Kadedemes, dari Krisis Pangan menuju Hidangan Penuh Makna

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Kadedemes Kuliner Warisan Suku Sunda (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Kadedemes Kuliner Warisan Suku Sunda (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Saya pribadi mengetahui kuliner yang satu ini dengan sebutan oseng kulit singkong. Namun baru-baru ini saya mengetahui bahwa kuliner ini bernama kadedemes.

Kadedemes dalam suku Sunda artinya kaleuwihan atau berlebihan. Hampir serumpun dengan kata tamarakan yang diartikan makan sembarangan. Istilah ini muncul di masyarakat karena kulit yang dianggap sebagai sampah ternyata masih bisa diolah menjadi hidangan yang nikmat.

Saya selalu takjub dengan kehadiran singkong di muka bumi ini. Segala hal yang melekat dalam dirinya tak luput dari kata bermanfaat. Menurut saya singkong memiliki filosofi "Bertumbuh dan Mengakar", dalam artian bertumbuh menghasilkan manfaat lewat daun dan batangnya juga mengakar lewat singkong yang bermanfaat bagi mahluk hidup lainnya.

Singkong adalah salah satu jenis tumbuhan yang tidak perlu perlakuan khusus dalam merawatnya. Bahkan saya sering menemukan sebagian masyarakat lokal yang tinggal dipinggiran Sungai Citarum memanfaatkan lahan yang kosong untuk menanam pohon singkong.

Tidak perlu setiap hari datang untuk ditinjau, pohon singkong bisa tumbuh dengan cepat dan berguna bagi masyarakat. Singkong juga bisa menjadi nilai ekonomis bagi mereka yang memanfaatkannya. Bahkan menurut pengamatan saya, ketika air Sungai Citarum meluap ketika hujan, sedikit tertahan lebih lama oleh keberadaan pohon singkong hingga air menepi ke jalanan.

Mulai dari daunnya yang sering diolah menjadi lalaban, urap, gulai daun singkong, tumis daun singkong, bakwan hingga dendeng daun singkong bagi mereka yang vegetarian.

Batangnya berguna sebagai bibit perkembangan, bahan baku pembuatan industri papan dan bahan briket arang juga bisa berguna sebagai bahan kayu bakar. Kemudian daging singkong bisa dibuat berbagai macam varian mulai dari kukusan, getuk, tape, urap, keripik hingga bisa diproses menjadi tepung untuk pembuatan kue.

Singkong terdiri dari tiga lapisan kulit, pertama daging umbi yang secara umum sering diolah, kedua lapisan yang cenderung tebal biasanya dianggap menjadi sampah atau tambahan pakan untuk ternak dan lapisan kulit ari (paling luar) yang menyatu dengan tanah dan biasanya dibuang begitu saja.

Di Indonesia Singkong memiliki sejarah yang cukup panjang. Menurut sebuah jurnal yang berjudul Sejarah Pembudidayaan Ketela Pohon di Indonesia yang ditulis oleh Fadly Rahman menyebutkan bahwa singkong diperkirakan mulai dibudayakan sekitar 5000 tahun yang lalu. Hingga akhir abad ke-19, peneliti bersepakat bahwa spesies singkong ini berasal dari Amerika Serikat.

Sementara dalam buku yang ditulis Murdijati Gardjito dengan judul Singkong, Pangan Harapan Masa Depan yang Menyehatkan, menyatakan bahwa singkong merupakan komoditas yang paling dekat dengan masyarakat kelas bawah. Di Indonesia singkong sangat lekat dengan pepatah Jawa "Wong ndeso mangan telo" atau orang desa makannya singkong.

Masih dalam buku yang sama singkong bukan sekedar makanan utama tapi sudah diolah menjadi berbagai aneka macam kudapan di seluruh Indonesia. Indonesia juga merupakan penghasil singkong terbesar kedua di dunia. Makanan yang pada mulanya dianggap rendah kini mulai bertransformasi menjadi kudapan yang sering ditemui di restoran dan dikonsumsi oleh kalangan menengah atas.

