Menjaga Martabat Kebudayaan di Tengah Krisis Moral

7 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Kegiatan rampak gitar akustik Revolution Is..di Taman Cikapayang
Kegiatan rampak gitar akustik Revolution Is..di Taman Cikapayang

Di Bandung, kota yang selama bertahun-tahun membanggakan diri sebagai pusat kreativitas dan gagasan progresif, kini sedang terjadi sebuah gejala yang mengguncang fondasi etika kebudayaan kita. Setelah Sawala Budaya 2024 - sebuah forum terbuka yang disepakati bersama, dijalankan secara demokratis, dan menghasilkan tujuh Dewan Kebudayaan Kota Bandung (DKKB) yang sah - muncul kelompok-kelompok kecil yang menolak hasil tersebut hanya karena nama-nama yang terpilih tidak sesuai dengan ekspektasi politik mereka. Bukan karena prosesnya cacat. Bukan karena ada penyimpangan etik. Tetapi karena kota ini, melalui forum warganya, tidak memilih orang-orang “aman”, “strategis”, atau akrab dengan orbit kekuasaan.

Inilah bentuk paling telanjang dari ketidakdewasaan politik budaya. Jika sebuah proses yang sah dan demokratis dapat diringkus oleh opini segelintir elite yang tidak mampu menerima kenyataan, maka apa yang sejatinya penting dalam budaya sesungguhnya telah kehilangan maknanya. Para anggota DKKB yang terpilih akhirnya memilih mengundurkan diri pada Nyawalakeun Budaya 2025. Keputusan itu tentu dapat dibaca sebagai sikap etis pribadi, tetapi sekaligus menjadi cermin dari betapa rapuhnya ruang kebudayaan kita ketika berhadapan dengan tekanan eksternal.

Namun, di balik gejolak itu, Sawala Kota Bandung 2025 tetap menghasilkan rumusan-rumusan penting berkat kerja keras para peserta selama dua hari penuh. Perumusan itu lahir dari keseriusan warga, akademisi, pelaku seni, dan penggerak komunitas dalam memikirkan arah kebijakan kebudayaan kota ke depan. Karena itu, mundurnya struktur DKKB tidak seharusnya menggugurkan hasil forum. Justru sebaliknya: mundurnya para pengurus di akhir proses membuka ruang bagi potensi pencatutan, perebutan agenda, atau manipulasi kepentingan oleh pihak-pihak yang tidak mewakili forum.

Sikap yang muncul di dua sisi ini mencerminkan ketegangan mendalam dalam kebudayaan kita. Di satu sisi, terdapat upaya membangun kebudayaan yang demokratis, partisipatif, dan mengakar pada warga. Di sisi lain, masih kuat kecenderungan mempertahankan budaya sebagai komoditas kekuasaan ataupun bagian dari orientasi ekonomi, terutama ketika sebagian pelaku seni masih memaknai kebudayaan sebagai perpanjangan tangan Pendapatan Asli Daerah (PAD), bukan sebagai tanggung jawab moral membentuk karakter warga.

Di sinilah problem kebudayaan Kota Bandung mengeras: di tengah krisis moral pemerintahan dan lemahnya etika publik, orientasi kebudayaan pun ikut terjerembab, bergerak semakin jauh dari esensinya sebagai sumber nilai, welas asih, dan kontrol sosial terhadap kekuasaan.

Kebudayaan dan Krisis Moral Kota

Sulit menutup mata terhadap kenyataan bahwa Kota Bandung sedang berada dalam krisis moral yang nyata. Wakil Wali Kota telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penyalahgunaan jabatan  -  sebuah tanda merosotnya integritas pejabat publik. Di berbagai sektor lain, praktik culas, penyalahgunaan wewenang, dan pola kerja yang tidak jujur terus mencoreng wajah pemerintahan kota. Sementara itu, warga masih harus berhadapan dengan persoalan sampah yang tidak selesai, banjir yang semakin mengancam, hingga pelanggaran-pelanggaran HAM yang muncul pada beberapa peristiwa terakhir. Kesemuanya merupakan indikator betapa rapuhnya nilai-nilai dasar yang seharusnya menopang kehidupan kota.

