Jomlo Menggugat: Saat Urusan Personal Berubah Jadi Persoalan Sosial

5 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Ilustrasi (Sumber: Pixabay | Foto: congerdesign)
Ilustrasi (Sumber: Pixabay | Foto: congerdesign)

AYOBANDUNG.ID - Tekanan sosial pada perempuan kerap datang dari arah yang tak terduga—mulai dari keluarga, lingkungan sekitar, hingga aturan-aturan tak tertulis yang sudah lama hidup di masyarakat. Berbagai pengalaman menunjukkan bagaimana tuntutan tersebut dapat membentuk kecemasan, memunculkan banyak pertanyaan, bahkan memengaruhi arah hidup seseorang. Tapi, di banyak sudut kota, ruang-ruang diskusi kecil mulai tumbuh, menghadirkan percakapan yang perlahan menantang cara pandang lama yang sudah terlalu lama dianggap wajar.

Jessica Muthmaina adalah salah satu menyebut dirinya sebagai sosok dengan beban “standar empat”: perempuan, anak bungsu, memiliki disabilitas mental, dan berasal dari kabupaten kecil namun berani melangkah sendiri hingga ke luar negeri. Di usia 25 tahun, ia telah menempuh pendidikan Fisika di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan kini melanjutkan studi S2 Astrofisika di Padova University, Italia.

Selepas lulus S1, ia sempat berada dalam masa jeda yang justru dipenuhi desakan untuk segera menikah. Keluarganya mempertanyakan rencananya melanjutkan studi ke Italia—menganggap anak perempuan bungsu seharusnya tidak pergi jauh dan mesti selalu ada yang mengurus. Namun Jessica tetap melanjutkan langkahnya, memilih perjalanan akademik yang ia yakini.

Keputusan Jessica sebenarnya menggambarkan pandangan sebagian masyarakat: bahwa ukuran keberhasilan perempuan sering kali bukan dilihat dari usaha, ambisi, atau prestasinya, tapi dari status relasionalnya—apakah sudah menikah atau punya pasangan—yang dianggap lebih penting dari apa pun.

Kondisi seperti ini bukan hanya dialami satu dua orang perempuan. Di berbagai fase hidupnya, perempuan tetap saja berhadapan dengan ekspektasi sosial yang meminta mereka mengikuti nilai-nilai yang sudah lama tertanam. Nilai sosial itu berisi aturan, sifat, dan harapan yang diberikan kepada setiap individu—baik laki-laki maupun perempuan. Namun realitasnya, perempuan cenderung menanggung beban yang lebih besar, termasuk batasan-batasan sosial yang mengatur setiap pilihan hidup mereka.

Nilai-nilai sosial tersebut tentu tidak terbentuk dalam waktu singkat. Ia lahir dari proses panjang internalisasi yang berlangsung lintas generasi. Karena itu, perubahan cara pandang tidak bisa terjadi begitu saja atau menyentuh semua lapisan masyarakat secara cepat. Dibutuhkan kesadaran kolektif—dari individu, kelompok, hingga pemerintah—untuk perlahan mengikis stereotip lama yang sudah terlalu lama menempel.

Narasi ini mengemuka dalam Diskusi Zine Jomlo Menggugat: Lajang Bukan Berarti Tak Berjuang, yang diinisiasi Toko Buku Pelagia bersama para penulis Bandung Bergerak: Tofan Aditya, Yogi Esa, Laila Nursaliha, dan Nida Nurhamidah pada Sabtu, 8 November 2025 di Toko Buku Pelagia, Komplek Luxor, Bandung.

Zine sendiri merupakan media alternatif berbentuk booklet kecil yang diterbitkan secara mandiri, berisi tulisan atau gambar sarat aspirasi dan kritik sosial.

Tofan (26), salah satu penulis Jomlo Menggugat, membahas bagaimana negara, sistem ekonomi, dan norma sosial justru memperberat posisi orang yang lajang. Jika sebelumnya sudah berat, setelah ditambah berbagai faktor itu, beban tersebut menjadi jauh lebih besar.

“Asmara, status, dan sebagainya tuh kadang jadi persoalan personal yang gak muncul ke permukaan. Padahal mungkin sekarang karena personal is political gitu. Nah, makanya yang personal itu jangan-jangan juga jadi sifat politis. Nah, makanya bikin si jomlo ini,” ujarnya saat diminta menjelaskan alasan mengangkat topik ini.

