Harmoni dalam Kesederhanaan: Telaah Komprehensif Tradisi Botram pada Masyarakat Sunda

10 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Ilustrasi makanan khas Sunda. (Sumber: Pexels | Foto: More Amore)
Ilustrasi makanan khas Sunda. (Sumber: Pexels | Foto: More Amore)

Dalam tradisi masyarakat Pasundan, aktivitas makan bukanlah sekadar pemenuhan kebutuhan biologis atau asupan nutrisi semata. Ia adalah sebuah ritus sosial yang sakral, manifestasi dari kearifan lokal yang telah mengakar kuat dalam denyut nadi masyarakat agraris. Dalam konteks budaya kuliner, tradisi Botram menjadi salah satu pilar kekayaan budaya Sunda yang humanistik dan reflektif. Tradisi ini merupakan jembatan yang menghubungkan dimensi personal dengan kolektivitas, menciptakan ruang di mana harmoni sosial dirajut kembali di tengah gerus zaman.

Mempelajari Botram adalah upaya sistematis untuk memahami filosofi luhur di balik interaksi sosial yang terbangun. Di balik kesederhanaan hidangan yang digelar di atas daun pisang, tersimpan narasi mengenai identitas, solidaritas, dan rasa syukur yang mendalam. Botram bukan sekadar "makan bareng", melainkan sebuah jembatan budaya yang melibatkan kerendahan hati dan keterbukaan jiwa. Namun, untuk memahami esensinya secara menyeluruh, kita harus terlebih dahulu memiliki ketepatan terminologi dalam mengurai akar sejarahnya.

Etimologi dan Akar Sejarah: Mengurai Perbedaan Botram dan Bancakan

Dalam diskursus kebudayaan, ketepatan istilah adalah fondasi dalam melestarikan sejarah agar nilai-nilai aslinya tidak terdistorsi. Masyarakat seringkali menyamakan antara Botram dan Bancakan, padahal keduanya memiliki perbedaan struktural yang signifikan, terutama dalam aspek tanggung jawab penyediaan konsumsi dan format penyajiannya.

Meskipun sama-sama mencerminkan tradisi makan bersama masyarakat Sunda yang sarat akan nilai kebersamaan, Botram dan Bancakan memiliki esensi dasar yang cukup berbeda. Botram merupakan kegiatan makan bersama yang bersifat informal dan swadaya, di mana setiap peserta membawa bekal makanannya masing-masing untuk dinikmati bersama. Sebaliknya, Bancakan lebih erat kaitannya dengan acara selamatan atau syukuran, di mana seluruh hidangan disediakan langsung oleh pihak tuan rumah sebagai bentuk rasa syukur.

Perbedaan tujuan tersebut secara otomatis memengaruhi siapa yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan dan di mana acara dilangsungkan. Dalam Botram, karena konsepnya adalah patungan (swadaya), menu yang tersaji menjadi sangat beragam tergantung bawaan masing-masing orang. Lokasinya pun sangat fleksibel, mulai dari area terbuka seperti kebun, sawah, pantai, hingga area dalam ruangan seperti rumah atau kantor. Sementara itu, menu Bancakan sepenuhnya ditanggung oleh penyelenggara hajatan dan biasanya diselenggarakan di tempat yang lebih formal atau terpusat, seperti di rumah pemilik acara atau balai pertemuan.

Cara penyajian kedua tradisi ini juga memiliki keunikan visual tersendiri yang membedakan satu sama lain. Pada tradisi Botram, makanan biasanya dihamparkan di atas pelepah daun pisang yang digelar memanjang secara horizontal, sehingga semua orang bisa duduk berjajar dan saling berbagi. Di sisi lain, hidangan Bancakan secara tradisional disajikan di atas nyiru atau tampah bambu bundar yang diberi alas daun pisang, di mana para tamu akan duduk melingkari tampah tersebut untuk makan bersama.

Secara etimologis, terdapat analisis menarik mengenai serapan bahasa Belanda Boterham yang berarti roti lapis atau sandwich. Di sini letak ironi budayanya: istilah kolonial yang merujuk pada makanan personal dan individualistik ala Barat justru bertransformasi menjadi sebuah tradisi kolektif yang sangat kental dengan nilai kebersamaan Sunda. Transformasi ini membuktikan ketahanan budaya (cultural resilience) masyarakat Sunda yang mampu mengontekstualisasikan pengaruh luar menjadi instrumen penguat ikatan sosial yang melampaui sekat-sekat status.

