Bandung Kehilangan Arah Kepemimpinan yang Progresif

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Jumat 12 Des 2025, 15:53 WIB
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau lokasi banjir di kawasan Rancanumpang. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau lokasi banjir di kawasan Rancanumpang. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

Rasanya lelah ketika kota yang menjadi tempat kelahiran kita dipimpin oleh mereka yang selalu kehilangan arah. Dari mereka yang dahulunya menjadi calon pemimpin Kota Bandung meneriakkan segala visi dan misinya yang indah itu. Berjanji akan menyelesaikan permasalahan kompleks yang Kota Bandung alami sejak lama yaitu banjir, permasalahan sampah hingga kemacetan. Janji hanya sekedar janji tanpa aksi nyata kecil yang dimulai sejak dini.

Kejemuan akan masa kampanye yang berulang dengan pola yang sama--nyatanya masih bisa memikat hati masyarakat secara luas. Selalu ada harapan kecil dari hati masyarakat bahwa para pemimpin yang baru akan membuat perubahan--meski hanya sedikit. Namun lagi dan lagi masyarakat selalu menjadi korban yang dikhianati.

Setelah mendengar kabar bahwa Wakil Wali Kota Bandung, Erwin telah ditetapkan menjadi tersangka korupsi dalam kasus jual beli jabatan di Pemkot Bandung--pupus sudah harapan Bandung untuk bisa menjadi kota yang bebas dari KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Tak hanya itu berita ini juga ikut mencederai Visi-Misi dari Farhan-Erwin "Mewujudkan Kota Bandung yang Unggul, Terbuka, Amanah, Maju dan Agamis melalui pemerintahan yang berorientasi melayani serta berkelanjutan dalam mendukung pembangunan nasional".

Bandung semakin semrawut dalam 10 bulan kinerja pemerintahan Kota Bandung yang baru. Permasalahan sampah yang kian pelik, kondisi banjir yang sudah meluas ketika musim penghujan hingga kemacetan yang kerap menghantui setiap harinya.

Volume Sampah yang Kian Meningkat

Sampah menjadi masalah krusial yang dihadapi oleh masyarakat Kota Bandung. Gaya hidup modern membuat produsen berlomba-lomba untuk memproduksi sejumlah makanan kemasan yang dianggap bisa mengefisienkan waktu yang dimiliki masyarakat hari ini. Menjadi masalah yang pelik ketika limbah sampah tersebut tidak diolah dengan baik dan bahkan dibiarkan saja menumpuk di setiap sudut kota, menggunung di emperan pertokoan hingga dibiarkan hanyut di sejumlah sungai Cikapundung atau Citarum.

Dilansir dari detik.com bahwa sampah yang dihasilkan 1500 ton perhari hanya mampu dikelola sebanyak 160 ton saja. Tentu fakta yang sangat menggemparkan dengan perbandingan yang sangat kecil antara sampah yang dibiarkan dengan sampah yang dikelola.

Saat pencalonannya sebagai kepala daerah pada tahun 2024 Farhan-Erwin bertekad untuk mengoptimalkan penangan sampah yang sudah menjadi masalah krusial di Kota Bandung. Dilansir dari laman Bandung Utama Farhan-Erwin memberi janji akan menjadikan program prioritas selama tiga bulan kepemimpinannya.

Pemerintah harus serius dalam mengatasi permasalahan sampah ini. Saya menjadikan penanganan sampah ini sebagai program prioritas dalam tiga bulan pertama kepemimpinan kami (bersama calon walikota, Erwin) pada tanggal )14/10/2024.

Faktanya dengan anggaran yang mencapai 300 Miliyar belum mengubah apapun terhadap masalah yang kompleks ini. Sampah memang permasalahan bersama yang harus dituntaskan secara kolaborasi antara pemimpin dengan masyarakatnya. Namun masyarakatnya pun perlu arahan yang jelas dan sistem yang terus diupayakan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini. Sosialisasi tidak cukup diberikan dalam satu atau dua bulan tapi harus secara konsisten setiap hari untuk merubah pola hidup dan kesadaran masyarakat. Dan hal ini belum terjadi di era kepemimpinan Bandung hari ini.

Alih Fungsi Lahan yang Menyebabkan Banjir

Banjir yang Menggenangi Desa Sukamukti (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Banjir yang Menggenangi Desa Sukamukti (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Sebagai warga yang tinggal di sekitar Bandung Selatan saya sering melihat banyak alih fungsi lahan yang rasanya dibiarkan begitu saja. Para pemangku kebijakan memberikan izin operasional pembangunan secara masif tanpa memperhitungkan dampak yang akan terjadi di kemudian hari. Hamparan sawah mulai berubah menjadi sejumlah perumahan.

