AYOBANDUNG.ID – Mochamad Indra Yusuf Wahyudin tahu betul bagaimana membuat sepatu yang tahan lama. Kulit dipilih dengan cermat, jahitan dikerjakan dengan teliti, dan setiap pasang sepatu melewati tangan perajin yang sudah bertahun-tahun mengasah keahliannya.
Meki begitu Indra juga tahu ketekunan di meja kerja saja tidak cukup. Di belakang setiap transaksi yang lancar, infrastruktur keuangan harus bekerja sama rapinya dengan tangan para perajin.
Maka keputusan Indra memilih BRI sebagai mitra perbankan utama bukan lahir dari brosur. Justru muncul tak sengaja, dari intensitas pertemuannya dengan BRI di berbagai event pembinaan UMKM.
Sejak 2018, Indra aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung, lalu berlanjut ke BRIncubator 2023 yang ia menangkan sebagai juara pertama, hingga Brilianpreneur di Jakarta Convention Center. Semakin sering ia berada di ekosistem itu, semakin dalam pula kepercayaannya.
"Karena saya sering ikut event-event BRI, jadi saya lebih nyaman aja memilih BRI untuk partner pembayaran. Nanti juga saya rencananya untuk gajian karyawan mau pakai payroll BRI. Simpel dan ekosistemnya sudah di situ. Saya rasa juga lebih canggih fitur-fiturnya," ujar Indra, (26/5/2026) di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.
Langkah pertama yang ia lakukan adalah membuka rekening perusahaan BRI untuk Koku Footwear. Fondasi administratif yang memisahkan arus kas bisnis dari keuangan pribadi, sesuatu yang kerap menjadi titik lemah banyak pelaku UMKM.
Perubahan paling terasa di lini terdepan bisnis Koku Footwear adalah hadirnya mesin EDC dan merchant QRIS BRI di toko mereka. Sebelumnya, transaksi banyak bergantung pada transfer manual atau tunai. Kini, pelanggan yang datang langsung (maupun yang bertransaksi di pameran) bisa membayar hanya dengan mengarahkan kamera ponsel ke kode QR.
"Semua transaksi jadi tercatat otomatis. Kami bisa pantau pemasukan harian lebih rapi. Kalau dulu serba manual, sekarang datanya langsung masuk ke sistem," ungkapnya.
Sikap ekonomis yang dilakukan Indra ini sejatinya sejalan dengan apa yang ditekankan BRI soal peran QRIS dalam ekosistem usaha kecil.
"QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional. Perannya sangat masif dalam menciptakan ekosistem cashless — dari pasar tradisional, warung kopi, hingga merchant modern. QRIS membuat transaksi mikro menjadi cepat, transparan, dan efisien, sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku UMKM untuk mencatat omzet secara digital," kata Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung, dalam pernyataannya kepada ayobandung.id.
Lebih jauh, Dewi menegaskan bahwa QRIS bukan semata alat bayar.
"Bagi BRI, QRIS bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga pintu masuk bagi inklusi keuangan UMKM ke layanan perbankan yang lebih luas, termasuk pembiayaan," imbuhnya.
2 Peran Digitalisasi

Di luar keperluan bisnis, Indra juga menggunakan BRImo untuk kebutuhan perbankan pribadinya. Baginya, memiliki satu aplikasi yang bisa melayani transfer, pembayaran, hingga pemantauan keuangan sehari-hari adalah efisiensi yang nyata.
"Pribadi saya juga pakai BRImo. Praktis, semua ada di satu tempat," katanya singkat.
BRImo memang tengah berada di puncak pertumbuhannya. Per akhir Desember 2025, jumlah pengguna aktif BRImo mencapai 45,9 juta, tumbuh 18,9 persen secara tahunan. Sepanjang tahun yang sama, aplikasi ini melayani 5,60 miliar transaksi dengan total nilai Rp7.057 triliun. Tumbuh masing-masing 29 persen dan 26,1 persen dibanding tahun sebelumnya.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik korporasi. Di baliknya ada jutaan pelaku usaha seperti Indra yang menjadikan BRImo bagian dari rutinitas harian mereka.
"BRImo saat ini menjadi bagian dari gaya hidup nasabah kami. Nasabah kini dapat mengelola keuangan, membayar tagihan, membeli produk asuransi, hingga berinvestasi. seluruhnya dalam satu genggaman, 24 jam tanpa henti. BRImo bukan sekadar aplikasi mobile banking, tetapi telah menjadi gerbang utama interaksi nasabah dengan BRI," sambung Dewi.
Satu rencana besar Indra yang belum terwujud namun sudah matang di kepalanya: beralih ke sistem penggajian payroll BRI untuk seluruh karyawan dan perajinnya.
Bagi Indra, payroll adalah perpanjangan dari misinya menyejahterakan warga lokal Cibaduyut. Ia selama ini menekankan agar Koku Footwear membayar upah di atas standar kawasan yang kerap jauh dari UMP, lengkap dengan jaminan THR.
"Dengan payroll BRI nanti, gaji karyawan langsung masuk ke rekening masing-masing. Lebih transparan, lebih aman, dan karyawan punya rekening bank sendiri. Itu penting untuk mereka juga," jelas Indra.
Dengan 33 perajin dan 5 karyawan pemasaran yang tersebar di dua workshop dan satu toko, sistem penggajian yang terdigitalisasi akan menjadi lompatan signifikan. Tidak hanya bagi operasional Koku Footwear, tetapi bagi kesejahteraan para perajin yang selama ini menopang keberlangsungan sentra sepatu Cibaduyut.

***
Yang membuat Indra betah berada di ekosistem BRI bukan satu produk tunggal, melainkan keterpaduannya. Rekening perusahaan, mesin EDC, merchant QRIS, BRImo untuk kebutuhan personal, dan rencana payroll. Semuanya terhubung dalam satu atap.
Keterpaduan inilah yang memang menjadi strategi inti BRI.
"Kami mendesain BRILink dan BRImo untuk saling melengkapi dalam customer journey nasabah," kata Dewi. Ia menambahkan bahwa seluruh komponen ekosistem digital BRI, dari jaringan ATM, mesin EDC merchant, QRIS, hingga BRILink, dirancang untuk memperkuat satu sama lain, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Bagi pelaku UMKM yang sudah padat dengan urusan produksi, pemasaran, dan pengelolaan SDM, kemewahan terbesar adalah kesederhanaan. Tidak perlu berpindah-pindah platform, tidak perlu mengurus banyak akun di banyak bank.
"Ekosistemnya sudah di situ," tutup Indra. (*)
