Gunung Selacau, Jejak Dipati Ukur dan Letusan Zaman yang Kini Digilas Tambang

5 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Potret salah satu dinding Gunung Selacau pada Juni 2024 yang tampak terpapas digerogoti aktivitas tambang batu. (Sumber: Google Earth)
Potret salah satu dinding Gunung Selacau pada Juni 2024 yang tampak terpapas digerogoti aktivitas tambang batu. (Sumber: Google Earth)

AYOBANDUNG.ID - Di pinggir Sungai Citarum, antara hamparan kampung dan geliat tambang batu, berdirilah sebuah bukit yang dulunya gunung. Namanya Gunung Selacau. Warga setempat menyebutnya begitu karena dari sela-sela bebatuan gunung itu dulu pernah tumbuh pohon pisang, cau.

Tapi sebelum ditumbuhi pohon pisang, sebelum dinamai Selacau, dan sebelum kampung ramai oleh para pedagang buah-buahan, gunung itu menyimpan riwayat yang lebih tua dari usia nenek moyang penduduknya—yakni riwayat letusan bumi, dan juga jejak langkah seorang pemberontak legendaris: Dipati Ukur.

Gunung Selacau kini nyaris rata. Bentuk kerucutnya yang dulu gagah, disebut warga mirip caping petani, sudah digerogoti dari dua sisi. Tambang batu andesit mengirisnya perlahan tapi pasti, sejak awal 1980-an. Para warga yang dulu menanami lerengnya dengan singkong, pisang, dan albasia, sebagian menyerah. Satu demi satu menjual tanahnya. Bukan karena tidak cinta, tapi karena butuh makan.

"Mungkin karena butuh uang, satu per satu warga saat itu menjual lahan di gunung tersebut," kata Syahbandar A. Sastrawinata, tokoh masyarakat yang pernah menjabat kepala desa Selacau.

Syahbandar bukan warga sembarangan. Ia lahir, besar, dan tua di desa itu. Ia menyaksikan sendiri betapa Gunung Selacau berubah dari tempat bertani dan berziarah, menjadi mesin penggiling batu. Ia juga menyimpan kisah yang diwariskan turun-temurun: bahwa gunung itu pernah menjadi tempat istirahat pasukan Dipati Ukur sebelum menggempur VOC di Batavia.

Letusan Empat Juta Tahun dan Langkah Sepuluh Ribu Prajurit

Cerita tentang Gunung Selacau bisa dibaca dalam dua lapisan sejarah. Lapisan pertama adalah geologi. Gunung ini, menurut geografer T Bachtiar, terbentuk sekitar empat juta tahun lalu. Kala itu bumi di wilayah Bandung sedang ramai-ramainya meletus. Gunung-gunung muncul dari dalam kerak bumi, menyembur magma dan membentuk relief Cekungan Bandung seperti yang kita kenal sekarang.

“Gunung ini jadi bukti kronologis sejarah bumi cekungan Bandung,” ujar Bachtiar.

Dalam buku Bandung Purba (2004), ia menulis bahwa Gunung Selacau terdiri dari batuan dasit—sejenis batu vulkanik yang kaya akan silika. Dasit berasal dari lelehan magma yang membeku di permukaan, dan menjadi keras seiring waktu. Bentuk gunung yang sempurna dan tekstur batunya yang khas membuat Gunung Selacau menarik perhatian banyak ahli geologi, sejak zaman kolonial.

Peta kawasan Gunung Selacau dari udara. (Sumber: Google Earth)
Peta kawasan Gunung Selacau dari udara. (Sumber: Google Earth)

Van Bemmelen, K. Kusumadinata, Katili, dan beberapa nama lain disebut-sebut pernah mencantumkan nama Selacau dalam peta geologi. Lokasinya yang strategis, tak jauh dari Cimahi dan Bandung, serta bentuk kerucutnya yang rapi, membuat gunung ini bukan hanya objek ilmiah, tapi juga estetis.

Tapi selain sebagai sisa letusan purba, Gunung Selacau juga pernah menjadi saksi dari gerakan anti-kolonial yang melegenda: gerakan Dipati Ukur.