Landasan Filosofis: Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh

Egalitarianisme adalah ruh dari tradisi Botram. Dalam struktur sosial masyarakat Sunda, posisi duduk lesehan yang sejajar menghapus batasan-batasan artifisial seperti jabatan atau strata ekonomi. Di atas hamparan daun, tidak ada kursi yang membedakan tinggi-rendah; setiap orang kembali ke akar yang sama, yakni bumi yang mereka pijak.

Tradisi Botram merupakan perwujudan konkret dari filosofi hidup masyarakat Sunda, yaitu Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh. Nilai yang terkandung di dalamnya tidak sekadar menampilkan keramahan biasa, melainkan mencerminkan etos someah hade ka sémah (ramah dan baik kepada tamu). Hal ini terlihat jelas dari kerelaan setiap orang untuk saling berbagi bekal makanan yang mereka bawa, yang kemudian melahirkan tiga dimensi nilai utama.

Dimensi pertama adalah dimensi sosial yang berfokus pada solidaritas. Melalui pertukaran makanan secara sukarela, Botram berfungsi sebagai media efektif untuk saling mengasihi, mencairkan sekat sosial, dan mempererat tali kekeluargaan antarpeserta. Selain itu, terdapat pula dimensi moral yang menjunjung tinggi kesederhanaan. Tradisi ini mengajarkan sikap rendah hati dan kejujuran untuk menikmati hidangan apa adanya dengan penuh sukacita, tanpa harus terjebak dalam kemewahan materialistis.

Terakhir, Botram juga menyentuh dimensi spiritual yang mendalam melalui rasa syukur. Acara makan bersama ini menjadi sebuah bentuk pengakuan kolektif atas nikmat rezeki dari Sang Pencipta. Dengan menikmati makanan bersama-sama dalam suasana yang rukun, masyarakat merayakan keharmonisan sekaligus memperkuat hubungan mereka, baik dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan.

Filosofi luhur ini tidak hanya berhenti sebagai gagasan, melainkan diwujudkan melalui prosedur dan simbol-simbol fisik yang sangat estetis dalam ritual penyajiannya.

Nasi liwet yang biasa menjadi menu botram orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)
Nasi liwet yang biasa menjadi menu botram orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)

Anatomi Ritual: Prosedur dan Keunikan Penyajian

Ritual Botram menggabungkan aspek estetika tradisional dengan fungsionalitas ekologis. Peran daun pisang sebagai samak daun (alas makan) sangat penting; selain praktis, getah dan aroma daun pisang yang hangat terkena nasi memberikan sensasi sensorik yang meningkatkan nafsu makan sekaligus menyimbolkan kedekatan manusia dengan alam.

Prosedur pelaksanaan Botram biasanya berlangsung secara organik dan santai, namun tetap memiliki etika serta tahapan yang dihormati oleh seluruh peserta. Prosesi ini diawali dengan tahap penggabungan bekal, di mana setiap peserta mengumpulkan makanan yang mereka bawa dari rumah untuk dihamparkan bersama. Dalam tahap ini, sama sekali tidak ada paksaan atau tuntutan mengenai jenis maupun kemewahan makanan yang dibawa, karena fokus utamanya terletak pada semangat berbagi dan keikhlasan.

Setelah seluruh makanan tertata rapi di atas gelaran daun pisang, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan dan doa. Sebelum santap bersama dimulai, biasanya sesepuh atau tokoh yang dihormati di kelompok tersebut akan memberikan sepatah kata singkat. Momen ini menjadi penting untuk menegaskan kembali niat suci kebersamaan yang mendasari acara tersebut. Setelah itu, seluruh peserta menundukkan kepala untuk doa bersama sebagai bentuk ekspresi rasa syukur atas rezeki yang ada di hadapan mereka.

Begitu doa selesai, dimulailah momen inti dengan etika makan khas yang disebut ngahuap. Makan menggunakan tangan langsung tanpa bantuan sendok dianggap sebagai bentuk keintiman fisik, baik dengan makanan itu sendiri maupun dengan sesama peserta yang duduk berdampingan. Tradisi ngahuap ini bukan sekadar cara makan biasa, melainkan sebuah simbol kerendahan hati dan bentuk rasa syukur yang lebih autentik terhadap berkah serta hasil bumi yang dinikmati bersama.

