Menjaga Martabat Kebudayaan di Tengah Krisis Moral

Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Jumat 12 Des 2025, 21:18 WIB
Kegiatan rampak gitar akustik Revolution Is..di Taman Cikapayang

Kegiatan rampak gitar akustik Revolution Is..di Taman Cikapayang

Di Bandung, kota yang selama bertahun-tahun membanggakan diri sebagai pusat kreativitas dan gagasan progresif, kini sedang terjadi sebuah gejala yang mengguncang fondasi etika kebudayaan kita. Setelah Sawala Budaya 2024 - sebuah forum terbuka yang disepakati bersama, dijalankan secara demokratis, dan menghasilkan tujuh Dewan Kebudayaan Kota Bandung (DKKB) yang sah - muncul kelompok-kelompok kecil yang menolak hasil tersebut hanya karena nama-nama yang terpilih tidak sesuai dengan ekspektasi politik mereka. Bukan karena prosesnya cacat. Bukan karena ada penyimpangan etik. Tetapi karena kota ini, melalui forum warganya, tidak memilih orang-orang “aman”, “strategis”, atau akrab dengan orbit kekuasaan.

Inilah bentuk paling telanjang dari ketidakdewasaan politik budaya. Jika sebuah proses yang sah dan demokratis dapat diringkus oleh opini segelintir elite yang tidak mampu menerima kenyataan, maka apa yang sejatinya penting dalam budaya sesungguhnya telah kehilangan maknanya. Para anggota DKKB yang terpilih akhirnya memilih mengundurkan diri pada Nyawalakeun Budaya 2025. Keputusan itu tentu dapat dibaca sebagai sikap etis pribadi, tetapi sekaligus menjadi cermin dari betapa rapuhnya ruang kebudayaan kita ketika berhadapan dengan tekanan eksternal.

Namun, di balik gejolak itu, Sawala Kota Bandung 2025 tetap menghasilkan rumusan-rumusan penting berkat kerja keras para peserta selama dua hari penuh. Perumusan itu lahir dari keseriusan warga, akademisi, pelaku seni, dan penggerak komunitas dalam memikirkan arah kebijakan kebudayaan kota ke depan. Karena itu, mundurnya struktur DKKB tidak seharusnya menggugurkan hasil forum. Justru sebaliknya: mundurnya para pengurus di akhir proses membuka ruang bagi potensi pencatutan, perebutan agenda, atau manipulasi kepentingan oleh pihak-pihak yang tidak mewakili forum.

Sikap yang muncul di dua sisi ini mencerminkan ketegangan mendalam dalam kebudayaan kita. Di satu sisi, terdapat upaya membangun kebudayaan yang demokratis, partisipatif, dan mengakar pada warga. Di sisi lain, masih kuat kecenderungan mempertahankan budaya sebagai komoditas kekuasaan ataupun bagian dari orientasi ekonomi, terutama ketika sebagian pelaku seni masih memaknai kebudayaan sebagai perpanjangan tangan Pendapatan Asli Daerah (PAD), bukan sebagai tanggung jawab moral membentuk karakter warga.

Di sinilah problem kebudayaan Kota Bandung mengeras: di tengah krisis moral pemerintahan dan lemahnya etika publik, orientasi kebudayaan pun ikut terjerembab, bergerak semakin jauh dari esensinya sebagai sumber nilai, welas asih, dan kontrol sosial terhadap kekuasaan.

Kebudayaan dan Krisis Moral Kota

Sulit menutup mata terhadap kenyataan bahwa Kota Bandung sedang berada dalam krisis moral yang nyata. Wakil Wali Kota telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penyalahgunaan jabatan  -  sebuah tanda merosotnya integritas pejabat publik. Di berbagai sektor lain, praktik culas, penyalahgunaan wewenang, dan pola kerja yang tidak jujur terus mencoreng wajah pemerintahan kota. Sementara itu, warga masih harus berhadapan dengan persoalan sampah yang tidak selesai, banjir yang semakin mengancam, hingga pelanggaran-pelanggaran HAM yang muncul pada beberapa peristiwa terakhir. Kesemuanya merupakan indikator betapa rapuhnya nilai-nilai dasar yang seharusnya menopang kehidupan kota.

