Meningkatkan Akselerasi Pemerintah Digital di Indonesia

7 menit baca
Muhammad Afif Muttaqin
Ditulis oleh Muhammad Afif Muttaqin diterbitkan
Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)

Pemerintah Indonesia saat ini tengah gencar dalam melakukan transformasi digital birokrasinya. Momentum ini ditegaskan melalui penguatan regulasi makro yaitu terbitnya Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2023 tentang Percepatan Transformasi Digital dan Keterpaduan Layanan Digital Nasional. Peraturan tersebut mengatur percepatan transformasi digital melalui penyelenggaraan aplikasi SPBE prioritas yang dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu aplikasi SPBE yang baru akan beroperasi atau akan dibangun, serta aplikasi SPBE yang telah beroperasi atau akan dikembangkan. Selain itu, regulasi ini juga berkaitan erat dengan penyelenggaraan Satu Data Indonesia, di mana keterpaduan layanan digital dicapai antara lain melalui layanan pertukaran data sebagai wujud dukungan terhadap konsolidasi dan interoperabilitas data pemerintahan. Dengan demikian, Perpres Nomor 82 Tahun 2023 dapat dipahami sebagai instrumen kebijakan yang mendorong tata kelola pemerintahan digital yang lebih efisien, terintegrasi, dan berorientasi pada kemudahan akses masyarakat terhadap layanan publik.

Sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut, Pemerintah kemudian meluncurkan INA Digital sebagai GovTech (Government Technology) nasional untuk mengintegrasikan berbagai layanan publik yang selama ini terpisah-pisah. Secara fungsi, INA Digital mempunyai peran dalam menggerakkan keterpaduan layanan digital pemerintah yang selama ini tersebar di banyak aplikasi. Untuk mewujudkan hal tersebut, INA Digital mengembangkan tiga layanan utama yaitu InaGov yang menyimpan aplikasi Smart ASN untuk menyederhanakan akses ASN dalam memeriksa profil, sasaran kinerja, dan pembelajaran mandiri; InaPass sebagai identitas digital dengan single sign-on yang memungkinkan akses ke berbagai layanan portal nasional dengan satu identitas digital; serta InaKu sebagai portal pelayanan publik yang mengintegrasikan layanan dari berbagai kementerian dan lembaga.

Secara teoritis, langkah ini patut diapresiasi karena sejalan dengan konsep Digital Era Governance (DEG) yang dipopulerkan oleh Dunleavy, Patrick dkk (2006). Teori DEG menekankan bahwa perubahan yang berpusat pada teknologi informasi akan menjadi faktor krusial bagi gelombang perubahan berikutnya, dengan berfokus pada tiga pilar yaitu Reintegration, Needs-Based Holism, dan Digitization Processes.

Pilar yang pertama yaitu reintegration atau reintegrasi. Pilar ini menekankan bahwa reintegrasi menggunakan pendekatan digital sebagai sarana untuk mempertimbangkan kembali penataan organisasi layanan publik di sekitar penyelenggaraan layanan itu sendiri. Pada konteks Indonesia, pilar ini tercermin misalnya pada upaya penyatuan ribuan aplikasi milik instansi pemerintah ke dalam satu ekosistem layanan digital terpadu. Selanjutnya pilar yang kedua yaitu needs-based holism atau holisme berbasis kebutuhan. Pilar ini menggeser paradigma pelayanan yang semula berorientasi pada struktur birokrasi menjadi berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan secara menyeluruh. Dengan kata lain, pemerintah tidak lagi memaksa masyarakat menyesuaikan diri dengan struktur birokrasi, melainkan menata layanan mengikuti kebutuhan riil masyarakat sebagai pengguna. Kemudian pilar yang terakhir yaitu digitization processes atau digitalisasi proses. Pilar ini menitikberatkan pada eksploitasi penuh potensi teknologi digital, khususnya penyimpanan digital dan komunikasi berbasis internet, untuk mentransformasikan tata kelola pemerintahan secara menyeluruh. Konsep ini juga mencakup digitalisasi penuh terhadap sistem yang sebelumnya berbasis kertas dan telepon.

