1.500 Ton Sampah Sehari: Kota Bandung Butuh Aksi Nyata Warganya Sekarang Juga

3 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan Selasa 03 Mar 2026, 10:40 WIB
Jumlah keseluruhan sampah dari berbagai TPA di Kota Bandung mencapai 1.496 ton setiap hari atau setara 262 rit pengangkutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Jumlah keseluruhan sampah dari berbagai TPA di Kota Bandung mencapai 1.496 ton setiap hari atau setara 262 rit pengangkutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

AYOBANDUNG.ID - Sampah masih menjadi persoalan pelik di Kota Bandung. Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung telah meluncurkan program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah), pengelolaan masih belum maksimal. Program ini hadir sebagai respons atas kondisi darurat sampah setelah insinerator tidak lagi diprioritaskan. Sebanyak 1.596 petugas di tingkat RW telah direkrut untuk menjalankan tugas pemilahan dan pengolahan.

Kota Bandung setiap hari memproduksi sekitar 1.500 ton sampah. Angka yang tak lagi sekadar statistik, melainkan tanda bahaya yang menuntut kesadaran baru dari setiap rumah tangga.

"Namun dari sisi volume, baru mampu mengelola maksimal sekitar 40 ton per hari," kata Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Mapolrestabes Bandung, Senin, 2 Maret 2026.

Artinya, dari 1.500 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, yang benar-benar tertangani secara maksimal baru sebagian kecil saja. Sisanya tetap menjadi beban kota—mengalir ke tempat penampungan, menunggu diangkut, atau berakhir di TPA dengan sistem yang belum sepenuhnya ideal.

Kunjungan ke TPA Jelekong di Kabupaten Bandung membuka fakta lain. Tempat itu didorong menjadi lokasi pengelolaan sampah organik. Harapannya, jika di permukiman pemilahan sudah dilakukan melalui Gaslah, maka tahap lanjutan bisa dilakukan dalam skala lebih besar sebelum sampah dikirim ke TPA.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

"Artinya, jika di permukiman Gaslah sudah melakukan pemilahan, maka pemilahan lanjutan dalam skala lebih besar harus dilakukan sebelum sampah dikirim ke TPA," ujarnya.

Namun kapasitas yang ada masih terbatas. Dalam sehari, pengelolaan sampah organik di sana tak lebih dari 10 ton. Padahal potensi kapasitasnya disebut bisa jauh lebih besar.

"Secara potensi, kapasitasnya bisa mencapai lebih dari 500 ton per hari, dan jika itu tercapai, kita sudah sangat bersyukur," katanya.

Persoalan lain pun muncul, mulai dari akses jalan menuju TPA yang melewati permukiman warga hingga kebutuhan infrastruktur pendukung. Pemerintah terus mengkaji berbagai kemungkinan, sembari mengingatkan publik agar tidak bereaksi berlebihan sebelum hasil kajian tuntas.

"Sambil menunggu kajian tersebut, kami akan tetap mengoptimalkan pengelolaan di dalam kota melalui program Gaslah, pengelolaan TPS, pemberantasan TPS ilegal, penegakan hukum bagi kawasan berpengelola agar zero waste, serta pemanfaatan teknologi lainnya," ucapnya.

Di tingkat regional, persoalan sampah tak kalah pelik. Kota Bandung menghasilkan 1.500 ton per hari, sementara Kabupaten Bandung sekitar 1.800 ton. Dua wilayah ini saja sudah memproduksi hampir 3.300 ton sampah setiap hari, dengan sebagian besar masih dikelola menggunakan sistem open dumping.

“Kalau kita serius di sini, ini bisa jadi solusi bersama. Tapi memang harus didalami, tidak sesederhana itu,” katanya.

Upaya pembangunan akses menuju TPA Jelekong pun masih harus diperjuangkan.

“Lahannya ada, memang aksesnya mesti diperjuangkan. Harus diperjuangkan. Kalau diizinkan, saya akan kumpulkan beberapa teman untuk diskusi, mencari pelaku usaha yang bisa bantu kita berinvestasi ke sini,” lanjut Farhan.

Ia bahkan membuka kemungkinan kolaborasi lintas daerah.

