Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

6 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa. Surat kabar, tabloid dan majalah yang terbit puluhan tahun lalu bukan sekadar benda cetak yang tersimpan di rak atau lemari arsip. Di dalamnya terdapat rekaman kehidupan masyarakat, peristiwa sejarah, perkembangan seni dan budaya, perubahan sosial, hingga dinamika politik yang membentuk perjalanan Indonesia.

Setiap lembar koran yang menguning, potongan kliping yang mulai rapuh, maupun halaman majalah yang telah berusia puluhan tahun menyimpan jejak zamannya. Berita, laporan jurnalistik, artikel, iklan, foto, hingga tulisan pembaca dapat menjadi kepingan informasi yang membantu kita melihat kembali bagaimana sebuah peristiwa berlangsung dan bagaimana masyarakat pada masa itu memandang kehidupannya.

Membuka arsip media cetak lawas pada dasarnya adalah membuka kembali sebuah ruang belajar. Banyak informasi dari masa lalu yang sulit ditemukan melalui mesin pencari atau sumber digital masa kini. Sebagian di antaranya justru hanya dapat ditelusuri melalui koran, tabloid dan majalah yang terbit pada periode ketika peristiwa tersebut berlangsung.

Karena itu, arsip media cetak memiliki nilai penting bagi penelitian. Ia tidak hanya merekam apa yang terjadi, tetapi juga memperlihatkan konteks zaman seperti bahasa yang digunakan, isu yang diperbincangkan, tokoh-tokoh yang diberitakan, perkembangan industri, perubahan gaya hidup, hingga respons masyarakat terhadap berbagai peristiwa.

Dari Kliping Menjadi Bahan Penelitian

Koleksi surat kabar lawas milik Kin Sanubary. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Koleksi surat kabar lawas milik Kin Sanubary. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Dalam beberapa tahun terakhir, koleksi media cetak lawas yang disimpan Kin Sanubary berkesempatan membuka akses arsip bagi para sahabat yang membutuhkan sumber informasi dan referensi. Sebagian datang untuk kepentingan penelitian akademik, mulai dari tugas kuliah, praktik kerja lapangan (PKL), tugas akhir, skripsi, tesis, hingga disertasi. Ada juga untuk referensi pembuatan buku biografi seorang tokoh.

Tidak jarang, sebuah kliping sederhana justru menjadi pintu masuk menuju informasi yang lebih luas. Dari satu berita, peneliti dapat menemukan nama tokoh, tanggal kejadian, lokasi, lembaga, atau peristiwa lain yang kemudian ditelusuri lebih jauh melalui sumber-sumber berikutnya.

Bersyukur koleksi yang sederhana ini dapat menjadi bagian kecil dari perjalanan akademik mereka. Ada kebahagiaan tersendiri ketika mengetahui bahwa arsip yang selama bertahun-tahun dirawat akhirnya memiliki manfaat bagi mahasiswa dalam menyelesaikan penelitian dan tugas akhirnya.

Koleksi media cetak lawas telah berkesempatan menyediakan artikel dan materi yang diperlukan oleh para mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Beberapa di antaranya adalah:

Inessia Nabila — Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, yang melakukan penelitian mengenai Gedung Yayasan Kebudayaan Bandung.

Muhammad Rizaldy Alharits — Program Studi Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung, yang meneliti tata letak surat kabar Pikiran Rakyat era 1970-an.

Savitri Adriani — Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yang mengerjakan skripsi mengenai filosofi Sunda dalam pendidikan sekolah perempuan pertama di Bandung (1900–1929), dengan kajian terhadap pemikiran Dewi Sartika.

Sementara itu, Athaillah, Riski, dan Gibran dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia (FPBS UPI) Bandung, selama sekitar satu minggu melakukan penelitian, dokumentasi, dan digitalisasi surat kabar Pikiran Rakyat dari berbagai edisi, termasuk periode 1960-an hingga 2000-an.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa arsip media cetak lawas tidak berhenti sebagai koleksi pribadi. Ketika dibuka dan dimanfaatkan, ia dapat berubah menjadi sumber pengetahuan yang terus hidup.

Pemanfaatan koleksi ini juga tidak terbatas pada mahasiswa dan peneliti dari Bandung atau Jawa Barat. Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di luar daerah turut memanfaatkan arsip media lawas sebagai bahan penelitian.

Beberapa sahabat lain juga telah menyelesaikan dalam menyusun tugas akhirnya memanfaatkan koleksi arsip media cetak lawas di antaranya:

Richita Setiawan — Ilmu Sejarah, FIB Universitas Padjadjaran, dengan penelitian mengenai Majalah Berita Mingguan Bergambar Jakarta pada dekade 1980–1990-an.

