Harmoni dalam Kesederhanaan: Telaah Komprehensif Tradisi Botram pada Masyarakat Sunda

10 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Ilustrasi makanan khas Sunda. (Sumber: Pexels | Foto: More Amore)
Ilustrasi makanan khas Sunda. (Sumber: Pexels | Foto: More Amore)

Dalam tradisi masyarakat Pasundan, aktivitas makan bukanlah sekadar pemenuhan kebutuhan biologis atau asupan nutrisi semata. Ia adalah sebuah ritus sosial yang sakral, manifestasi dari kearifan lokal yang telah mengakar kuat dalam denyut nadi masyarakat agraris. Dalam konteks budaya kuliner, tradisi Botram menjadi salah satu pilar kekayaan budaya Sunda yang humanistik dan reflektif. Tradisi ini merupakan jembatan yang menghubungkan dimensi personal dengan kolektivitas, menciptakan ruang di mana harmoni sosial dirajut kembali di tengah gerus zaman.

Mempelajari Botram adalah upaya sistematis untuk memahami filosofi luhur di balik interaksi sosial yang terbangun. Di balik kesederhanaan hidangan yang digelar di atas daun pisang, tersimpan narasi mengenai identitas, solidaritas, dan rasa syukur yang mendalam. Botram bukan sekadar "makan bareng", melainkan sebuah jembatan budaya yang melibatkan kerendahan hati dan keterbukaan jiwa. Namun, untuk memahami esensinya secara menyeluruh, kita harus terlebih dahulu memiliki ketepatan terminologi dalam mengurai akar sejarahnya.

Etimologi dan Akar Sejarah: Mengurai Perbedaan Botram dan Bancakan

Dalam diskursus kebudayaan, ketepatan istilah adalah fondasi dalam melestarikan sejarah agar nilai-nilai aslinya tidak terdistorsi. Masyarakat seringkali menyamakan antara Botram dan Bancakan, padahal keduanya memiliki perbedaan struktural yang signifikan, terutama dalam aspek tanggung jawab penyediaan konsumsi dan format penyajiannya.

Meskipun sama-sama mencerminkan tradisi makan bersama masyarakat Sunda yang sarat akan nilai kebersamaan, Botram dan Bancakan memiliki esensi dasar yang cukup berbeda. Botram merupakan kegiatan makan bersama yang bersifat informal dan swadaya, di mana setiap peserta membawa bekal makanannya masing-masing untuk dinikmati bersama. Sebaliknya, Bancakan lebih erat kaitannya dengan acara selamatan atau syukuran, di mana seluruh hidangan disediakan langsung oleh pihak tuan rumah sebagai bentuk rasa syukur.

Perbedaan tujuan tersebut secara otomatis memengaruhi siapa yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan dan di mana acara dilangsungkan. Dalam Botram, karena konsepnya adalah patungan (swadaya), menu yang tersaji menjadi sangat beragam tergantung bawaan masing-masing orang. Lokasinya pun sangat fleksibel, mulai dari area terbuka seperti kebun, sawah, pantai, hingga area dalam ruangan seperti rumah atau kantor. Sementara itu, menu Bancakan sepenuhnya ditanggung oleh penyelenggara hajatan dan biasanya diselenggarakan di tempat yang lebih formal atau terpusat, seperti di rumah pemilik acara atau balai pertemuan.

Cara penyajian kedua tradisi ini juga memiliki keunikan visual tersendiri yang membedakan satu sama lain. Pada tradisi Botram, makanan biasanya dihamparkan di atas pelepah daun pisang yang digelar memanjang secara horizontal, sehingga semua orang bisa duduk berjajar dan saling berbagi. Di sisi lain, hidangan Bancakan secara tradisional disajikan di atas nyiru atau tampah bambu bundar yang diberi alas daun pisang, di mana para tamu akan duduk melingkari tampah tersebut untuk makan bersama.

Secara etimologis, terdapat analisis menarik mengenai serapan bahasa Belanda Boterham yang berarti roti lapis atau sandwich. Di sini letak ironi budayanya: istilah kolonial yang merujuk pada makanan personal dan individualistik ala Barat justru bertransformasi menjadi sebuah tradisi kolektif yang sangat kental dengan nilai kebersamaan Sunda. Transformasi ini membuktikan ketahanan budaya (cultural resilience) masyarakat Sunda yang mampu mengontekstualisasikan pengaruh luar menjadi instrumen penguat ikatan sosial yang melampaui sekat-sekat status.