Sebetulnya bukan hal baru jika Bandung Selatan selalu menghadapi banjir musiman. Seperti sudah bisa diprediksi banjir tahunan akan terjadi di penghujung Desember saat curah hujan meningkat. Namun di awal bulan Desember masyarakat di sekitar saya tinggal cukup mengalami kejutan yang tidak mengenakan. Saat itu di tanggal 4 Desember 2025 terdapat hujan dari siang menjelang sore tapi bukan dengan curah yang besar.

Mendadak di jam 4 sore keluarlah ular besar dari selokan--seolah ular itu sudah mengetahui bahwa banjir besar akan datang. Tak lama setelah ular tersebut diamankan warga, air dari selokan dan kawasan Citarum mulai meluap ke jalanan. Tidak ada satu warga pun yang bersiap untuk mengemasi barang-barang. Justru sebagian diantaranya masih sibuk membicarakan ular. Siapa sangka air terus naik hingga masuk ke rumah-rumah yang memiliki kontruksi pendek. Beberapa toko sedikit tenggelam oleh air bahkan beberapa rumah yang berlokasi di pinggir Citarum sudah menghanyutkan beberapa perkakas yang dimiliki warga.

Setelah berita banjir tersebut pada tanggal 6 Desember 2025, KDM mengeluarkan surat edaran untuk menghentikan sementara pengeluaran izin pembangunan rumah di Bandung Raya.

Setelahnya Farhan selaku Wali Kota baru menanggapi kebijakan KDM tersebut dengan mengatakan pentingnya langkah tersebut sebagai mitigasi bencana sekaligus memastikan bahwa pembangunan berjalan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Menurut saya ada baiknya seluruh jajaran pemerintah kota/kab Bandung melakukan upaya ini jauh sebelum banjir atau bencana baru melanda masyarakat. Sepertinya "Sedia payung sebelum hujan" memang tidak benar-benar terealisasi dalam menanggulangi permasalahan yang ada di Kota Bandung.

Kemacetan yang Semakin tidak Terkendali

Kemacetan di Kawasan Jembatan Citarum Rancamanyar (6/12/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Kemacetan di Kawasan Jembatan Citarum Rancamanyar (6/12/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Setelah sejumlah titik terdampak banjir tentu Rancamanyar menjadi akses bagi sebagian masyarakat Bandung selatan untuk melakukan mobilisasi. Jika tidak terjadi banjir kawasan Rancamanyar selalu menjadi zona merah kemacetan maka ketika banjir kemacetan akan naik berkali-kali lipat dan rawan stagnan dan tidak terurai secara cepat.

Perjalanan Rancamanyar--Kota Bandung yang biasanya bisa diakses dengan 30 menit hingga 60 menit berubah menjadi 4 jam. Setelah sejumlah titik banjir yang menghambat laju kendaraan. Jumlah motor yang menggila pun kian memperparah kemacetan.

Tidak ada aparat yang bertugas untuk mengurai kemacetan. Hanya ada warga sekitar yang mencoba memimpin laju jalanan dengan teknik seadanya. Ada beberapa masyarakat yang bisa diatur tapi ada pula yang tetap dengan keegoisan dirinya. Tak jarang sering menimbulkan keributan dan perdebatan. Yang justru membuat suasana di jalanan makin kacau setelahnya.

Dari ketiga masalah krusial di atas tidak ada yang benar-benar mengalami perubahan. Semua visi dan misi yang tertuang dengan baik bagi saya sejauh ini belum terasa dampaknya bagi keadaan Kota maupun Kabupaten Bandung.

Saya rasa Bandung telah kehilangan kepemimpinan yang progresif. Bukan sekedar pemimpin yang hanya memprioritaskan jabatan bahkan dengan tega memperjualbelikan jabatan. Namun pemimpin yang selalu berupaya untuk mendorong perubahan positif baik bagi warga dan lingkungannya.

Bandung telah kehilangan arah kepemimpinan yang inovatif yang secara terus-menerus mencari cara baru untuk menyelesaikan masalah kotanya. Pemimpin yang inovatif bukan sekedar memacu masyarakatnya untuk berbuat tapi harus serta merta melibatkan dirinya untuk bersama-sama membuat Bandung menjadi lebih baik lagi.

Saya rasa Bandung lagi dan lagi kehilangan pemimpin yang Bertanggungjawab serta berintegritas. Kembali lagi warga Bandung dikhianati oleh kasus korupsi para pemimpinnya. Setelah sebelumnya Dada Rosada dan Yana Mulyana terjerat kasus korupsi, kini Erwin pun yang sedang menjabat sudah ditetapkan menjadi tersangka.

