Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

5 menit baca
Juli Prasetya
Ditulis oleh Juli Prasetya diterbitkan
Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)

Ada sebuah tulisan yang membuat saya merasa terguncang, lebih tepatnya ada perasaan kurang nyaman dari tulisan tersebut yang mengganggu saya sebagai seorang pembaca sekaligus seorang penulis. Tulisan itu menyatakan bahwa membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut. Mungkin kalimat tersebut terdengar ideal, dan begitu indah didengar. Tapi bagi saya itu terdengar seperti omong kosong, karena bagaimana pun juga bagi saya tetaplah membaca meskipun nantinya mungkin akan dianggap sebagai hal tak berguna. Meskipun kau tak mengerti apa yang sedang kau baca. Tetaplah membaca, karena kata Pram semuanya pasti berguna, semuanya tidak ada yang sia-sia.

Menurut saya terkadang otak manusia bisa merekam lebih cepat dan menyimpan lebih banyak hal dibanding yang kita ketahui. Dan jika otak tidak bisa merekamnya, tidak bisa menyimpannya, maka meminjam konsep Freud manusia masih memiliki sebuah sistem tak terbatas bernama alam bawah sadar. Saya meyakini akan hal ini, apa yang sekiranya sedang kita baca dan apa yang sekiranya sekarang tidak ketahui jika ia tidak masuk ke otak maka ia akan mengendap di alam bawah sadar ini untuk sementara waktu, sampai kemudian di suatu kelak ia akan dipanggil, dan menemukan jawabannya, menemukan takdirnya untuk meledak dan keluar.

Haruki Murakami ia memiliki kebiasaan membaca sejak kecil, dan sampai sekarang setelah ia menjadi novelis besar ia masih terus menjaga kebiasaan membacanya. Saya yakin tidak semua buku yang Murakami baca sewaktu muda bisa ia pahami dengan sempurna. Ia tidak pernah bercita-cita menjadi seorang novelis, sampai kemudian takdir membawanya untuk menjadi seorang penulis novel, dan namanya berkali-kali dinominasikan sebagai peraih nobel. Tapi perlu diingat, sebelum menjadi novelis Murakami sudah memiliki kebiasaan membaca itu. Ia harus memiliki kebiasaan membaca itu dulu sewaktu muda, dan itu tidak langsung berguna waktu itu. Kemampuan membaca dan hasil dari tabungan bacaan Murakami ini mengendap di alam bawah sadarnya, sampai kemudian ketika ia melihat pertandingan bisbol tiba-tiba keinginannya untuk menulis novel sekonyong-konyong datang kepadanya; semacam epifani. Meskipun Murakami menggambarkannya seolah-olah menjadi novelis adalah takdirnya. Tapi saya yakin itu adalah akumulasi dari seluruh bacaan yang dulu dikumpulkannya, serta pengkristalan bacaan alam bawah sadarnya di masa mudanya dulu. Dan kemudian meledak lalu mendorong Murakami memiliki keinginan untuk menjadi seorang novelis. Kendati begitu, aku tetap mencomot buku-buku dan membacanya setiap ada kesempatan. Sesibuk apa pun, sesulit apa pun hari-hariku, bagiku membaca buku maupun mendengarkan musik tetaplah kegembiraan besar yang tak pernah menyusut. Itulah satu-satunya hal yang tak bisa direnggut oleh siapa pun dariku. (Novelis sebagai Panggilan Hidup, Murakami, KPG 2025, hlm. 27). Nah tugas kita sekarang sebagai seorang pembaca adalah menemukan dan memantapkan kegembiraan besar itu.

Jadi membaca pada awalnya tidak perlu memahami seluruh apa yang kita baca, kita hanya perlu membiasakan diri untuk melakukannya, menjadikannya sebagai kegiatan yang menyenangkan, menjadikannya sebagai kegiatan harian yang mesti dilakukan dengan disiplin. Apalagi bagi seorang penulis. Karena kebiasaan ini pada akhirnya akan kita bawa sampai kita tua nanti, dan akumulasi bacaan itu saya yakin ia tidak hanya tersimpan dan terkumpul di dalam otak manusia saja. Akan tetapi di dalam batinnya, di alam bawah sadarnya, bacaan-bacaan itu akan ikut tersimpan di sana untuk selamanya. Sampai orang itu mati.