Setelah memahami prosedur ritualnya, komponen hidangan yang disajikan menjadi jiwa yang menyempurnakan tradisi ini.

Karakteristik Hidangan Pasundan: Menu Wajib dalam Botram

Karakteristik menu Botram haruslah segar dan tradisional untuk mendukung suasana kebersamaan yang autentik. Hidangan ini mencerminkan kedekatan masyarakat Sunda dengan bentang alam sekitarnya, mulai dari ladang hingga kolam ikan.

Dalam sebuah tradisi Botram, menu hidangan yang tersaji memiliki karakteristik yang sangat khas dan menggugah selera. Jantung dari hidangan ini adalah Nasi Liwet, karbohidrat utama yang dimasak bersama bumbu rempah di dalam panci kastrol khusus hingga menghasilkan aroma gurih yang memikat. Nasi ini kemudian disandingkan dengan aneka lauk-pauk tradisional seperti ikan asin, pepes, ayam bakar, hingga protein nabati berupa tahu dan tempe. Sebagai pelengkap wajib, hadir pula lalapan segar—mulai dari daun kemangi, mentimun, hingga selada yang disajikan mentah demi menjaga keutuhan vitamin dan seratnya—serta sambal dadak dari olahan cabai dan terasi segar yang kaya akan antioksidan.

Pilihan menu yang didominasi oleh bahan alami segar serta minim penggunaan pengawet maupun MSG ini sebenarnya menyimpan makna yang mendalam. Hal tersebut bukan sekadar pilihan diet atau tren kuliner modern, melainkan sebuah cerminan nyata dari kedekatan sosiokultural masyarakat Sunda dengan alam sekitarnya, yaitu leuweung (hutan) dan sawah.

Melalui konsep penyajian bahan makanan yang langsung diambil dari alam dan dapur (fresh from the kitchen), Botram secara tidak langsung mempromosikan gaya hidup sehat yang berkelanjutan. Di sinilah letak keunikan tradisi ini, di mana kesehatan fisik dari asupan makanan yang sehat dan kehangatan hubungan sosial antarmanusia dapat terintegrasi secara sempurna.

Perspektif Kesehatan dan Ekologi: Manfaat di Balik Tradisi

Dalam tinjauan kesehatan modern dan isu keberlanjutan lingkungan, tradisi Botram menawarkan solusi yang sangat relevan. Praktik yang diwariskan secara turun-temurun ini ternyata memiliki dasar saintifik yang kuat, baik dari aspek nutrisi maupun mekanisme tubuh. Salah satunya terlihat dari penggunaan daun pisang sebagai wadah makanan, yang diketahui kaya akan senyawa polifenol. Polifenol ini bertindak sebagai antioksidan alami yang dapat terserap ke dalam makanan hangat, membantu tubuh menangkal radikal bebas.

Selain itu, etika makan khas Botram juga memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik dan mental. Kebiasaan makan langsung menggunakan tangan—dengan catatan telah dicuci bersih—dapat memperkenalkan bakteri baik (mikrobioma) ke dalam tubuh yang bermanfaat untuk memperkuat sistem imunitas serta mengoptimalkan pencernaan. Dari sisi psikologis, suasana makan bersama yang santai dan penuh keakraban mampu menurunkan tingkat stres. Kondisi ini membuat otak bekerja lebih efektif dalam menerima sinyal kenyang, sehingga porsi makan seseorang menjadi lebih terkontrol dan mencegah makan berlebihan.

Tidak kalah penting, Botram memiliki keunggulan ekologis yang luar biasa di tengah krisis sampah modern. Ketika gaya hidup kontemporer masih bergantung pada wadah plastik yang membutuhkan waktu 10 hingga 80 tahun untuk terurai, atau styrofoam yang memerlukan waktu hingga 10.000 tahun, Botram tetap setia menggunakan daun pisang. Material organik ini hanya membutuhkan waktu singkat, yaitu sekitar 1 hingga 3 minggu saja, untuk terurai dan kembali menyatu dengan tanah secara alami tanpa meninggalkan limbah berbahaya.

Manfaat fisik yang ditemukan dalam realitas medis ini ternyata telah lama tecermin dan diamplifikasi dalam pesan-pesan moral tradisi lisan leluhur kita.