Tofan menjelaskan bahwa semua berawal dari rasa iseng, dari sering mendengar cerita teman, termasuk pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari diri sendiri. Belum lagi minimnya wadah pengorganisiran berbasis gerakan sosial yang membahas persoalan status relasional seperti ini di ruang publik.

“Tadi sih pengen bawa isu personal tuh bisa dilihat secara politik gitu. Misalnya kayak bisa jadi apa yang terjadi pada hari ini tuh bukannya cuma takdir doang. Tapi ada kaitannya dengan kondisi di luar diri kita gitu. Tapi kalau teman-teman lain memang tujuannya beda-beda,” tambahnya.

Rifki Fajar Ramdhani, pengelola Toko Buku Pelagia sekaligus inisiator diskusi, menjelaskan bahwa setiap orang seharusnya punya hak untuk merasakan ruang aman dan nyaman. Namun kenyataannya, banyak yang tidak mendapatkannya karena terkendala ekonomi atau urusan administrasi. Toko Buku Pelagia mencoba menghadirkan ruang aman alternatif tersebut.

Dampak Klinis Tekanan Sosial dan Validasi Diri

Dosen Sosiologi UIN Bandung, Chisa Belinda Harahap, menyebut akar dari stereotip dan standar ganda ini tidak terlepas dari budaya patriarki.

“Sebagian masyarakat masih memiliki interpretasi kodrat yang keliru. Padahal, kodrat perempuan hanya menstruasi, melahirkan, dan menyusui. Mengurus keluarga dan kewajiban domestik merupakan tanggung jawab bersama. Hal itu disebabkan dari paradigma internalisasi konsep patriarki yang bertahun-tahun. Sehingga mematahkan sistem patriarki memang begitu sulit, karena dilanggengkan oleh struktur sosial yang ada,” jelasnya.

Dosen Sosiologi UIN Bandung, Chisa Belinda Harahap. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Dosen Sosiologi UIN Bandung, Chisa Belinda Harahap. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ia menambahkan bahwa status pernikahan masih dianggap sebagai pencapaian utama bagi perempuan. Belum lagi narasi tentang kesuburan yang dibatasi oleh biological clock, sehingga perempuan sering dituntut untuk menikah lebih cepat. Cara pandang semacam ini ikut memengaruhi bagaimana masyarakat melihat perempuan yang memilih atau masih berada dalam status lajang.

Pandangan itu sejalan dengan apa yang disampaikan Issara Rizkya, adult clinical psychologist dari ibunda.id. Ia menyebut 70% kliennya adalah perempuan—baik lajang maupun sudah menikah—dan banyak dari mereka mengalami tekanan sosial dari lingkungan.

“Ada perasaan merasa tidak cukup, khawatir, dan takut mengecewakan dari diri perempuan jika dia tidak memenuhi standar sosial yang ada. Hal ini mempengaruhi self esteem dan mengakibatkan perempuan tidak yakin pada pilihannya. Tidak merasa berharga dan crisis identity,” jelasnya.

Perspektif Komparatif dan Solusi Personal

Kondisi ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi perempuan: bagaimana cara menghadapi tekanan sosial tanpa terjebak self doubt, tanpa memicu konflik, dan tanpa menyakiti diri sendiri. Issara menjelaskan bahwa langkah awalnya adalah menyadari bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh status hubungan. Perempuan perlu menumbuhkan kepercayaan diri, yakin pada pilihan pribadi, mencari support system yang tepat, dan fokus pada hidup yang ingin dijalani—atau yang ia sebut sebagai meaningful life.

Nida (25), salah satu penulis Zine Jomlo Menggugat, menambahkan bahwa sistem sosial memang sering menempatkan perempuan dalam posisi inferior. Perempuan dibuat percaya bahwa mereka hanya pantas menjalankan peran-peran subordinat.

Nida Nurhamidah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Nida Nurhamidah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Mungkin saja hal-hal yang membuat perempuan insecure itu bukan disebabkan oleh dirinya sendiri, bukan karena make up kamu yang kurang cantik. Atau misalnya, skincare kamu yang kurang mahal, pakaian kamu yang kurang modis atau bahkan sikapmu yang nggak bisa friendly agar diterima. Tapi di situ, ada hal yang bisa kubilang – patriarki yang kawin dengan kapitalisme yang menyebabkan dirimu (merasa) demikian. Jadi, kekuranganmu bukan salahmu. Berhenti menyalahkan diri sendiri, ya,” tegasnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)