Keadaan Lingkungan Bandung Utara dalam Toponimi

5 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Potongan peta topografi Lembar Tanjungsari. Cetak ulang dari peta topografi Belanda (1919), oleh Army Map Service (1943). (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Potongan peta topografi Lembar Tanjungsari. Cetak ulang dari peta topografi Belanda (1919), oleh Army Map Service (1943). (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)

Bukit-bukit di lereng-lereng Cekungan Bandung sudah dikelupas. Hutan alami sudah lama berganti menjadi hutan produksi, dan kini sudah tak terkendali, sudah berganti menjadi kebun kentang dan bawang. Tak ada akar pohon yang memeluk tanah, akar yang menyimpan air. Perdu yang tersisa sudah mongering. Tanah kerontang, pecah-pecah, retak-retak, hancur hingga seukuran butir pasir halus. Kelembaban tanah menghilang dikelantang matahari pada siang hari. Pada musim kemarau, angin tenggara meniup tanah pucuk yang paling subur. Dan, ketika musim barat, angin membawa uap air, yang mengembun kemudian turun menjadi hujan. Curahannya sudah tak menimpa daun dan ranting pohon. Air hujan langsung jatuh menimpa tanah, lalu menyipratkan butiran-butiran tanah. Air hujan yang melimpas di permukaan, sekaligus menggerus tanah pucuk paling subur, tanah hitam hasil pelapukan dari abu letusan gunung api yang ditebarkan angin.

Bila taka da waktu untuk melihat kehancuran hutan, lihatlah kehancuran hutan itu pada saat hujan turun. Air sungai yang meluap, kental oleh lumpur berwarna coklat gelap. Sesungguhnya itulah banjir lumpur. Saat-saat tanah pucuk dengan sengaja dihanyutkan ke lembah-lembah, memenuhi dasar sungai, mengendap di dasar danau dan di muara sungai. Inilah misteri. Misteri kehilangan. Kehilangan tanah pucuk paling subur hanya dalam sekilat akan beralih dari lereng-lereng bukit dan gunung ke lembah-lembah. Kenyataan ini terjadi di mana-mana. Lamping, gulampeng, lereng-lereng bukit dan gunung yang curam sudah dikelupas, sudah boleger, sudah menjadi luka alam yang menganga. 

Banjir dan hanyutnya tanah pucuk, terus terjadi, berulang setiap setiap waktu. Nyawa yang teramat berharga melayang tertimbun longsor atau hanyut bersama rumah dan harta bendanya. Kebun, sawah, jalan, jembatan, hancur, yang sering tak terkirakan sebelumnya. Kehancuran yang menelan korban jiwa terus berlangsung silih berganti, datang dengan akibat yang semakin berat, dengan jangkauan yang semakin luas. 

Musim penghujan dan musim kemarau berlangsung setiap tahun. Hujan turun dan terik matahari terus berulang. Ketika hutan masih terjaga, pepohonan dapat memeluk tanah, menyimpan butir-butir air dalam tanah, dan mengatur jumlah air yang dilepaskan menjadi mata air. Bila sekarang hujan turun dengan lebat, sesungguhnya bukan hanya terjadi pada tahun ini, tapi juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Orang sering kali keliru dalam melihat sebab dari suatu peristiwa alam. Ketika terjadi caah dengdeng, banjir bandang, banyak yang menyalahkan hujan, tidak melirik bagaimana sesungguhnya keadaan tutupan hutan. Untuk kasus di Cekungan Bandung, W.A. van der Kars (1995) melaporkan, curah hujan selama 135.000 tahun, justru menunjukkan adanya penurunan yang berarti. 

Karena kehancuran lingkungan di hulu Ci Tarum, pada tahun 1982, PU melaporkan, Danau Saguling menerima kiriman sebanyak 4 juta meter kubik lumpur setiap tahunnya. Jumlah itu setara dengan 500.000 truk tronton. Sejak laporan itu dibuat sampai tahun 2025, maka jumlah lumpur yang masuk ke danau Saguling sebanyak 43 tahun x 4 juta meter kubik = 127.000.000 meter kubik. Tentu, jumlah itu akan menggila karena kehancuran lingkungan di hulu dan tengah sungai belakangan ini.

Demonstrasi alam berupa banjir, longsor, dan penurunan kualitas tanah, merupakan bukti telah terjadi kehancuran lingkungan yang sudah berlangsung lama. 

Bagaimana keadaan hutan di lereng utara Cekungan Bandung pada masa lalu? Inilah keadaan lingkungan Bandung Utara yang terekam dalam toponimi di kawasan itu.

