Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Bandung, Pandawara, dan Kesadaran Masyarakat yang Harus Bersinergi

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Minggu 19 Okt 2025, 08:41 WIB
Aksi Pembersihan salah satu sungai oleh Pandawara Group (Sumber: Instagram | Pandawaragroup)

Aksi Pembersihan salah satu sungai oleh Pandawara Group (Sumber: Instagram | Pandawaragroup)

Bandung dalam narasi Kota Kembang berakar pada keeksotisan alam dan melimpahnya bunga yang tumbuh dengan subur saat pemerintahan kolonialisme Belanda. Sebagaimana dilansir dari ayobandung.com yang menyatakan bahwa istilah "Kota Kembang" tidak terkesan berlebihan karena faktanya merujuk pada dua makna sekaligus, bunga yang tumbuh subur di kota Priangan dan "Kembang" dalam artian perempuan sebagai lambang keindahan kota Bandung sendiri.

Meski pada masa pemerintahan Wali Kota Ridwan Kamil ikonik "Bandung Kota Kembang" kembali dibangun citranya dengan cara revitalisasi Alun-Alun Kota Bandung yang hari ini terdapat sejumlah tanaman bunga juga rumput sintesis. Revitalisasi terhadap taman-taman di Kota Bandung yang mulai dibenahi serta pemasangan pot gantung disejumlah kawasan di Kota Bandung.

Faktanya segala usaha untuk membangun kembali Kota Bandung sebagai Kota Kembang tidak berjalan dengan mulus. Sejauh ini penataan Alun-Alun Bandung sebagai pusat kota memang tetap mendapat perhatian lebih dari sejumlah pengurus salah satunya penutupan Alun-Alun Bandung dari 11 Agustus 2025 hingga 4 bulan ke depan untuk dilakukan sejumlah revitalisasi terhadap beberapa kerusakan fasilitas seperti kondisi lampu, tanaman dan beberapa perbaikan pada pagar.

Namun sejumlah pot gantung yang terpasang di sejumlah jalan di Kota Bandung, sebagian besar luput dari perhatian pengurus. Banyak bunga yang layu bahkan hilang dari pot. Sejumlah pot yang rusak dan hilang entah kemana. Meski penyiraman tanaman di sejumlah kawasan masih rajin dilakukan oleh sejumlah petugas tapi secara garis besar citra yang dibangun untuk mempertahankan julukan "Kota Kembang" tidak semudah yang diprogramkan. Belum lagi sejumlah taman yang tidak terawat akibat dari pembuangan sampah sembarangan menjadikan taman tak lagi indah tapi kumuh oleh sampah.

Bahkan Bandung pernah menjadi sorotan dari salah seorang Bule yang bergiat dalam isu sampah dan lingkungan hidup. Seorang blogger asal Bulgaria yang pada tahun 2014 isu ini muncul, dirinya sudah menetap di Kota Bandung. Inna mengkritik Kota Bandung terkait permasalahan sampah hingga memberikan julukan lain sebagai "The City of Pigs" saking kotornya.

Dilansir dari detik.com, kritik pedasnya tersebut disampaikan melalui blog pribadinya bernama venusgotgonorrhea. wordpres.com pada 16 Januari 2014. Melalui pengalamannya yang pernah bermukim di kawasan Setia Budi, Antapani dan Ujung Berung, dirinya sering menemukan permasalahan sampah yang luput dari perhatian seluruh pihak baik masyarakat atau pemerintahan setempat.

Sejauh dari penglihatan saya sebagai warga Kota Bandung permasalahan sampah memang belum pernah menemukan solusi nyata yang berkelanjutan untuk membenahi masalah terkait. Sejak SMP saya pernah sesekali mengunjungi kawasan Pasar Caringin yang luar biasa menimbun tumpukan sampah baik organik maupun non-organik dan kondisinya masih sama ketika KDM pernah melakukan kunjungan ke pasar tersebut beberapa waktu silam.

Selanjutnya kawasan Cibaduyut yang sering saya lalui sejak sekolah pun kerap tidak pernah hilang kebiasaannya untuk membuang sampah di pinggiran jalan atau toko sepatu yang berjajar. Kawasan yang seringkali dikunjungi oleh wisatawan di luar kota Bandung ini tidak membuat masyarakat sekitar berbenah untuk membuat citra sebagai lingkungan yang bersih dan nyaman. Hingga hari sejumlah sampah masih terlihat menumpuk di sejumlah titik yang tak hanya menimbulkan aroma tidak sedap tapi pemandangan yang mengganggu keelokan penglihatan. Sejumlah sampah ini pun turut menyumbang saat hujan deras melanda dan banjir datang secara tiba-tiba.

