Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

7 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Koku Footwear tumbuh dari modal Rp200.000 dan promosi di Kaskus pada 2009, kini mempekerjakan 33 perajin dan menembus ekspor ke Asia Tenggara dengan omzet mencapai Rp4,9 miliar pada 2024.

  • Sejak aktif di marketplace pada 2017, pendapatan e-commerce mereka (terutama Shopee) kini menyumbang 70 persen omzet bulanan Koku Footwear, dengan fitur promosi, afiliasi, dan perdagangan lintas batas membuka jalan ke pembeli luar negeri.

  • Di balik kesuksesan itu, sentra sepatu Cibaduyut justru menyusut dari ratusan menjadi sekitar 50 perajin, mendorong Indra berharap adanya dukungan pendidikan formal untuk menjaga keahlian kerajinan kulit tetap lestari.

AYOBANDUNG.COM — Bunyi palu kecil beradu dengan bahan kulit di lorong sempit workshop kawasan Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Selasa (26/5/2026). Saat itu Ayobandung.id bertemu dengan Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear, dan mengamati proses menjahit sepatu yang sudah ia geluti lebih dari satu dekade.

Indra sebetulnya bukan orang yang "seharusnya" ada di workshop itu, jika meninjau "di atas kertas". Ia menempuh S1 Sastra Inggris di Universitas Kristen Maranatha, lalu melanjutkan S2 Pendidikan Bahasa Inggris di UPI.

Bagaimanapun Cibaduyut sudah menarik minatnya jauh sebelum mendapat ijazah kuliah. Ia kerap bermain ke rumah teman kecilnya yang orang tuanya berprofesi sebagai perajin sepatu, dan dari segenap kunjungan itu ia memupuk rasa penasaran yang lama-lama menjelma tekad.

"Pemilihan nama merek 'Koku' itu sederhana, karena mirip aja pelafalannya seperti 'kaki'. Jadi supaya gampang diingat mereknya, namanya Koku," kata Indra di Taman Cibaduyut Endah.

Indra memulai usahanya dengan modal Rp200.000. Ia membawa modal terbatas ini ke perajin Cibaduyut untuk membuat sepasang sepatu pertama. Ia memotret produk sepatu pertamanya, lalu mengunggahnya ke Kaskus dan Facebook sebagai cara promosi paling realistis yang kala itu.

"Pas awal bikin sepatu itu saya masih kuliah S2, tidak laku, sebab harganya tergolong mahal Rp300 ribu untuk saat itu tahun 2009. Setelah lulus kuliah, saya coba pasarkan di Kaskus, masih sepi juga di tahun pertama. Barulah di tahun kedua ada pesanan pre-order, dan di tahun ketiga saya memberanikan diri untuk buka bengkel sepatu sendiri, dengan pegawai sekitar 4 orang," kenangnya.

Mau tak mau, sebab pengalaman pahit mencari vendor yang bisa dipercaya (sepanjang 2010 hingga 2012), Indra membuka workshop sendiri.

"Cari vendor yang amanah itu susah. Sering kali kepercayaan pembeli terhadap Koku Footwear terhambat karena ada saja gangguan produksi dari vendor. Akhirnya saya bikin sendiri," ujarnya.

Hasil keputusan itu terbukti lebih baik dalam jangka panjang. Koku Footwear kini mempekerjakan sekitar 33 perajin dan 5 karyawan pemasaran di dua workshop dan satu toko, semuanya tetap berbasis di kawasan Cibaduyut, naik dari 4 orang di awal berdirinya.

"Salah satu tujuan saya buka wirausaha berangkat dari keinginan agar warga lokal lebih sejahtera. Upah pegawai sepatu di Cibaduyut sejak dulu lazimnya kecil dan jauh dari UMP, tidak ada THR. Oleh karena itu, saya menekankan Koku Footwear untuk menyejahterakan mereka, membayar upah lebih layak, dengan jaminan THR," lanjutnya.

