Perempuan Penjaga Tradisi: Harmoni dari Dapur Kampung Adat Cireundeu

5 menit baca
Ikbal Tawakal
Ditulis oleh Ikbal Tawakal diterbitkan
Neneng Suminar memperlihatkan cara membuat spageti dari mikong (mi singkong). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Neneng Suminar memperlihatkan cara membuat spageti dari mikong (mi singkong). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

AYOBANDUNG.ID - Lagu lawas “Berdendang” dari duet Rhoma Irama dan Rita Sugiarto mengalun pelan di warung kelontong milik Abah Widi, sesepuh Kampung Adat Cireundeu. Abah Widi yang mengenakan ikat kepala batik tampak santai, sesekali melayani pembeli sambil menyesap kopi hitamnya.

Jug sampeurkeun ibu-ibu di ditu keur marasak da aya tamu. (Silakan datangi ibu-ibu di sana, mereka sedang memasak karena tamu),” ujarnya ramah, mempersilakan saya menuju dapur tempat beberapa perempuan tengah sibuk mengolah bahan makanan.

Hari itu, bukan Abah Widi yang menjadi pusat perhatian, melainkan para perempuan Kampung Adat Cireundeu yang menyalakan api kehidupan adat dari balik dapur. Seperti duet Rhoma dan Rita dalam “Berdendang”, laki-laki dan perempuan di kampung ini saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan alam dan warisan leluhur.

Kampung adat Cireundeu sering dijadikan sebagai tempat edukasi bagi siswa-siswi sekolah. Mereka diajari cara membuat berbagai jenis makanan dari bahan dasar singkong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Kampung adat Cireundeu sering dijadikan sebagai tempat edukasi bagi siswa-siswi sekolah. Mereka diajari cara membuat berbagai jenis makanan dari bahan dasar singkong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Di halaman belakang, suasana ramai terdengar dari Imah Panggung—rumah khas kampung adat Cireundeu yang kini difungsikan sebagai tempat belajar. Beberapa anak dari sekolah dasar terlihat antusias mengikuti kegiatan eksplorasi budaya. Di tengah mereka berdiri sosok perempuan dengan kebaya warna jingga, dengan senyum lebar dan tangan cekatan, mengajari anak-anak membuat spageti dari mikong—mi yang terbuat dari singkong.

Namanya Neneng Suminar (44), perempuan Cireundeu tulen yang sehari-hari menjadi ibu rumah tangga, penanggung koperasi dan UMKM, sekaligus seorang ibu bagi anak laki-lakinya yang kini menempuh pendidikan di sekolah menengah kejuruan di Soreang.

Dengan lincah, Neneng memperagakan cara menggiling dan merebus mikong, sambil sesekali bercanda dengan para murid.

“Ayo dicoba satu-satu, seperti absen di kelas,” ujarnya sambil tertawa kecil. Anak-anak pun bergantian mencoba, sementara aroma singkong rebus menguar di udara.

Neneng lahir di Cireundeu pada 1981 dari keluarga petani. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan rasi—beras singkong—yang menjadi identitas pangan utama kampungnya. Ia mulai belajar mengolah rasi ketika duduk di bangku SMP, dan sejak itu merasa bahwa tanggung jawab menjaga warisan leluhur terletak di pundak para perempuan.

Neneng Suminar perempuan Cireundeu tulen yang menjadi penanggung koperasi dan UMKM kampung adat Cireundeu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Neneng Suminar perempuan Cireundeu tulen yang menjadi penanggung koperasi dan UMKM kampung adat Cireundeu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

“Sejak kecil, orangtua mengenalkan rasi. Kemudian beranjak ke SMP, mulai belajar mendalami dan mengolah sendiri. Karena ini warisan adat, perempuan sebagai ibu punya peran penting dalam melestarikan. Ibarat sekolah pertama yang harus menanamkan nilai-nilai leluhur kepada anak,” ujar Neneng pada Kamis, 16 Oktober 2025.

Kesetiaan terhadap rasi tumbuh dari dapur-dapur warga. Di situlah nilai hidup diwariskan, bukan hanya lewat makanan, tetapi juga lewat cerita.

“Mendongeng menjadi salah satu cara untuk mewariskan nilai budaya rasi kepada anak. Kami yang tidak menolak kemajuan zaman saat ini, selalu menyelipkan nilai bahwa mau jadi apapun mereka nanti, pondasinya jangan sampai lupa terhadap budaya leluhur,” kata Neneng selepas memandu para wisatawan.

Anaknya kini bersekolah jauh dari kampung, namun ia tetap membawakan bekal rasi.

“Anak saya selalu saya bekali rasi, karena dia kan kos di Soreang. Karena sudah terbiasa, anak saya punya kepekaan terhadap makanan yang terbuat selain dari singkong,” tambahnya bangga.

