Bandung Waras

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan Rabu 24 Des 2025, 15:07 WIB
Festival seni dan budaya bukan sekadar hiburan. Itu pengingat bahwa kota hidup dan waras. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Festival seni dan budaya bukan sekadar hiburan. Itu pengingat bahwa kota hidup dan waras. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Putra)

BANDUNG tidak pernah berhenti bergerak. Dari pagi hingga malam, hingga pagi lagi, di antara aroma knalpot dan aroma kopi tubruk, kota ini selalu sibuk. 

Tapi, pernahkah kita iseng mengapungkan sebuah tanya: apakah kota ini masih waras?

Waras, tentu saja, bukan sekadar bebas dari macet atau bersih dari polusi. Waras lebih dari itu. Waras adalah keseimbangan, kemampuan membaca batas, dan keberanian mengatakan cukup sebelum semuanya berantakan.

Mari, kita bayangkan sejenak jalan Dago di sore hari. Orang berlalu-lalang, anak-anak asyik main papan luncur, sementara ibu-ibu membawa belanjaan. Ada hidup yang normal di tengah kepadatan. Itulah Bandung yang waras, di mana kota yang tetap manusiawi di tengah gembita urbanisasi.

Berlari setiap detik

Sejarawan kota kerap bilang bahwa kota yang baik adalah kota yang bisa membuat warganya bertahan hidup tanpa harus berlari setiap detik. Itu salah satu prinsip sederhana yang mungkin jarang kita sadari.

Kota waras tidak menuntut warganya untuk selalu produktif sampai kelelahan. Tidak setiap ruang harus menjadi pasar atau mall. Ada ruang untuk berhenti. Bernafas. Dan melihat langit.

Pakar psikologi lingkungan, Roger Ulrich, pernah mengutarakan bahwa  lingkungan yang sehat secara psikologis mendukung pemulihan manusia dari stres. Trotoar yang rindang, taman yang bersih, sungai yang tak tercemar, itulah obat paling murah tapi paling ampuh bagi warga.

Bandung punya potensi. Bukit-bukitnya, sungainya, bahkan angin yang datang dari daerah utara, seharusnya menjadi bagian dari terapi kota. Pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah merawatnya? Mungkin belum sepenuhnya.

Sering kali pembangunan kota justru melupakan kewarasan. Jalan raya diperlebar, mall dibangun, ruang hijau dan ruang publik terpangkas. Kecepatan menjadi ukuran, bukan kenyamanan.

Kota yang waras menekankan keteraturan tanpa harus mengekang kreativitas. Keberadaan para pedagang kaki lima, seniman jalanan, komunitas literasi adalah pertanda kota masih hidup, bukan chaos.

Tapi, realitanya, sebagian aturan kota malah membuat mereka terpinggirkan. Di sini, waras berarti mampu menyeimbangkan antara aturan dan fleksibilitas.

Bandung harus punya otak yang waras dan hati yang peka. Kedua hal ini perlu berjalan bersamaan, di mana logika menjaga tata kota, empati menjaga kehidupan warganya.

Misalnya, tata ruang harus mempertimbangkan banjir dan longsor. Karenanya tak cukup hanya dengan infrastruktur beton,  tetapi juga membuat ruang hijau sebagai peredam alami, sekaligus tempat warga berinteraksi.

Infrastruktur penting. Tapi, tanpa estetika, kota hanya menjadi labirin beton yang menekan jiwa. Bandung punya peluang untuk tampil beda sehingga bisa waras dan juga indah sekaligus.

Ujian kota waras

Alih fungsi lahan di Kawasan Bandung Utara kian meluas, ditandai dengan maraknya pembangunan properti mewah yang mengancam kelestarian lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Alih fungsi lahan di Kawasan Bandung Utara kian meluas, ditandai dengan maraknya pembangunan properti mewah yang mengancam kelestarian lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Fenomena gentrifikasi dapat menjadi ujian kota waras. Harga properti naik, sementara warganya terdorong pergi. Waras bukan hanya milik yang mampu membayar mahal. Waras adalah milik semua orang.

Pakar ekonomi urban, Edward Glaeser, menulis bahwa kota yang sehat adalah kota yang memungkinkan mobilitas sosial, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi. Prinsip ini harus bisa diimplementasikan di Bandung.

UMKM lokal, kafe kecil, tukang bubur dan tukang bajigur, mereka adalah nadi kota. Kota yang waras memastikan mereka tetap bertahan, bukan tergusur demi proyek-proyek besar.

Transportasi publik juga bisa sebagai ukuran warasnya kota. Tidak hanya cepat, tapi nyaman, aman, dan terjangkau. Kota yang memaksa warganya selalu numpak motor karena pilihan lain mahal atau tak tersedia, belumlah waras.

Lingkungan sosial tak kalah penting dalam membantu kota menjadi waras. Bandung harus jadi kota di mana warga saling mengenal, saling membantu, bukan sekadar tetangga yang lewat cepat-cepat tanpa menyapa.

Bukan sekadar hiburan

Budaya juga bagian dari kewarasan. Festival musik, mural, teater jalanan, itu semua bukan sekadar hiburan. Itu pengingat bahwa kota ini hidup, bukan mati di balik gedung-gedung beton.

Kota waras juga menjaga sejarahnya. Braga, Alun-Alun, Gedung Sate bukan hanya ikon, tapi bagian dari identitas. Merobohkan sejarah demi modernisasi bukan tindakan waras.

Kota yang waras mampu belajar dari kesalahan. Longsor, banjir, kemacetan, itu bukan aib, tapi pelajaran untuk membangun sistem yang lebih baik.

Di sisi lain, teknologi bisa menjadi teman atau musuh kota waras. Aplikasi transportasi, smart city, sistem informasi publik, semuanya membantu jika digunakan dengan visi manusiawi, bukan sekadar efisiensi semu.

Namun, barangkali, yang paling sulit yaitu waras berarti menahan diri. Tidak setiap proyek harus dikejar, tidak setiap target harus buru-buru tercapai.

Baca Juga: Mendidik dengan Ikhlas, Mengabdi dengan Cinta: Kisah di Balik Seragam Cokelat Herna Wati

Waras bukan slogan, bukan hashtag. Waras adalah praktik sehari-hari. Melihat, menilai, bertindak dengan kepala dingin, tapi hati nan hangat.

Bandung waras bukan utopia. Itu adalah proses. Setiap keputusan, setiap langkah pembangunan, setiap aturan baru adalah ujian. Jika gagal, kita belajar. Jika berhasil, kita rayakan.

Waras itu sederhana tapi berat. Sederhana dalam makna, yakni cukup, seimbang, manusiawi. Berat dalam praktik, lantaran membutuhkan keberanian, kesabaran, dan komitmen semua pihak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)