“Kalau kita patungan bikin jalan akses masuk ke sini, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung pasti sama-sama untung. Benefit-nya jelas ada,” ujarnya.

Warga melintas di depan tumpukan sampah di TPS Pasar Ciwastra, Kota Bandung, Selasa 22 April 2025. Penumpukan tejadi diakibatkan pembatasan pembuangan sampah ke TPA Sarimukti. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga melintas di depan tumpukan sampah di TPS Pasar Ciwastra, Kota Bandung, Selasa 22 April 2025. Penumpukan tejadi diakibatkan pembatasan pembuangan sampah ke TPA Sarimukti. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pembangunan akses jalan menjadi kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum sesuai proses yang berjalan.

“Kalau akses masuk ditugaskan ke Menteri PU untuk mendorong pembangunannya. Yang diperlukan nanti desain dan pembebasan tanahnya. Kalau pembangunan fisiknya, saya rasa tidak ada masalah,” ujar Hanif.

Semua rencana itu penting. Namun angka 1.500 ton per hari menyimpan pesan yang lebih mendesak: tak ada sistem yang akan benar-benar efektif tanpa perubahan perilaku dari hulu. Tanpa pemilahan mandiri di rumah, tanpa pengurangan sampah dari dapur sendiri, kota akan terus kewalahan.

Di sinilah peran masyarakat menjadi kunci. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos sederhana di pekarangan, hingga membawa tas belanja sendiri—langkah-langkah kecil itu jika dilakukan jutaan warga akan jauh lebih berdampak dibanding sekadar mengandalkan sistem di hilir.

Sebab jika produksi sampah terus berada di angka 1.500 ton per hari sementara yang mampu dikelola optimal baru sekitar 40 ton, maka persoalan ini bukan hanya milik pemerintah—melainkan tanggung jawab bersama setiap warga kota.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 18 Jun 2026, 11:17

Melestarikan Budaya Sunda di Tengah Gempuran Hiburan Modern

Pelestarian budaya tidak cukup dilakukan hanya dengan menjaga warisan tradisi.

Musik tradisi bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa batin yang menyatukan manusia dengan tanah kelahirannya. (Sumber: dok Sambasunda)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 10:13

Ketika Transportasi Era Kolonial Lebih Visioner dari Hari Ini

Pengembangan transportasi yang visioner di masa kolonial perlu menjadi tolok ukur dalam menjaga relevansi dari orientasi pengembangan transportasi di masa kini.

Lokomotif CC 10 14 dan CC 10 30 melintas di petak Cibatu-Garut, 1972 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY 2.0) | Foto: Frank Stamford)
Wisata & Kuliner 18 Jun 2026, 10:06

Panduan Jelajah Wisata Pangalengan Bandung: Itinerary dan Pilihan Destinasi Favorit

Panduan wisata Pangalengan lengkap dengan destinasi favorit, itinerary perjalanan, kuliner, dan rute terbaik.

Wayang Windu Panenjoan, Pangalengan. (Sumber: Tiktok @wayangwindupanenjoan)
Ayo Biz 18 Jun 2026, 09:10

Harapan dari Genangan Waduk, Desa Cisurat Bangkit dari ‘Mengkhawatirkan’ Jadi BRILian

Desa Cisurat tidak lagi meratapi dampak waduk, mereka sudah belajar hidup bersamanya dengan cara yang makin cerdas dan terencana.

Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 07:46

Tapa Sebelum Melobangi Gunung

"Gubernur kedah tapa di Gunung Gede-Pangrango."

Sebuah spanduk di depan kantor ESDM Provinsi Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:40

Merawat Cahaya di Tengah Rimba Digital

Hijrah digital mengajarkan tentang perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Sudah saatnya memastikan jemari kita menjadi jalan hadirnya kebaikan bagi sesama, kemaslahatan umat.

Ilustrasi muslimah sedang membaca alquran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:24

Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno-Hatta: Apakah Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Korban?

Kecelakaan pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta mengingatkan bahwa keselamatan jalan bukan hanya soal perilaku pengguna, tetapi juga kualitas infrastruktur yang tersedia.

Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)