Selanjutnya kawasan Citarum yang melintasi sejumlah titik di Kab. Bandung bahkan bukan lagi sumber kehidupan tapi lautan sampah yang kian hari makin memadati kawasan sungai. Saat pagi hari tiba banyak motor yang melintas berhenti sejenak untuk membuang sejumlah sampah ke Citarum. Tanpa rasa bersalah dan malu, mereka kembali melajukan motor meski ada sejumlah masyarakat yang juga melihat kejadian tersebut.

Banyak sejumlah penjual makanan yang memproduksi limbah sampah basah setiap hari justru ikut membuangnya ke area kosong penyangga jembatan. Sampah memang tidak jatuh ke sungai tapi menimbulkan aroma tidak sedap saat terpapar panasnya matahari. Selain itu juga menjadi pemandangan yang tidak elok terlihat saat sejumlah pejalan kaki melintasi jembatan Citarum.

Lahirnya Pandawara Group di Kota Bandung

Pandawara Group merupakan sekumpulan pemuda yang berasal dari Kota Bandung. Kumpulan dari lima pemuda yaitu Gilang, Ikhsan, Rifqi, Rafly dan Agung yang berteman sejak SMA ini pada mulanya memiliki keresan akan Kota Bandung. Di mana permasalahan sampah berdampak secara langsung bagi kehidupan yaitu banjir. Atas dasar tersebut awalnya mereka membersihkan sampah di sekitar selokan dan sungai terdekat dari tempat tinggal.

Dilansir dari tempo.com, awalnya Pandawara hanya menggunakan peralatan sederhana dengan modal pribadi untuk membersihkan lingkungannya.

Kemudian setelah membaik Pandawara mulai melakukan ekspansi ke sejumlah wilyah terdekat di Jawa Barat yaitu Sukabumi.

Pandawara sadar bahwa kehidupan di era digital memang menuntut untuk memperlihatkan aksi nyata melalui media sosial agar semakin banyak masyarakat yang tergugah khususnya perihal isu sampah dan lingkungan.

Hal ini terbukti ketika Pandawara group berhasil meng-influence beberapa pemuda di kota lain untuk melakukan aksi yang sama.

Meski beberapa orang yang mengikuti jejak Pandawara ada yang masih bertahan tapi ada juga yang menghilang tak melakukan keberlanjutan.

Sejauh ini Pandawara sudah melakukan usaha untuk menjaga lingkungan dengan baik. Usahanya tersebut membawa jauh terhadap penghargaan dan apresiasi dari Tiktok Awards tahun 2023 dengan tiga kategori yaitu Changemakers of The Year, Creator of The Year dan Rising Star of The Year.

Pandawara juga sempat mendapatkan penghargaan dari detikJabar Awards pada 2023 sebagai penggiat perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup.

Selain itu Pandawara juga mendapatkan Indonesia Green Awards pada 2024 dengan penghargaan Ecostar of The Year.

Terlepas dari semua itu, apakah lantas menjadikan Bandung sebagai kota yang bebas dari sampah ? faktanya hingga hari ini jutaan sampah masih membanjiri kota Bandung. Dilansir dari tempo.com, Menurut Kepala Bidang Pengelolaan Sampah di Kota Bandung yaitu Salman Faruq mengatakan bahwa hingga hari ini penumpukan sampah sudah mencapai 4000 ton. Jumlah ini kian menaik jika tidak ada upaya apapun yang bisa dilakukan.

Lantas mengapa Pandawara Group yang berasal dari Kota Bandung sebagai pemuda yang membawa perubahan terhadap lingkungan justru tidak berdampak pada kota Bandung?

Apa salah Pandawara? Jelas bukan karena permasalahan sampah adalah tugas kita bersama.

Pandawara sebagai penggagas yang memulai dan memberikan contoh baik dan kita sebagai warga Kota Bandung wajib bersinergi untuk menuntaskan pr yang sudah menggunung ini. Bahu-membahu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.

Kesadaran Masyarakat yang Perlu Ditumbuhkan

Sungai Citarum lautan sampah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Sungai Citarum lautan sampah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Pandawara adalah contoh dari segelintir pemuda yang tinggal di Kota Bandung yang peduli terhadap isu-isu lingkungan dan permasalahan sampah. Lantaskah karena mereka penggagas kemudian masyarakat tetap berpangku tangan karena merasa itu adalah tugas Pandawara.

Saya berkata demikian karena banyak sekali saya temui komentar-komentar pada sejumlah akun Pandawara group di media sosial yang justru menumpahkan tanggung jawab permasalahan sampah kepada mereka. Beberapa komentar seperti meminta Pandawara datang untuk membersihkan sejumlah sungai yang kotor dan menyelesaikan permasalahan sampah.

