Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

6 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang bagaimana rakyat merasakan kehadiran negara dalam kehidupan sehari-hari.

Di salah satu sudut sebuah rumah, tampak tiang bendera yang diikatkan pada pagar agar dapat berdiri tegak. Angin bertiup. Sang Merah Putih pun berkibar.

Namun, kibarnya tidak sebebas di tempat lain.

Beberapa kabel listrik, jaringan telepon, dan internet melintang di atasnya. Ruang geraknya terbatas. Bendera itu tetap berkibar, tetapi tidak sepenuhnya leluasa.

Pemandangan sederhana itu tiba-tiba terasa seperti sebuah gambaran tentang kehidupan kita hari ini.

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Agustus adalah bulan kemerdekaan. Hampir di setiap pelosok negeri, Merah Putih dan umbul-umbul aneka warna memenuhi sudut-sudut kota hingga desa. Jalan-jalan dihiasi berbagai atribut kemerdekaan. Berbagai perlombaan dan kegiatan masyarakat digelar untuk menyambut 17 Agustus.

Tahun ini Republik Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan.

Setiap tahun kita merayakannya. Setiap tahun pula kita mengibarkan Merah Putih dengan penuh kebanggaan.

Namun, selalu ada pertanyaan yang layak kita renungkan:

Benarkah kita sudah benar-benar merdeka?

Jawabannya tentu tidak sederhana.

Setiap orang memiliki persepsi dan pandangan yang berbeda tentang arti kemerdekaan. Bagi sebagian orang, merdeka adalah ketika dapat berjalan atau berkendaraan pada malam hari, bahkan melewati daerah yang sepi, tanpa rasa khawatir akan menjadi korban kejahatan.

Bagi orang lain, kemerdekaan mungkin berarti ketika berobat ke rumah sakit atau puskesmas tidak menghadapi prosedur yang berbelit-belit. Ketika hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan benar-benar dirasakan sebagai bagian dari kehidupan bernegara.

Bagi seorang pencari kerja, merdeka mungkin berarti tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai, sesuai dengan kemampuan dan keahliannya, serta mendapatkan penghasilan yang layak.

Bagi seorang pemulung, kemerdekaan mungkin memiliki makna yang jauh lebih sederhana.

Ia merasa merdeka ketika dapat mengambil barang-barang yang sudah tidak terpakai dari tempat sampah atau sudut-sudut permukiman tanpa dicurigai sebagai orang yang sedang mengawasi lingkungan untuk melakukan kejahatan.

Merdeka bagi mereka adalah mencari nafkah tanpa harus dicurigai.

Bagi petani, kemerdekaan mungkin berarti tersedianya pupuk dengan harga terjangkau dan kepastian pasar yang memberikan harga layak bagi hasil panennya.

Selama ini tidak sedikit petani yang terjebak dalam rantai ketergantungan kepada tengkulak atau pemodal. Ketika membutuhkan modal untuk membeli benih, pupuk, atau sarana produksi, mereka terpaksa meminjam.

Ketika panen berhasil, hasilnya harus dijual kepada pihak yang memberikan modal dengan harga yang kadang tidak sepenuhnya berpihak kepada petani.

Namun ketika panen gagal, risiko dan penderitaannya tetap harus ditanggung sendiri.

Di sinilah kemerdekaan ekonomi menjadi pertanyaan yang penting.

Bagaimana mungkin seorang petani merasa merdeka jika ia tidak memiliki posisi tawar terhadap hasil jerih payahnya sendiri?

Lain lagi dengan sopir angkutan umum atau pengemudi ojek pangkalan.

Perubahan zaman dan teknologi telah mengubah cara masyarakat menggunakan transportasi. Kehadiran transportasi berbasis aplikasi membuat sebagian penumpang beralih kepada layanan yang dianggap lebih mudah dan praktis.

Bagi mereka, kemerdekaan mungkin berarti adanya keberpihakan pemerintah untuk mencari solusi agar mereka tidak ditinggalkan oleh perubahan zaman.

Bukan menghentikan kemajuan teknologi, tetapi memastikan bahwa mereka yang terdampak perubahan tetap memiliki kesempatan untuk bertahan dan beradaptasi.

Kemerdekaan juga memiliki wajah lain.

Bagi sebagian warga, merdeka berarti dapat menyampaikan pendapat di ruang publik tanpa rasa takut. Mereka ingin mengkritik kebijakan, menyampaikan kegelisahan, atau memberikan masukan kepada pemerintah tanpa khawatir kritik tersebut berujung pada persoalan hukum.

Tentu kebebasan berpendapat tetap harus disertai tanggung jawab. Tetapi negara juga harus memastikan bahwa ruang demokrasi tidak menjadi ruang yang membuat masyarakat takut untuk berbicara.

Dan ada pula orang yang memaknai kemerdekaan dengan sesuatu yang sangat sederhana:

ketika bangun pagi ia masih bisa menghirup udara dengan leluasa.

Bisa bernapas adalah karunia yang sering kita anggap biasa.

Padahal pada saat yang sama, ada orang yang harus bergantung pada alat bantu pernapasan atau tabung oksigen. Ada pula masyarakat yang setiap hari harus menghirup udara yang tercemar debu, asap kendaraan, atau polusi industri.

Bagi mereka, udara bersih bukan sekadar kenyamanan.

