Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)

PORTAL media lokal mewartakan sebuah truk boks bermuatan galon air mineral mengalami kecelakaan di Mekarwangi, Lembang, Bandung Barat, Sabtu (26/9/2026) malam lalu. Truk itu tidak sedang tersesat dalam arti klasik. Pengemudinya justru sedang mengikuti petunjuk yang dianggap paling dapat dipercaya pada zaman kiwari: Google Maps.

Sialnya, sang pengemudi rupanya tidak mengetahui bahwa rute yang dipilih akan membawanya ke jalan dengan kontur tanjakan ekstrem. Kendaraan kemudian kehilangan tenaga, mati mesin, mundur, dan menabrak dua kendaraan serta bagian bangunan rumah warga. Tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian ditaksir sekitar Rp150 juta.

Kejadian seperti itu menambah pajang kisah tentang Google Maps yang salah menunjukkan jalan. Tetapi, kalau kita ulik, persoalannya tidak sesederhana itu. 

Menentukan posisi

Google Maps pada dasarnya adalah sistem navigasi. Ia membantu pengguna menentukan posisi, arah, rute, dan perkiraan perjalanan. Google sendiri menjelaskan bahwa Maps menyediakan petunjuk belokan demi belokan, informasi lalu lintas, pembaruan rute, serta beberapa pilihan untuk menghindari jalan tertentu.

Masalahnya muncul ketika sebuah jalan tidak lagi hanya dipandang sebagai garis yang menghubungkan titik A dan titik B. Bagi mobil kecil, sebuah ruas jalan mungkin biasa saja. Bagi truk yang membawa muatan berat, jalan yang sama dapat menjadi persoalan fisik. Tanjakan mengubah kebutuhan daya mesin. Berat kendaraan mempengaruhi percepatan dan kemampuan mempertahankan kecepatan. Panjang dan kemiringan tanjakan juga ikut menentukan.

Federal Highway Administration Amerika Serikat mencatat bahwa kendaraan berat pada umumnya bergerak lebih lambat di tanjakan karena karakteristik fisiknya, termasuk daya mesin dan berat kendaraan. Pada turunan, persoalannya berubah, di mana kendaraan harus mengendalikan tambahan gaya gravitasi dan mempertahankan kemampuan pengereman.

Dengan kata lain, sebuah rute memiliki dua paras. Ada paras geografis yang dapat dilihat oleh peta, dan ada paras fisik yang harus dihadapi kendaraan dan sang pengemudi. Peta mengetahui bahwa jalan itu ada. Kendaraan dan pengemudi harus membuktikan bahwa ia mampu melewatinya.

Maka, penting membedakan “jalan yang dapat dilalui” dengan “jalan yang sesuai untuk kendaraan tertentu.” Perbedaannya terdengar kecil, tetapi implikasinya bisa besar. Sepeda motor, sedan, minibus, bus, dan truk bermuatan tidak membawa kemampuan mekanis yang sama. Bahkan dua truk dengan dimensi serupa dapat memiliki kemampuan menanjak berbeda karena mesin, rasio transmisi, berat aktual, kondisi kendaraan, dan beban yang dibawa.

Persoalan keselamatan

Penelitian yang terbit dalam Case Studies on Transport Policy pada tahun 2022 bahkan secara khusus meneliti penggunaan Google Maps di Indonesia dengan pendekatan Failure Mode and Effects Analysis. 

Penelitian itu menemukan persoalan keselamatan ketika informasi rute tidak mempertimbangkan aspek keselamatan jalan atau kesesuaian kondisi jalan dengan jenis kendaraan. Ini bukan berarti Google Maps otomatis menjadi penyebab setiap kecelakaan, tetapi menunjukkan adanya jarak antara fungsi navigasi dan penilaian keselamatan kendaraan di lapangan.

Menariknya, Google memang memiliki data mengenai pembatasan kendaraan berat. Dokumentasi untuk mitra data Google mencantumkan pembatasan berdasarkan tinggi, lebar, panjang, berat, jumlah sumbu, hingga kategori kendaraan tertentu. 

Namun, dokumentasi yang sama juga menyebut bahwa pembatasan tersebut, pada saat ini, tidak ditampilkan pada peta. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata apakah informasi itu ada, melainkan bagaimana informasi tersebut digunakan dalam proses navigasi yang diterima pengemudi.

