Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

4 menit baca
Nadhil Ayudiya Az-Zahra
Ditulis oleh Nadhil Ayudiya Az-Zahra diterbitkan
Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)

Cianjur merupakan daerah agraris di Jawa Barat yang sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi pertanian, terutama padi. Perkembangan pertanian di wilayah ini tidak lepas dari peran tokoh lokal dan elit tradisional yang membentuk sistem sosial dan ekonomi masyarakat.

Menurut informasi dari akun Instagram PKS Cianjur dalam unggahan peringatan Hari Ulang Tahun Cianjur ke-347, Raden Aria Wira Tanu I dikenal sebagai tokoh yang membangun Cianjur hingga menjadi daerah yang maju, terutama di bidang pertanian. Pada zaman dahulu, masyarakat Cianjur Selatan, khususnya di Desa Pamoyanan, masih mempertahankan berbagai tradisi lokal yang berbau mistis seperti tradisi menanam padi dan nyinglar hama (tradisi mengusir hama).

Tradisi ini melibatkan beberapa tokoh penting dan petani untuk mengatasi gangguan hama dan memastikan proses pertanian berjalan lancar. Namun, seiring berkembangnya zaman, praktik pertanian di Desa Pamoyanan mengalami transformasi dari sistem budaya lokal menuju sistem yang modern dengan menggunakan teknologi dan bahan kimia.

Praktik ritual menanam padi serta nyinglar merupakan bagian dari tradisi pertanian yang digunakan sebagai upaya pengendalian hama sekaligus menjaga kelancaran proses pertanian pada masa lalu. Dalam praktik ini, peran sesepuh, orang pintar, dan kepercayaan kabuhunan atau ajaran Sunda buhun sangat penting dalam mengatur banyak aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam urusan pertanian.

Berdasarkan hasil wawancara pada 15 April 2026 dengan seorang tokoh spiritual di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, yang akrab disapa Abah Engang, menjelaskan bahwa penanaman padi pada masa lampau dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu yang diwariskan oleh leluhur.

Setiap tahapan memiliki aturan, pantangan, dan syarat yang harus dipatuhi oleh para petani. Abah Engang mengatakan bahwa petani tidak boleh sembarangan menanam padi, terutama dalam penentuan hari dan tempat, karena harus melalui perhitungan sesuai kepercayaan Sunda buhun. Dalam penentuan hari, petani tidak boleh memulai praktik bertani pada hari wafatnya orang tua karena akan mendapatkan kegagalan atau yang biasa disebut masyarakat setempat sebagai naas.

Foto sawah terasering dan rumah-rumah warga sekitar (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Foto sawah terasering dan rumah-rumah warga sekitar (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)

Abah Engang juga menjelaskan, pelaksanaan tradisi penanaman padi dilakukan melalui serangkaian ritual dengan berbagai persembahan sesajen. “Lamun dek melak pare mah ceuk kolot baheula kudu aya sasajen”, ujarnya. Dalam pelaksanaannya, persembahan sesajen tersebut harus menyiapkan berbagai keperluan sesuai persyaratan untuk memberi persembahan kepada sosok gaib yang dipercaya sebagai pemberi kesuburan dan kelancaran dalam pertanian, yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Asri.

Dalam prosesnya, Abah Engang menjelaskan bahwa media yang harus digunakan dalam ritual tersebut di antaranya ada menyan, kupat, kayu bakar, sereh, kopi hitam, seupaheun (seperangkat bahan untuk menyirih), dan seperangkat bahan sesajen lainnya sesuai ketentuan ritual tersebut.

Ritual ini melibatkan beberapa tokoh penting, yaitu sesepuh yang menguasai adat Sunda buhun dan orang pintar yang dipercaya dapat melaksanakan ritual sesajen tersebut karena tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Ritual harus dilakukan oleh orang yang dapat menyampaikan penghormatan kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Dalam ritual ini, petani juga terlibat dalam pelaksanaannya untuk bergotong royong menanam padi.

