Kota untuk Siapa: Gemerlap Bandung dan Sunyi Warga Tanpa Rumah

4 menit baca
Rajwaa Munggarana
Ditulis oleh Rajwaa Munggarana diterbitkan
Seorang tunawisma menyusuri lorong Pasar pada malam hari (29/10/25) dengan memanggul karung besar di Jln. ABC, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung. (Foto: Rajwaa Munggarana)
Seorang tunawisma menyusuri lorong Pasar pada malam hari (29/10/25) dengan memanggul karung besar di Jln. ABC, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung. (Foto: Rajwaa Munggarana)

Pak Farhan, Bandung sedang sibuk menata wajah kota, namun lupa menata nasib warganya yang tidur di trotoar. Di saat gedung baru dan kafe terus bermunculan, selimut karton masih menjadi atap banyak orang di sudut-sudut jalan. Mereka ikut membayar harga mahal urbanisasi, tetapi tak pernah diajak bicara soal masa depan kota. Pertanyaannya sederhana: untuk siapa sebenarnya Bandung dibangun hari ini. 

Selama satu tahun kepemimpinan Anda, homeless masih dipandang sebagai masalah ketertiban, bukan korban ketidakadilan struktural. Operasi penertiban lebih sering terdengar dibanding kabar kebijakan yang benar-benar mengangkat mereka dari jalanan. Tubuh-tubuh lelah itu digeser dari satu sudut kota ke sudut lain, seolah hanya noda di atas kanvas pariwisata. Kota tampak bersih di foto, namun semakin kejam bagi mereka yang tak punya alamat. 

Kota yang Anda janjikan akan inklusif, memilih siapa yang diterima dan siapa yang tidak. Meskipun istilah kelompok rentan sering di gaungkan di ruang rapat, nyatanya di jalanan mereka menghadapi razia, stigma, dan pandangan curiga. Mereka yang tidak memiliki tempat tinggal hanya muncul sebagai angka, bukan individu yang memiliki sejarah, luka, dan harapan.

Pak Farhan, tanpa data terbuka dan jujur tentang jumlah serta kondisi warga tanpa rumah, publik sulit mengawasi janji-janji Bapak. Transparansi bukan sekadar unggahan infografik, tetapi kesediaan membuka angka yang mungkin memalukan bagi pemerintah. Warga perlu tahu berapa yang sudah dijangkau, berapa yang kembali ke jalan, dan apa yang salah dari program sebelumnya. Tanpa itu, slogan keadilan sosial hanya jadi kalimat manis di baliho kota. 

Di saat anggaran kota mengalir deras untuk event, festival, dan proyek beraroma selfie, rumah singgah masih terbatas dan layanan psikososial minim. Kebijakan seperti ini memberi sinyal jelas bahwa hak hidup layak warga paling miskin kalah penting dibanding pesta ruang publik. Sementara, sebagian besar penduduknya hanya menjadi bayangan di belakang panggung, Bandung dipromosikan sebagai destinasi. Inilah wajah ketimpangan yang lahir dari pilihan politik, bukan kebetulan. 

Lebih parah lagi, mereka yang hidup atau pernah hidup di jalan hampir tak pernah duduk setara di meja perumusan kebijakan. Suara mereka disaring lewat laporan, bukan diundang sebagai saksi langsung atas kegagalan sistem. Kebijakan yang dibuat tanpa mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang terdampak hanya akan mengulangi pola kekerasan yang sama. Kota kehilangan kompas moralnya ketika tidak memberikan kesempatan untuk berbicara.

Namun, pada saat inilah Bapak memiliki kesempatan untuk mengubah tujuan dan menjadikan janji "Bandung inklusif" menjadi kenyataan. Mulailah dengan mengakui orang yang tidak memiliki tempat tinggal sebagai warga kota yang berhak atas hak penuh atas hunian, kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan yang bermartabat. Mengubah bahasa pejabat dan aparat dari "penertiban gelandangan" menjadi "pemenuhan hak warga tanpa rumah". Bahasa menunjukkan kepedulian, dan warga dapat merasakannya.

Tidak hanya sekedar program musiman ini harus memiliki rencana tindakan yang jelas, terukur, dan dapat diawasi oleh masyarakat. Tetapkan target tahunan, berapa orang yang harus keluar dari jalan secara permanen, bukan hanya terjaring razia. Sertakan rencana anggaran yang berani, karena keadilan sosial tidak lahir dari sisa-sisa dana proyek infrastruktur. Undang akademisi, organisasi akar rumput, dan komunitas pendamping jalanan untuk menguji rencana itu bersama-sama. 

Pak Farhan, ubah pendekatan pembinaan menjadi pemberdayaan yang sungguh-sungguh membuka pintu keluar dari kemiskinan. Rumah singgah harus menjadi awal perjalanan, bukan ruang tunggu sebelum seseorang kembali ke trotoar. Berikan pelatihan keterampilan yang relevan, akses kerja dengan upah layak, dan pendampingan intensif hingga mereka benar-benar mandiri. Kota adil adalah kota yang berani menginvestasikan anggaran pada manusia, bukan hanya beton. 

Selain itu, kebijakan perumahan harus beralih dari perspektif pasar penuh untuk memprioritaskan kelas pekerja miskin dan penduduk tanpa rumah. Bandung memiliki kesempatan untuk memulai model housing first versi lokal dengan memberikan hak dasar untuk hunian yang sederhana, aman, dan terjangkau. Selanjutnya, gabungkan layanan kesehatan, konseling, bantuan hukum, dan dukungan sosial lainnya. Tanpa atap yang pasti, semua program lain hanya akan berputar di lingkaran kegagalan. 

Baca Juga: Ini Titik-Titik Kemacetan di Kota Bandung menurut Wali Kota Farhan: Mana Tata Kelolanya?

Jangan curigai solidaritas warga yang turun langsung membantu masyarakat jalanan, rangkul mereka sebagai mitra politik kesejahteraan. Inisiatif komunitas membagikan makanan, mengelola dapur umum, atau menyediakan ruang aman adalah modal sosial berharga. Pemerintah kota bisa membangun skema kolaborasi yang melindungi mereka dari kriminalisasi dan memperkuat jaring pengaman. Kota yang sehat adalah kota yang memberi ruang bagi warganya untuk saling menjaga, bukan melarang. 

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat betapa ramainya festival atau seberapa terang lampu kota. Sejarah akan menilai apakah masa jabatan Bapak membuat Bandung menjadi rumah yang layak bagi mereka yang sebelumnya tak punya rumah. Bapak bisa memilih menjadi wali kota yang merapikan kota demi wisatawan, atau pemimpin yang merapikan kota demi warganya sendiri. Jika Bapak berpihak pada yang paling rentan hari ini, nama Bapak akan diingat bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai sesama warga yang berani melawan ketidakadilan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Rajwaa Munggarana
Undergraduate Digital Public Relation at Telkom University | School of comunication & Sosial Sciences

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)