Keadaan Lingkungan Bandung Utara dalam Toponimi

5 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Kamis 15 Jan 2026, 19:41 WIB
Potongan peta topografi Lembar Tanjungsari. Cetak ulang dari peta topografi Belanda (1919), oleh Army Map Service (1943). (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)

Potongan peta topografi Lembar Tanjungsari. Cetak ulang dari peta topografi Belanda (1919), oleh Army Map Service (1943). (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)

Bukit-bukit di lereng-lereng Cekungan Bandung sudah dikelupas. Hutan alami sudah lama berganti menjadi hutan produksi, dan kini sudah tak terkendali, sudah berganti menjadi kebun kentang dan bawang. Tak ada akar pohon yang memeluk tanah, akar yang menyimpan air. Perdu yang tersisa sudah mongering. Tanah kerontang, pecah-pecah, retak-retak, hancur hingga seukuran butir pasir halus. Kelembaban tanah menghilang dikelantang matahari pada siang hari. Pada musim kemarau, angin tenggara meniup tanah pucuk yang paling subur. Dan, ketika musim barat, angin membawa uap air, yang mengembun kemudian turun menjadi hujan. Curahannya sudah tak menimpa daun dan ranting pohon. Air hujan langsung jatuh menimpa tanah, lalu menyipratkan butiran-butiran tanah. Air hujan yang melimpas di permukaan, sekaligus menggerus tanah pucuk paling subur, tanah hitam hasil pelapukan dari abu letusan gunung api yang ditebarkan angin.

Bila taka da waktu untuk melihat kehancuran hutan, lihatlah kehancuran hutan itu pada saat hujan turun. Air sungai yang meluap, kental oleh lumpur berwarna coklat gelap. Sesungguhnya itulah banjir lumpur. Saat-saat tanah pucuk dengan sengaja dihanyutkan ke lembah-lembah, memenuhi dasar sungai, mengendap di dasar danau dan di muara sungai. Inilah misteri. Misteri kehilangan. Kehilangan tanah pucuk paling subur hanya dalam sekilat akan beralih dari lereng-lereng bukit dan gunung ke lembah-lembah. Kenyataan ini terjadi di mana-mana. Lamping, gulampeng, lereng-lereng bukit dan gunung yang curam sudah dikelupas, sudah boleger, sudah menjadi luka alam yang menganga. 

Banjir dan hanyutnya tanah pucuk, terus terjadi, berulang setiap setiap waktu. Nyawa yang teramat berharga melayang tertimbun longsor atau hanyut bersama rumah dan harta bendanya. Kebun, sawah, jalan, jembatan, hancur, yang sering tak terkirakan sebelumnya. Kehancuran yang menelan korban jiwa terus berlangsung silih berganti, datang dengan akibat yang semakin berat, dengan jangkauan yang semakin luas. 

Musim penghujan dan musim kemarau berlangsung setiap tahun. Hujan turun dan terik matahari terus berulang. Ketika hutan masih terjaga, pepohonan dapat memeluk tanah, menyimpan butir-butir air dalam tanah, dan mengatur jumlah air yang dilepaskan menjadi mata air. Bila sekarang hujan turun dengan lebat, sesungguhnya bukan hanya terjadi pada tahun ini, tapi juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Orang sering kali keliru dalam melihat sebab dari suatu peristiwa alam. Ketika terjadi caah dengdeng, banjir bandang, banyak yang menyalahkan hujan, tidak melirik bagaimana sesungguhnya keadaan tutupan hutan. Untuk kasus di Cekungan Bandung, W.A. van der Kars (1995) melaporkan, curah hujan selama 135.000 tahun, justru menunjukkan adanya penurunan yang berarti. 

Karena kehancuran lingkungan di hulu Ci Tarum, pada tahun 1982, PU melaporkan, Danau Saguling menerima kiriman sebanyak 4 juta meter kubik lumpur setiap tahunnya. Jumlah itu setara dengan 500.000 truk tronton. Sejak laporan itu dibuat sampai tahun 2025, maka jumlah lumpur yang masuk ke danau Saguling sebanyak 43 tahun x 4 juta meter kubik = 127.000.000 meter kubik. Tentu, jumlah itu akan menggila karena kehancuran lingkungan di hulu dan tengah sungai belakangan ini.

Demonstrasi alam berupa banjir, longsor, dan penurunan kualitas tanah, merupakan bukti telah terjadi kehancuran lingkungan yang sudah berlangsung lama. 

Bagaimana keadaan hutan di lereng utara Cekungan Bandung pada masa lalu? Inilah keadaan lingkungan Bandung Utara yang terekam dalam toponimi di kawasan itu.