Kualitas menjadi fondasi lain yang tak Indra tawar. Koku Footwear tetap mempertahankan teknik hand welting dan blake stitch, metode jahit kelas atas yang dulu menjadi ciri khas perajin Cibaduyut, dengan bahan kulit dari Cianjur dan Garut. Harga produknya berkisar Rp800 ribu hingga Rp2,5 juta, bahkan bisa mencapai belasan juta untuk pesanan kustom. Sejak 2015, sekitar 10 persen produksinya sudah menembus pasar ekspor di kawasan Asia Tenggara.

Etalase di Layar Gawai

Perajin sepatu Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Perajin sepatu Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Dalam pertemuan kedua dengan ayobandung.id, Indra bercerita bahwa Kaskus dan Facebook dahulu menjadi andalan. Tetapi sejak 2017 Koku Footwear mulai serius menggarap marketplace, dan Shopee menjadi salah satu kanal utamanya.

"Iya, kami berjualan di banyak marketplace, terutama Shopee. Mulai aktifnya di sekitar tahun 2017," tutur Indra.

Perpindahan itu mengubah struktur bisnis mereka secara signifikan. E-commerce kini mendominasi hingga 70 persen dari omzet bulanan Koku Footwear.

"Untuk saat ini e-commerce mendominasi omzet bulanan sekitar 70 persen dari keseluruhan," ungkap Indra.

Angka tersebut menjadi lompatan besar dari era ketika penjualan masih mengandalkan transaksi tatap muka dan promosi manual di forum daring. Selain itu, fitur promosi dan afiliasi memberi dampak paling terasa bagi Indra.

"Fitur paling membantu penjualan kami adalah promosi dan affiliate. Lewat promo ini kami bisa mengikuti promo mega/big campaign agar bisa mendapatkan traffic dan conversion rate yang lebih besar. Selain itu, kami terbantu dengan fitur affiliate yang memudahkan kami untuk bekerja sama dengan para influencer dalam memasarkan produk kami," jelas Indra.

Dalam ihwal yang bikin semringah, momen paling berkesan baginya pun datang dari luar negeri.

"Hal yang paling berkesan adalah kami bisa menjual produk kami ke luar negeri dengan menggunakan fitur Shopee International," ujarnya, sesuatu yang dulu terasa jauh ketika ia hanya mengandalkan unggahan foto di Kaskus untuk menjangkau pembeli.

Kendati demikian, tidak segalanya hadir sempurna, digitalisasi juga membawa konsekuensi. Masih ada beberapa masalah yang tersisa, sebagian memang bisa diatasi secara kompromi, sementara lainnya cukup menjengkelkan akibat perbuatan pihak tak bertanggung jawab.

"Kendala yang paling utama adalah perbedaan persepsi antara pembeli dan barang yang dipesan. Selain itu, yang paling mengganggu ialah maraknya pembeli fiktif dan bom COD," aku Indra.

Dua kendala tersebut (pembeli fiktif dan bom COD) menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak pelaku UMKM yang berjualan daring.

Wajah Baru Ekonomi Indonesia

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kisah Koku Footwear menggambarkan pergeseran besar yang sedang terjadi di ekonomi Indonesia. Sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, setara Rp9.580 triliun, dan menyerap sekitar 97 persen dari total tenaga kerja di Indonesia, menurut data yang berulang kali Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Koperasi dan UKM publikasikan.

Dalam pendataan UMKM secara daring, Komdigi menyebut per Mei 2024, sekitar 25,45 juta dari total lebih dari 64 juta unit UMKM di Indonesia telah terhubung ke ekosistem digital. Lalu pada 2026 Komdigi menyatakan hampir seluruh UMKM telah terhubung dengan internet, dengan tingkat konektivitas wilayah berpenduduk telah mencapai sekitar 98 persen.

