Ketika Manusia Melukis Wajahnya di Jejaring Sosial

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi rekaman untuk media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Hera hendrayana)
Ilustrasi rekaman untuk media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Hera hendrayana)

Jejaring sosial bukan lagi sekadar ruang komunikasi, melainkan telah menjadi ruang budaya, ruang politik, ruang ekonomi, bahkan ruang pembentukan identitas. Di dalamnya, manusia bertemu bukan hanya dengan sesama, tetapi juga dengan algoritma, kepentingan, dan ilusi. Maka, memahami jejaring sosial berarti memahami wajah baru peradaban manusia.

Barangkali, tidak ada zaman yang lebih ramai daripada zaman ketika manusia dapat berbicara tanpa harus saling bertatap muka. Dunia hari ini dipenuhi jutaan percakapan yang melintasi benua hanya dalam hitungan detik. Kata-kata melayang seperti burung migrasi, singgah di layar-layar kecil yang kita genggam setiap hari.

Di sanalah jejaring sosial menjadi rumah baru bagi peradaban. Namun, setiap rumah memiliki dua pintu: satu menuju cahaya, satu lagi menuju kegelapan.

Jejaring sosial telah mengubah cara manusia memahami dunia. Dahulu, informasi menempuh perjalanan panjang melalui surat kabar, radio, atau televisi. Kini, satu unggahan mampu menggerakkan jutaan orang hanya dalam beberapa menit.

Teknologi telah memperpendek jarak, tetapi belum tentu memperpendek kesalahpahaman. Kita hidup dalam dunia yang semakin terkoneksi, tetapi tidak selalu semakin saling memahami.

Jejaring sosial pada hakikatnya merupakan jembatan. Ia mempertemukan keluarga yang terpisah lautan, membuka ruang kolaborasi lintas negara, memperkenalkan karya seni kepada pembaca yang tak pernah kita jumpai, hingga menjadi ruang belajar tanpa batas.

Seorang pelajar di desa dapat mengikuti kuliah profesor dunia. Seorang penyair dapat menemukan pembaca dari berbagai benua. Seorang pelaku usaha kecil dapat menjual produknya kepada pasar internasional. Inilah wajah paling indah dari revolusi digital.

Sosiolog menyebut masyarakat modern sebagai network society, masyarakat jejaring, yaitu masyarakat yang hubungan sosial, ekonomi, dan politiknya dibentuk oleh jaringan informasi. Dalam pandangannya, kekuasaan pada abad ini tidak lagi semata berada pada institusi, melainkan juga pada kemampuan mengendalikan arus informasi.

Di sisi lain, jauh sebelumnya telah mengatakan bahwa “the medium is the message”. Media bukan sekadar alat penyampai pesan, tetapi turut membentuk cara manusia berpikir. Ketika jejaring sosial menjadi medium utama kehidupan, cara kita melihat realitas pun perlahan berubah mengikuti logika algoritma. Faktanya, algoritma tidak mengenal empati. Ia hanya mengenal perhatian.

Semakin seseorang marah, semakin lama ia berhenti menggulir layar. Semakin ia bereaksi, semakin besar kemungkinan konten tersebut disebarkan kembali. Akibatnya, kemarahan sering kali memperoleh panggung yang lebih luas daripada kebijaksanaan. Kebohongan yang dikemas menarik kadang berlari lebih cepat daripada kebenaran yang berjalan tenang.

Psikolog menilai bahwa media sosial telah memperbesar polarisasi sosial, terutama ketika manusia lebih banyak hidup di dalam “ruang gema” (echo chamber), tempat mereka hanya mendengar pendapat yang sama dengan keyakinannya sendiri. Dalam ruang semacam itu, perbedaan perlahan dianggap ancaman. Di sinilah lahir fenomena buzzer.

Pada mulanya, istilah buzzer digunakan dalam dunia pemasaran sebagai individu yang membantu memperkenalkan produk. Namun, dalam perkembangan politik digital, istilah tersebut mengalami pergeseran makna. Buzzer tidak lagi sekadar mempromosikan gagasan, tetapi sering menjadi mesin propaganda yang bekerja membentuk opini publik melalui pengulangan narasi, serangan terhadap pihak tertentu, manipulasi emosi, hingga penyebaran disinformasi.