Berarti ada mis-persepsi terhadap pola pikir sebagian masyarakat yang menganggap permasalahan lingkungan menjadi tanggung jawab beberapa pihak saja. Pola pikir semacam ini sudah jelas harus di edukasi menuju perbaikan bahwa tugas menjaga lingkungan adalah tugas bersama.

Tak hanya itu bahkan setelah sungai dibersihkan oleh Pandawara, dalam beberapa bulan pemantauan kembali-- sungai kembali kotor dan masyarakat sekitar aliran sungai tetap melakukan aktivitas membuang sampah sembarangan.

Belum lagi beberapa penghalang sampah yang sempat di pasang oleh Pandawara hilang dicuri oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab. Alat yang dipasang guna untuk menghalangi sampah agar tidak sampai ke laut justru menuai ironi. Tindakan pencurian tersebut kembali menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

Saya sangat setuju bahwa hal mendasar yang perlu dilakukan masyarakat dan pemerintah setempat untuk membenahi permasalahan di Kota Bandung adalah menumbuhkan kesadaran dan kebaikan kecil dalam kehidupan sehari-hari pada lini terkecil yaitu keluarga.

Sesederhana mulai mengubah pola konsumsi terhadap penggunaan produk plastik yang menjadi permasalahan limbah. Mulai dari beralihnya penggunaan minuman kemasan menjadi tumbler yang bisa digunakan berulang kali dalam jangka waktu yang lama. Ibu-ibu rumah tangga yang mulai mengurangi penggunaan produk sachet seperti sampho, sabun, kecap, minyak kelapa dan produk bumbu instan lainnya.

Selanjutnya masyarakat mulai memaksimalkan sejumlah limbah produk rumah tangga untuk melakukan pemisahan antara sampah organik dan anorganik. Terlihat klise dan lebay tapi hal ini memang langkah realistis yang bisa dilakukan dalam jangka waktu dekat. Sampah organik bisa diupayakan menjadi pupuk dan jika berhasil mengelolanya bisa menjadi nilai ekonomi yang berguna untuk pemenuhan kehidupan sehari-hari.

Sementara produk anorganik bisa dikumpulkan melalui program Salman ITB yang mengajak masyarakat untuk mengumpulkan sampah anorganik melalui program Sedekah Sampah Indonesia dengan menyediakan boks sampah di lingkungan masjid. Hasil pengumpulan sampah tersebut digunakan untuk tujuan mulia keberlangsungan operasional masjid Salman dengan menjualnya ke bank sampah terdekat. Bahkan program serupa juga banyak tersebar di Kota Bandung hanya saja pemanfaatanya belum dimaksimalkan. Padahal kegiatan ini bisa membantu mengurangi limbah juga bisa mendulang nilai ekonomi.

Setelah kesadaran masyarakat tumbuh maka tahap selanjutnya adalah peran pemerintah untuk melakukan dua hal yaitu edukasi pengolahan sampah dan monitoring serta penerapan kebijakan yang ketat terhadap penyelesaian sampah di Kota Bandung.

Sejauh ini memang edukasi sudah dilakukan pemerintah melalui berbagai media dan turun langsung ke lapangan. Hanya saja untuk meningkatkan kesadaran masyarakat memang butuh waktu dan tidak akan mudah selesai dalam bulan atau tahunan. Pentingnya tidak hanya edukasi tapi monitoring ke sejumlah masyarakat untuk tetap mempertahankan habits yang sudah dibangun juga penting.

Selanjutnya perlu ada kebijakan atau peraturan yang tegas kepada masyarakat atau pejabat yang tidak mentaati peraturan perihal penyelesaian sampah. Misalnya terpasang cctv yang aman dari tindak pencurian untuk memantau sejumlah titik yang seringkali menjadi tempat pembuangan sampah. Melalui data yang didapatkan dari cctv tindak tegas selanjutnya adalah melakukan sejumlah sanksi baik berupa uang atau sanksi sosial yang membuat masyarakat enggan melakukan kesalahan yang sama.

Untuk Bandung yang maju dan berkelanjutan tidak bisa diselesaikan oleh sejumlah kelompok atau beberapa pejabat. Tapi ini peran dan tugas bersama mulai dari lingkup kecil keluarga, masyarakat luas, pengusaha, pemilik pabrik dan sejumlah pemerintah. Membentuk kebiasaan baik memang tidak mudah dan memerlukan perjalanan yang panjang. Tapi jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? jika tidak dimulai dari diri sendiri dari siapa lagi? Dan jika tidak dimulai dari perubahan kecil maka perubahan besar tidak akan pernah terjadi.

Kita sebagai warga Kota Bandung justru sudah memiliki previlage yaitu hadirnya Pandawara Group sebagai media untuk berkolaborasi, yang selanjutnya tugas kita bersama untuk menyukseskan Bandung yang maju dan berkelanjutan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)