Kadedemes, dari Krisis Pangan menuju Hidangan Penuh Makna

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Rabu 17 Sep 2025, 16:07 WIB
Kadedemes Kuliner Warisan Suku Sunda (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Kadedemes Kuliner Warisan Suku Sunda (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Saya pribadi mengetahui kuliner yang satu ini dengan sebutan oseng kulit singkong. Namun baru-baru ini saya mengetahui bahwa kuliner ini bernama kadedemes.

Kadedemes dalam suku Sunda artinya kaleuwihan atau berlebihan. Hampir serumpun dengan kata tamarakan yang diartikan makan sembarangan. Istilah ini muncul di masyarakat karena kulit yang dianggap sebagai sampah ternyata masih bisa diolah menjadi hidangan yang nikmat.

Saya selalu takjub dengan kehadiran singkong di muka bumi ini. Segala hal yang melekat dalam dirinya tak luput dari kata bermanfaat. Menurut saya singkong memiliki filosofi "Bertumbuh dan Mengakar", dalam artian bertumbuh menghasilkan manfaat lewat daun dan batangnya juga mengakar lewat singkong yang bermanfaat bagi mahluk hidup lainnya.

Singkong adalah salah satu jenis tumbuhan yang tidak perlu perlakuan khusus dalam merawatnya. Bahkan saya sering menemukan sebagian masyarakat lokal yang tinggal dipinggiran Sungai Citarum memanfaatkan lahan yang kosong untuk menanam pohon singkong.

Tidak perlu setiap hari datang untuk ditinjau, pohon singkong bisa tumbuh dengan cepat dan berguna bagi masyarakat. Singkong juga bisa menjadi nilai ekonomis bagi mereka yang memanfaatkannya. Bahkan menurut pengamatan saya, ketika air Sungai Citarum meluap ketika hujan, sedikit tertahan lebih lama oleh keberadaan pohon singkong hingga air menepi ke jalanan.

Mulai dari daunnya yang sering diolah menjadi lalaban, urap, gulai daun singkong, tumis daun singkong, bakwan hingga dendeng daun singkong bagi mereka yang vegetarian.

Batangnya berguna sebagai bibit perkembangan, bahan baku pembuatan industri papan dan bahan briket arang juga bisa berguna sebagai bahan kayu bakar. Kemudian daging singkong bisa dibuat berbagai macam varian mulai dari kukusan, getuk, tape, urap, keripik hingga bisa diproses menjadi tepung untuk pembuatan kue.

Singkong terdiri dari tiga lapisan kulit, pertama daging umbi yang secara umum sering diolah, kedua lapisan yang cenderung tebal biasanya dianggap menjadi sampah atau tambahan pakan untuk ternak dan lapisan kulit ari (paling luar) yang menyatu dengan tanah dan biasanya dibuang begitu saja.

Di Indonesia Singkong memiliki sejarah yang cukup panjang. Menurut sebuah jurnal yang berjudul Sejarah Pembudidayaan Ketela Pohon di Indonesia yang ditulis oleh Fadly Rahman menyebutkan bahwa singkong diperkirakan mulai dibudayakan sekitar 5000 tahun yang lalu. Hingga akhir abad ke-19, peneliti bersepakat bahwa spesies singkong ini berasal dari Amerika Serikat.

Sementara dalam buku yang ditulis Murdijati Gardjito dengan judul Singkong, Pangan Harapan Masa Depan yang Menyehatkan, menyatakan bahwa singkong merupakan komoditas yang paling dekat dengan masyarakat kelas bawah. Di Indonesia singkong sangat lekat dengan pepatah Jawa "Wong ndeso mangan telo" atau orang desa makannya singkong.

Masih dalam buku yang sama singkong bukan sekedar makanan utama tapi sudah diolah menjadi berbagai aneka macam kudapan di seluruh Indonesia. Indonesia juga merupakan penghasil singkong terbesar kedua di dunia. Makanan yang pada mulanya dianggap rendah kini mulai bertransformasi menjadi kudapan yang sering ditemui di restoran dan dikonsumsi oleh kalangan menengah atas.

Dalam sebuah novel sejarah berjudul Entrok bahkan sang penulis Okky Madasari menyoroti singkong sebagai komoditas utama masyarakat di era tahun 1960-1980-an. Singkong menunjukkan sebagai bahan dasar makanan yang menemani krisis pangan di Indonesia. Bahkan singkong sudah menjadi penopang ekonomi masyarakat di zaman tersebut.

Dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Sopian Wardani berjudul Kearifan Lokal Rasi di Kampung Adat Cirendeu sebagai Daya Tarik Wisata, semenjak tahun 1918 sesepuh adat Cireundeu mengatakan bahwa pada masa penjajahan hampir sebagian hasil panen padi diambil oleh kolonial sehingga banyak masyarakat yang kelaparan.

Kondisi tersebut membuat masyarakat memiliki keputusan tidak bergantung kepada padi sebagai olahan makanan utama. Bahkan sesepuh adat Cirendeu bisa menghasilkan karya dari singkong bernama Rasi atau beras singkong yang diprakarsai oleh Ibu Omah Asnamah.

