Lahir dari Kegelisahan Warga, @infobdgbaratcimahi Menjadi Ruang Solidaritas Digital

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Tampilan konten @infobdgbaratcimahi. (Sumber: @infobdgbaratcimahi)
Tampilan konten @infobdgbaratcimahi. (Sumber: @infobdgbaratcimahi)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah derasnya arus informasi dan algoritma yang tak pernah tidur, sebuah akun Instagram bernama @infobdgbaratcimahi lahir bukan dari ambisi menjadi viral, melainkan dari kegelisahan yang sederhana: bagaimana caranya membantu orang kecil agar tak tenggelam di linimasa.

Akun itu dibuat pada 2019, dan di baliknya ada Andy Supandi (28), seorang pengelola media yang ingin menjadikan platform sosialnya sebagai ruang solidaritas warga.

Awalnya, langkah Andy sangat personal. Ia membagikan cerita seorang penjual es keliling di akun Instagram pribadinya, dengan harapan sederhana—dagangan si penjual bisa lebih laris.

“Saya pengen ngebantu UMKM, sih. Dulu ada kisah abah-abah yang jualan es keliling,” ujarnya.

Namun, ketika cerita itu dipublikasikan di akun pribadinya, respons yang diterima sangat minim. Alih-alih berhenti, Andy justru memanfaatkan jaringan media yang ia kelola untuk kembali mengangkat kisah tersebut agar menjangkau lebih banyak orang.

“Saya coba naikin lagi kisahnya dan FYP. Waktu itu sempat open donasi juga,” ucap Andy.

Ajakan donasi yang ia buat bersama jaringan media lain berbuah manis. Dana yang terkumpul mencapai puluhan juta rupiah. Uang itu membantu mewujudkan cita-cita si penjual es untuk memiliki warung sendiri. Sejak momen itu, arah media yang dikelolanya menjadi semakin jelas: menjadi perpanjangan tangan solidaritas masyarakat.

“Tujuan saya buat media bukan karena pengen kayak orang lain, tapi karena saya masyarakat biasa yang pengen ngebantu masyarakat lagi,” kata Andy.

Idealisme, Intimidasi, dan Risiko

Seiring bertambahnya pengikut yang kini mencapai ratusan ribu, tantangan yang dihadapi @infobdgbaratcimahi pun semakin kompleks. Tidak semua unggahan diterima dengan lapang dada, terutama ketika menyentuh isu-isu sensitif yang memicu reaksi keras dari kelompok tertentu.

“Kalau untuk media ada sih. Sampai telepon personal pernah ke saya,” tuturnya.

Bentuk intimidasi datang melalui pesan hingga ancaman langsung. Meski begitu, Andy memilih bertahan pada prinsip independensi yang sejak awal ia bangun.

“Kita tetap idealis. Nggak ada tawaran kerja sama dari pemerintah atau instansi yang kita ambil,” katanya.

Ia tak menampik adanya rasa khawatir. Namun baginya, risiko adalah konsekuensi dari pilihan untuk tetap bersuara.

“Kalau khawatir ada, cuma itu sudah risiko,” ucap Andy.

Risiko itu nyata. Akun TikTok mereka yang telah mengumpulkan 80 ribu pengikut hilang permanen setelah mengunggah konten terkait isu internasional tentang serangan Israel pada Palestina.

“Itu (di banned) permanen. Udah 80.000 followers di TikTok,” ujarnya.

Kehilangan tersebut tentu mengecewakan. Namun Andy melihatnya sebagai ujian konsistensi, bukan akhir perjalanan. Baginya, membangun media mungkin bisa cepat, tetapi mempertahankannya jauh lebih sulit.

“Yang sulit itu mempertahankan, bukan membuat,” kata Andy.

Strategi Bertahan: Konsisten dan Kolaboratif

Di balik layar, Andy tidak bekerja sendiri. Ia dibantu dua anggota tim: satu berperan sebagai jurnalis dan satu lainnya sebagai desainer. Bersama-sama, mereka menjaga ritme produksi konten agar tetap stabil.

Setiap hari, mereka menargetkan minimal empat hingga lima unggahan demi mempertahankan engagement. Konsistensi menjadi strategi utama dalam membaca dan menaklukkan algoritma media sosial.

“Yang pertama konsisten dalam postingan setiap hari. Itu harus ada,” ujarnya.

Bagi Andy, algoritma bukan sesuatu yang misterius jika dihadapi dengan disiplin. Selama akun aktif dan konsisten, audiens akan tetap terlibat dan sistem Instagram akan mengenali akun tersebut sebagai sumber informasi yang hidup.

Selain konsistensi, kolaborasi menjadi kunci lain yang ia pegang. Ia melihat banyak media sosial gagal berkembang karena memandang akun lain sebagai kompetitor, bukan mitra.

“Jangan menganggap semua orang atau media lain itu saingan,” katanya.

Bahkan, Andy sempat menggagas grup WhatsApp mediagram se-Jawa Barat untuk memperluas jejaring distribusi informasi. Ia percaya, kolaborasi lintas akun mampu mempercepat penyebaran informasi sekaligus meningkatkan interaksi.

“Kalau kita kolaborasi, informasi lebih cepat naik dan engagement juga ikut naik,” ucap Andy.

Baginya, kekuatan media sosial bukan sekadar soal siapa yang paling cepat mengunggah, melainkan siapa yang paling terhubung dan saling menguatkan.

Media Warga di Era Digital

Sebagai media gram, @infobdgbaratcimahi mengandalkan partisipasi warga sebagai sumber utama informasi. Laporan kehilangan, situasi darurat, hingga isu nasional bisa segera dipublikasikan setelah melalui verifikasi internal atau dengan merujuk pada media besar.

“Kalau ada laporan dari warga, bisa langsung kita naikkan,” ujarnya.

Ia menyadari pola kerja ini berbeda dengan media mainstream yang memiliki rantai redaksional lebih panjang.

“Kalau media mainstream kan harus ada prosedur, redaktur ACC dulu. Kalau kita, laporan warga bisa langsung naik,” ucap Andy.

Di sisi lain, kerja sama promosi dan endorsement tetap dijalankan untuk menjaga keberlanjutan operasional, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga usaha menengah ke atas.

“Kalau UMKM mah biasanya kita sesuaikan, kadang seikhlasnya. Kalau yang agak besar Rp.350.000,” ujarnya.

Bagi Andy, idealisme dan keberlanjutan finansial bukan dua hal yang harus saling meniadakan. Di tengah ancaman, tekanan, dan algoritma yang berubah-ubah, ia tetap berpegang pada satu prinsip utama: keberanian untuk mempublikasikan apa yang perlu diketahui publik.

“Mau itu isu tentang pemerintahan, mau itu isu tentang masyarakat, ya kita harus berani posting gitu,” pungkasnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)