Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

6 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)

Dalam jagat gastronomi kontemporer, Taste Atlas telah memantapkan posisinya sebagai kompas kuliner global yang melampaui sekadar daftar rekomendasi. Platform ini berfungsi sebagai panggung prestisius yang merayakan kebanggaan lokal, sekaligus memantik diskusi mengenai autentisitas hidangan tradisional. Belum lama ini, tepatnya pada 29 Juli 2026, Taste Atlas merilis daftar “15 Makanan Tradisional Terpopuler di Jawa Barat” (Top 15 Traditional Foods in West Java).

Kelima belas makanan tersebut secara berurutan meliputi: batagor, odading, empal gentong, tumpeng, cireng, sayur asem, nasi timbel, pepes ikan, karedok, mi kocok, cilok, lalap, soto Bandung, pepes tahu, dan rujak. Bagi masyarakat Jawa Barat, pengakuan ini merupakan bentuk validasi atas kedalaman sejarah dan kompleksitas rasa yang terkandung dalam setiap suapan hidangan khas Tatar Sunda.

Dalam keterangannya, peringkat ini disusun melalui kurasi data yang komprehensif dan mekanisme audit digital yang cermat. Hingga 29 Juli 2026, Taste Atlas mencatat 450 penilaian untuk kategori kuliner Jawa Barat, di mana 294 penilaian dinyatakan valid. Sistem penyaringan ini secara aktif mengeliminasi bot serta anomali data akibat sentimen nasionalisme berlebihan, sembari memberikan bobot lebih pada ulasan dari pengguna berliterasi kuliner tinggi. Selain itu, penyusunannya melibatkan analisis terhadap ulasan media, penghargaan internasional, rekomendasi lokal, hingga liputan blog kuliner terpercaya.

Secara garis besar, pemeringkatan ini memiliki sejumlah tujuan strategis, mulai dari mempromosikan kekayaan pangan lokal berkualitas tinggi ke panggung internasional hingga menanamkan rasa bangga kolektif terhadap warisan dapur leluhur. Selain itu, daftar ini juga hadir untuk mendorong para petualang kuliner mengeksplorasi ragam rasa hidangan yang belum pernah mereka kenali sebelumnya.

Meski peringkat ini bukan tolok ukur mutlak atas selera global, data yang disajikan membuka jendela menarik untuk membedah alasan di balik daya pikat kuliner Jawa Barat yang begitu konsisten. Dari 15 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 10 di antaranya. Pada Bagian 1 ini, kita akan mengulas 5 hidangan pertama dari daftar terpilih.

1. Batagor: Adaptasi dan Evolusi Pangsit di Bandung

Batagor. (Sumber: Instagram/@batagorkingsley.id)
Batagor. (Sumber: Instagram/@batagorkingsley.id)

Batagor adalah bukti nyata dari kecerdasan masyarakat Bandung dalam mengadaptasi pengaruh eksternal menjadi identitas lokal yang ikonik. Lahir di era 1980-an dari asimilasi kuliner Tiongkok, batagor bertransformasi dari sekadar modifikasi pangsit menjadi fenomena kuliner yang mendominasi setiap sudut jalanan. Perbedaan fundamentalnya terletak pada metode pengolahan; jika leluhur Tiongkok-nya mengandalkan uap panas (steamed), batagor justru merayakan tekstur garing melalui penggorengan rendam.

Komposisi utama hidangan ini mengandalkan ikan tenggiri (wahoo) sebagai standar emas, meski variasi lain seperti tuna, makarel, hingga udang kerap digunakan untuk memberikan kedalaman rasa laut yang berbeda. Keharmonisan seluruh elemen penyajiannya menjadi alasan utama mengapa hidangan ini layak menyandang predikat "camilan sempurna".

Keistimewaan tersebut lahir dari perpaduan tekstur dan rasa yang begitu kaya. Potongan pangsit dan tahu digoreng hingga golden brown, menghadirkan sensasi renyah di luar namun tetap lembut di dalam. Sensasi ini kian lengkap berkat siraman saus kacang gurih-manis bertekstur grainy (sedikit berpasir) yang pedasnya meresap sempurna, serta kucuran jeruk nipis yang memberikan sentuhan asam segar untuk menyeimbangkan rasa gurih-berminyak di setiap gigitan.

Kepopuleran batagor di kancah street food tidak hanya memperkuat posisi Bandung sebagai kiblat kudapan, tetapi juga membuka jalan bagi masyarakat untuk mengapresiasi keragaman kuliner berbahan dasar tepung lainnya yang memiliki latar belakang historis unik, seperti odading.

2. Odading: Warisan Kolonial dalam Tekstur Roti Goreng

Odading, atau yang juga dikenal sebagai Bolang-baling, merupakan representasi menarik dari pertemuan antara estetika pastry Eropa dengan tradisi pasar tradisional Indonesia. Signifikansi historisnya berakar pada masa kolonial, di mana teknik pembuatan roti Belanda yang diperkaya (enriched dough) bertemu dengan metode memasak lokal. Hasilnya adalah roti goreng yang sederhana namun memiliki struktur yang teknis.

