Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)

WALI Kota Bandung, Muhammad Farhan, memastikan kebijakan jam malam bagi pelajar bakal kembali diberlakukan secara permanen dan dengan pengawasan yang lebih ketat. 

Kebijakan yang sempat dilonggarkan selama masa libur sekolah itu kini diaktifkan kembali sebagai upaya melindungi pelajar dari berbagai risiko kejahatan.

Lewat kebijakan jama malam, aktivitas pelajar di luar rumah akan dibatasi hingga pukul 21.00 WIB. Khusus pada malam Minggu, batas waktu tersebut direncanakan diperpanjang hingga pukul 24.00 WIB.

"Untuk para pelajar, jam malam diberlakukan kembali seperti yang dulu, dan akan ditegakkan secara lebih tegas," kata Farhan, Kamis (23/7/2026), seperti dikutip sejumlah media.

Menurut Farhan, kebijakan ini tidak didasari anggapan bahwa pelajar merupakan pelaku kejahatan. Sebaliknya, pemerintah ingin mencegah mereka terjerumus dalam tindak kriminal, baik sebagai pelaku maupun korban.

Pertanyaannya adalah: apa sebenarnya yang ingin dibangun dengan penerapan jam malam itu? Apakah kota yang benar-benar aman, atau kota yang sekadar tampak aman? 

Keduanya terdengar mirip. Namun, berbeda secara mendasar. Jalan yang sepi mungkin bisa memberi kesan tertib. Namun, kesan tidak selalu identik dengan kenyataan. 

Kota yang aman bukan diukur dari sedikitnya orang yang terlihat di ruang publik, melainkan dari kemampuan ruang publik itu sendiri melindungi siapa pun yang menggunakannya.

Pernyataan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bahwa jam malam bertujuan melindungi pelajar dari risiko menjadi pelaku maupun korban kejahatan, tentu saja, patut diapresiasi sebagai niat baik.

Setidaknya, pemerintah tidak sedang membangun narasi bahwa semua pelajar adalah sumber masalah. Justru sebaliknya, pelajar ditempatkan sebagai kelompok yang rentan. Cara pandang ini lebih sehat dibanding pendekatan yang langsung memberi stigma kepada mereka.

Namun niat baik tetap perlu diuji melalui pertanyaan yang lebih besar lagi. Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu? Apakah jalanan otomatis menjadi lebih aman? Ataukah sesungguhnya yang terjadi adalah risiko hanya dipindahkan dari individu ke ruang publik yang belum mampu memberikan rasa aman?

Dalam ilmu kriminologi, ada dikenal konsep crime prevention through environmental design (CPTED). Gagasan ini berkembang dari penelitian bahwa kejahatan tidak hanya dipengaruhi oleh niat pelaku, tetapi juga oleh desain lingkungan.

Penerangan jalan, keterbukaan pandangan, keberadaan aktivitas warga, kemudahan pengawasan, hingga kualitas ruang publik terbukti dapat mempengaruhi peluang terjadinya tindak kriminal. 

Dengan kata lain, keamanan lahir dari lingkungan yang dikelola dengan baik, bukan semata dari pembatasan pergerakan warga masyarakat.

Jalan yang dipenuhi aktivitas warga justru cenderung lebih aman karena banyak mata yang saling mengawasi secara alami. Kehadiran orang-orang biasa --pedagang, pejalan kaki, keluarga, pekerja -- menciptakan pengawasan sosial yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh kamera pengawas maupun patroli aparat. Jalan yang kosong justru sering kali menjadi ruang yang lebih mudah dimanfaatkan pelaku kejahatan.

Sudah barang tentu, kondisi setiap kota tidak sama. Bandung bukan New York. Begitu pula Indonesia memiliki karakter sosial yang berbeda dengan negara-negara Barat. 

Aka tetapi, prinsip dasarnya tetap sama. Ruang publik yang hidup biasanya lebih aman dibanding ruang publik yang ditinggalkan. Karena itu, mengosongkan jalan tidak otomatis memperbaiki keamanan jika faktor-faktor penyebab kejahatan masih tetap dibiarkan

Jika suatu kawasan rawan begal karena penerangan buruk dan minim patroli, maka memperbaiki lampu jalan dan meningkatkan kehadiran petugas akan memberi manfaat bagi semua orang, bukan hanya bagi pelajar.

Keberanian mencoba

Masa remaja identik dengan keberanian mencoba hal-hal baru, mencari identitas, dan kecenderungan mengambil risiko. Karena itulah, remaja sangat membutuhkan perlindungan.

Namun demikian, perlindungan tidak selalu berarti harus lewat pembatasan. Lingkungan yang menyediakan aktivitas positif, ruang berekspresi, dan relasi sosial yang sehat jauh lebih efektif membentuk perilaku dibanding sekadar larangan tanpa alternatif.

Problemnya, kota-kota di Indonesia sering kali miskin ruang publik yang ramah remaja. Akibatnya, setelah aktivitas sekolah usai, pilihan mereka terbatas. Perpustakaan tidak buka hingga malam, fasilitas olahraga terbatas, ruang seni masih minim. 

