jati dirinya sebagai pangeran, meniadakan seluruh cemoohan Purbararang. Moral cerita tetap sama sejak dulu: jangan meremehkan siapa pun, bahkan ketika ia masih memakai bulu dan berjalan sambil melompat.

Film ini lahir dari tangan para tokoh Bandung yang punya perhatian terhadap budaya Sunda. Di garda depan tentu saja berdiri Wiranatakusumah V, bupati Bandung yang masa jabatannya melewati dekade 1920an. Sang bupati bukan tipe pejabat yang hanya mengurus urusan administrasi. Ia punya minat pada seni dan kebudayaan.

Pada 1921, jauh sebelum kamera berputar di Padalarang, ia telah memproduksi pementasan panggung bertajuk Tunil Loetoeng Kasaroeng dalam rangka kongres Java Instituut. Lakon tersebut ditampilkan dengan megah di depan pendopo kabupaten, disaksikan ribuan warga yang penasaran melihat cerita kuno tampil dengan tata panggung modern.

Pengalaman panggung itulah yang kemudian mendorong langkah lebih besar. Ketika N.V. Java Film ingin memproduksi film cerita pertama mereka, Wiranatakusumah V menyokong bukan hanya dana, tetapi juga keluarga. Anak-anaknya ikut bermain sebagai pemeran, sebuah strategi yang bukan hanya memudahkan pemilihan aktor tetapi juga menambah legitimasi sosial.

Pada masa itu, status bangsawan masih menjadi paspor penting untuk diterima publik. Film yang menampilkan para priyayi jelas lebih mudah mendapatkan dukungan penonton kelas menengah dan kaum terdidik.

Di balik layar, dua nama kunci muncul sebagai penggerak: L. Heuveldorp dan George Krugers. Heuveldorp bertindak sebagai produser sekaligus sutradara, sementara Krugers menangani sinematografi. Informasi mengenai keduanya memang tidak terlalu berlimpah.

Yang jelas, Heuveldorp pernah bekerja di Amerika dan Krugers adalah Indo yang cukup lama tinggal di Bandung, akrab dengan dunia hiburan lokal, dan tahu betul bagaimana memproses film di tengah peralatan yang tidak selalu ramah.

Baca Juga: Sejarah Pacuan Kuda Tegallega Bandung, Panggung Ratu Wilhelmina yang Jadi Sarang Judi dan Selingkuh Tuan Eropa

Perusahaan N.V. Java Film sebelumnya hanya membuat satu film dokumenter tentang pemburu buaya. Maka Loetoeng Kasaroeng adalah proyek besar pertama mereka. Pemilihan pemeran dibuat melalui jaringan sekolah. Raden Kartabrata dari lingkungan pendidikan priyayi menjadi koordinator. Standarnya cukup tinggi: dicari para pemuda-pemudi dengan pendidikan setingkat SMA.

Zaman itu, pendidikan setara SMA bukan hal sepele. Mereka yang lulus dianggap sudah cukup terlatih untuk membaca naskah, memahami laku panggung, dan tidak kaget ketika berhadapan dengan kamera.

Lokasi syuting dipilih di Padalarang. Di sana tersedia hutan, tebing, dan alam yang cocok untuk menggambarkan dunia kerajaan dalam dongeng Sunda. Kru bekerja dengan peralatan minimalis. Kamera analog harus diputar manual, cahaya bergantung pada matahari, dan adegan harus diulang jika burung atau anak-anak kampung tiba-tiba melintas.

Tantangan teknis seperti itu wajar untuk produksi pertama. Setidaknya semua kru bisa pulang dengan cerita heroik tentang bagaimana mereka mengejar matahari agar adegan sorotan wajah tidak tenggelam dalam bayangan.

Sebelum film selesai, tim produksi sudah memikirkan cara promosi. Parade keliling kota dilakukan dengan kereta kuda. Poster besar digantung, selebaran dibagi, dan anak-anak kecil berlari mengikuti suara derap kuda yang membawa rombongan pemain. Taktik ini cukup manjur mencuri perhatian warga Bandung.

Saat itu, promosi seperti ini tergolong mewah. Film impor umumnya hanya mengandalkan iklan koran, sementara Loetoeng Kasaroeng turun langsung ke jalan.

Iklan film muncul di berbagai surat kabar Belanda dan Melayu. Pihak produksi ingin menjangkau penonton dari berbagai lapisan etnis. Pasar film saat itu sangat beragam. Kalangan Belanda, Indo, Tionghoa, dan pribumi punya selera berbeda. Menyatukan mereka memang tidak mudah, tetapi film ini setidaknya mencoba melakukannya.

Baca Juga: Jejak Samar Sejarah Pecinan Bandung, dari Chineesche Kamp ke Ruko Klasik Pasar Baru

Iklan film Loetoeng Kasaroeng. (Sumber: Wikimedia)
Iklan film Loetoeng Kasaroeng. (Sumber: Wikimedia)

Pemutaran Perdana dan Sambutan Publik

Pemutaran perdana berlangsung di Bioskop Elita, yang saat itu menjadi salah satu simbol kelas atas Kota Bandung. Jalan Braga di tahun 1920an ibarat catwalk kolonial tempat segala gaya hidup modern dipamerkan. Film lokal bisa muncul di tempat seperti itu saja sudah merupakan prestasi tersendiri.