Meski begitu, memasuki 2026 pula, Komdigi menilai akses internet bukan lagi persoalan utama bagi UMKM. Pemerintah kini justru mengarahkan perhatian pada produktivitas, daya saing, dan terciptanya pasar digital yang lebih adil bagi UMKM.

Cerita Koku Footwear pun menjadi relevan pada perkembangan UMKM di ranah daring. Bisnis ini merupakan salah satu contoh nyata pergeseran dari forum jual-beli sederhana macam Kaskus ke ekosistem marketplace yang matang bisa mengubah skala bisnis secara signifikan, dari yang tadinya hanya mengandalkan pembeli lokal, menjadi menembus pasar mancanegara lewat fitur ekspor lintas batas.

Data pertumbuhan Shopee Indonesia juga menggambarkan perkembangan tersebut. Sepanjang 2023, lebih dari 500 ribu penjual UMKM bergabung dengan Shopee. Pada periode 2020 hingga 2023, pendapatan UMKM di platform tersebut tumbuh hingga 30 persen secara tahunan. Pada semester pertama 2024, Shopee mencatat penjualan produk UMKM dan brand lokal melalui fitur Shopee Live meningkat lebih dari 13 kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Monica Vionna, Senior Director of Marketing Growth Shopee Indonesia, mengatakan Shopee terus mendukung pelaku usaha lokal melalui berbagai program, fitur interaktif, dan pelatihan.

Koku Footwear juga memanfaatkan ekosistem digital tersebut untuk memperluas pasar. Koku Footwear menggunakan fitur live shopping dan program afiliasi untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Kedua kanal tersebut membantu Koku Footwear memperkenalkan produknya kepada konsumen di dalam dan luar negeri.

Ekspor menjadi salah satu titik singgung yang paling terasa. Dalam keterangan resminya, Shopee Indonesia memaparkan bahwa Program Ekspor Shopee telah mengantarkan lebih dari 90 juta produk UMKM lokal terjual ke berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Timur, hingga Amerika Latin, sejak program tersebut diluncurkan pada 2019.

Dampak positif dari ekosistem marketplace itulah yang mendorong lonjakan omzet Koku Footwear, dari sekitar Rp1 miliar per tahun sebelum pandemi, menjadi stabil di kisaran Rp3 miliar pada 2023 hingga kini (pernah mencapai puncak angka Rp4,9 miliar pada 2024).

***

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kesuksesan sudah tergapai. Walakin, Indra masih menyimpan kegelisahan. Cibaduyut hari ini bukan lagi Cibaduyut yang ia kenal di masa kecil. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mencatat, jumlah perajin yang dulu ramai mencapai ratusan kini menyusut menjadi sekitar 50 perajin saja. Kebangkrutan produsen bahan baku sol kulit lokal di Magetan dan Malang sejak 2022 memaksa para perajin, termasuk Koku Footwear, beralih ke bahan impor.

"Sayangnya, Cibaduyut yang terkenal akan industri sepatu kulit ini tidak didukung oleh pendidikan formal terkait. Bahkan dahulu Cibaduyut terkenal oleh banyaknya perajin sepatu kelas Italia (blake stitch). Harapan saya, jika bisa didukung oleh pemerintah, adakan sekolahnya di Bandung, seperti di Yogyakarta, semacam politeknik industri kulit. Industri sepatu di Bandung ini selalu jadi barometer tertinggi secara nasional, baik model ataupun kekuatan tahan lamanya, jadi sangat memprihatinkan jika kian lama malah menuju kematian," tutur Indra.

Bagi Indra, digitalisasi lewat marketplace bukan sekadar soal menaikkan omzet pribadi. Ia menjadikannya alat untuk mempertahankan sesuatu yang sedang merapuh di Cibaduyut yaitu keahlian tangan para perajin sepatu kulit tengah kehilangan penerusnya. Kini, di sentra industri itu, juga bermunculan produsen yang lebih memilih bahan kulit imitasi, tapi Koku Footwear bergeming pada barometer kualitasnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)