Buzzer tumbuh subur bukan semata karena adanya teknologi, melainkan karena adanya pasar. Selama kemarahan dapat menghasilkan keuntungan politik, ekonomi, maupun popularitas, selalu ada pihak yang bersedia memproduksi kebisingan.

Ironisnya, kebisingan sering kali lebih mudah viral daripada kebijaksanaan. Filsuf menggambarkan masyarakat digital sebagai masyarakat transparansi yang dipenuhi dorongan untuk terus berbicara, bereaksi, dan menunjukkan diri. Dalam kondisi demikian, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk diam, merenung, dan mendengarkan.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)

Padahal, kebijaksanaan lahir bukan dari kecepatan berbicara, melainkan dari kedalaman berpikir. Dalam asumsi kita, banyak pemangku kepentingan dalam lingkaran kekuasaan, jarang belajar dari buku bacaan tekstual yang memuat pokok-pokok pikiran bijak (filsafat), tetapi lebih terkendali oleh tayangan media atau jejaring sosial.

Meski demikian, menyalahkan jejaring sosial sepenuhnya merupakan sikap yang terlalu sederhana. Teknologi hanyalah cermin. Yang dipantulkannya adalah wajah manusia sendiri. Jika kebencian memenuhi ruang digital, sesungguhnya kebencian itu telah lama hidup di dalam masyarakat. Jika hoaks menyebar cepat, penyebab utamanya bukan hanya algoritma, tetapi juga rendahnya budaya literasi.

Karena itu, penggunaan jejaring sosial secara bijak bukan sekadar persoalan etika digital, melainkan juga persoalan kematangan karakter.

Bijaksana berarti memverifikasi informasi sebelum membagikannya. Bijaksana berarti mampu membedakan fakta dan opini. Bijaksana berarti tidak menjadikan kolom komentar sebagai arena pelampiasan amarah. Bijaksana berarti menghormati perbedaan tanpa kehilangan keberanian untuk menyampaikan kebenaran.

Lebih dari itu, kita perlu mengingat bahwa setiap akun di balik layar adalah seorang manusia. Ia memiliki keluarga, harga diri, harapan, dan luka. Sebuah kalimat yang tampak ringan bagi penulisnya dapat menjadi beban berat bagi penerimanya.

Bahasa yang baik bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, ia merupakan bentuk tertinggi dari kedewasaan.

Di tengah derasnya arus informasi, literasi digital menjadi benteng yang paling penting. Pendidikan tidak lagi cukup mengajarkan membaca buku, tetapi juga membaca algoritma; tidak cukup mengajarkan menulis kalimat, tetapi juga menulis dengan tanggung jawab moral.

Jejaring sosial pada akhirnya bukan sekadar teknologi komunikasi. Ia adalah ruang tempat nilai-nilai kemanusiaan diuji setiap hari. Apakah kita akan menggunakan teknologi untuk memperluas pengetahuan atau memperluas kebencian? Apakah kita menjadikan media sosial sebagai taman dialog atau arena pertikaian?

Pertanyaan itu tidak dijawab oleh mesin. Ia dijawab oleh manusia. Sebab, sehebat apa pun teknologi berkembang, masa depan peradaban tetap ditentukan oleh karakter orang-orang yang menggunakannya. Jejaring sosial hanyalah jendela. Yang menentukan indah atau suramnya pemandangan adalah hati yang berdiri di hadapannya.

Mungkin, pada akhirnya, yang paling dibutuhkan dunia digital bukan jaringan internet yang semakin cepat, melainkan nurani yang tetap berjalan perlahan. Sebab hanya hati yang tidak tergesa-gesa yang masih sanggup membedakan antara suara yang benar dan sekadar suara yang paling bising.

Jika kita ingin memperdalam kajian-kajian tentang jejaring sosial secara akademik, ada baiknya kita membaca beberapa pandangan pakar, seperti Sherry Turkle, Zygmunt Bauman, dan Jürgen Habermas sehingga argumennya menjadi lebih kuat dan komprehensif. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)