Seluruh permasalahan kota Bandung yang saya sajikan tentu tidak akan berjalan dengan baik jika hanya mengandalkan pemerintahan. Butuh kerja sama yang solid antara pemimpin dengan rakyatnya.

Namun menurut saya pemimpin yang progresif menjadi kunci terciptanya kerjasama antara dua belah pihak.

Baca Juga: Tren Olahraga Padel Memicu Pembangunan Cepat Tanpa Menperhitungkan Aspek Keselamatan Jangka Panjang?

Sampah, banjir dan kemacetan bisa diatasi bersama ketika para pemimpin sanggup membuat sistem yang tegas dan transparan. Tidak sekedar mengimbau masyarakat untuk memilah sampah tapi ikut serta dalam memonitoring bahwa sampah tersebut bisa diolah dengan baik bahkan bisa menciptakan nilai jual.

Banjir pun demikian bagaimana pemerintah bisa mengurangi izin alih lahan sawah menjadi perumahan. Tapi masyarakat pun harus sadar dan mengurangi kepemilikan lebih dari satu properti agar pemerataan rumah bisa adil untuk masyarakat lainnya.

Kemacetan pun seharusnya bisa diatasi oleh Pemda untuk mengeluarkan peraturan daerah demi mengurangi jumlah motor yang ada. Tapi masyarakat pun harus berkontribusi dengan mengurangi pembelian kendaraan pribadi. Sejalan dengan itu pemerintah pun harus siap menyediakan transportasi umum yang layak bagi masyarakat dan bisa terhubung ke berbagai daerah terpencil. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Beranda 21 Jan 2026, 07:10 WIB

Tamu Tembus 4.000 Orang, Kampung Takakura Sukamiskin Jadi Pusat Edukasi Sampah Lintas Pulau dan Negara

Upaya warga Kampung Takakura ini mendapat perhatian pemerintah. Sejumlah dinas turut memberikan dukungan berupa fasilitas penunjang.
Sejumlah penghargaan yang diraih Kampung Takakura antara tahun 2018-2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 21 Jan 2026, 06:54 WIB

Di Malam yang Tidak Pernah Sama, Pasar Lilin Astana Anyar Tetap Ada

Suasana terasa hangat. Antar pedagang saling menyapa, berbagi cerita, dan sesekali diselingi gelak tawa di sela menunggu pembeli.
Pasar Lilin kini lebih terang setelah menggunakan cahaya dari lampu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 20 Jan 2026, 21:30 WIB

Menggenggam Harapan Bandung Lewat Wajib Belajar Pra Sekolah

PAUD bukan sekadar tempat bermain, di balik aktivitas sederhana seperti bernyanyi atau menggambar, tersimpan proses pembentukan karakter.
Ilustrasi. PAUD bukan sekadar tempat bermain, di balik aktivitas sederhana seperti bernyanyi atau menggambar, tersimpan proses pembentukan karakter. (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 20 Jan 2026, 20:43 WIB

Hikayat Kelam Kasus Herry Wirawan, Kekerasan Seksual terhadap Santriwati di Bandung

Perkara Herry Wirawan, pemilk salahsatu peantren di Bandung, menjadi salah satu kasus kekerasan seksual anak terberat dalam sejarah hukum Indonesia.
Herry Wirawan.
Ayo Jelajah 20 Jan 2026, 20:26 WIB

Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Longsor besar Juni 1924 menghapus Kampung Cigembong di selatan Garut. Arsip kolonial mencatat retakan gunung, pergerakan tanah, ratusan korban jiwa, serta sawah dan rumah yang lenyap dalam sekejap.
Ilustrasi longsor Cigembong Garut 1924.
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 19:35 WIB

Menelaah Kaitan Penerangan Jalan dan Potensi Aksi Kejahatan

Warga Margahayu Raya berharap Walikota M. Farhan segera mengatasi masalah lampu jalan yang minim.
Kondisi jalan di Komplek Margahayu Raya yang hanya diterangi oleh rumah warga akibat minimnya lampu penerangan jalan umum pada malam hari, 1 Desember 2025. (Sumber : Dokumentasi Penulis | Foto : Nur Azizah) (Foto : Nur Azizah) (Foto: Nur Azizah)
Ayo Biz 20 Jan 2026, 19:25 WIB

Mimpi Swasembada Energi: Jalan Terjal Transisi di Era Prabowo

Keberhasilan PP Nomor 40/2025 sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menggeser dominasi sistem energi dari energi fosil menuju energi bersih melalui instrumen kebijakan yang tepat sasaran.
Analis kebijakan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata saat diskusi Ikatan Wartawan Ekonomi Bisnis (IWEB) di Bandung, Selasa (20/1/2026). (Sumber: Dok IWEB)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 18:37 WIB