Dalam konteks seperti inilah fungsi lain Dewan Kebudayaan seharusnya dimaknai. DKKB bukan hanya lembaga seremonial yang tugasnya membuat acara atau menghabiskan anggaran. Ia memiliki mandat moral sebagai penjaga nalar publik, penjaga etika bersama, dan  -  dalam kondisi tertentu  -  menjadi salah satu fungsi kontrol sosial terhadap kekuasaan. Kehadirannya diperlukan justru ketika negara atau pemerintah kota mengalami kepincangan nilai. Ketika kebijakan-kebijakan mulai melenceng dari kepentingan sosial, budaya, atau ekologis, Dewan Kebudayaan adalah ruang warga untuk mengingatkan, menegur, dan bahkan mengoreksi arah.

Sawala 2025, dalam pandangan saya, harus dipahami sebagai semacam moncong meriam yang diarahkan bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menggugah pusat kekuasaan kota Bandung agar memiliki keberanian membersihkan tubuhnya. Kebudayaan bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan kerja panjang pembentukan karakter kolektif. Kebudayaan yang sehat seharusnya melahirkan pemerintahan yang adil, kebijakan yang berpihak pada lingkungan, dan struktur sosial yang tidak meminggirkan.

Jika kebudayaan berfungsi sebagaimana mestinya, ia akan menjadi ruang moral yang mampu mengimbangi kekuasaan. Dan justru karena itulah, konflik yang muncul pasca Sawala Budaya 2024 bukanlah persoalan teknis belaka, tetapi menyentuh inti dari persoalan kebudayaan kita: apakah kita mau membangun kebudayaan yang mandiri, kritis, dan berani menyuarakan kebenaran ? Atau kita terus mempertahankan kebudayaan yang jinak, patuh pada kepentingan PAD, dan sibuk melayani estetika formal tetapi jauh dari nurani warga kota?

Dua Pandangan, Dua Jalan Kebudayaan

Peristiwa pasca Sawala Budaya 2024 memperlihatkan bagaimana kebudayaan di Bandung tengah berhadapan dengan dua arus kepentingan yang sama-sama membawa konsekuensi etis bagi masa depan kota. Di satu sisi, terdapat keberanian moral forum warga yang menegaskan bahwa proses demokratis harus dihormati. Intervensi segelintir kelompok yang menolak hasil Sawala bukan hanya mengingkari kesepakatan bersama, tetapi juga menunjukkan ketidakdewasaan politik budaya yang membahayakan keberlangsungan ruang kesenian dan kolektivitas warga.

Di sisi lain, keputusan pengurus DKKB untuk mengundurkan diri setelah seluruh proses forum rampung turut menimbulkan persoalan baru. Ruang kosong yang ditinggalkan membuka celah bagi pihak yang berkepentingan untuk mengambil alih hasil, agenda, atau legitimasi forum tanpa harus berhadapan dengan proses deliberatif yang melelahkan namun esensial. Sikap ini, bagaimanapun juga dipahami motifnya, tetap meninggalkan kegamangan di antara peserta yang telah bekerja keras menyusun rekomendasi.

Namun inti persoalannya bukan memilih siapa yang sepenuhnya benar atau keliru. Yang lebih mendasar adalah menyadari bahwa kebudayaan Bandung sedang berada pada titik genting: apakah ia akan berdiri sebagai ruang moral yang menjaga integritas publik, atau kembali jatuh menjadi perpanjangan tangan politik praktis dan kepentingan PAD. Jalan pertama menuntut keberanian, kesabaran, dan komitmen terhadap proses yang demokratis. Jalan kedua, meskipun tampak pragmatis, pada akhirnya hanya akan mengulang siklus ketergantungan dan membuat kebudayaan kehilangan keberpihakan terhadap warga.

Yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar mencari pembenaran di tengah perbedaan pandangan, tetapi membangun kesadaran bersama bahwa masa depan kebudayaan kota hanya dapat dijaga jika kita menempatkan nilai  -  bukan kedekatan politik atau kepentingan ekonomi  -  sebagai fondasi. Bandung membutuhkan kebudayaan yang hidup dari keberanian warga, bukan dari kenyamanan kekuasaan.