Google Maps juga telah memiliki pengaturan profil kendaraan tertentu. Pengguna dapat memilih jenis mesin, misalnya bensin, diesel, hibrida, atau listrik. Tetapi, fitur tersebut belum sama dengan memasukkan profil teknis sebuah truk secara lengkap, yang mencakup berat kendaraan dan muatan, panjang, lebar, tinggi, jumlah sumbu, atau kemampuan menanjaknya.

Karenanya, teknologi navigasi khusus kendaraan berat menjadi masuk akal untuk dikembangkan. Penelitian mengenai sistem navigasi truk dalam uji lapangan di Belanda menunjukkan bahwa ketika informasi mengenai pembatasan fisik dan legal kendaraan berat dimasukkan ke dalam sistem, pilihan rute truk dapat bergeser dari jalan-jalan kecil menuju jalan yang lebih sesuai untuk kendaraan besar. 

Penelitian itu juga menemukan bahwa pengemudi tidak selalu mengikuti rute yang disarankan, sehingga keputusan manusia tetap menjadi bagian penting dalam sistem tersebut.

Tentu saja, tidak adil jika seluruh kesalahan dan kecelakaan terkait penggunaan Google Maps dilemparkan kepada algoritma. Kenapa? Karena Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih, apakah mesin kendaraan sedang prima, apakah pengemudi sudah mengenal medan, atau apakah ketika sampai di tanjakan kendaraan masih memiliki cadangan kemampuan untuk terus bergerak. 

Karena itu, kalimat “saya mengikuti Google Maps” seharusnya tidak pernah menjadi akhir dari pertimbangan seorang pengemudi. Ia justru harus menjadi awal pertanyaan berikutnya, yakni “jalan seperti apa yang akan saya masuki dengan kendaraan yang saya bawa?” 

Apalagi bagi pengemudi kendaraan berat yang memasuki wilayah berbukit-bukit. Teknologi dapat memberi arah, tetapi mata pengemudi tetap harus membaca realita jalan.

Jauh lebih cerdas

Suatu saat kelak, kita mungkin akan sampai pada tahap ketika alat navigasi menjadi jauh lebih cerdas. Aplikasi dapat langsung bertanya jenis kendaraan, berat aktual, dimensi, bahkan memperkirakan kemampuan kendaraan menghadapi tanjakan. Sistem kemudian tidak sekadar menawarkan rute tercepat, tetapi juga rute yang sesuai dengan karakter kendaraan. 

Teknologi seperti itu bukan gagasan yang omon-omon. Dunia transportasi memang sudah lama mengembangkan sistem navigasi khusus truk karena kendaraan berat memiliki kebutuhan rute yang berbeda dari kendaraan penumpang.

Namun, sampai teknologi itu benar-benar siap dan dapat diandalkan, prinsip sederhananya tetap berlaku, yaitu alat navigasi digital macam Google Maps adalah alat bantu, bukan pengganti penilaian pengemudi. 

Bahkan, jika suatu hari algoritma sudah jauh semakin pintar, keputusan terakhir tetap harus memperhitungkan kenyataan yang hanya bisa dilihat langsung ketika roda kendaraan benar-benar menyentuh aspal.

Kecelakaan-kecelakan yang terjadi karena pengemudi mengikuti arahan Google Maps akhirnya memberi pelajaran kepada kita bahwa kita saat ini sedang memasuki masa ketika semakin banyak keputusan perjalanan diserahkan kepada sistem digital. 

Sejatinya, sistem navisgasi digital cukup membantu. Selain memberi akurasi, ia bisa membantu kita menghemat waktu. 

Walau begitu, akurasi peta tidak sama dengan keselamatan perjalanan. Peta dapat menunjukkan dengan gampang ke mana kita harus mengambil rute. Tapi, untuk mengetahui apakah kendaraan kita benar-benar sanggup sampai ke lokasi yang ditunjukkan, tetap diperlukan peran manusia. Kita tetap perlu mengetahui kapan harus mengikuti petunjuk sistem digital dan kapan harus berkata, jalan ini bukan untuk kendaraan saya.***

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)