Dalam konteks seperti inilah fungsi lain Dewan Kebudayaan seharusnya dimaknai. DKKB bukan hanya lembaga seremonial yang tugasnya membuat acara atau menghabiskan anggaran. Ia memiliki mandat moral sebagai penjaga nalar publik, penjaga etika bersama, dan  -  dalam kondisi tertentu  -  menjadi salah satu fungsi kontrol sosial terhadap kekuasaan. Kehadirannya diperlukan justru ketika negara atau pemerintah kota mengalami kepincangan nilai. Ketika kebijakan-kebijakan mulai melenceng dari kepentingan sosial, budaya, atau ekologis, Dewan Kebudayaan adalah ruang warga untuk mengingatkan, menegur, dan bahkan mengoreksi arah.

Sawala 2025, dalam pandangan saya, harus dipahami sebagai semacam moncong meriam yang diarahkan bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menggugah pusat kekuasaan kota Bandung agar memiliki keberanian membersihkan tubuhnya. Kebudayaan bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan kerja panjang pembentukan karakter kolektif. Kebudayaan yang sehat seharusnya melahirkan pemerintahan yang adil, kebijakan yang berpihak pada lingkungan, dan struktur sosial yang tidak meminggirkan.

Jika kebudayaan berfungsi sebagaimana mestinya, ia akan menjadi ruang moral yang mampu mengimbangi kekuasaan. Dan justru karena itulah, konflik yang muncul pasca Sawala Budaya 2024 bukanlah persoalan teknis belaka, tetapi menyentuh inti dari persoalan kebudayaan kita: apakah kita mau membangun kebudayaan yang mandiri, kritis, dan berani menyuarakan kebenaran ? Atau kita terus mempertahankan kebudayaan yang jinak, patuh pada kepentingan PAD, dan sibuk melayani estetika formal tetapi jauh dari nurani warga kota?

Dua Pandangan, Dua Jalan Kebudayaan

Peristiwa pasca Sawala Budaya 2024 memperlihatkan bagaimana kebudayaan di Bandung tengah berhadapan dengan dua arus kepentingan yang sama-sama membawa konsekuensi etis bagi masa depan kota. Di satu sisi, terdapat keberanian moral forum warga yang menegaskan bahwa proses demokratis harus dihormati. Intervensi segelintir kelompok yang menolak hasil Sawala bukan hanya mengingkari kesepakatan bersama, tetapi juga menunjukkan ketidakdewasaan politik budaya yang membahayakan keberlangsungan ruang kesenian dan kolektivitas warga.

Di sisi lain, keputusan pengurus DKKB untuk mengundurkan diri setelah seluruh proses forum rampung turut menimbulkan persoalan baru. Ruang kosong yang ditinggalkan membuka celah bagi pihak yang berkepentingan untuk mengambil alih hasil, agenda, atau legitimasi forum tanpa harus berhadapan dengan proses deliberatif yang melelahkan namun esensial. Sikap ini, bagaimanapun juga dipahami motifnya, tetap meninggalkan kegamangan di antara peserta yang telah bekerja keras menyusun rekomendasi.

Namun inti persoalannya bukan memilih siapa yang sepenuhnya benar atau keliru. Yang lebih mendasar adalah menyadari bahwa kebudayaan Bandung sedang berada pada titik genting: apakah ia akan berdiri sebagai ruang moral yang menjaga integritas publik, atau kembali jatuh menjadi perpanjangan tangan politik praktis dan kepentingan PAD. Jalan pertama menuntut keberanian, kesabaran, dan komitmen terhadap proses yang demokratis. Jalan kedua, meskipun tampak pragmatis, pada akhirnya hanya akan mengulang siklus ketergantungan dan membuat kebudayaan kehilangan keberpihakan terhadap warga.

Yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar mencari pembenaran di tengah perbedaan pandangan, tetapi membangun kesadaran bersama bahwa masa depan kebudayaan kota hanya dapat dijaga jika kita menempatkan nilai  -  bukan kedekatan politik atau kepentingan ekonomi  -  sebagai fondasi. Bandung membutuhkan kebudayaan yang hidup dari keberanian warga, bukan dari kenyamanan kekuasaan.

