Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

4 menit baca
Nadhil Ayudiya Az-Zahra
Ditulis oleh Nadhil Ayudiya Az-Zahra diterbitkan Senin 15 Jun 2026, 11:28 WIB
Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)

Cianjur merupakan daerah agraris di Jawa Barat yang sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi pertanian, terutama padi. Perkembangan pertanian di wilayah ini tidak lepas dari peran tokoh lokal dan elit tradisional yang membentuk sistem sosial dan ekonomi masyarakat.

Menurut informasi dari akun Instagram PKS Cianjur dalam unggahan peringatan Hari Ulang Tahun Cianjur ke-347, Raden Aria Wira Tanu I dikenal sebagai tokoh yang membangun Cianjur hingga menjadi daerah yang maju, terutama di bidang pertanian. Pada zaman dahulu, masyarakat Cianjur Selatan, khususnya di Desa Pamoyanan, masih mempertahankan berbagai tradisi lokal yang berbau mistis seperti tradisi menanam padi dan nyinglar hama (tradisi mengusir hama).

Tradisi ini melibatkan beberapa tokoh penting dan petani untuk mengatasi gangguan hama dan memastikan proses pertanian berjalan lancar. Namun, seiring berkembangnya zaman, praktik pertanian di Desa Pamoyanan mengalami transformasi dari sistem budaya lokal menuju sistem yang modern dengan menggunakan teknologi dan bahan kimia.

Praktik ritual menanam padi serta nyinglar merupakan bagian dari tradisi pertanian yang digunakan sebagai upaya pengendalian hama sekaligus menjaga kelancaran proses pertanian pada masa lalu. Dalam praktik ini, peran sesepuh, orang pintar, dan kepercayaan kabuhunan atau ajaran Sunda buhun sangat penting dalam mengatur banyak aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam urusan pertanian.

Berdasarkan hasil wawancara pada 15 April 2026 dengan seorang tokoh spiritual di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, yang akrab disapa Abah Engang, menjelaskan bahwa penanaman padi pada masa lampau dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu yang diwariskan oleh leluhur.

Setiap tahapan memiliki aturan, pantangan, dan syarat yang harus dipatuhi oleh para petani. Abah Engang mengatakan bahwa petani tidak boleh sembarangan menanam padi, terutama dalam penentuan hari dan tempat, karena harus melalui perhitungan sesuai kepercayaan Sunda buhun. Dalam penentuan hari, petani tidak boleh memulai praktik bertani pada hari wafatnya orang tua karena akan mendapatkan kegagalan atau yang biasa disebut masyarakat setempat sebagai naas.

Foto sawah terasering dan rumah-rumah warga sekitar (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Foto sawah terasering dan rumah-rumah warga sekitar (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)

Abah Engang juga menjelaskan, pelaksanaan tradisi penanaman padi dilakukan melalui serangkaian ritual dengan berbagai persembahan sesajen. “Lamun dek melak pare mah ceuk kolot baheula kudu aya sasajen”, ujarnya. Dalam pelaksanaannya, persembahan sesajen tersebut harus menyiapkan berbagai keperluan sesuai persyaratan untuk memberi persembahan kepada sosok gaib yang dipercaya sebagai pemberi kesuburan dan kelancaran dalam pertanian, yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Asri.

Dalam prosesnya, Abah Engang menjelaskan bahwa media yang harus digunakan dalam ritual tersebut di antaranya ada menyan, kupat, kayu bakar, sereh, kopi hitam, seupaheun (seperangkat bahan untuk menyirih), dan seperangkat bahan sesajen lainnya sesuai ketentuan ritual tersebut.

Ritual ini melibatkan beberapa tokoh penting, yaitu sesepuh yang menguasai adat Sunda buhun dan orang pintar yang dipercaya dapat melaksanakan ritual sesajen tersebut karena tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Ritual harus dilakukan oleh orang yang dapat menyampaikan penghormatan kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Dalam ritual ini, petani juga terlibat dalam pelaksanaannya untuk bergotong royong menanam padi.