Ego Sektoral, Fragmentasi Sistem, dan Kekosongan Akuntabilitas: Tiga Wajah Krisis GovTech Indonesia

Meskipun fondasi regulasi sudah kokoh, implementasi di lapangan menghadapi hambatan struktural yang serius. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Putri dkk. (2025), Bed dkk. (2025), Wahab dan Yorman (2026), serta Hidayah dkk. (2024) menyatakan bahwa terdapat beberapa permasalahan yang menghadang penerapan pemerintah digital di Indoenesia. Transformasi digital pemerintahan Indonesia melalui GovTech atau INA Digital sesungguhnya lahir dari niat baik untuk mengakhiri fragmentasi layanan publik yang selama ini tersebar di ribuan aplikasi yang berdiri sendiri-sendiri. Namun, niat baik tersebut berhadapan dengan akar persoalan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar keterbatasan teknologi, yakni ego sektoral yang masih mengakar kuat di kalangan Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah. Keengganan berbagai instansi untuk berbagi data bukanlah persoalan teknis semata, melainkan cerminan dari budaya kerja yang belum sepenuhnya berorientasi pada kolaborasi lintas institusi. Akibatnya, cita-cita Satu Data Indonesia yang seharusnya menjadi fondasi integrasi justru tersandera oleh sikap saling mempertahankan otoritas data di masing-masing instansi.

Persoalan ini kemudian merembet menjadi masalah teknis yang nyata yaitu lebih dari 27.000 hingga diperkirakan melampaui 50.000 aplikasi pemerintah tumbuh tanpa standar yang seragam, sehingga ketika hendak disatukan dalam satu ekosistem INA Digital, hanya sebagian kecil yaitu sekitar 30 persen yang benar-benar berhasil terintegrasi. Ketidakseragaman ini diperparah oleh perbedaan format, metadata, dan tipe data antar instansi. Hal ini mengakibatkan proses pencocokan data menjadi rumit bahkan berisiko kehilangan informasi penting. Dengan kata lain, ego sektoral pada tataran kebijakan telah bermetamorfosis menjadi fragmentasi teknis pada tataran implementasi, dan keduanya saling memperkuat satu sama lain.

Ilustrasi digitalisasi. (Sumber: Pexels | Foto: bangunstockproduction)
Ilustrasi digitalisasi. (Sumber: Pexels | Foto: bangunstockproduction)

Di sisi lain, upaya integrasi ini juga berjalan di atas fondasi infrastruktur dan literasi digital masyarakat yang belum merata. Ketimpangan akses internet antar wilayah membuat janji layanan digital yang inklusif belum sepenuhnya terwujud, sementara rendahnya pemahaman masyarakat dalam menggunakan platform digital turut menghambat tingkat partisipasi publik terhadap layanan yang telah dibangun dengan susah payah tersebut. Kondisi ini semakin diperumit oleh keraguan masyarakat terhadap keamanan data pribadi mereka, terutama pasca peristiwa gangguan Pusat Data Nasional dan kebocoran data di sejumlah instansi, yang membuat kepercayaan publik terhadap sistem digital pemerintah belum sepenuhnya pulih.

Pada akhirnya, seluruh persoalan teknis dan sosial tersebut bermuara pada satu kekosongan yang paling mendasar, yaitu ketidakjelasan akuntabilitas hukum ketika sistem digital menghasilkan kesalahan yang merugikan warga negara. Meskipun kerangka regulasi seperti Perpres SPBE, Perpres Satu Data Indonesia, dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi telah tersedia, belum ada pengaturan yang secara spesifik menjamin hak masyarakat atas penjelasan ketika layanan ditolak, mekanisme audit terhadap algoritma yang bekerja di baliknya, maupun kejelasan pihak yang harus bertanggung jawab manakala terjadi kegagalan interoperabilitas. Ego sektoral, fragmentasi sistem, kesenjangan literasi, dan kekosongan akuntabilitas hukum ini, Dengan demikian, bukanlah masalah yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian persoalan yang saling menopang dan perlu dipecahkan secara simultan.

Strategi Berlapis Menuju Pemerintah Digital yang Berintegritas

Mengingat bahwa akar masalah utama terletak pada ego sektoral, maka langkah paling mendesak yang perlu diambil adalah membangun kembali kepercayaan dan semangat kolaborasi antarinstansi melalui pembentukan Tim integrasi data lintas Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah, yang diperkuat dengan pemberian penghargaan bagi instansi yang bersedia berbagi data secara konsisten. Pendekatan ini penting karena persoalan ego sektoral pada dasarnya adalah persoalan insentif dan budaya organisasi, sehingga penyelesaiannya pun harus dimulai dari perubahan pola pikir kelembagaan, bukan semata-mata dari intervensi teknologi.

