Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

3 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Rabu 29 Apr 2026, 09:15 WIB
Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)

AYOBANDUNG.ID - Kota Bandung menghasilkan timbulan sampah sekitar 1.200 hingga 1.500 ton per hari. Volume yang besar ini berarti setiap harinya ribuan meter kubik sampah dari rumah tangga, pasar, kawasan bisnis, dan aktivitas warga harus diangkut dari pemukiman menuju tempat pembuangan akhir.

“Rata-rata jumlah timbulan sampah harian itu antara 1.200 sampai 1.500 ton per hari,” ujar Humas UPT Pengelolaan Sampah Kota Bandung, Nugroho Bayu Prasetyo (45).

Namun, mengelola sampah di kota sepadat Bandung bukan sekadar perkara mengirim truk. Hambatan seperti antrean panjang, pembatasan kuota, hingga terbatasnya jam operasional membuat satu kali perjalanan (rit) dapat memakan waktu seharian penuh.

Saat ini, rata-rata kendaraan pengangkut hanya mampu melakukan satu rit per hari. Padahal sebelumnya, satu armada bisa bolak-balik dua hingga tiga kali.

“Kalau untuk kondisi sekarang hanya satu rit. Dulu sebelum ada pembatasan kuota itu bisa dua sampai tiga rit satu hari,” kata Bayu.

Humas UPT Pengelolaan Sampah Kota Bandung, Nugroho Bayu Prasetyo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Humas UPT Pengelolaan Sampah Kota Bandung, Nugroho Bayu Prasetyo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Penurunan frekuensi angkutan ini terjadi karena kondisi di tempat pembuangan akhir yang masih mengalami kendala kapasitas dan antrean kendaraan. Truk yang tiba pada sore hari sering kali tidak bisa masuk karena jam operasional sudah tutup, sehingga sopir terpaksa menunggu hingga esok hari.

“Kalau bawa dari Kota Bandung jam empat sore, nyampenya bisa jam enam atau tujuh malam. Otomatis harus nginep,” ujarnya.

Situasi ini membuat persoalan sampah tidak pernah sesederhana “tinggal angkut”. Ketika satu armada tertahan di jalur pembuangan, penumpukan sampah di titik-titik kota lain akan terjadi. Begitu satu TPS dibersihkan, sering kali muncul titik pembuangan liar baru di lokasi berbeda.

Untuk menangani volume tersebut, UPT Pengelolaan Sampah mengoperasikan ratusan kendaraan dari berbagai jenis, mulai dari compactor truck, dump truck, arm roll truck, pick up, hingga triseda yang digunakan untuk mengangkut sampah hasil sapuan jalan.

Triseda berkapasitas kecil menjadi penopang vital di gang-gang sempit. Kendaraan roda tiga ini bergerak menyisir hasil sapuan petugas kebersihan dari trotoar, jalan utama, hingga lingkungan padat penduduk.

Meski jumlah armada terlihat banyak, beban kerja mereka sangat berat. Sebagai kota tujuan, jumlah orang yang beraktivitas di Bandung pada siang hari jauh lebih banyak dibanding penduduk tetapnya karena adanya arus pekerja, mahasiswa, dan wisatawan harian.

“Kalau Kota Bandung kan siang biasanya dua kali lipat jumlah penghuninya. Karena banyak pendatang yang aktivitasnya di kota,” kata Bayu.

Semakin tinggi mobilitas warga, semakin besar pula volume sampah yang dihasilkan. Masalah dasarnya, Bandung masih sangat bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kapasitas pengolahan sampah di dalam kota masih sangat kecil dibandingkan total sampah harian yang dihasilkan.

“Yang kita olah itu masih sedikit. Dari total timbulan sampah 1.200 ton, paling terolah sekarang 100 sampai 200-an,” ujar Bayu.

Akibatnya, sebagian besar residu tetap harus dibuang ke luar kota, yakni ke TPA Sarimukti. Ketergantungan ini membuat setiap gangguan di lokasi TPA langsung berdampak pada kebersihan jalan-jalan di Bandung. Begitu kuota dibatasi atau akses terganggu, tumpukan sampah segera menjalar ke tingkat TPS dan pemukiman warga.

“Tegallega itu paling banyak pengaduan. Banyak tumpukan yang tidak terangkut karena kapasitas juga,” ujarnya.

Bagi Bayu, masalah sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas dan armada pengangkut. Menurutnya, solusi paling efektif harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu rumah tangga. Memilah sampah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengolah sisa makanan menjadi kompos adalah langkah sederhana yang dampaknya signifikan.

“Minimal dipilah dulu lah. Jangan banyak-banyak, tapi mulai dari rumah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa edukasi mengenai pengelolaan sampah idealnya ditanamkan sejak dini agar menjadi budaya.

“Kalau dari kecil sudah dibiasakan, biasanya jadi terbiasa,” tutup Bayu.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 18 Jun 2026, 10:13

Ketika Transportasi Era Kolonial Lebih Visioner dari Hari Ini

Pengembangan transportasi yang visioner di masa kolonial perlu menjadi tolok ukur dalam menjaga relevansi dari orientasi pengembangan transportasi di masa kini.

Lokomotif CC 10 14 dan CC 10 30 melintas di petak Cibatu-Garut, 1972 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY 2.0) | Foto: Frank Stamford)
Wisata & Kuliner 18 Jun 2026, 10:06

Panduan Jelajah Wisata Pangalengan Bandung: Itinerary dan Pilihan Destinasi Favorit

Panduan wisata Pangalengan lengkap dengan destinasi favorit, itinerary perjalanan, kuliner, dan rute terbaik.

Wayang Windu Panenjoan, Pangalengan. (Sumber: Tiktok @wayangwindupanenjoan)
Ayo Biz 18 Jun 2026, 09:10

Harapan dari Genangan Waduk, Desa Cisurat Bangkit dari ‘Mengkhawatirkan’ Jadi BRILian

Desa Cisurat tidak lagi meratapi dampak waduk, mereka sudah belajar hidup bersamanya dengan cara yang makin cerdas dan terencana.

Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 07:46

Tapa Sebelum Melobangi Gunung

"Gubernur kedah tapa di Gunung Gede-Pangrango."

Sebuah spanduk di depan kantor ESDM Provinsi Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:40

Merawat Cahaya di Tengah Rimba Digital

Hijrah digital mengajarkan tentang perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Sudah saatnya memastikan jemari kita menjadi jalan hadirnya kebaikan bagi sesama, kemaslahatan umat.

Ilustrasi muslimah sedang membaca alquran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:24

Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno-Hatta: Apakah Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Korban?

Kecelakaan pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta mengingatkan bahwa keselamatan jalan bukan hanya soal perilaku pengguna, tetapi juga kualitas infrastruktur yang tersedia.

Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:27

Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

Ketika iklan makeup dijadikan daya tarik propaganda pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)