APA YANG TERSIMPAN dalam benak Anda bila mendengar kata “Sukamiskin”? Pasti langsung ingat ke nama penjara atau lapas tempat memenjarakan para koruptor. Atau ini jawaban yang tidak lucu: suatu kampung di daerah timur Bandung 8 km dari pusat Kota Bandung yang penduduknya suka dalam kemiskinan? Atau nama sebuah pesantren?
Sukamiskin tak akan terhapus dalam memoriku. Akua lahir di kampung yang kusebut kampung yang menyimpan “seribu kenangan” itu. Masa kecilku, era 80 an, di Sukamiskin. Rumahku berjarak satu kilometer dari penjara—terkenal tempat Ir. Soekarno dipenjara—tetapi lebih tepatnya rumahku bertetanggaan dengan sebuah pesantren, Pesantren Sukamiskin.
Aku tak akan bercerita tentang penjara, tetapi Pesantren Sukamiskin lah yang akan saya kisahkan, yang merupakan salah satu pesantren tertua di Kota Bandung.
Kata Mama Ajengan K.H. Sonhaji, pimpinan Pesantren Sukamiskin waktu itu, nama Sukamiskin itu diambil dari dua kata bahasa Arab, Suq yang artinya ‘pasar’ dan misk yang artinya ‘minyak wangi’. Jadi, Sukamiskin berarti ‘Pasar Minyak Wangi’.
Konon, pesantren ini didirikan pada tahun 1881 oleh K.H. Raden Muhammad bin Alqo. Kepemimpinannya telah mengalami beberapa generasi, dari: K.H. Raden Muhammad bin Alko, K.H. Raden Mama Muhammad Ahmad Dimyati atau Mama Gedong; K.H. Raden Mama Sonhaji, dan sekarang dipimpin oleh K.H. Abdul Azis Haedar.
Yang paling menarik dari pesantren Sukamiskin adalah arsitektur khas masjid nya yang dipertahankan dari zaman dahulu. Salah satunya kubah masjid yang telah berdiri dari zaman kepemimpinan K.H. Raden Mama Dimyati, generasi ketiga, sampai sekarang.
Dulu, di depan masjid ada kolam yang cukup besar. Konon, kolam itu dibuat di tempat bekas bom serangan Belanda. Jika aku dan teman-teman pulang dari bermain bola di Pacuan Kuda Arcamanik, pulangnya kami menyebur ke kolam ini, sambil membersihkan badan. Kami bercengkrama di air. Muncul-tenggelam. Saling banjur. Teman kami bahkan menyelam sambil mencari ikan yang terselip di lubang-lubang tembok masjid.
Jika malam lebaran, kami ikut takbiran bersama para santri. Diawali dengan secara bergiliran ngadulag (memukul bedug)—yang bedugnya besar sekali. Sambil takbiran, kami menunggu—biasanya datang Tengah malam--Bah Ibing yang jangkung dan berjambang lebat membawa hidangan khas malam takbiran: goreng ulen panas dan tumis haseum nya (bolendrang). Kami yang pada capek dan lapar makan berebutan.
“Jangan berebut, semua pasti kebagian,” tutur Abah.
Semakin malam, suara takbir terus menggema: Allah Akbar … Allah Akbar … Allah Akbar. Laa Illa ha Illalallahuwallahu Akbar … Allah Akbar walillah hilham. Kami tertidur hingga dibangunkan Bah Ibing.
Kini, puluhan tahun aku hidup di perantauan. Suara takbir mulai terdengar. Air mataku menetes. Teringat masa kecilku di Sukamiskin, Pasar Minyak Wangi. Ingat masjid khasnya, ingat kawan-kawan masa kecilku, ingat bedug dan ngadulag, dan ingat makanan khas takbiran: goreng ulen dan tumis haseumnya. (*)