Setelah fondasi kolaborasi tersebut terbangun, barulah persoalan fragmentasi sistem dapat diselesaikan secara lebih bermakna melalui penyusunan standar dan format data yang seragam, pengembangan Application Programming Interface untuk menjembatani ribuan aplikasi yang telah terlanjur tersebar, serta penerapan sistem single sign-on yang memungkinkan masyarakat mengakses berbagai layanan tanpa harus berulang kali membuat akun baru. Langkah teknis ini akan sia-sia apabila tidak didahului oleh kemauan politik untuk berbagi data, namun sebaliknya, kemauan berbagi data pun tidak akan membuahkan hasil optimal tanpa disertai standar teknis yang jelas., Dengan demikian, kedua solusi ini harus berjalan beriringan dan saling melengkapi.

Sejalan dengan penguatan sisi kelembagaan dan teknis tersebut, pemerintah juga perlu memperkuat infrastruktur digital di wilayah yang masih tertinggal serta menggencarkan sosialisasi dan edukasi literasi digital kepada masyarakat luas. Hal ini tentunya agar layanan yang telah terintegrasi dengan baik benar-benar dapat dimanfaatkan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Upaya ini perlu ditopang pula dengan langkah membangun kepercayaan publik terhadap keamanan data. Misalnya melalui audit keamanan sistem secara berkala dan komunikasi yang transparan mengenai bagaimana data pribadi dikelola, sehingga kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kebocoran data dapat berangsur diminimalisasi.

Yang tidak kalah penting, seluruh upaya teknis dan sosial tersebut harus dipayungi oleh kepastian hukum yang jelas mengenai akuntabilitas algoritma. Pemerintah perlu merumuskan parameter hukum administrasi mencakup kepastian hukum, kecermatan, keterbukaan, dan akuntabilitas serta menerapkan model kontrol berlapis. Model ini dapat dilakukan mulai dari audit sebelum sistem diterapkan, pengawasan manusia selama sistem berjalan, hingga mekanisme keberatan dan pemulihan hak publik ketika terjadi kesalahan. Dengan kerangka akuntabilitas semacam ini, masyarakat tidak lagi hanya menjadi objek pasif dari keputusan algoritma, melainkan pihak yang memiliki hak untuk memahami, mengoreksi, dan menuntut pertanggungjawaban atas layanan digital yang mereka gunakan.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital pemerintahan Indonesia tidak dapat diukur semata dari kecepatan atau jumlah layanan yang berhasil diintegrasikan. Justru yang paling penting sejauh mana seluruh solusi tersebut dapat berjalan secara terpadu dan saling menguatkan. Sebagaimana masalah yang dihadapi bersifat berlapis dan saling terkait, maka solusi yang ditawarkan pun mustahil berhasil apabila diterapkan secara parsial tanpa memperhatikan keterkaitannya satu sama lain. (*)

Referensi

  • Bed, Abdurouf Qosdul dkk. 2025. Peran INA Digital Dalam Menjawab Tantangan Integrasi E-Government. Journal of Governance and Public Administration (JoGaPA) Volume 2, No 2.

  • Dunleavy, Patrick, dkk. 2006. Digital Era Governance : IT Corporations, The State, and e-Government. New York : Oxford.

  • Kemal, Hidayah dkk. 2024. Memadamkan Ego Sektoral Dalam Mendukung Government Technology. Suara Analis Kebijakan, Vol. 1. No. 1.

  • Putri, Bella Kharisma dkk. 2025. Optimalisasi Pelayanan Publik Melalui INA Digital Dalam Mewujudkan Efisiensi Dan Integrasi Layanan Di Era Digital, Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, Volume 8 Nomor 1.

  • Yorman dan Wahab, Abdul. 2026. Akuntabilitas Algoritmik dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik Digital melalui GovTech Indonesia Ditinjau dari Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik. Jurnal Perlindungan Masyarakat Bestuur Praesidium Vol. 03, No. 1.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Afif Muttaqin
Analis Kebijakan di Pusjar SKTAN Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)