Udara bersih adalah kemerdekaan.

Begitulah. Makna kemerdekaan akan berbeda tergantung dari mana seseorang memandangnya.

Wawasan, pengalaman hidup, kondisi ekonomi, lingkungan, serta kedewasaan berpikir akan memengaruhi cara seseorang memahami arti merdeka.

Kembali kepada bendera yang berkibar di antara kabel-kabel listrik dan jaringan komunikasi.

Pengendara melintas di dekat galian kabel optik di Jalan Aceh, Kota Bandung, Jumat 6 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengendara melintas di dekat galian kabel optik di Jalan Aceh, Kota Bandung, Jumat 6 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pemandangan itu memang terlihat sederhana. Bahkan mungkin dianggap sepele.

Namun, bukankah hal-hal kecil seperti itu juga menggambarkan bagaimana kita mengelola ruang hidup bersama?

Kabel listrik, telepon, internet, tiang, papan reklame, saluran air, trotoar dan berbagai fasilitas publik tumbuh di ruang yang sama. Masing-masing memiliki fungsi dan kepentingan.

Masalahnya, koordinasi antarlembaga sering kali belum berjalan sebaik yang diharapkan.

Kita dapat melihatnya pada pekerjaan penggalian jalan.

Satu instansi menggali untuk memasang jaringan listrik. Jalan kemudian ditutup kembali. Belum lama selesai, instansi lain datang menggali di lokasi yang sama untuk memasang jaringan telekomunikasi atau jaringan internet.

Jalan kembali dibongkar.

Masyarakat kembali terganggu.

Padahal, apabila sejak awal terdapat koordinasi yang baik, pekerjaan yang berbeda tersebut sebenarnya dapat direncanakan dan dilaksanakan secara bersamaan.

Sekali menggali, beberapa pekerjaan selesai. Sekali menutup, jalan kembali rapi.

Masalahnya bukan sekadar soal siapa yang menggali jalan.

Masalahnya adalah bagaimana negara mengelola pekerjaan yang menggunakan ruang publik agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi pihak yang menanggung akibatnya.

Belum lagi kualitas penutupan bekas galian.

Tidak jarang kita menemukan jalan yang baru saja diperbaiki kemudian kembali rusak. Ada lubang yang ditutup seadanya, permukaan jalan tidak rata, bahkan dapat membahayakan pengguna jalan.

Ketika sebuah kendaraan terperosok akibat penutupan galian yang tidak sempurna, masyarakat pula yang menanggung kerugiannya.

Proyek dimulai, masyarakat terganggu.

Proyek selesai, masyarakat masih terganggu.

Tidak lama kemudian proyek lain datang, jalan kembali dibongkar.

Begitu seterusnya.

Bukankah seharusnya pembangunan justru membuat kehidupan masyarakat semakin nyaman?

Barangkali karena itu, foto Sang Merah Putih yang berkibar di antara kabel-kabel tersebut memiliki pesan yang lebih dalam.

Bendera itu tetap berkibar.

Tetapi ruang geraknya terbatas.

Ia seperti ingin mengatakan kepada kita bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan dengan memasang bendera. Kemerdekaan juga harus dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemerdekaan harus terasa ketika rakyat berjalan di trotoar.

Ketika menggunakan jalan.

Ketika mencari pekerjaan.

Ketika menjual hasil pertanian.

Ketika mendapatkan pelayanan kesehatan.

Ketika mengurus administrasi.

Ketika menyampaikan pendapat.

Ketika mencari nafkah.

Dan bahkan ketika sekadar menghirup udara bersih.

Indonesia sudah berusia 81 tahun.

Tentu tidak mungkin semua persoalan bangsa diselesaikan dalam satu malam. Tidak mungkin pula pemerintah membenahi seluruh persoalan dalam waktu singkat.

Tetapi masyarakat memiliki harapan sederhana:

setiap tahun harus ada perbaikan.

Tidak harus sempurna.

Tetapi harus ada kemajuan.

Jangan sampai masyarakat terus-menerus dituntut untuk taat aturan, sementara pemerintah dan lembaga yang memiliki kewenangan justru tidak memberikan contoh dalam menjalankan aturan, koordinasi, pengawasan, dan pelayanan.

Sebab negara bukan hanya gedung-gedung pemerintahan.

Negara adalah jalan yang kita lalui.

Negara adalah pelayanan yang kita terima.

Negara adalah udara yang kita hirup.

Negara adalah keamanan yang kita rasakan.

Dan negara adalah bagaimana rakyat biasa menjalani kehidupannya dari pagi hingga malam.

Maka, ketika Sang Merah Putih dikibarkan pada 17 Agustus nanti, mungkin kita tidak hanya perlu bertanya:

“Sudah berapa tahun Indonesia merdeka?”

Tetapi juga:

“Sejauh mana kemerdekaan itu sudah dirasakan oleh rakyat?”

Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan.

Kemerdekaan adalah ketika setiap warga negara memiliki kesempatan untuk hidup aman, layak, sehat, bermartabat, mendapatkan pelayanan yang baik, serta memiliki ruang untuk tumbuh dan menentukan masa depannya.

Dan ketika itu semua semakin nyata, barulah Sang Merah Putih tidak hanya berkibar di tiang-tiang rumah.

Ia juga berkibar di dalam hati setiap warga negara.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!


Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)