Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Jumat 17 Apr 2026, 09:42 WIB
Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Embusan uap dari mata air panas yang terus membual di dalam wadah alami, seperti air yang mendidih di dalam sѐѐng, di dalam dandang di atas tungku. Dalam bayangan para orangtua yang memberi nama daerah ini, hamparan lahan di kaki gunung kapur itu dianalogikan sebagai tungku tanah. Nyala bara apinya dari panas yang merambat dari kedalaman bumi. Mataair panas yang membual di dalam dandang alami itu, persis seperti saat memasak nasi dengan sѐѐng. Rekaman situasi dapur saat menanak nasi dan kenampakan rona bumi itulah yang menginspirasi para sepuh masa lalu untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng.  

Sѐѐng, yang dijadikan perumpamaannya, dan tidak dengan alat dapur yang lain, karena setiap hari, semua orang di dalam rumah itu melihat dan menggunakan sѐѐng saat menanak nasi. Dan, bentuknya bertumbuh ke atas seperti dandang, serta ada air panas yang terus membual di dalamnya. 

Mata Air panas dan travertin Cisѐѐng merupakan gejala kebumian yang bermula dari air meteorik yang tercurah di gunung kapur di kawasan Cisѐѐng dan sekitarnya. Air meresap, menyelusup di rekahan batu kapur dan mendapatkan pemanasan. Sumber panasnya berasal dari kegiatan magmatik atau kegiatan gunung api purba. Namun, bisa juga bersumber dari sirkulasi air tanah yang meresap hingga mencapai kedalaman batuan yang panas, kemudian air panas itu naik kembali ke permukaan melalui rekahan di jalur patahan. Panas itulah yang menyebabkan bukit kapur dikukus panas bumi secara terus-menerus, sejak jutaan tahun yang lalu hingga kini. 

Pada saat air panas bertekanan tinggi itu berinteraksi dengan karbondioksida (CO2​), maka asam karbonatnya menjadi sangat efektif melarutkan batugamping. Air Panas dari dalam bumi itu menjalar melalui rekahan di jalur patahan. Larutan batu gamping itu kemudian ke luar bersamaan dengan bualan air panas yang meluber ke luar di mataair. Pada saat bersentuhan dengan udara di luar, terjadilah penurunan tekanan secara drastis, menyebabkan proses pelepasan gas CO2​ secara seketika. Karbon dioksidanya menguap, lepas ke atmosfer, meninggalkan kalsium karbonat (CaCO3​) yang mengendap secara bertahap, sedikit demi sedikit, lapis demi lapis, kemudian mengeras, yang sudah berlangsung selama jutaan tahun. Itulah travertin. 

Endapan travertin selama berjuta-juta tahun itu mewujud menjadi bukit-bukit yang khas. Dari kejauhan, bukit-bukit travertin itu tampak putih yang dilatari tumbuhan yang menghijau. Travertin Cisѐѐng berpori-pori, bekas gelembung gas CO2​ yang dilepaskan. Demikian juga terdapat sisa dedaunan dan ranting yang terjebak saat latutan itu mengeras. Umumnya travertin di sini berwarna putih gading, abu-abu muda. Namun, di jalur berair, ada yang berpoles warna jingga karena mengandung oksida besi, dan warna hijau yang berasal dari koloni mikroorganisme yang hidup di air panas.  

Cisѐѐng berada di Desa Cisѐѐng, Kecamatan Cisѐѐng, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Kawasan Cisѐѐng dan daerah sekelilingnya yang sangat luas, antara 10 juta – 5 juta tahun yang lalu, masih berupa laut dangkal. Di dasar laut dangkal inilah mengendap tumbuhan dan binatang koral yang mati. Dari waktu ke waktu, terus menumpuk, lapis demi lapis, hingga ketebalannya setinggi gunung, setinggi bukit. Tenaga dari dalam bumi, seperti adanya kegiatan vulkanisme, menyebabkan endapan di laut purba ini terangkat ke permukaan. Setelah di permukaan, dinamika atmosfer seperti panas matahari, angin, tanah, dan air meteorik yang turun, kemudian meresap ke dalam gunung kapur.

Adanya mata air panas dengan suhu antara 37°C hingga 48°C, merupakan penanda bahwa proses panas bumi di kedalaman bumi masih terus berlangsung. Mataair panasnya ke luar di beberapa tempat, seperti di Gunung Peyek. Sistem panas bumi yang bersuhu rendah hingga sedang. Di dalam reservoarnya jauh di kedalaman bumi, suhunya mencapai 180°C hingga 200°C. Suhu dalam kisaran ini umumnya digunakan untuk pemanasan langsung, seperti pemanas ruangan, rumahkaca untuk pertanian, kolam pemandian airpanas, dll.

Mataair Panas ini oleh masyarakat dimanfaatkan menjadi pemandian air panas. Banyak yang datang ke sini untuk balneo terapi, terapi kesehatan yang memanfaatkan mataair panas, dan untuk penguatan jiwa. Sudah disediakan pemandian umum dan pemandian privat. Ada juga bak mandi alami yang berbentuk silinder berair panas. Yang semula merupakan merek dagang bak mandi airpanas, Jacuzzi, kini menjadi istilah umum untuk menyebut bak mandi air panas. Di Cisѐѐng terdapat Jacuzzi alami di hamparan endapan travertin yang megah. 

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun. Ini merupakan arsip bumi yang menyimpan catatan alami tentang perubahan iklim. Cisѐѐng merupakan laboratorium alam kebumian yang merekam sejarah buana dan menyimpannya dengan sangat baik. Cisѐѐng merupakan gedung arsip kebumian dan perilaku manusia yang berpengaruh pada pengendapan travertin. 

Bagi yang berniat belajar, Cisѐѐng merupakan kelas yang akan menceritakan tentang bumi pada masa lalu hingga saat ini, sehingga sangat baik menjadi kampus lapangan dan destinasi geowisata. (*)

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)