Seabad Lebih Tanpa Nasi, Kampung Cireundeu Pertahankan Kemandirian dan Ketahanan Pangan Lokal Lewat Singkong

6 menit baca
Ikbal Tawakal
Ditulis oleh Ikbal Tawakal diterbitkan
Selama lebih dari satu abad, Warga Kampung Adat Cireundeu sudah terbiasa mengonsumsi rasi atau beras yang diolah dari singkong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Selama lebih dari satu abad, Warga Kampung Adat Cireundeu sudah terbiasa mengonsumsi rasi atau beras yang diolah dari singkong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Menjelang waktu asar, Abah Widi tampak bersiap nyajen, sebuah ritual ibadat yang masih dilakukan para penganut kepercayaan Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Sesepuh berusia 63 tahun itu duduk di depan warungnya, tepat di bawah bangunan Sekolah Dasar Negeri Cirendeu. Dengan iket yang melekat di kepala, ia bercerita dengan ringan tentang kedekatan antara singkong dan kehidupan warga, yang sejak lama menjadikannya simbol kemandirian dan ketahanan pangan.

Kampung yang dinamai dari pohon reundeu itu telah mengikat tradisi dan ketahanan pangan dalam satu napas. Sejak 1918, kata Abah Widi, singkong menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah sekaligus penanda kemandirian masyarakat adat. Saat penjajah merebut lahan dan hasil bumi, warga beralih dari beras ke singkong sebagai bentuk bertahan hidup.

Abah Widi, sesepuh Kampung Adat Cireundeu saat ditemui di rumahnya pada Senin, 22 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Abah Widi, sesepuh Kampung Adat Cireundeu saat ditemui di rumahnya pada Senin, 22 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Selain mudah tumbuh di berbagai kondisi cuaca, singkong bagi mereka adalah warisan leluhur yang menyimpan ajaran hidup sederhana, merawat alam, dan berbagi sesama manusia.

“Penjajah kan dulu ambil hasil bumi dan lahan, supaya pribumi kelaparan dan tak bisa menggarap lahan sendiri. Makanya sesepuh Cirendeu dulu memberikan pemahaman tentang cara bertahan hidup yang tidak bergantung pada beras,” kata Abah Widi.

“Sejak 1918 warga di sini mulai beralih makanan pokok dari beras ke hasil pertaninan yang lain, seperti singkong, ganyol, anjeli, jagung, hingga talas,” Abah Widi menambahkan.

Secara filosofis, singkong—atau sampeu dalam bahasa Sunda—punya makna yang dalam. Bagi Abah Widi, istilah sampeu berasal dari kata sampeureun, yang berarti “didatangi.” Ia menyebut, secara ekonomi tanaman ini tak menyisakan limbah karena semua bagian tanaman bermanfaat.

“Kalau diselami secara bahasa, pare (padi) itu kan parab anu rea (makanan yang banyak), nah kalau sampeu, ya sampeureun harus didatangi,” ucapnya.

Rasi atau beras singkong yang terus dilestarikan oleh warga adat Kampung Cirendeu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Rasi atau beras singkong yang terus dilestarikan oleh warga adat Kampung Cirendeu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Rasi, Warisan Leluhur yang Tak Pernah Punah

Sambil mengisap rokok lewat cangklongnya, Abah Widi menegaskan bahwa rasi—beras singkong—adalah warisan leluhur yang harus dilestarikan tanpa batas waktu. Ia menyadari perubahan zaman membawa tantangan baru bagi generasi muda, namun bukan berarti tradisi harus hilang. Tradisi ini terus dijaga oleh sekitar 60 kepala keluarga di kampung itu, yang menurunkannya dari generasi ke generasi sebagai wujud swasembada pangan yang khas dan mandiri.

Bagi warga Cirendeu, modernitas bukan ancaman. Mereka tidak menolak teknologi, pendidikan tinggi, atau profesi baru, asalkan tetap berakar pada nilai leluhur.

“Cireundeu secara geografis bisa dibilang kampung adat yang ada di tengah kota. Gempuran teknologi dan pendidikan itu ada. Tapi yang jelas zaman sama saja dari dulu juga, yang mengubah ya manusia. Intinya jangan lupa bahasa ibu dan sejarah,” tuturnya.

Dalam keseharian, masyarakat Cirendeu menjaga hubungan dengan alam melalui prinsip-prinsip lama: mipit kudu amit, ngala kudu bebeja. Pepatah itu menandakan rasa hormat kepada alam yang menyediakan kehidupan. Kata “pamali” pun menjadi pagar moral untuk menahan keserakahan manusia.

Tiga kawasan hutan dijaga sebagai bagian dari keseimbangan hidup: Hutan Larangan untuk penyimpanan air, Hutan Tutupan untuk reboisasi, dan Hutan Baladahan sebagai lahan berkebun. Semua dikelola dengan kearifan dan kesadaran ekologis.

“Teu Boga Sawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat,” kata Abah Widi.

“Tidak Punya Sawah Asal Punya Beras, Tidak Punya Beras Asal Bisa Menanak Nasi, Tidak Punya Nasi Asal Makan, Tidak Makan Asal Kuat,” begitu bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Pepatah itu bukan sekadar ucapan, tetapi ruh kehidupan di Cirendeu. Gotong royong menjadi napas sosial mereka, sementara perempuan memegang peran penting dalam mengolah hasil tani menjadi sumber ekonomi keluarga.