Menariknya olahan rasi bagi masyarakat adat Cirendeu tidak hanya sekedar tradisi makan tapi memiliki nilai kearifan lokal yang kaya dan mendalam. Rasi juga menjadi daya tarik wisata bagi mereka yang berkunjung ke kampung adat Cirendeu.

Di Bandung sendiri olahan kadedemes sudah sangat sulit untuk ditemui, bahkan berdasarkan informasi yang saya temukan olahan ini hanya ada di salah satu warung nasi yang ada di Banjaran Kabupaten Bandung.

Menurut ibu saya, dalam membuat olahan kadedemes diperlukan beberapa kriteria singkong. Pertama, tangkai singkong yang berwarna sedikit kemerahan lebih berkualitas dibandingkan dengan tangkai yang berwarna hijau saja.

Kedua, kulit terluar singkong yang berwarna putih sedikit kemerahan akan lebih cocok diolah menjadi kadedemes dibandingkan dengan dengan kulit yang dominan putih yang bercita rasa agak pahit. Ketiga, ukuran singkong yang besarnya sama rata lebih enak dibandingkan dengan singkong yang pada bagian atas lebih besar sementara di bagian bawah makin meruncing.

Baca Juga: Lamsijan, Mang Kabayan, dan Langkanya Ilustrator Karakter Kesundaan

Langkah pertama untuk membuat olahan kadedemes adalah dengan mengupas kulit kedua dari singkong lalu dicuci hingga bersih. Selanjutnya bagian kulit tersebut dikukus selama kurang lebih 30 menit hingga empuk. Potong kulit kadedemes menjadi ukuran yang lebih kecil lalu tiriskan.

Untuk menghasilkan olahan yang lebih enak, bumbu kadedemes bisa dibuat dalam dua versi yaitu bumbu ulek dan bumbu cingcang. Pertama goreng bawang merah yang sudah diiris sampai berubah warna dan tercium aroma, sisihkan sementara ke sisi wajan.

Kemudian masukan bumbu halus yang sudah di ulek berisi bawang putih, jahe dan cabe rawit lalu tumis hingga kecoklatan. Setelah itu masukan ikan teri goreng sebagai penambah rasa dalam olahan kadedemes bersama potongan cabai rawit untuk menghasilkan rasa yang lebih segar.

Masukan kadedemes yang sudah di potong-potong lalu tambahkan sedikit air dan penyedap rasa. Tunggu 5-10 menit hingga bumbu meresap sempurna. Kadedemes siap disajikan dengan nasi hangat yang tentunya akan meningkatkan nafsu makan. Nasi hangat yang bercampur dengan lembutnya kulit singkong juga gurih dari ikan teri dan pedasnya cabai menjadi perpaduan yang tak terlupakan.

Meski keberadaannya sudah sangat jarang ditemukan tapi kadedemes merupakan salah satu kekayaan kuliner suku Sunda yang wajib untuk dibanggakan. Melalui kadedemes kita belajar bahwa dari krisis pangan ternyata kadedemes bisa bertransformasi menjadi hidangan yang penuh makna dan kaya akan cita rasa. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Apr 2026, 18:39

Dari Bumi ke Bulan: Kisah Empat Astronot dalam Misi Artemis 2

Kisah empat astronot dalam misi Artemis II yang menandai kembalinya manusia mengelilingi Bulan setelah lebih dari 50 tahun.

Empat astronot misi Artemis II yang akan mengelilingi Bulan dalam program eksplorasi NASA. (Sumber: NASA)
Ikon 03 Apr 2026, 17:16

Hikayat Terminal Cicaheum, Ikon Bersejarah Bandung di Ujung Hayat

Setelah 50 tahun beroperasi, Terminal Cicaheum resmi dimatikan dan seluruh trayek dipindahkan ke Leuwipanjang.

Terminal Cicaheum. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 03 Apr 2026, 14:31

Persib (Jurnalistik) Nu Aing

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah yang merekam dan mewariskan nilai-nilai, norma, tradisi, adat istiadat

Persib Nu Aing sebagai bentuk ikrar dan menunjukkan rasa cintanya pada Persib. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Mayantara 03 Apr 2026, 10:39

Cancel Culture: Saat Netizen Jadi Hakim di Ruang Digital

Di sinilah cancel culture bekerja, di mana publik secara kolektif “membatalkan” seseorang karena dianggap melanggar norma sosial tertentu.

Cancel culture. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Wisata & Kuliner 03 Apr 2026, 10:10

Panduan Wisata Pantai Santolo Garut: Rute, Biaya, dan Daya Tarik Lengkap

Panduan wisata Pantai Santolo Garut, mulai rute terbaik, biaya, spot menarik hingga tips liburan hemat dan nyaman di pesisir selatan.

Sunset di Pantai Santolo, Garut. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 20:42

Trah Sumedang, Belajar Mangkas Rambut ke Orang Garut dan di Bandung Sukses Buka Barbershop

Bisnis barbershop alias tukang pangkas rambut selalu ramai selama Ramadan dan bulan Syawal.