Paradigma Kebudayaan yang Menyempit

Di luar persoalan Sawala, ada satu problem yang jauh lebih struktural dan sudah berlangsung lama: sebagian pelaku budaya di Bandung masih melihat kebudayaan sebagai sumber PAD, bukan sebagai ruang pembentukan karakter warga. Paradigma ini bukan hanya sempit, tetapi juga berbahaya. Ia menjadikan kebudayaan sebagai industri yang mengabdi pada target-target ekonomi, bukan sebagai ruang penciptaan makna dan nilai.

Ketika kebudayaan dipersempit menjadi urusan pemasukan anggaran daerah, yang hilang bukan hanya etika, tetapi substansi kebudayaan itu sendiri. Kita lupa bahwa kebudayaan adalah fondasi dari seluruh bangunan kehidupan kota—dari etika publik hingga cara kita memperlakukan alam, sesama, dan masa depan. Kota yang menjadikan kebudayaan sebagai komoditas semata akan kehilangan daya kritisnya. Ia mungkin ramai oleh festival, tetapi sepi oleh gagasan dan refleksi.

Padahal Bandung memiliki sejarah panjang sebagai ruang intelektual, ruang eksperimental, ruang pertemuan gagasan. Bandung dulu menjadi kota di mana seni bukan sekadar tontonan, tetapi bahasa kegelisahan moral. Kini, ketika krisis moral melanda pemerintahan kota, kebudayaan seharusnya kembali menjadi ruang pembentuk etika bersama. Tetapi bagaimana mungkin itu terjadi jika sebagian pelaku budayanya sendiri lebih sibuk mengejar peluang proyek dan PAD ?

Kebudayaan sebagai Jalan Pemulihan Kota

Dalam situasi seperti ini, tugas kita adalah memastikan agar Sawala Budaya 2025 tidak berubah menjadi ruang kosong atau alat kepentingan. Sawala harus menjadi momentum untuk merebut kembali martabat kebudayaan kota  -  sebagai sumber kesadaran, refleksi, dan spiritualitas publik.

Kita perlu mengingatkan bahwa kebudayaan bukan hanya milik seniman atau pejabat dinas, melainkan milik warga kota. Ia adalah jaringan nilai yang menuntun kita pada keputusan-keputusan bermakna: bagaimana memperlakukan sungai, bagaimana memandang ruang publik, bagaimana mengelola sampah, bagaimana menyusun kebijakan yang tidak melukai yang lemah. Kebudayaan yang kuat akan melahirkan pemerintahan yang lebih bersih, masyarakat yang lebih kritis, dan kota yang lebih manusiawi.

Dalam suasana kota Bandung yang sedang dilanda krisis moral, banjir, sampah, dan berbagai pelanggaran HAM, kebudayaan justru seharusnya tampil sebagai ruang keberanian moral terakhir yang kita miliki. Sawala 2025, dalam bentuknya yang paling luhur, adalah panggilan untuk itu: sebuah seruan agar kebudayaan tidak tunduk pada pragmatisme, tetapi menjadi kekuatan transformasi.

Baca Juga: Krisis Tempat Parkir di Kota Bandung Memicu Maraknya Parkir Liar

Menutup: Sebuah Ajakan Kesadaran

Pada akhirnya, persoalan kebudayaan di Bandung bukan hanya soal siapa yang duduk di DKKB, siapa yang sah, siapa yang menolak, atau siapa yang mundur. Itu semua hanyalah permukaan dari persoalan yang jauh lebih dalam: Apakah kita ingin kebudayaan yang menjaga martabat kota, atau kebudayaan yang melayani kenyamanan kekuasaan?

Kita sedang berdiri di tengah jurang nilai, dan hanya kebudayaan yang reflektif dan berani yang dapat menuntun kita kembali. Kita memerlukan DKKB yang tidak jinak, tidak tunduk, dan tidak terkooptasi. Kita memerlukan pelaku budaya yang tidak hanya sibuk dengan panggung, tetapi juga peduli pada keberadaban kota. Kita memerlukan pemerintah kota yang menyadari bahwa kebudayaan bukan ornamen, tetapi fondasi moral.

Karena pada akhirnya, kota yang kehilangan kebudayaannya bukan hanya kehilangan masa lalu, tetapi kehilangan masa depan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)