Daun hangasa yang digunakan untuk mengusir hama sebelum menggunakan pestisida (Sumber: https://id.shp.ee/HvapK2Wn | Foto: Toko_Zanetherbal)
Daun hangasa yang digunakan untuk mengusir hama sebelum menggunakan pestisida (Sumber: https://id.shp.ee/HvapK2Wn | Foto: Toko_Zanetherbal)

Memasuki masa pertumbuhan padi, ada tradisi yang harus dilakukan kembali demi menjaga hasil padi agar tetap berkualitas, yaitu tradisi nyinglar. Dalam wawancara, Abah juga menjelaskan bahwa orang tua zaman dahulu menyebutnya dengan nyinglar hama atau upaya mencegah hama yang biasa menyerang padi seperti panyakit beureum (penyakit merah pada padi). Dalam syariatnya, jampe-jampe yang dilakukan oleh sesepuh pada masa lalu dalam melakukan ritual nyinglar hama dilakukan dengan menggunakan daun hangasa.

Dalam tradisi ini, biasanya orang-orang yang mengikuti ritual mengenakan pakaian atau aksesori khusus seperti karembong dan iket. Hal ini menggambarkan bahwa pada zaman dahulu sangat kental dengan adat istiadat dan tradisi turun-temurunnya. Namun, Abah Engang menyatakan bahwa pada zaman sekarang tradisi tersebut sudah jarang dilakukan karena perkembangan zaman yang semakin modern.

Memasuki masa kini, praktik pertanian di daerah tersebut mengalami pergeseran yang cukup signifikan dengan semakin dominannya penggunaan bahan kimia dalam pemeliharaan tanaman padi. Petani mulai memanfaatkan pupuk kimia dan pestisida sebagai solusi utama dalam meningkatkan hasil produksi dan mengendalikan hama. Selain itu, penggunaan alat-alat modern turut membantu mempercepat dan mempermudah proses distribusi pupuk maupun penyemprotan pestisida di lahan pertanian. Dibandingkan dengan metode tradisional seperti nyinglar hama, pendekatan modern ini dinilai lebih efektif karena memberikan hasil yang lebih cepat dan dapat diukur secara empiris.

Semakin bertambahnya zaman, masyarakat sekarang juga memiliki pemikiran yang semakin maju. Akibatnya, semakin banyak petani yang beralih ke metode ini dan secara perlahan meninggalkan praktik tradisional yang dianggap kurang relevan. Meskipun demikian, Abah Engang juga mengatakan bahwa, bagi sesepuh dan orang pintar yang masih ada, tradisi-tradisi tersebut tidak sepenuhnya ditinggalkan, melainkan tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya menjaga nilai keberkahan, manfaat, serta penghormatan terhadap leluhur dan Nyi Pohaci Sanghyang Asri.

Perjalanan praktik pertanian dan pengendalian hama di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, menunjukkan adanya transformasi yang signifikan dari tradisi mistis menuju penggunaan metode modern berbasis bahan kimia. Tradisi nyinglar merepresentasikan sistem pengetahuan lokal yang berakar pada kepercayaan serta peran tokoh spiritual dalam masyarakat, sedangkan metode modern menekankan efisiensi, rasionalitas, dan hasil yang terukur.

Perubahan ini tidak hanya mencerminkan kemajuan teknologi pertanian, tetapi juga menunjukkan adanya pergeseran nilai, kepercayaan, serta hubungan masyarakat dengan alam. Oleh karena itu, kedua praktik tersebut perlu dipahami secara seimbang sebagai bagian dari dinamika sosial dan budaya dalam masyarakat agraris, bukan semata-mata sebagai bentuk pertentangan antara tradisi dan modernitas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nadhil Ayudiya Az-Zahra
Mahasiswi S1 Universitas Padjadjaran yang sedang memulai menjelajahi masa lalu demi masa kini dengan tulisan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)