Antara Warga, Amanah, dan Ketenangan

Sebuah potret tentang tokoh yang menjadi pusat diskusi warga dan organisasi lokal.
Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 17:35 WIB

Susahnya Memberantas Parkir Liar yang Merajalela di Kota Bandung

Di Kota Bandung, parkir liar sangat mudah ditemukan di berbagai macam tempat.
Potret juru parkir liar di salah satu titik Kota Bandung (04/12/25) (Foto: Salsafira Farelya)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 17:00 WIB

Belajar dari Artis, Seni Mengelola Circle Pertemanan Menjadi Aset Masa Depan

Nggak cuma lucu-lucuan, Prediksi dan Bedain jadi bukti kalau tongkrongan bisa menghasilkan cuan.
Prediksi dan Bedain. (Instagram/Prediksi)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 16:17 WIB

Efisiensi Fiskal dan Era Pariwisata Virtual

Efisiensi fiskal menuntut inovasi pemerintah. Bandung perlu cara baru untuk tetap bisa meningkatkan sumber PAD melalui promosi wisata dengan jangkauan luas, tanpa membebani anggaran.
Gunung Putri Lembang, Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Dwinanda Nurhanif Mujito)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 16:00 WIB

Antara Janji Meritokrasi atau Realitas Politik Koalisi: Pembentukan Kabinet Merah Putih

Mengapa idealisme meritokrasi Prabowo luntur demi mengakomodasi kepentingan koalisi, melahirkan 'Kabinet Gemuk' yang lebih mengutamakan stabilitas politik daripada kompetensi ahli.
Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 15:00 WIB

Ini Sosok John Herdman Pelatih Baru Timnas: Adakah Pemain Persib yang Dipanggil?

John Herdman akan didampingi Cesar Meylan, yang akan bertugas sebagai pelatih fisik Tim Garuda.
John Herdman, lahir 19 Juli 1975, mulai melatih sepak bola pada usia muda di Inggris, saat ia masih menjadi mahasiswa dan dosen universitas paruh waktu di Northumbria University. (Sumber: Kemenpora)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 12:21 WIB

Merawat Imajinasi

Aktivitas mendongeng (membacakan) cerita bukan semata soal hiburan, melainkan ikhtiar bersama dalam menanamkan benih pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus mengikat cinta.
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 11:25 WIB

CSR di Bandung: Dari Kegiatan Simbolik Menuju Dampak Sosial Nyata

CSR di Bandung sering dipandang hanya sebagai agenda formal yang belum sepenuhnya menangani kebutuhan sosial secara mendalam.
Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 10:03 WIB

Nestapa Gaza, Akankah Dunia Islam Bisa Baik-Baik Saja?

Warga Gaza masih berduka, di tengah hujan musim dingin dan camp darurat.
Krisis Gaza masih berlanjut, semakin kritis di tengah cuaca dingin dan hujan yang semakin intens. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanul Haque Z)
Beranda 20 Jan 2026, 08:33 WIB

Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut: Gaya Hidup Kampung Takakura dalam Mengatasi Krisis Sampah Bandung

Selama hidup, manusia pasti memproduksi sampah. Sampai kapan pun itu tidak akan hilang. Karena itu kita harus berteman dengan sampah dengan menjadikannya sesuatu yang bernilai.
Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Jelajah 19 Jan 2026, 20:24 WIB

Sejarah Universitas Islam Bandung, Kampus Biru di Tamansari

Unisba lahir dari kegelisahan tokoh Islam Jawa Barat tentang pendidikan iman dan ilmu hingga tumbuh di Tamansari Bandung.
Kampus Unisba di tamansari. (Sumber: unisba.ac.id)
Ayo Netizen 19 Jan 2026, 18:26 WIB

Walau Lebih Mahal, Ada Alasan Gen-Z Lebih Suka Bus AKAP Fasilitas Lengkap

Ada nih Bus AKAP Luxury yang bisa dilirik oleh kalangan Anak Muda di Bandung cuy
Interior dari Cititrans Super Executive Busline 28S (CTB-102) saat malam hari pada 30 Oktober 2025. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dean 'Izzan Rahmani)
Ayo Biz 19 Jan 2026, 18:21 WIB

Kontroversi Susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis Menguji Kualitas Gizi Anak Sekolah

Kontroversi susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memantik perdebatan publik.
Ilustrasi. Susu adalah simbol asupan protein, kalsium, dan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan ana. (Sumber: Freepik)