Landasan Filosofis: Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh

Egalitarianisme adalah ruh dari tradisi Botram. Dalam struktur sosial masyarakat Sunda, posisi duduk lesehan yang sejajar menghapus batasan-batasan artifisial seperti jabatan atau strata ekonomi. Di atas hamparan daun, tidak ada kursi yang membedakan tinggi-rendah; setiap orang kembali ke akar yang sama, yakni bumi yang mereka pijak.

Tradisi Botram merupakan perwujudan konkret dari filosofi hidup masyarakat Sunda, yaitu Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh. Nilai yang terkandung di dalamnya tidak sekadar menampilkan keramahan biasa, melainkan mencerminkan etos someah hade ka sémah (ramah dan baik kepada tamu). Hal ini terlihat jelas dari kerelaan setiap orang untuk saling berbagi bekal makanan yang mereka bawa, yang kemudian melahirkan tiga dimensi nilai utama.

Dimensi pertama adalah dimensi sosial yang berfokus pada solidaritas. Melalui pertukaran makanan secara sukarela, Botram berfungsi sebagai media efektif untuk saling mengasihi, mencairkan sekat sosial, dan mempererat tali kekeluargaan antarpeserta. Selain itu, terdapat pula dimensi moral yang menjunjung tinggi kesederhanaan. Tradisi ini mengajarkan sikap rendah hati dan kejujuran untuk menikmati hidangan apa adanya dengan penuh sukacita, tanpa harus terjebak dalam kemewahan materialistis.

Terakhir, Botram juga menyentuh dimensi spiritual yang mendalam melalui rasa syukur. Acara makan bersama ini menjadi sebuah bentuk pengakuan kolektif atas nikmat rezeki dari Sang Pencipta. Dengan menikmati makanan bersama-sama dalam suasana yang rukun, masyarakat merayakan keharmonisan sekaligus memperkuat hubungan mereka, baik dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan.

Filosofi luhur ini tidak hanya berhenti sebagai gagasan, melainkan diwujudkan melalui prosedur dan simbol-simbol fisik yang sangat estetis dalam ritual penyajiannya.

Nasi liwet yang biasa menjadi menu botram orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)
Nasi liwet yang biasa menjadi menu botram orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)

Anatomi Ritual: Prosedur dan Keunikan Penyajian

Ritual Botram menggabungkan aspek estetika tradisional dengan fungsionalitas ekologis. Peran daun pisang sebagai samak daun (alas makan) sangat penting; selain praktis, getah dan aroma daun pisang yang hangat terkena nasi memberikan sensasi sensorik yang meningkatkan nafsu makan sekaligus menyimbolkan kedekatan manusia dengan alam.

Prosedur pelaksanaan Botram biasanya berlangsung secara organik dan santai, namun tetap memiliki etika serta tahapan yang dihormati oleh seluruh peserta. Prosesi ini diawali dengan tahap penggabungan bekal, di mana setiap peserta mengumpulkan makanan yang mereka bawa dari rumah untuk dihamparkan bersama. Dalam tahap ini, sama sekali tidak ada paksaan atau tuntutan mengenai jenis maupun kemewahan makanan yang dibawa, karena fokus utamanya terletak pada semangat berbagi dan keikhlasan.

Setelah seluruh makanan tertata rapi di atas gelaran daun pisang, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan dan doa. Sebelum santap bersama dimulai, biasanya sesepuh atau tokoh yang dihormati di kelompok tersebut akan memberikan sepatah kata singkat. Momen ini menjadi penting untuk menegaskan kembali niat suci kebersamaan yang mendasari acara tersebut. Setelah itu, seluruh peserta menundukkan kepala untuk doa bersama sebagai bentuk ekspresi rasa syukur atas rezeki yang ada di hadapan mereka.

Begitu doa selesai, dimulailah momen inti dengan etika makan khas yang disebut ngahuap. Makan menggunakan tangan langsung tanpa bantuan sendok dianggap sebagai bentuk keintiman fisik, baik dengan makanan itu sendiri maupun dengan sesama peserta yang duduk berdampingan. Tradisi ngahuap ini bukan sekadar cara makan biasa, melainkan sebuah simbol kerendahan hati dan bentuk rasa syukur yang lebih autentik terhadap berkah serta hasil bumi yang dinikmati bersama.