Baca Juga: Batulayang Dua Kali Hilang, Direbus Raja Jawa dan Dihapus Kompeni Belanda

Dipati Ukur adalah tokoh pemberontak dari abad ke-17 yang namanya menghantui arsip-arsip VOC. Ia dikenal cerdas, karismatik, dan punya nyali besar. Dalam salah satu ekspedisinya menuju Batavia, konon Dipati Ukur membawa sekitar 10.000 pasukan. Jalur yang mereka tempuh tidaklah mudah. Dari Sumedang, mereka menyusuri Sungai Citarum, karena saat itu belum ada jalan darat yang layak.

“Dulu kan belum ada jalan, dari Sumedang mereka menyusuri Citarum dan istirahat di sini,” kata Syahbandar.

Gunung Selacau, yang berada di tepian Citarum, menjadi tempat istirahat yang ideal. Selain satu-satunya dataran tinggi di sepanjang rute sungai, gunung ini juga menyediakan air dan tanah subur. Menurut cerita lisan yang hidup di tengah warga Selacau, di gunung inilah Dipati Ukur menitipkan jubah dan senjatanya kepada seorang prajurit yang wajahnya mirip, untuk mengelabui musuh. Konon yang ditangkap dan dieksekusi adalah sang pengganti, bukan sang pemimpin sejati.

“Di Gunung ini juga tempat eyang Dipati Ukur menyerahkan baju dan senjatanya kepada salah satu pasukannya. Justru pasukan ini yang dieksekusi, yang asli tidak,” ujar Syahbandar.

Titi Bachtiar turut menguatkan cerita itu. Dalam Bandung Purba, ia menulis bahwa beberapa prajurit yang sakit ditinggalkan di Gunung Selacau. Mereka lalu membuka hutan, membabat alas, dan menemukan pohon pisang tumbuh di antara batu-batu gunung. Dari situlah muncul nama Selacau—dari kata sela dan cau (pisang).

Warisan yang Diperjualbelikan

Kini, semua cerita itu tinggal jejak. Gunung Selacau makin hari makin menyusut. Dua perusahaan tambang—PT. Segumas Jabal Barokah dan PT. Fusan Selamat Tambang Jaya—mendapat izin untuk menambang batu andesit dari perut gunung itu. Izin lingkungan mereka terakhir diperpanjang tahun 2016, tapi aktivitas mereka terus berjalan.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat mencatat aktivitas tambang ini berlangsung intens, baik di sisi timur maupun barat gunung. Ironisnya, kontribusi aktivitas tambang terhadap Pendapatan Asli Desa sangat minim.

“Tidak menguntungkan juga PAD, sangat kecil untuk biasa perbaikan jalan saja tidak cukup. Tapi dilema karena ada masyarakat yang menggantungkan hidup di sana,” ujar Syahbandar.

Sebuah alat berat yang digunakan untuk penambangan batu terparkir di jalan menuju dinding Gunung Selacau. (Sumber: Google Earth)
Sebuah alat berat yang digunakan untuk penambangan batu terparkir di jalan menuju dinding Gunung Selacau. (Sumber: Google Earth)

Tambang memang menyediakan lapangan kerja. Tapi juga menghancurkan potensi wisata, menghancurkan warisan geologi, dan melenyapkan saksi sejarah. Jika dulu orang naik ke puncak gunung untuk melihat Bandung dari ketinggian, kini mereka hanya melihat tebing bekas ledakan dinamit.

Warga Desa Selacau yang sebagian besar berdagang buah-buahan mungkin tak punya waktu untuk memikirkan batu dasit atau sejarah pemberontakan anti-VOC. Mereka lebih sibuk mencari nafkah di Cikampek, Karawang, atau Purwakarta. Tapi tanpa mereka sadari, mereka juga perlahan kehilangan rumah bagi sejarah yang lebih tua dari mereka semua.

Selacau di Tepian Waktu

Jika sejarah bumi Bandung adalah novel besar yang ditulis jutaan tahun oleh gunung, sungai, dan letusan, maka Gunung Selacau adalah salah satu bab pentingnya. Ia bukan cuma tempat tinggi di antara lereng. Ia tempat zaman meletus. Tempat prajurit berhenti. Tempat pohon pisang tumbuh dari sela batu.

Kini gunung itu hanya menunggu waktu. Tinggal menunggu siapa yang terakhir mencangkul, siapa yang terakhir memecah batu, dan siapa yang terakhir menceritakan bahwa di situlah dulu Dipati Ukur pernah singgah, dan bumi pernah bergetar.

Jika kelak nama Selacau tinggal jadi nama desa di Google Maps, kita tahu, kita pernah punya gunung. Tapi kita juga pernah membiarkannya hilang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)