Paradigma Kebudayaan yang Menyempit

Di luar persoalan Sawala, ada satu problem yang jauh lebih struktural dan sudah berlangsung lama: sebagian pelaku budaya di Bandung masih melihat kebudayaan sebagai sumber PAD, bukan sebagai ruang pembentukan karakter warga. Paradigma ini bukan hanya sempit, tetapi juga berbahaya. Ia menjadikan kebudayaan sebagai industri yang mengabdi pada target-target ekonomi, bukan sebagai ruang penciptaan makna dan nilai.

Ketika kebudayaan dipersempit menjadi urusan pemasukan anggaran daerah, yang hilang bukan hanya etika, tetapi substansi kebudayaan itu sendiri. Kita lupa bahwa kebudayaan adalah fondasi dari seluruh bangunan kehidupan kota—dari etika publik hingga cara kita memperlakukan alam, sesama, dan masa depan. Kota yang menjadikan kebudayaan sebagai komoditas semata akan kehilangan daya kritisnya. Ia mungkin ramai oleh festival, tetapi sepi oleh gagasan dan refleksi.

Padahal Bandung memiliki sejarah panjang sebagai ruang intelektual, ruang eksperimental, ruang pertemuan gagasan. Bandung dulu menjadi kota di mana seni bukan sekadar tontonan, tetapi bahasa kegelisahan moral. Kini, ketika krisis moral melanda pemerintahan kota, kebudayaan seharusnya kembali menjadi ruang pembentuk etika bersama. Tetapi bagaimana mungkin itu terjadi jika sebagian pelaku budayanya sendiri lebih sibuk mengejar peluang proyek dan PAD ?

Kebudayaan sebagai Jalan Pemulihan Kota

Dalam situasi seperti ini, tugas kita adalah memastikan agar Sawala Budaya 2025 tidak berubah menjadi ruang kosong atau alat kepentingan. Sawala harus menjadi momentum untuk merebut kembali martabat kebudayaan kota  -  sebagai sumber kesadaran, refleksi, dan spiritualitas publik.

Kita perlu mengingatkan bahwa kebudayaan bukan hanya milik seniman atau pejabat dinas, melainkan milik warga kota. Ia adalah jaringan nilai yang menuntun kita pada keputusan-keputusan bermakna: bagaimana memperlakukan sungai, bagaimana memandang ruang publik, bagaimana mengelola sampah, bagaimana menyusun kebijakan yang tidak melukai yang lemah. Kebudayaan yang kuat akan melahirkan pemerintahan yang lebih bersih, masyarakat yang lebih kritis, dan kota yang lebih manusiawi.

Dalam suasana kota Bandung yang sedang dilanda krisis moral, banjir, sampah, dan berbagai pelanggaran HAM, kebudayaan justru seharusnya tampil sebagai ruang keberanian moral terakhir yang kita miliki. Sawala 2025, dalam bentuknya yang paling luhur, adalah panggilan untuk itu: sebuah seruan agar kebudayaan tidak tunduk pada pragmatisme, tetapi menjadi kekuatan transformasi.

Baca Juga: Krisis Tempat Parkir di Kota Bandung Memicu Maraknya Parkir Liar

Menutup: Sebuah Ajakan Kesadaran

Pada akhirnya, persoalan kebudayaan di Bandung bukan hanya soal siapa yang duduk di DKKB, siapa yang sah, siapa yang menolak, atau siapa yang mundur. Itu semua hanyalah permukaan dari persoalan yang jauh lebih dalam: Apakah kita ingin kebudayaan yang menjaga martabat kota, atau kebudayaan yang melayani kenyamanan kekuasaan?

Kita sedang berdiri di tengah jurang nilai, dan hanya kebudayaan yang reflektif dan berani yang dapat menuntun kita kembali. Kita memerlukan DKKB yang tidak jinak, tidak tunduk, dan tidak terkooptasi. Kita memerlukan pelaku budaya yang tidak hanya sibuk dengan panggung, tetapi juga peduli pada keberadaban kota. Kita memerlukan pemerintah kota yang menyadari bahwa kebudayaan bukan ornamen, tetapi fondasi moral.

Karena pada akhirnya, kota yang kehilangan kebudayaannya bukan hanya kehilangan masa lalu, tetapi kehilangan masa depan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)