Setelah memahami prosedur ritualnya, komponen hidangan yang disajikan menjadi jiwa yang menyempurnakan tradisi ini.

Karakteristik Hidangan Pasundan: Menu Wajib dalam Botram

Karakteristik menu Botram haruslah segar dan tradisional untuk mendukung suasana kebersamaan yang autentik. Hidangan ini mencerminkan kedekatan masyarakat Sunda dengan bentang alam sekitarnya, mulai dari ladang hingga kolam ikan.

Dalam sebuah tradisi Botram, menu hidangan yang tersaji memiliki karakteristik yang sangat khas dan menggugah selera. Jantung dari hidangan ini adalah Nasi Liwet, karbohidrat utama yang dimasak bersama bumbu rempah di dalam panci kastrol khusus hingga menghasilkan aroma gurih yang memikat. Nasi ini kemudian disandingkan dengan aneka lauk-pauk tradisional seperti ikan asin, pepes, ayam bakar, hingga protein nabati berupa tahu dan tempe. Sebagai pelengkap wajib, hadir pula lalapan segar—mulai dari daun kemangi, mentimun, hingga selada yang disajikan mentah demi menjaga keutuhan vitamin dan seratnya—serta sambal dadak dari olahan cabai dan terasi segar yang kaya akan antioksidan.

Pilihan menu yang didominasi oleh bahan alami segar serta minim penggunaan pengawet maupun MSG ini sebenarnya menyimpan makna yang mendalam. Hal tersebut bukan sekadar pilihan diet atau tren kuliner modern, melainkan sebuah cerminan nyata dari kedekatan sosiokultural masyarakat Sunda dengan alam sekitarnya, yaitu leuweung (hutan) dan sawah.

Melalui konsep penyajian bahan makanan yang langsung diambil dari alam dan dapur (fresh from the kitchen), Botram secara tidak langsung mempromosikan gaya hidup sehat yang berkelanjutan. Di sinilah letak keunikan tradisi ini, di mana kesehatan fisik dari asupan makanan yang sehat dan kehangatan hubungan sosial antarmanusia dapat terintegrasi secara sempurna.

Perspektif Kesehatan dan Ekologi: Manfaat di Balik Tradisi

Dalam tinjauan kesehatan modern dan isu keberlanjutan lingkungan, tradisi Botram menawarkan solusi yang sangat relevan. Praktik yang diwariskan secara turun-temurun ini ternyata memiliki dasar saintifik yang kuat, baik dari aspek nutrisi maupun mekanisme tubuh. Salah satunya terlihat dari penggunaan daun pisang sebagai wadah makanan, yang diketahui kaya akan senyawa polifenol. Polifenol ini bertindak sebagai antioksidan alami yang dapat terserap ke dalam makanan hangat, membantu tubuh menangkal radikal bebas.

Selain itu, etika makan khas Botram juga memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik dan mental. Kebiasaan makan langsung menggunakan tangan—dengan catatan telah dicuci bersih—dapat memperkenalkan bakteri baik (mikrobioma) ke dalam tubuh yang bermanfaat untuk memperkuat sistem imunitas serta mengoptimalkan pencernaan. Dari sisi psikologis, suasana makan bersama yang santai dan penuh keakraban mampu menurunkan tingkat stres. Kondisi ini membuat otak bekerja lebih efektif dalam menerima sinyal kenyang, sehingga porsi makan seseorang menjadi lebih terkontrol dan mencegah makan berlebihan.

Tidak kalah penting, Botram memiliki keunggulan ekologis yang luar biasa di tengah krisis sampah modern. Ketika gaya hidup kontemporer masih bergantung pada wadah plastik yang membutuhkan waktu 10 hingga 80 tahun untuk terurai, atau styrofoam yang memerlukan waktu hingga 10.000 tahun, Botram tetap setia menggunakan daun pisang. Material organik ini hanya membutuhkan waktu singkat, yaitu sekitar 1 hingga 3 minggu saja, untuk terurai dan kembali menyatu dengan tanah secara alami tanpa meninggalkan limbah berbahaya.

Manfaat fisik yang ditemukan dalam realitas medis ini ternyata telah lama tecermin dan diamplifikasi dalam pesan-pesan moral tradisi lisan leluhur kita.