Maka tidaklah heran jika ada pepatah Arab mengatakan bahwa mencari ilmu itu mesti dilakukan dari ayunan, sampai ke liang lahat. Dari sini kita sudah bisa mengambil semacam hikmah dan pelajaran. Bahwa belajar, dan membaca harus sudah menjadi satu kebiasaan dan satu kebutuhan bagi seorang anak, mulai dari masa mudanya, bahkan sampai ia sudah sekarat dan masuk ke dalam liang kubur sekalipun. Mencari ilmu itu harus terus dilakukan selama hayat masih dikandung badan, dan salah satu caranya tentu saja dengan membaca.

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)

Jadi persetan jika ada orang mengatakan bahwa membaca itu harus memahami konteks, isi, dan pesan yang ingin disampaikan oleh sebuah buku atau tulisan. Pemahaman itu terjadi kemudian, setelah kebiasaan membaca sudah benar-benar dibiasakan, dipupuk, dan sudah menjadi semacam kebutuhan pokok. Barulah kemudian peningkatan kesadaran akan membaca juga harus ditingkatkan. Tidak hanya membaca saja, tapi juga ada proses pembacaan dari membaca buku-buku yang kita baca, di sini kita baru ke tahapan memahami isi, konteks, dan pesan dari sebuah tulisan. Sebuah pembacaan.

Dan dari sinilah kemudian seorang penulis baru akan lahir, dari proses pembacaan ini. Dan itu bisa dimulai dari pembiasaan membaca. Awalnya tak perlu memahami dan mengerti isi buku itu terlebih dahulu, yang penting mau menjaga konsistensi membaca secara terus menerus, dan bahagia ketika melakukan kegiatan membaca tersebut. Itu juga sudah merupakan suatu kemajuan besar, dan kebiasaan baik sudah seharusnya dipupuk dengan benar bukan begitu? Kegiatan memahami dan menafsirkan pesan akan terjadi kemudian, ketika proses membaca sudah meningkat menjadi proses pembacaan terhadap sebuah karya itu sendiri.

Kegiatan membaca bukanlah kegiatan sia-sia, atau kegiatan seorang penganggur. Tapi kegiatan membaca adalah sebuah kebiasaan yang harus dipupuk oleh masyarakat, apalagi orang-orang yang mengaku dan merasa menjadi generasi literat. Sekali lagi saya tekankan, tidak perlu mengerti dan memahami terlebih dahulu isi buku tersebut. Yang terpenting adalah mau dan mencoba untuk membiasakan diri membaca, karena kebiasaan ini kemudian akan otomatis membuat pedalaman atau alam bawah sadar seseorang menyimpannya, dan aktivitas ini kemudian tidak lagi menjadi sebuah beban, tapi akan menjadi sebuah kebiasaan baik yang menyenangkan, yang dicintai. Ala bisa karena biasa, witing tresna jalaran saka kulina; kita bisa karena terbiasa, jika sudah terbiasa lama-lama kita akan cinta. Dan menyukai kegiatan membaca dan berdisiplin atasnya tentu saja bagus untuk membentuk generasi literasi yang bisa melanjutkan semangat intelektualitas dan peradaban sebuah bangsa.

Jadi jangan pernah anggap remeh orang yang membaca buku, meskipun ia tidak mengerti dan tidak memahami apa isi dari buku tersebut. Hal ini harus dipahami bahwa membentuk kebiasaan seseorang itu harus dilakukan terlebih dahulu dan jauh lebih penting, sebelum ia meningkat dan masuk menjadi seorang pembaca ulung yang melakukan pembacaan. Hal ini harus berkali-kali saya ulangi, dan saya tegaskan, karena ternyata masih banyak orang yang menganggap bahwa orang membaca buku tapi tidak mengerti isinya adalah orang bodoh, dan perilaku yang sia-sia. Karena bagi saya sikap meremehkan seperti itu semacam rasa pesimisme dan merendahkan kepada mereka yang tengah berproses dalam kegiatan pembiasaan membacanya. Karena bagaimana pun juga saya harus mengatakan, bahwa pada titik tertentu proses setiap orang itu berbeda-beda, dan tidak ada yang sia-sia dari kegiatan membaca.

Dan untuk sekarang, saya ingin menegaskan sekali lagi kepada kalian bahwa teruslah membaca meskipun itu nanti dianggap tidak berguna. Meskipun kau tak mengerti apa isi buku itu, meskipun kau tak mengerti apa pesan yang ingin disampaikan, meskipun kau tak mengerti tentang buku yang kau baca. Tapi saya katakan sekali lagi teruslah membaca meskipun dianggap tidak berguna. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Juli Prasetya
Tentang Juli Prasetya
Penulis asal Banyumas. Kumcernya Rudi Gaber yang Ingin Memberi Makan Istrinya dengan Puisi (2025). Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)