Pemangkas rambut asal Garut. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 02 Apr 2026, 19:02

Hikayat Brem dalam Lintasan Sejarah Kuliner Fermentasi Jawa dan Bali

Brem merupakan produk fermentasi tradisional yang telah dikenal sejak abad ke-10 di Jawa. Dari minuman ritual di Bali hingga camilan khas Madiun, brem mencerminkan panjangnya sejarah kuliner Nusantara

Brem, kuliner fermentasi Jawa dan Bali
Bandung 02 Apr 2026, 17:31

Siasat Bakmie Feng Taklukkan Pasar Cihapit: Harga Stabil, Rasa Jadi Andalan

Lagi di Bandung? Yuk, intip rahasia Bakmie Feng di Pasar Cihapit yang selalu ramai! Dari menu ayam khek hingga strategi harga yang bikin pelanggan setia.

Bakmie Feng berdiri mencolok dengan nuansa merah menyala di antara deretan kios kuliner Bandung di Pasar Cihapit. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 17:27

Membaca Majalah Remaja Tahun 1980-an

Mengenang kembali ketika tahun 1980-an muncul majalah-majalah remaja yang digemari para remaja khususnya di Kota Bandung.

Majalah Remaja Gadis edisi September 1980. (Sumber: Instagram | Foto: Koleksi Goeni)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 16:25

Dari Ramadan, Lebaran, hingga Pendatang Urban: 5 Tips bagi Netizen Menulis di April 2026

Berikut tips praktis agar tulisanmu tepat sasaran.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 02 Apr 2026, 15:06

Sejarah Kupat Tahu Singaparna, Jejak Rasa Kuliner Legendaris dari Tasikmalaya

Kupat Tahu Singaparna lahir dari pasar tradisional Tasikmalaya, hasil perpaduan budaya, ekonomi rakyat, dan perjalanan kuliner sejak 1950-an.

Kupat tahu Singaparna.
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 14:56

4 Cara Mengubah Pengalaman Sehari-hari Menjadi Tulisan untuk Ayo Netizen

Kirimkan tulisanmu melalui akun penulis di Ayobandung.id dengan periode publikasi 1–30 April 2026.

Kirimkan tulisanmu melalui akun penulis di Ayobandung.id (Sumber: Pexels)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 11:03

Kisah Beberapa Perkampungan Kota Bandung (Bagian 2)

Kawasan perkampungan tempat saya dilahirkan adalah kawasan yang memiliki sejarah panjang, yang mungkin tak banyak warga Bandung tau.

Kampung Apandi atau gang Apandi tahun 1900-1910. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 02 Apr 2026, 10:02

Perjalanan Kawah Putih, Ikon Wisata Kabupaten Bandung

Kawah Putih terus berinovasi dengan wahana baru sambil menjaga keindahan alamnya sebagai ikon wisata Kabupaten Bandung.

Objek wisata ikonik Kawah Putih, Ciwidey, Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 02 Apr 2026, 09:57

Buku Langka dan Keberuntungan Menanti di Jalan Kautamaan Istri

Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, lapak buku bekas di Jalan Kautamaan Istri masih menjadi tempat berburu buku langka, di mana keberuntungan sering datang dari cover buku yang sudah usang.

Lapak buku Wawan menjadi sudut kecil bagi pemburu bacaan di tengah ramainya Jalan Kautamaan Istri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 08:44

Bandung dalam Kenangan Pendatang Era 90-an

Awal tahun 1990-an, Bandung selalu kedatangan wajah-wajah baru, terutama setelah Lebaran.

Mahasiswa di Bandung pada era 1990-an, para pendatang dari berbagai daerah. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 19:02

4 Cerita yang Bisa Kamu Tulis untuk Ayo Netizen April 2026

Berikut empat sudut cerita yang bisa jadi titik masuk tulisanmu.

Dalam tujuan mengapreasiasi kamu yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)
Wisata & Kuliner 01 Apr 2026, 17:32

Panduan Wisata Gunung Bromo: dari Rute, Biaya hingga Waktu Terbaik

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menawarkan lebih dari sekadar kawah. Ini panduan lengkap untuk merencanakan kunjungan yang efisien dan tidak boros.

Gunung Bromo (Sumber: freerangestock.com)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 17:22

Cikuntul, Lahan Basah Tempat Burung Kuntul Berburu Pakan

Bagaimana keadaan Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Kutawaluya sampai-sampai di daerah itu ada daerah yang diberi nama Cikuntul?

Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) pada saat musim berbiak, dengan bulu yang menarik lawan jenis, jingga keemasan, dan warna putih sesudah musim berbiak. (Sumber: John MacKinnon (1993))
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 16:43

Di Balik Ramainya Kendaraan saat Mudik Lebaran, Ada Risiko Kecelakaan Pengemudi yang Minim Pengalaman

Di balik ramainya mudik Lebaran, hadir pengemudi minim pengalaman. Faktor manusia tetap menjadi kunci utama dalam risiko kecelakaan.

Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Pasteur 1, Kota Cimahi pada Jumat, 27 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)