Dari tangan-tangan perempuan seperti Neneng lahirlah berbagai olahan berbahan dasar singkong: eggroll, cireng, keripik, dengdeng kulit singkong, hingga mikong dengan cita rasa khas. Sejak 2010, UMKM yang dikelola Neneng bersama 13 perempuan kampung adat itu menjadi sumber penghidupan sekaligus kebanggaan komunitas.

“UMKM ini kan wirausaha sosial, jadi penghasilannya ada untuk ibu-ibu yang bekerja di sini dan pengelolaan uang kas. Dari uang kas kami pun bisa membangun bangunan khusus untuk pengelolaan olahan singkong,” tutur Neneng.

Para ibu-ibu terlihat sibuk dan telaten mengolah olahan singkong mulai dari mengupas, memotong menggiling, hingga menggoreng di Rumah Olahan Singkong UMKM Kampung Adat Cireundeu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Para ibu-ibu terlihat sibuk dan telaten mengolah olahan singkong mulai dari mengupas, memotong menggiling, hingga menggoreng di Rumah Olahan Singkong UMKM Kampung Adat Cireundeu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Di lantai dua rumah olahan singkong, perempuan-perempuan itu bekerja sambil berbincang hangat. Ada yang memotong, menggiling, menggoreng, dan mengemas.

Lantai itu seperti jantung yang terus berdetak menjaga kehidupan tradisi.

“Peran perempuan di sini tentu sangat penting. Mulai dari mengolah hasil panen, kadang nemenin suami ke ladang, itu kan tugas perempuan. Jadi seimbang dan saling mengisi peran lah gitu kira-kira kalau di adat mah,” lanjutnya.

Bagi Neneng, perempuan adalah benteng terakhir yang menjaga harmoni antara manusia, tradisi, dan alam. Ia percaya, anak-anak yang sejak kecil diperkenalkan pada nilai-nilai leluhur akan tumbuh dengan akar budaya yang kuat.

“Sejak kecil anak-anak sudah kami ajari tentang nilai-nilai leluhur yang harus dilestarikan. Sehingga ketika dewasa mereka tidak menolak dan lupa,” katanya lembut.

Secara geografis, Kampung Adat Cireundeu diapit tiga gunung: Gunung Kunci, Gunung Cimenteng, dan Gunung Gajahlangu. Bagi Neneng, posisi geografis itu melambangkan peran perempuan dalam melindungi dan menumbuhkan kebaikan.

“Kita itu harus baik terhadap alam. Cireundeu kan diapit sama gunung, nah gunung atau alam kan pemberian yang harus dijaga. Peran perempuan juga sama, melahirkan kebaikan, mewariskan tradisi kepada keturunan, mengolah apa yang diberikan alam. Itu kan jadi seimbang,” ujarnya.

Namun ia juga sadar, tradisi akan mati bila generasi muda kehilangan rasa bangga terhadapnya.

“Kalau misal penerusnya, kayak anak-anak sudah tidak mau, ya mungkin di masa depan Kampung Adat Cireundeu tidak akan lagi terkenal karena singkongnya,” katanya lirih.

Kesadaran menjaga alam juga tumbuh dari pengalaman pahit masa lalu. Para ibu di kampung adat kini rajin memilah sampah rumah tangga agar tragedi kelam tsunami sampah TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 tidak terulang. Longsoran sampah kala itu menimpa dua desa, Cilimus dan Pojok, dan menewaskan 157 jiwa.

Bencana itu terjadi dini hari ketika hujan deras mengguyur tumpukan sampah open dumping setinggi 60 meter. Gas metana yang menumpuk memicu longsor besar dan menghancurkan permukiman di bawahnya.

“Dulu kan pernah ada bencana tsunami sampah di atas, saya takut itu terulang lagi. Makanya, sebisa mungkin kami menekan potensi bencana, salah satunya membereskan sampah dari rumah,” tutur Neneng.

Wida sedang mengajarkan kepada murid-murid sekolah dasar cara memasak eggroll dari singkong pada Kamis, 16 Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Wida sedang mengajarkan kepada murid-murid sekolah dasar cara memasak eggroll dari singkong pada Kamis, 16 Oktober 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Kampung adat Cireundeu tidak hanya dikenal karena tradisi makan rasi, tetapi juga karena perempuan-perempuan yang memelihara nilai-nilai ekologis dan spiritual sekaligus. Neneng dan kawan-kawannya mengolah alam tanpa merusaknya, menenun masa depan dari akar budaya yang mereka jaga dengan cinta dan ketekunan.

Di dapur sederhana yang penuh tawa itu, masa depan sebuah tradisi sedang disiapkan—oleh tangan-tangan perempuan yang percaya bahwa menjaga adat bukan tugas masa lalu, melainkan tanggung jawab saat ini dan yang akan datang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)