Botram dalam Sastra Lisan: Representasi pada Dongeng Si Kabayan

Folklor bukan sekadar hiburan, melainkan medium transmisi nilai moral. Dalam dongeng Si Kabayan, Botram diposisikan secara struktural menggunakan model aktansial Greimas sebagai Aktan Penolong (Helper) yang membantu menyelesaikan konflik moral dan sosial.

Representasi tradisi Botram dalam kebudayaan Sunda tergambar secara hidup melalui berbagai kisah ikonik Si Kabayan, di mana kegiatan makan bersama ini kerap menjadi latar belakang kritik sosial maupun resolusi konflik. Salah satunya terlihat dalam cerita Si Kabayan Menyembunyikan Ikan. Dalam narasi ini, Botram menjadi latar belakang kritik terhadap ketidakadilan sosial ketika Kepala Desa memerintahkan warga menangkap ikan tawes besar hanya untuk disajikan kepada pejabat kota, sementara rakyat kecil diabaikan. Sebagai bentuk protes, Kabayan menyembunyikan ikan nilem untuk dirinya sendiri. Kisah ini memanfaatkan momentum Botram untuk menyindir sifat egois manusia yang dapat merusak esensi kebersamaan.

Selain sebagai media kritik, Botram juga digambarkan sebagai simbol rekonsiliasi dan pemulihan keharmonisan. Dalam cerita Si Kabayan Menjadi Embah, aktivitas Botram yang dilakukan secara bersahaja di dapur keluarga menjadi penanda penting berakhirnya ketegangan berkepanjangan antara Kabayan dan mertuanya, Abah. Setelah diuji oleh konflik yang dipicu oleh kemalasan Kabayan, momen makan bersama ini berhasil mencairkan suasana dan menyatukan kembali ikatan keluarga yang sempat renggang.

Nilai luhur Botram lainnya juga terefleksikan dalam kisah Sayur Asem Iteung. Melalui narasi ini, Botram secara gamblang menunjukkan nilai keramahan (someah) khas masyarakat Sunda dalam menyambut tamu. Meskipun hidangan sayur asem yang disajikan digambarkan hambar, kesederhanaan dan ketulusan untuk berbagi dalam momen Botram tersebut justru menjadi poin utama yang berhasil mempererat hubungan emosional, membuktikan bahwa kebersamaan jauh lebih bernilai daripada kemewahan rasa makanan itu sendiri.

Dalam dongeng-dongeng ini, Botram berfungsi sebagai Simbol Rekonsiliasi, alat untuk memulihkan hubungan yang renggang dan menghancurkan barikade egoisme manusia.

Menjaga Esensi Botram di Tengah Arus Modernisasi dan Komersialisasi

Masyarakat Sunda menunjukkan ketahanan budaya yang luar biasa dalam menjaga tradisi Botram hingga saat ini. Di wilayah perkotaan, meskipun daun pisang terkadang sudah digantikan oleh kertas nasi, esensi swadaya dari tradisi ini tetap terjaga dengan baik. Fenomena menarik yang muncul di era modern adalah tren gaya hidup urban yang sering disebut sebagai "Liwetan".

"Liwetan" pada dasarnya merujuk pada jenis hidangan atau menu yang disajikan, sementara "Botram" adalah tradisi dan roh kebersamaannya. Popularitas "Liwetan" di kafe-kafe modern menunjukkan bahwa masyarakat urban sebenarnya merindukan kehangatan sosial yang ditawarkan oleh tradisi Botram. Tantangan terbesarnya saat ini adalah memastikan bahwa pergeseran ke arah komersialisasi tersebut tidak menghilangkan nilai egalitarianisme yang menjadi akar asli dari Botram.

Tradisi Botram sendiri merupakan identitas budaya Pasundan yang humanistik, reflektif, dan autentik. Ia bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan solusi sosial yang sangat relevan untuk mengatasi individualisme modern yang kian merenggangkan hubungan antarmanusia. Melalui Botram, kita diajarkan bahwa harmoni tidak memerlukan kemewahan, melainkan ketulusan untuk duduk sejajar di atas bumi.

Sebagai bentuk diplomasi budaya, mempraktikkan Botram berarti turut melestarikan nilai solidaritas dan keseimbangan hidup. Oleh karena itu, tradisi ini perlu dijadikan sebagai jembatan untuk merajut kembali kebersamaan, merayakan kesederhanaan, dan menjaga kelestarian alam demi masa depan yang lebih harmonis. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)