Ketika leuweung, hutan, masih terjaga, ada toponim Leuweungdatar. Ada hutan yang ronabuminya datar. Di hutan Bandung Utara tumbuh beragam pohon dan tumbuhan, seperti yang menjadi nama geografis berikut ini: Cihaurkukuh (bamboo haur), Babakan Awilega (bambu), Babakanteureup (pohon teureup), Biru (pohon biru), Cibiru (pohon biru), Bojongkihiang (pohon Ki Hiang), Bojongpulus (pulus), Buahbatu (pinang), Buluh (bambu), Burahol, Campaka, Ci Bitung (bambu), Ci Kapundung (pohon kapundung), Ci Surian (pohon surian), Ciawitali (bambu), Cicalung (pohon Ki Calung), Cidadap (pohon dadap), Cidurian, Cijambe, Cijengkol, Cikapundung, Cikareumbi, Cikoang, Cikole (kole), Cikupa (pohon kupa), Cileunyi (pohon leunyi), Cimenyan (pohon Ki Menyan), Cinangka (pohon nangka), Cinunuk (pohon nunuk), Cipicung (pohon picung), Citapen (pohon tapen), Karasak (pohon karasak), Ki Areng (pohon Ki Areng), Kiarajanggot (pohon kiara), Kosambi (pohon kosambi), Lampegan (rumput/perdu), Malaka (pohon), Palasari (tumbuhan merambat), Pasirmuncang (pohon kemiri), Pasirsalam (pohon salam), Peundeuy (pohon peundeuy), Salam (pohon salam), Sekebihbul (pohon bihbul), Sekeloa (pohon loa).

Di dalam hutan itu berkeliaran beragam binatang, seperti yang abadi dalam dalam toponim. Ada: Batumeong (harimau), Cibagong (babi hutan), Cibanteng (banteng), Cigagak (burung gagak), Cigaruwik (babi hutan), Cigulukguk (babi hutan), Ciharegem (harimau), Cikidang (kijang), Ciruangbadak (badak), Ciung (burung ciung), Gunung Maung (harimau), Lebakbadak (badak), Legokbadak (badak), Pasir Heulang (burung heulang), dan Pasir Pamoyanan (harimau).

Tom Dale dan Vernon Bill menulis dalam bukunya Topsoil and Civilisation: “Manusia beradab hampir selalu berhasil menguasai alam untuk sementara waktu. Kesulitan yang dihadapi terutama bersumber pada fikirannya, bahwa kekuasaan yang bersifat sementara itu dikiranya abadi. Dia menganggap dirinya ‘menguasai seluruh dunia’, padahal dia tak mampu mengetahui hukum alam sepenuhnya. Manusia, baik biadab maupun beradab, adalah anak alam, bukan tuan yang menguasai alam. Kalau dia mau mempertahankan kekuasaannya atas alam, dia harus menyesuaikan diri pada hukum-hukum alam. Jika mengelak, lingkungan yang mendukung hidupnya akan merosot, maka peradabannya akan memudar pula. Pada garis besarnya, sejarah manusia beradab yang berjalan di muka bumi meninggalkan padang pasir di jejak kakinya.” 

Baca Juga: Toponimi Gandasoli

Wiranto Arismunandar, Rektor ITB  periode 1991-1996, dalam diskusi pembangunan Jawa Barat Selatan (9/11/2007) menyebutkan, pembangunan Jawa Barat harus berpangkal dari pembangunan hutan. Kesejahteraan masyarakat akan membaik bila pembangunan kehutanannya berhasil. Wiranto berkeyakinan, tidak perlu tenaga nuklir bila hutan benar-benar dibangun kembali dan terjaga.

Kini, hutan-hutan di sekeliling Cekungan Bandung, demikian juga di Provinsi Jawa Barat, sudah sangat mengkhawatirkan. Kehancuran hutan sama dengan hilangnya tanah pucuk yang sangat subur, disusul urug, tanah longsor, yang dapat menyengsarakan masyarakat di sana, menimbun persawahan, penimbun permukiman, memutus jalan, dan banjir besar dengan segala akibat, dan hancurnya nilai kemanusiaan. Hilangnya hutan akan menghilang air yang semula tersimpan di akar-akar pohon. Karena hutan merupakan danau air jernih yang tak nampak. Krisi air akan terjadi meluas dan dalam waktu yang lama.

Air tanah dalam di dasar Cekungan Bandung saat ini, boleh jadi itu merupakan air meteorik yang tercurah di hutan puluhan ribu tahun yang lalu, yang saat ini tersimpan di dalam bumi Cekungan Bandung, yang sedang disedot habis-habisan.  

Betulkah para pemimpin dan masyarakat di Cekungan Bandung dan di Jawa Barat mencintai lemah cai-na, tanahairnya? Saatnya dibuktikan! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)