Ketika leuweung, hutan, masih terjaga, ada toponim Leuweungdatar. Ada hutan yang ronabuminya datar. Di hutan Bandung Utara tumbuh beragam pohon dan tumbuhan, seperti yang menjadi nama geografis berikut ini: Cihaurkukuh (bamboo haur), Babakan Awilega (bambu), Babakanteureup (pohon teureup), Biru (pohon biru), Cibiru (pohon biru), Bojongkihiang (pohon Ki Hiang), Bojongpulus (pulus), Buahbatu (pinang), Buluh (bambu), Burahol, Campaka, Ci Bitung (bambu), Ci Kapundung (pohon kapundung), Ci Surian (pohon surian), Ciawitali (bambu), Cicalung (pohon Ki Calung), Cidadap (pohon dadap), Cidurian, Cijambe, Cijengkol, Cikapundung, Cikareumbi, Cikoang, Cikole (kole), Cikupa (pohon kupa), Cileunyi (pohon leunyi), Cimenyan (pohon Ki Menyan), Cinangka (pohon nangka), Cinunuk (pohon nunuk), Cipicung (pohon picung), Citapen (pohon tapen), Karasak (pohon karasak), Ki Areng (pohon Ki Areng), Kiarajanggot (pohon kiara), Kosambi (pohon kosambi), Lampegan (rumput/perdu), Malaka (pohon), Palasari (tumbuhan merambat), Pasirmuncang (pohon kemiri), Pasirsalam (pohon salam), Peundeuy (pohon peundeuy), Salam (pohon salam), Sekebihbul (pohon bihbul), Sekeloa (pohon loa).

Di dalam hutan itu berkeliaran beragam binatang, seperti yang abadi dalam dalam toponim. Ada: Batumeong (harimau), Cibagong (babi hutan), Cibanteng (banteng), Cigagak (burung gagak), Cigaruwik (babi hutan), Cigulukguk (babi hutan), Ciharegem (harimau), Cikidang (kijang), Ciruangbadak (badak), Ciung (burung ciung), Gunung Maung (harimau), Lebakbadak (badak), Legokbadak (badak), Pasir Heulang (burung heulang), dan Pasir Pamoyanan (harimau).

Tom Dale dan Vernon Bill menulis dalam bukunya Topsoil and Civilisation: “Manusia beradab hampir selalu berhasil menguasai alam untuk sementara waktu. Kesulitan yang dihadapi terutama bersumber pada fikirannya, bahwa kekuasaan yang bersifat sementara itu dikiranya abadi. Dia menganggap dirinya ‘menguasai seluruh dunia’, padahal dia tak mampu mengetahui hukum alam sepenuhnya. Manusia, baik biadab maupun beradab, adalah anak alam, bukan tuan yang menguasai alam. Kalau dia mau mempertahankan kekuasaannya atas alam, dia harus menyesuaikan diri pada hukum-hukum alam. Jika mengelak, lingkungan yang mendukung hidupnya akan merosot, maka peradabannya akan memudar pula. Pada garis besarnya, sejarah manusia beradab yang berjalan di muka bumi meninggalkan padang pasir di jejak kakinya.” 

Baca Juga: Toponimi Gandasoli

Wiranto Arismunandar, Rektor ITB  periode 1991-1996, dalam diskusi pembangunan Jawa Barat Selatan (9/11/2007) menyebutkan, pembangunan Jawa Barat harus berpangkal dari pembangunan hutan. Kesejahteraan masyarakat akan membaik bila pembangunan kehutanannya berhasil. Wiranto berkeyakinan, tidak perlu tenaga nuklir bila hutan benar-benar dibangun kembali dan terjaga.

Kini, hutan-hutan di sekeliling Cekungan Bandung, demikian juga di Provinsi Jawa Barat, sudah sangat mengkhawatirkan. Kehancuran hutan sama dengan hilangnya tanah pucuk yang sangat subur, disusul urug, tanah longsor, yang dapat menyengsarakan masyarakat di sana, menimbun persawahan, penimbun permukiman, memutus jalan, dan banjir besar dengan segala akibat, dan hancurnya nilai kemanusiaan. Hilangnya hutan akan menghilang air yang semula tersimpan di akar-akar pohon. Karena hutan merupakan danau air jernih yang tak nampak. Krisi air akan terjadi meluas dan dalam waktu yang lama.

Air tanah dalam di dasar Cekungan Bandung saat ini, boleh jadi itu merupakan air meteorik yang tercurah di hutan puluhan ribu tahun yang lalu, yang saat ini tersimpan di dalam bumi Cekungan Bandung, yang sedang disedot habis-habisan.  

Betulkah para pemimpin dan masyarakat di Cekungan Bandung dan di Jawa Barat mencintai lemah cai-na, tanahairnya? Saatnya dibuktikan! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 15:11

Hari Anak Nasional Menjadi Momen Tumbuhnya Generasi Kuat dan Cerdas

Seharusnya peringatan Hari Anak Nasional dijadikan momentum penting untuk membangun anak-anak yang kuat dan cerdas.

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 14:39

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Status quo tidak selalu bertahan karena kritik dibungkam, tetapi karena perhatian kita terlalu mudah dialihkan.

Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)