Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Di era ketika media sosial mampu mengubah sebuah warung sederhana menjadi destinasi wisata dalam hitungan hari, kuliner tidak lagi sekadar urusan rasa. Ia telah menjelma menjadi identitas, diplomasi budaya, bahkan wajah sebuah kota. Di Indonesia, sedikitnya ada dua kota yang terus menjadi perbincangan para pelancong, pencinta makanan, hingga para pemburu pengalaman: Bandung dan Yogyakarta.

Keduanya sering dibandingkan, dipertemukan dalam berbagai daftar destinasi wisata favorit, bahkan diposisikan sebagai “saudara” dalam dunia pariwisata. Namun sesungguhnya, Bandung dan Yogyakarta tidak sedang berlomba menjadi yang terbaik. Keduanya sedang memperlihatkan bagaimana perbedaan dapat melahirkan kekayaan budaya yang sama-sama memikat.

Bandung tumbuh dengan denyut kreativitas yang cepat. Kota ini seolah selalu menemukan cara baru untuk mengolah tradisi menjadi sesuatu yang segar. Sebaliknya, Yogyakarta menjaga ritme kehidupan yang lebih teduh. Tradisi bukan sekadar dikenang, tetapi tetap dihidupi dalam keseharian masyarakatnya. Perbedaan itulah yang justru membuat keduanya memiliki daya tarik yang sulit ditandingi.

Kuliner menjadi bahasa paling sederhana untuk memahami karakter dua kota tersebut.

Bandung menawarkan ledakan kreativitas. Dari jajanan kaki lima hingga restoran modern, hampir setiap sudut kota menghadirkan inovasi baru. Seblak berkembang dalam berbagai varian, batagor tetap bertahan sebagai ikon, mi kocok terus dicintai lintas generasi, sementara kopi lokal menjelma menjadi budaya yang menyatukan mahasiswa, pekerja kreatif, dan wisatawan.

Sebaliknya, Yogyakarta menyuguhkan pengalaman kuliner yang lebih kontemplatif. Gudeg tidak hanya mengenyangkan, melainkan membawa kisah panjang tentang kesabaran dalam proses memasak. Sate klathak menghadirkan kesederhanaan yang justru menjadi kekuatan rasa. Bakpia, wedang ronde, hingga angkringan mengajarkan bahwa kebersamaan sering kali lebih penting daripada kemewahan.

Di tengah derasnya tren konten digital, kedua kota berhasil mempertahankan identitasnya. Banyak tempat makan viral bermunculan, tetapi tidak sedikit pula warung-warung legendaris yang tetap dipadati pelanggan. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai menghargai autentisitas, bukan sekadar sensasi.

Media sosial memang memiliki pengaruh besar dalam membentuk tren wisata kuliner. Video singkat berdurasi satu menit mampu mengundang ribuan orang datang ke sebuah lokasi. Namun di balik algoritma tersebut, terdapat kerja panjang para pelaku usaha kecil yang selama puluhan tahun menjaga kualitas rasa. Viral hanyalah pintu masuk, sedangkan kepercayaan pelanggan dibangun melalui konsistensi.

Bandung menjadi contoh bagaimana inovasi dapat berjalan berdampingan dengan tradisi. Banyak pelaku usaha muda berani memadukan resep klasik dengan pendekatan modern tanpa menghilangkan akar budaya Sunda. Kreativitas menjadi modal sosial yang membuat kota ini selalu tampak baru meskipun memiliki sejarah kuliner yang panjang.

Di sisi lain, Yogyakarta mengajarkan bahwa tradisi bukan penghambat kemajuan. Banyak usaha keluarga yang telah bertahan selama puluhan tahun justru semakin berkembang karena mampu mempertahankan cita rasa asli. Wisatawan datang bukan hanya untuk makan, melainkan ingin merasakan pengalaman budaya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Di sinilah pentingnya membangun stigma positif terhadap kedua kota.

Selama ini, sebagian masyarakat masih gemar membandingkan Bandung dan Yogyakarta secara berlebihan. Bandung dianggap terlalu modern sehingga kehilangan nilai tradisional, sedangkan Yogyakarta kerap dinilai terlalu mempertahankan masa lalu. Pandangan semacam ini sesungguhnya lahir dari cara melihat yang terlalu sempit.