Daun hangasa yang digunakan untuk mengusir hama sebelum menggunakan pestisida (Sumber: https://id.shp.ee/HvapK2Wn | Foto: Toko_Zanetherbal)
Daun hangasa yang digunakan untuk mengusir hama sebelum menggunakan pestisida (Sumber: https://id.shp.ee/HvapK2Wn | Foto: Toko_Zanetherbal)

Memasuki masa pertumbuhan padi, ada tradisi yang harus dilakukan kembali demi menjaga hasil padi agar tetap berkualitas, yaitu tradisi nyinglar. Dalam wawancara, Abah juga menjelaskan bahwa orang tua zaman dahulu menyebutnya dengan nyinglar hama atau upaya mencegah hama yang biasa menyerang padi seperti panyakit beureum (penyakit merah pada padi). Dalam syariatnya, jampe-jampe yang dilakukan oleh sesepuh pada masa lalu dalam melakukan ritual nyinglar hama dilakukan dengan menggunakan daun hangasa.

Dalam tradisi ini, biasanya orang-orang yang mengikuti ritual mengenakan pakaian atau aksesori khusus seperti karembong dan iket. Hal ini menggambarkan bahwa pada zaman dahulu sangat kental dengan adat istiadat dan tradisi turun-temurunnya. Namun, Abah Engang menyatakan bahwa pada zaman sekarang tradisi tersebut sudah jarang dilakukan karena perkembangan zaman yang semakin modern.

Memasuki masa kini, praktik pertanian di daerah tersebut mengalami pergeseran yang cukup signifikan dengan semakin dominannya penggunaan bahan kimia dalam pemeliharaan tanaman padi. Petani mulai memanfaatkan pupuk kimia dan pestisida sebagai solusi utama dalam meningkatkan hasil produksi dan mengendalikan hama. Selain itu, penggunaan alat-alat modern turut membantu mempercepat dan mempermudah proses distribusi pupuk maupun penyemprotan pestisida di lahan pertanian. Dibandingkan dengan metode tradisional seperti nyinglar hama, pendekatan modern ini dinilai lebih efektif karena memberikan hasil yang lebih cepat dan dapat diukur secara empiris.

Semakin bertambahnya zaman, masyarakat sekarang juga memiliki pemikiran yang semakin maju. Akibatnya, semakin banyak petani yang beralih ke metode ini dan secara perlahan meninggalkan praktik tradisional yang dianggap kurang relevan. Meskipun demikian, Abah Engang juga mengatakan bahwa, bagi sesepuh dan orang pintar yang masih ada, tradisi-tradisi tersebut tidak sepenuhnya ditinggalkan, melainkan tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya menjaga nilai keberkahan, manfaat, serta penghormatan terhadap leluhur dan Nyi Pohaci Sanghyang Asri.

Perjalanan praktik pertanian dan pengendalian hama di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, menunjukkan adanya transformasi yang signifikan dari tradisi mistis menuju penggunaan metode modern berbasis bahan kimia. Tradisi nyinglar merepresentasikan sistem pengetahuan lokal yang berakar pada kepercayaan serta peran tokoh spiritual dalam masyarakat, sedangkan metode modern menekankan efisiensi, rasionalitas, dan hasil yang terukur.

Perubahan ini tidak hanya mencerminkan kemajuan teknologi pertanian, tetapi juga menunjukkan adanya pergeseran nilai, kepercayaan, serta hubungan masyarakat dengan alam. Oleh karena itu, kedua praktik tersebut perlu dipahami secara seimbang sebagai bagian dari dinamika sosial dan budaya dalam masyarakat agraris, bukan semata-mata sebagai bentuk pertentangan antara tradisi dan modernitas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nadhil Ayudiya Az-Zahra
Mahasiswi S1 Universitas Padjadjaran yang sedang memulai menjelajahi masa lalu demi masa kini dengan tulisan.

Berita Terkait

News Update

Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Bandung 13 Jun 2026, 20:44

Sektor Perdagangan dan Industri Loyo, Kredit UMKM Jabar Sentuh Rp186,4 Triliun

Total kredit UMKM Jawa Barat tembus Rp186,4 triliun per Maret 2026. Namun, sektor perdagangan besar dan industri pengolahan justru mengalami kontraksi yoy.

Ilustrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)