Botram dalam Sastra Lisan: Representasi pada Dongeng Si Kabayan

Folklor bukan sekadar hiburan, melainkan medium transmisi nilai moral. Dalam dongeng Si Kabayan, Botram diposisikan secara struktural menggunakan model aktansial Greimas sebagai Aktan Penolong (Helper) yang membantu menyelesaikan konflik moral dan sosial.

Representasi tradisi Botram dalam kebudayaan Sunda tergambar secara hidup melalui berbagai kisah ikonik Si Kabayan, di mana kegiatan makan bersama ini kerap menjadi latar belakang kritik sosial maupun resolusi konflik. Salah satunya terlihat dalam cerita Si Kabayan Menyembunyikan Ikan. Dalam narasi ini, Botram menjadi latar belakang kritik terhadap ketidakadilan sosial ketika Kepala Desa memerintahkan warga menangkap ikan tawes besar hanya untuk disajikan kepada pejabat kota, sementara rakyat kecil diabaikan. Sebagai bentuk protes, Kabayan menyembunyikan ikan nilem untuk dirinya sendiri. Kisah ini memanfaatkan momentum Botram untuk menyindir sifat egois manusia yang dapat merusak esensi kebersamaan.

Selain sebagai media kritik, Botram juga digambarkan sebagai simbol rekonsiliasi dan pemulihan keharmonisan. Dalam cerita Si Kabayan Menjadi Embah, aktivitas Botram yang dilakukan secara bersahaja di dapur keluarga menjadi penanda penting berakhirnya ketegangan berkepanjangan antara Kabayan dan mertuanya, Abah. Setelah diuji oleh konflik yang dipicu oleh kemalasan Kabayan, momen makan bersama ini berhasil mencairkan suasana dan menyatukan kembali ikatan keluarga yang sempat renggang.

Nilai luhur Botram lainnya juga terefleksikan dalam kisah Sayur Asem Iteung. Melalui narasi ini, Botram secara gamblang menunjukkan nilai keramahan (someah) khas masyarakat Sunda dalam menyambut tamu. Meskipun hidangan sayur asem yang disajikan digambarkan hambar, kesederhanaan dan ketulusan untuk berbagi dalam momen Botram tersebut justru menjadi poin utama yang berhasil mempererat hubungan emosional, membuktikan bahwa kebersamaan jauh lebih bernilai daripada kemewahan rasa makanan itu sendiri.

Dalam dongeng-dongeng ini, Botram berfungsi sebagai Simbol Rekonsiliasi, alat untuk memulihkan hubungan yang renggang dan menghancurkan barikade egoisme manusia.

Menjaga Esensi Botram di Tengah Arus Modernisasi dan Komersialisasi

Masyarakat Sunda menunjukkan ketahanan budaya yang luar biasa dalam menjaga tradisi Botram hingga saat ini. Di wilayah perkotaan, meskipun daun pisang terkadang sudah digantikan oleh kertas nasi, esensi swadaya dari tradisi ini tetap terjaga dengan baik. Fenomena menarik yang muncul di era modern adalah tren gaya hidup urban yang sering disebut sebagai "Liwetan".

"Liwetan" pada dasarnya merujuk pada jenis hidangan atau menu yang disajikan, sementara "Botram" adalah tradisi dan roh kebersamaannya. Popularitas "Liwetan" di kafe-kafe modern menunjukkan bahwa masyarakat urban sebenarnya merindukan kehangatan sosial yang ditawarkan oleh tradisi Botram. Tantangan terbesarnya saat ini adalah memastikan bahwa pergeseran ke arah komersialisasi tersebut tidak menghilangkan nilai egalitarianisme yang menjadi akar asli dari Botram.

Tradisi Botram sendiri merupakan identitas budaya Pasundan yang humanistik, reflektif, dan autentik. Ia bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan solusi sosial yang sangat relevan untuk mengatasi individualisme modern yang kian merenggangkan hubungan antarmanusia. Melalui Botram, kita diajarkan bahwa harmoni tidak memerlukan kemewahan, melainkan ketulusan untuk duduk sejajar di atas bumi.

Sebagai bentuk diplomasi budaya, mempraktikkan Botram berarti turut melestarikan nilai solidaritas dan keseimbangan hidup. Oleh karena itu, tradisi ini perlu dijadikan sebagai jembatan untuk merajut kembali kebersamaan, merayakan kesederhanaan, dan menjaga kelestarian alam demi masa depan yang lebih harmonis. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)