Dalam sebuah novel sejarah berjudul Entrok bahkan sang penulis Okky Madasari menyoroti singkong sebagai komoditas utama masyarakat di era tahun 1960-1980-an. Singkong menunjukkan sebagai bahan dasar makanan yang menemani krisis pangan di Indonesia. Bahkan singkong sudah menjadi penopang ekonomi masyarakat di zaman tersebut.

Dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Sopian Wardani berjudul Kearifan Lokal Rasi di Kampung Adat Cirendeu sebagai Daya Tarik Wisata, semenjak tahun 1918 sesepuh adat Cireundeu mengatakan bahwa pada masa penjajahan hampir sebagian hasil panen padi diambil oleh kolonial sehingga banyak masyarakat yang kelaparan.

Kondisi tersebut membuat masyarakat memiliki keputusan tidak bergantung kepada padi sebagai olahan makanan utama. Bahkan sesepuh adat Cirendeu bisa menghasilkan karya dari singkong bernama Rasi atau beras singkong yang diprakarsai oleh Ibu Omah Asnamah.

Menariknya olahan rasi bagi masyarakat adat Cirendeu tidak hanya sekedar tradisi makan tapi memiliki nilai kearifan lokal yang kaya dan mendalam. Rasi juga menjadi daya tarik wisata bagi mereka yang berkunjung ke kampung adat Cirendeu.

Di Bandung sendiri olahan kadedemes sudah sangat sulit untuk ditemui, bahkan berdasarkan informasi yang saya temukan olahan ini hanya ada di salah satu warung nasi yang ada di Banjaran Kabupaten Bandung.

Menurut ibu saya, dalam membuat olahan kadedemes diperlukan beberapa kriteria singkong. Pertama, tangkai singkong yang berwarna sedikit kemerahan lebih berkualitas dibandingkan dengan tangkai yang berwarna hijau saja.

Kedua, kulit terluar singkong yang berwarna putih sedikit kemerahan akan lebih cocok diolah menjadi kadedemes dibandingkan dengan dengan kulit yang dominan putih yang bercita rasa agak pahit. Ketiga, ukuran singkong yang besarnya sama rata lebih enak dibandingkan dengan singkong yang pada bagian atas lebih besar sementara di bagian bawah makin meruncing.

Baca Juga: Lamsijan, Mang Kabayan, dan Langkanya Ilustrator Karakter Kesundaan

Langkah pertama untuk membuat olahan kadedemes adalah dengan mengupas kulit kedua dari singkong lalu dicuci hingga bersih. Selanjutnya bagian kulit tersebut dikukus selama kurang lebih 30 menit hingga empuk. Potong kulit kadedemes menjadi ukuran yang lebih kecil lalu tiriskan.

Untuk menghasilkan olahan yang lebih enak, bumbu kadedemes bisa dibuat dalam dua versi yaitu bumbu ulek dan bumbu cingcang. Pertama goreng bawang merah yang sudah diiris sampai berubah warna dan tercium aroma, sisihkan sementara ke sisi wajan.

Kemudian masukan bumbu halus yang sudah di ulek berisi bawang putih, jahe dan cabe rawit lalu tumis hingga kecoklatan. Setelah itu masukan ikan teri goreng sebagai penambah rasa dalam olahan kadedemes bersama potongan cabai rawit untuk menghasilkan rasa yang lebih segar.

Masukan kadedemes yang sudah di potong-potong lalu tambahkan sedikit air dan penyedap rasa. Tunggu 5-10 menit hingga bumbu meresap sempurna. Kadedemes siap disajikan dengan nasi hangat yang tentunya akan meningkatkan nafsu makan. Nasi hangat yang bercampur dengan lembutnya kulit singkong juga gurih dari ikan teri dan pedasnya cabai menjadi perpaduan yang tak terlupakan.

Meski keberadaannya sudah sangat jarang ditemukan tapi kadedemes merupakan salah satu kekayaan kuliner suku Sunda yang wajib untuk dibanggakan. Melalui kadedemes kita belajar bahwa dari krisis pangan ternyata kadedemes bisa bertransformasi menjadi hidangan yang penuh makna dan kaya akan cita rasa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)