Maka, pada saat yang sama, pusat perbelanjaan menjadi satu-satunya tempat berkumpul yang relatif nyaman. Ketika pilihan ruang sehat semakin sedikit, larangan keluar malam bisa terasa seperti menutup pintu bagi mereka tanpa membuka jalan lain.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)

Dari perspektif ekonomi perkotaan, malam hari merupakan salah bagian penting dari kehidupan kota. Kota modern tidak berhenti beraktivitas setelah pukul sembilan malam.

Realitanya, tak sedikit pelajar mengikuti kursus, latihan olahraga, kegiatan keagamaan, organisasi, atau membantu usaha keluarga hingga malam. Karena itu, kebijakan jam malam selalu memerlukan pengecualian yang jelas agar tidak tanpa sengaja membatasi aktivitas yang justru produktif.

Lahir dari analisis

Setiap aturan idealnya dibangun di atas data, bukan sekadar niat baik. Terkait jam malam bagi pelajar, maka pertanyaannya kemudian yaitu berapa banyak kasus kriminal di Bandung yang benar-benar melibatkan pelajar pada malam hari? Jenis kejahatan apa yang paling sering terjadi? Di wilayah mana? Apakah jam malam sebelumnya terbukti menurunkan angka kejahatan secara signifikan? 

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu penting agar publik memahami bahwa kebijakan lahir dari analisis, bukan sekadar asumsi.

Bila ternyata data menunjukkan sebagian besar korban kriminalitas memang terjadi pada malam hari dan melibatkan pelajar, maka jam malam bisa dipahami sebagai salah satu bentuk mitigasi risiko. 

Tetapi, bila datanya tidak menunjukkan hubungan yang kuat, pemerintah perlu berhati-hati agar kebijakan tidak menjadi solusi yang tampak sederhana untuk persoalan yang jauh lebih kompleks.

Pembatasan kebebasan warga harus memenuhi prinsip proporsionalitas. Negara memang memiliki kewajiban melindungi anak, tetapi cara perlindungan itu harus seimbang dengan hak warga untuk bergerak, belajar, berorganisasi, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Semakin luas pembatasan diberlakukan, semakin besar pula kebutuhan akan pijakan empiris yang kuat.

Rasa percaya masyarakat

Ketika pemerintah menyampaikan bahwa pelajar sebaiknya tidak berada di luar rumah karena berbahaya, secara tidak langsung muncul pesan bahwa ruang publik di Kota Bandung setelah jam tertentu memang tidak aman. Jika pesan ini terus menguat, masyarakat bisa saja kehilangan kepercayaan terhadap kualitas keamanan Kota Bandung.

Ini bukan berarti kebijakan jam malam pasti keliru. Dalam kondisi tertentu, kebijakan semacam ini bisa menjadi langkah sementara ketika ancaman meningkat atau ketika situasi keamanan memang membutuhkan tindakan cepat. 

Tetapi. kebijakan sementara seharusnya berjalan beriringan dengan upaya memperbaiki akar masalah. Jika tidak, jam malam berpotensi berubah menjadi rutinitas yang diterima begitu saja tanpa pernah menyelesaikan akar penyebab utamanya.

Pengalaman banyak kota di dunia menunjukkan bahwa penurunan kejahatan biasanya tidak lahir dari satu kebijakan tunggal. Ia merupakan hasil kombinasi antara penataan ruang, peningkatan kualitas pendidikan, patroli yang efektif, pencahayaan jalan, pemberdayaan masyarakat, layanan kesehatan mental, hingga peluang ekonomi yang lebih baik. Keamanan adalah hasil kerja ekosistem, bukan hasil dari satu aturan atau satu kebijakan.

Dalam konteks keamanan Kota Bandung, tantangan sesungguhnya mungkin bukan sekadar memastikan para pelajar berada di rumah sebelum pukul sembilan malam. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membuat pelajar merasa aman jika suatu hari mereka memang harus berada di luar pada malam hari karena alasan yang sah. 

Kota yang sehat bukan kota yang memaksa semua orang pulang lebih cepat, melainkan kota yang tetap mampu melindungi warganya ketika mereka beraktivitas di luar rumah pada jam kapan pun.

Rasa aman lahir dari tata kelola yang baik, lingkungan yang terawat, penegakan hukum yang konsisten, dan kepercayaan bahwa kota benar-benar berpihak kepada segenap warganya.

Kalaupun jam malam memang dipilih sebagai salah satu instrumen kebijakan, ia sebaiknya dipahami sebagai pelengkap, bukan tujuan akhir. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 15:11

Hari Anak Nasional Menjadi Momen Tumbuhnya Generasi Kuat dan Cerdas

Seharusnya peringatan Hari Anak Nasional dijadikan momentum penting untuk membangun anak-anak yang kuat dan cerdas.

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 14:39

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Status quo tidak selalu bertahan karena kritik dibungkam, tetapi karena perhatian kita terlalu mudah dialihkan.

Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 13:33

Sayembara Tangkap Begal dan Batas Tanggung Jawab Negara

Keamanan merupakan salah satu alasan paling fundamental mengapa negara dibentuk.

Ilustrasi sayembara tangkap begal. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)