“Gotong royong adalah hal yang lumrah, ditambah peran perempuan di sini yang belajar mengolah hasil pertaninan hingga punya nilai ekonomis sangat berdampak pada ketahanan pangan,” kata Abah Widi.

Pohon singkong tubuh subur di perkebunan di wilayah Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Lewigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Senin, 22 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Pohon singkong tubuh subur di perkebunan di wilayah Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Lewigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Senin, 22 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Singkong, Benteng Alami Melawan Krisis Iklim

Di tengah ancaman perubahan iklim, rasi menjadi simbol ketangguhan lokal. Ketika banyak wilayah khawatir akan gagal panen atau naiknya harga beras, warga Cirendeu tetap tenang. Singkong yang diolah menjadi tepung kasar sebelum dinanak seakan tak tergoyahkan oleh cuaca ekstrem.

“Warga adat Cireundeu mah seperti sudah punya naluri kalau berbelanja atau membeli makanan di luar yang terbuat dari beras. Apalagi di sini mah enggak ada yang namanya kasus beras plastik. Kadang saya mah suka bertanya, kenapa negeri yang tanahnya subur aja masih impor beras dari luar,” ucapnya.

Ketahanan pangan Cirendeu bukan hanya soal swasembada, tetapi juga empati.

“Kami memang tidak terpengaruh soal naiknya harga beras, tapi Abah mah sok punya rasa peduli terhadap orang-orang yang kelaparan, tidak bisa beli beras, anaknya banyak. Karena yang disentuh itu rasa terhadap manusia,” katanya.

Keanekaragaman hayati juga menjadi bagian dari kekuatan adaptif mereka. Selain singkong, warga menanam jagung, sorgum, kacang tanah, dan anjeli dengan sistem tumpang sari.

“Tantangan serius adalah mengubah pola pikir. Kadang secara batin saya merasa kasihan terhadap orang-orang yang masih kelaparan karena tak bisa makan nasi. Padahal Cireundeu 107 tahun tidak makan nasi beras,” Abah Widi menjelaskan.

Baginya, ketergantungan pada beras adalah akar persoalan. Cireundeu telah membuktikan hidup tanpa nasi bukanlah kekurangan, tetapi kebebasan.

“Banyak yang melakukan penelitian ke sini, dan bahkan ada juga yang mencoba membantah tradisi makan singkong karena curah hujan tinggi. Tapi ya kami terbuka terhadap dunia luar, asal tidak mengubah tradisi kami. Saya mah syukur-syukur ada Cireundeu-Cireundeu yang lain malahan,” ujarnya.

Warga mengikuti Upacara Adat Tutup Taun 1956 Ngemban Taun 1 Sura 1957 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. Upacara adat tersebut merupakan tradisi turun temurun masyarakat Adat Cireundeu yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil bumi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga mengikuti Upacara Adat Tutup Taun 1956 Ngemban Taun 1 Sura 1957 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. Upacara adat tersebut merupakan tradisi turun temurun masyarakat Adat Cireundeu yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil bumi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Bersinergi dengan Pemerintah, Bukan Menolak Dunia Luar

Meski memegang teguh adat, warga Cirendeu tidak menutup diri dari kebijakan pemerintah. Mereka justru membangun sinergi dalam berbagai bidang, termasuk pengembangan UMKM olahan singkong.

“Di sini ada RT, RW ya layaknya tata kelola pemerintahan. Kami tidak menolak, bahkan berdampingan. Pemerintah kota juga beberapa kali membantu kegiatan UMKM olahan singkong dengan memberikan alat penggiling,” ujarnya.

Hubungan harmonis dengan pemerintah menjadi cermin sikap terbuka masyarakat adat. Mereka memilih berdialog daripada menolak.

“Abah ada cerita dulu waktu kecil pernah dipoyok (diolok-olok) karena dianggap aneh makan nasi singkong oleh teman sebaya. Setelah ditelaah ya itu wajar dan kami maklum. Sebetulnya juga tidak sedikit warga adat juga mengalami hal sama, tapi ya balik lagi, maklum,” tutur Abah Widi.

Abah menyadari stigma semacam itu bisa memengaruhi generasi muda. Namun, Cirendeu memilih membangun narasi positif: bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan.

Warga kampung adat Cirendeu membuat produk makanan olahan dari singkong di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga kampung adat Cirendeu membuat produk makanan olahan dari singkong di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Budaya Bukan Sekadar Bisnis

Kini, olahan singkong dari Cirendeu telah memiliki nilai ekonomi. Namun, bagi Abah Widi, inti dari semua ini bukan keuntungan materi, melainkan pelestarian budaya.

“Di sini ada UMKM pangan singkong yang dikelola ibu-ibu. Kalau ditanya peluang bisnis memang besar dan ada pasarnya. Tapi, kami memegang prinsip ini adalah salah satu pelestarian budaya, untung atau rugi itu hal kesekian,” ucapnya.

Sebelum berpamitan, Abah Widi yang masih duduk di dekat warungnya menawarkan sepiring rasi hangat dan memperlihatkan tepung singkong hasil olahan warga. Teksturnya lembut, rasanya alami.

“Memang lebih enak kalau pakai lauk, biar ada rasanya,” katanya sambil tertawa kecil, menutup perjumpaan sore itu—sebuah tawa yang menyiratkan kebanggaan pada kemandirian yang lahir dari bumi sendiri.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)