Pertunjukan digelar malam hari, dan gamelan Sunda disewa untuk mengiringi film. Irama kendang dan saron yang menggema di dalam gedung membuat pengalaman menonton terasa seperti perpaduan antara bioskop dan pagelaran tradisional.

Sebelum lampu padam, sebuah orkes memainkan lagu-lagu ceria. Atmosfer yang tercipta membuat penonton merasa menghadiri sebuah acara besar. Bahkan penayangan perdana dipersembahkan kepada Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff. Hal seperti ini menunjukkan bahwa film tersebut tidak dipandang sebagai hiburan pinggiran, melainkan sebagai acara budaya yang layak diketahui oleh pejabat tertinggi kolonial.

Setelah tayang seminggu di Bandung, film ini turun layar dan digantikan film Hollywood yang jauh lebih matang secara teknis. Loetoeng Kasaroeng kemudian berkeliling ke Cirebon, tetapi hasilnya tidak terlalu baik. Tiket tidak terjual banyak. Penonton luar Jawa Barat mungkin merasa tidak akrab dengan nuansa Sunda, sementara standar teknis film lokal memang belum mampu menyaingi produksi luar negeri.

Baca Juga: Wiranatakusumah V, Bangsawan Sunda Penentu Bubarnya Parlemen Pasundan Boneka Belanda

Kritik dari berbagai media pun cukup keras. Ada yang menilai gambar blur, adegan kaku, dan dekorasi seadanya. Beberapa aktor bahkan disebut tidak dibayar. Namun untuk ukuran film perdana, proyek seperti ini sebenarnya sudah melampaui banyak harapan.

Film impor bisa menampilkan kota-kota Eropa atau padang pasir penuh kuda. Loetoeng Kasaroeng hanya mengandalkan hutan Padalarang dan kostum yang dirancang tangan-tangan lokal. Tidak mengherankan bila hasilnya belum sempurna.

Walau demikian, film ini memantik tumbuhnya dunia perfilman pribumi. Setelahnya muncul Eulis Atjih pada 1927 yang digarap Krugers. Industri terus tumbuh. Orang Tionghoa ikut masuk, lalu sutradara pribumi mulai muncul di akhir 1930an. Hingga akhirnya Usmar Ismail merilis Darah dan Doa pada 1950, film yang dianggap sebagai tonggak perfilman Indonesia merdeka.

Warisan dan Jejak yang Tertinggal

Loetoeng Kasaroeng memang tidak berhasil menjadi primadona box office. Namun ia menjadi batu pertama yang membuka jalan panjang sejarah sinema nasional. Ironisnya, film ini kini dianggap hilang. Tidak ada salinan yang ditemukan di arsip mana pun, baik di Belanda, Indonesia, maupun koleksi pribadi.

Pengetahuan tentang film ini akhirnya hanya bertahan melalui iklan, catatan koran, dan tulisan para sejarawan. Selebihnya, nasib gulungan film itu mungkin berakhir tragis, entah karena kelembapan tropis atau perpindahan kepemilikan yang tidak tercatat.

Walaupun filmnya lenyap, jejaknya masih terasa dalam sejarah budaya Bandung. Kota ini kemudian dikenal sebagai salah satu pusat perfilman Hindia. Di Jalan Braga, ingatan tentang bioskop-bioskop lama masih tersisa pada bangunan Majestic yang berdiri sebagai saksi bisu. Bandung menjadi kota tempat budaya lokal, modernitas kolonial, dan industri hiburan bertemu.

Baca Juga: Gunung Selacau, Jejak Dipati Ukur dan Letusan Zaman yang Kini Digilas Tambang

Loetoeng Kasaroeng menjadi simbol bahwa sejak awal abad dua puluh, Bandung tidak hanya memproduksi mode, tetapi juga melahirkan karya sinema yang mencoba mendefinisikan jati diri Nusantara.

Tokoh-tokoh yang terlibat pun meninggalkan pengaruh penting. Undak-usuk budaya Sunda yang ditampilkan dalam film menjadi sumber inspirasi bagi generasi playwright dan filmmaker berikutnya.

Cerita Lutung Kasarung sendiri terus diadaptasi di berbagai medium dari panggung, film, sampai televisi. Pada 1952 dan 1983, versi barunya kembali muncul. Kedua film itu dibuat dengan teknologi yang jauh lebih baik, tetapi tetap membawa nuansa mistik dan moral khas cerita aslinya.

Kini, satu abad setelah pemutarannya, Loetoeng Kasaroeng tetap dikenang sebagai tonggak awal. Meski hilang secara fisik, film ini hidup dalam sejarah budaya, menjadi simbol keberanian awal untuk mengukir identitas dalam media modern.

Pada malam pergantian tahun 1926 itu, Bandung bukan hanya merayakan pesta, tetapi juga menyalakan obor yang kemudian menjadi tradisi panjang dunia perfilman Indonesia.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.