Helsi Maulidia — Sastra Indonesia, FIB Universitas Padjadjaran, yang melakukan penelitian mengenai peristiwa Penembakan Misterius (Petrus) berdasarkan pemberitaan surat kabar Pos Kota.

Fadly Muhammad Gumilar- Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran dengan skripsi Sandiwara Radio Saur Sepuh dari Radio, Film dan Serial Telivisi.

Dari luar Bandung dan Jawa Barat terdapat:

Ageng Rachmad — Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Jember, yang mengerjakan skripsi “Majalah Aktuil dalam Konteks Budaya Musik Rock di Bandung (1967–1978)”.

Rehan Jovi — Ilmu Sejarah, FIB Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang melakukan penelitian mengenai cerita silat karya Kho Ping Hoo.

Nur Febri Putranto — Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Lampung (Unila), Bandar Lampung, yang melakukan penelitian tentang surat kabar kritis Mahasiswa Indonesia.

Beragam tema tersebut memperlihatkan luasnya informasi yang dapat ditelusuri melalui media cetak. Dari sejarah kota, desain dan tata letak surat kabar, pendidikan, musik, sastra, hingga dinamika sosial-politik, koran dan majalah lawas dapat menjadi sumber primer maupun pelengkap bagi berbagai disiplin ilmu.

Dari Arsip Menuju Karya Kreatif

Penulis berpose bersama koleksi media cetak lawas terkait Konferensi Asia Afrika yang turut ditampilkan dalam pameran Bandung Milestone. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Penulis berpose bersama koleksi media cetak lawas terkait Konferensi Asia Afrika yang turut ditampilkan dalam pameran Bandung Milestone. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Manfaat arsip media lawas ternyata tidak berhenti di ruang akademik. Koleksi surat kabar dan majalah juga pernah dimanfaatkan oleh penulis, jurnalis senior, akademisi, seniman, dan pegiat budaya dalam proses kreatif mereka.

Arsip dapat membantu penulis menyusun buku, novel, biografi, dan tulisan sejarah populer. Bagi sineas, bahan pemberitaan masa lalu dapat menjadi referensi untuk film dokumenter. Bagi seniman dan kurator, iklan, foto, ilustrasi, desain halaman, serta pemberitaan lama dapat memberikan gambaran visual mengenai kehidupan suatu zaman dan menjadi bahan pendukung penyelenggaraan pameran.

Bahkan, kliping koran dan majalah dapat dimanfaatkan untuk kajian linguistik dan bahasa. Perubahan istilah, gaya penulisan jurnalistik, penggunaan bahasa dalam iklan, serta kosakata yang populer pada suatu periode dapat menjadi bahan penelitian tersendiri.

Dengan demikian, koleksi media lawas memiliki dua kehidupan. Pertama, sebagai dokumen yang merekam masa lalu. Kedua, sebagai sumber yang dapat melahirkan pengetahuan dan karya-karya baru pada masa kini.

Merawat Ingatan Kolektif

Koleksi media lawas tentu masih jauh dari sempurna. Banyak edisi yang belum terdokumentasi secara digital, sebagian kertas mulai rapuh, dan tidak semua informasi mudah ditemukan kembali. Namun, setiap lembar yang berhasil dirawat memiliki arti penting karena menyimpan bagian dari ingatan kolektif.

Atas dasar itulah, membuka akses terhadap arsip menjadi bagian dari upaya kecil untuk menjaga agar informasi tersebut tidak berhenti sebagai koleksi pribadi. Para mahasiswa, akademisi, penulis, jurnalis, seniman, sastrawan, maupun peneliti dapat memanfaatkannya sesuai kebutuhan dan kepentingan kajian masing-masing.

Ada rasa syukur sekaligus kebahagiaan ketika melihat arsip-arsip lama tersebut kembali dibaca, diteliti, didokumentasikan, dan bahkan melahirkan karya baru. Apa yang dahulu hanya berupa tumpukan koran dan majalah, pada akhirnya dapat berubah menjadi data, pengetahuan, inspirasi, bahkan bagian dari sebuah karya.

Semoga perjalanan intelektual dan kreatif para sahabat terus bertumbuh. Semoga pula arsip media lawas ini dapat menjadi jembatan kecil yang menghubungkan generasi kini dengan berbagai cerita, pemikiran, dan peristiwa dari masa lalu.

Sebab, merawat arsip pada hakikatnya bukan hanya menyimpan kertas. Kita sedang menjaga ingatan.

Dan dari ingatan yang terjaga, pengetahuan baru dapat terus tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)