Setiap kota memiliki perjalanan sejarah yang berbeda. Bandung berkembang sebagai pusat pendidikan, industri kreatif, dan inovasi. Yogyakarta tumbuh sebagai kota budaya, pendidikan, sekaligus penjaga warisan kerajaan. Latar sejarah tersebut secara alami membentuk karakter masyarakat, termasuk cara mereka mengolah makanan.

Perbedaan bukan alasan untuk membangun stereotip negatif. Justru keberagaman itulah yang memperkaya wajah Indonesia.

Bandung mengajarkan keberanian bereksperimen. Yogyakarta mengajarkan pentingnya menjaga akar budaya. Dua nilai tersebut bukan sesuatu yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi.

Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)

Masyarakat perlu memandang kedua kota sebagai laboratorium kebudayaan yang berbeda. Bandung memperlihatkan bahwa kreativitas mampu menghidupkan ekonomi lokal melalui inovasi kuliner. Yogyakarta membuktikan bahwa tradisi tetap memiliki nilai ekonomi ketika dikelola secara berkelanjutan.

Dalam perspektif sosiologi budaya, makanan merupakan simbol identitas kolektif. Apa yang disajikan di atas meja makan sering kali mencerminkan sejarah, kondisi geografis, hingga karakter masyarakatnya. Oleh sebab itu, menikmati kuliner berarti juga membaca perjalanan sebuah peradaban.

Ketika seseorang menikmati batagor di Bandung, sesungguhnya ia sedang menyentuh sejarah panjang akulturasi budaya yang melahirkan berbagai inovasi pangan. Ketika seseorang duduk di angkringan Yogyakarta hingga larut malam, ia sedang belajar tentang ruang sosial yang egaliter, tempat mahasiswa, seniman, wisatawan, dan pekerja dapat berbincang tanpa sekat.

Semangat inilah yang seharusnya lebih sering diangkat dalam ruang digital.

Konten mengenai kuliner semestinya tidak berhenti pada penilaian “enak” atau “tidak enak”. Di balik setiap hidangan terdapat kisah petani, pedagang pasar, perajin makanan tradisional, hingga keluarga yang menjaga resep turun-temurun. Cerita-cerita seperti inilah yang mampu membangun empati sekaligus memperkuat citra positif sebuah daerah.

Bandung dan Yogyakarta juga menunjukkan bahwa ekonomi kreatif dapat tumbuh dari hal-hal yang tampak sederhana. Warung kecil, gerobak kaki lima, hingga kedai kopi lokal mampu membuka lapangan pekerjaan, menghidupkan kawasan wisata, dan memperkuat identitas kota. Ketika masyarakat mendukung usaha-usaha lokal, sesungguhnya mereka sedang ikut menjaga keberlangsungan budaya.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul pula tren wisata berbasis pengalaman. Wisatawan tidak lagi hanya mencari tempat makan yang viral, tetapi ingin belajar memasak makanan tradisional, mengunjungi pasar rakyat, berbincang dengan pelaku UMKM, hingga memahami filosofi di balik setiap hidangan. Pergeseran ini menjadi peluang besar bagi Bandung dan Yogyakarta untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata budaya.

Pada akhirnya, semarak kuliner tidak hanya diukur dari panjangnya antrean pelanggan atau ramainya unggahan di media sosial. Semarak sesungguhnya lahir ketika makanan mampu mempertemukan manusia dengan sejarah, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Bandung dan Yogyakarta telah membuktikan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan persaingan. Kreativitas Bandung dan kearifan Yogyakarta adalah dua warna yang memperindah mozaik Indonesia. Yang satu bergerak lincah mengikuti zaman, sementara yang lain melangkah tenang menjaga ingatan. Keduanya sama-sama penting bagi masa depan kebudayaan bangsa.

Membangun stigma positif terhadap kedua kota berarti mengubah cara pandang masyarakat: berhenti mencari kota yang lebih unggul, lalu mulai menghargai keunikan masing-masing. Sebab kekuatan Indonesia tidak pernah lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan merawat keberagaman menjadi harmoni.

Maka, setiap kali aroma seblak mengepul di sudut Bandung atau semangkuk gudeg tersaji hangat di Yogyakarta, sesungguhnya yang sedang kita nikmati bukan hanya makanan. Kita sedang menyantap sejarah yang masih hidup, budaya yang terus bertumbuh, dan harapan bahwa keberagaman selalu memiliki tempat di meja yang sama. Di sanalah Bandung dan Yogyakarta bertemu—bukan sebagai pesaing, melainkan sebagai dua kota yang terus menghidangkan Indonesia dalam cita rasa yang tak pernah habis diceritakan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)