Karakteristik utama odading terletak pada dualitas teksturnya: bagian luar yang kecokelatan dengan kerak tipis yang renyah saat dingin, serta interior yang sangat ringan, berongga, dan airy. Keberhasilan tekstur ini sangat bergantung pada presisi teknis: penggunaan ragi yang tepat pada adonan tepung terigu yang dicampur susu dan gula, serta waktu istirahat (resting) yang cukup agar kantong udara terbentuk sempurna. Dari kacamata profesional, proses penggorengan dalam minyak bersuhu sedang (moderately hot) adalah kunci agar roti mengembang maksimal tanpa hangus di bagian luar sebelum bagian dalamnya matang.

Meskipun telah lama menjadi bagian dari keseharian, fenomena viral beberapa waktu lalu memberikan napas baru bagi ekonomi para pedagang lokal. Promosi tersebut mengingatkan kembali memori kolektif akan kenyamanan menikmati odading hangat bersama teh atau kopi di pagi hari. Jika odading memanjakan lidah dengan kesederhanaan rasa manis, kancah kuliner Jawa Barat memiliki sisi lain yang jauh lebih intens dan beraroma asap, seperti yang ditemukan dalam semangkuk empal gentong.

3. Empal Gentong: Tradisi Memasak Lambat dalam Kuali Tanah Liat

Empal gentong adalah simbol identitas kuliner Cirebon yang berdiri kokoh di persimpangan pengaruh budaya Jawa dan Sunda. Hidangan ini membawa kompleksitas bumbu khas Jawa Tengah namun tetap mempertahankan ketegasan rasa dan karakter rustik Tatar Sunda. Kekuatannya terletak pada metode memasak tradisional yang menolak untuk berkompromi dengan modernitas.

Elemen krusial dari hidangan ini terletak pada teknik memasaknya yang tradisional, yakni menggunakan gentong tanah liat dan kayu bakar dari pohon jati atau mangga. Proses pembakaran kayu tersebut memberikan dimensi rasa asap (smokiness) yang halus ke dalam kaldu—sebuah profil aroma dan rasa khas yang mustahil direplikasi oleh kompor gas modern.

Kaldu kuning kaya umami ini tercipta dari proses slow-cooking potongan daging sapi dan jeroan (babat, usus, paru) hingga seratnya menjadi sangat empuk. Kelezatan kental tersebut makin sempurna berkat sinergi bumbu halus seperti kunyit, kemiri, lengkuas, jahe, dan ketumbar, yang dipadukan dengan gurihnya santan. Sebagai sentuhan akhir, taburan bawang goreng dan kucai segar memberikan aroma khas yang lebih tajam ketimbang daun bawang biasa, menegaskan cita rasa autentik khas Cirebon.

Secara historis, empal gentong adalah hidangan komunal yang melambangkan kebersamaan dan kesinambungan. Nilai filosofis mengenai harmoni dan rasa syukur ini juga termanifestasi secara visual dalam penyajian tumpeng.

4. Tumpeng: Representasi Kosmologi dan Rasa Syukur

Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)

Dalam hierarki kuliner Nusantara, tumpeng adalah puncak dari segala bentuk penghormatan. Sebagai hidangan paling bergengsi dalam upacara tradisional, tumpeng bukan sekadar makanan; ia adalah diagram kosmologis yang menghubungkan manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi.

Setiap elemen dalam tumpeng menyimpan pesan simbolis yang mendalam tentang kehidupan dan ketuhanan. Bentuk kerucut dari nasi tumpeng merupakan representasi dari gunung suci, yang melambangkan rasa syukur sekaligus pengingat bahwa seluruh aspek kehidupan pada akhirnya bermuara kepada Tuhan.

Makna filosofis tersebut kian diperlengkap oleh wadah dan sajian yang mengelilinginya. Tampah berbentuk bulat yang menjadi alas tumpeng menyimbolkan kesinambungan serta kontinuitas kehidupan yang tak pernah terputus. Sementara itu, ragam lauk-pauk yang tertata rapi di sekelilingnya melambangkan kemakmuran dan kelimpahan sumber daya alam yang disediakan oleh bumi.

Ritual pemotongan puncak tumpeng menjadi momen sakral yang menandai dimulainya sebuah kenduri atau perayaan. Di balik kemegahan filosofisnya, kuliner Sunda juga menyimpan sisi lain yang sangat membumi dengan mengandalkan inovasi tekstur sederhana yang adiktif, seperti yang dapat kita temukan pada cireng.

5. Cireng: Inovasi Tekstur dari Tepung Tapioka

Cireng adalah manifestasi dari kreativitas masyarakat Sunda dalam mengolah bahan yang paling bersahaja—tepung tapioka—menjadi kudapan yang dicintai lintas generasi. Secara etimologi, namanya merupakan akronim dari Aci Digoreng, yang secara harfiah menggambarkan bahan dan proses pembuatannya.

Daya tarik utama cireng terletak pada teksturnya yang kenyal (springy dan chewy), yang menjadi tolok ukur standar kepuasan bagi para penikmatnya. Adonan tepung tapioka yang dibumbui bawang putih dan irisan daun bawang ini digoreng hingga menghasilkan kontras yang pas: lapisan luar yang garing dengan bagian dalam yang tetap elastis.

Evolusinya dalam dekade terakhir menunjukkan fleksibilitas luar biasa dari jajanan tradisional ini. Selain tetap mempertahankan versi klasik yang disajikan bersama cocolan bumbu rujak pedas-asam atau kecap pedas, cireng kini hadir dengan ragam adaptasi modern seperti isian keju, ayam, hingga daging pedas. Perkembangan ini membuktikan bagaimana kuliner tradisional mampu terus relevan di tengah selera pasar yang selalu dinamis. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)