Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

8 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID -- Di atas lahan 261 hektare yang lebih dari separuhnya sawah, dengan populasi hanya sekitar 25.028 jiwa, Desa Margamukti tidak punya banyak hal untuk dibanggakan di atas kertas. Bukan desa wisata. Bukan desa industri. Tidak punya kuliner khas, tidak punya warisan budaya yang membedakannya dari desa-desa tetangga di Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang.

Tapi justru dari desa yang "biasa saja" inilah sebuah model ekonomi diam-diam tumbuh dari bawah dan kini mendapat pengakuan nasional dengan masuk 15 Besar Desa BRILiaN 2025 Batch 1, program pemberdayaan desa yang diinisiasi Bank Rakyat Indonesia (BRI) bersama Universitas Airlangga.

Pertanyaannya sederhana: bagaimana bisa?

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari ini, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

"Jadi dulu itu kita banyak sekali masalah, mulai dari masalah sampah, angka pengangguran juga tinggi, dan stunting juga mengkhawatirkan. Roda putaran ekonomi di desa ini sama sekali tidak berjalan," kata Iman Romansyah, KAUR Umum Tata Usaha sekaligus Koordinator BUMDes Marga Makmur, saat ditemui di Kantor Desa Margamukti, (22/5/2026).

Kondisi seperti itu sebenarnya bukan hal asing di banyak desa. Yang kemudian membuat Margamukti berbeda bukan kondisi awalnya, melainkan cara mereka meresponsnya.

Kepala Desa terpilih, Siti Nuraeni Sofa, memilih pendekatan yang tidak lazim: menyelesaikan masalah-masalah tersebut secara akademik. Perangkat desa disesuaikan dengan keilmuan dan kemampuan masing-masing. Setiap masalah (termasuk sampah yang selama ini hanya jadi beban) dirancang ulang menjadi peluang. Dari masalah sampah, misalnya, lahirlah tim pengelolaan sampah dengan sistem sirkulasi ekonomi.

Tapi perubahan paling mendasar bukan soal program, melainkan cara berpikir.

Salah satu langkah paling berani yang diambil pemerintah Desa Margamukti adalah mengubah cara penyaluran bantuan sosial yang selama ini cenderung pasif dan tidak mendidik.

"Kita membuat inovasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, yang bisa menggiring warga untuk proaktif membangun desa. Jadi kami meningkatkan rasa sosial kultural," jelas Iman.

Program bantuan yang biasanya dibagikan secara asal dalam bentuk nominal diubah menjadi program berbasis hak dan kewajiban. Warga baru mendapat reward jika aktif dalam kegiatan pemerintah desa atau proaktif dalam membangun mental wirausaha. Reward pun tidak diberikan dalam bentuk uang tunai mentah, melainkan disesuaikan dengan keterampilan masing-masing: ayam dan kandang bagi yang mampu beternak, modal usaha bagi yang bisa berdagang, pupuk bagi yang bertani.

"Misalkan yang rajin per bulan ini ada 500 orang, maka kami berikan sesuai dana desa sesuai dengan keterampilan mereka. Semua itu dikontrol oleh BUMDes," sambung Iman.

Perubahan pola pikir ini juga menyentuh internal BUMDes sendiri. Rekrutmen karyawan BUMDes Marga Makmur tidak didasarkan pada kedekatan personal atau nepotisme, melainkan pada desil ekonomi (dengan mayoritas karyawan diambil dari kategori sangat miskin yang aktif dan memiliki jiwa usaha), namun belum punya akses permodalan.

"Pertimbangan merekrut karyawan berdasarkan desil itu salah satu tujuannya untuk KPI desa, terkhusus Indeks Desa Membangun. Otomatis kami harus mengurangi taraf hidup masyarakat, harus mengurangi jumlah masyarakat tidak mampu," terang Iman.

Hasilnya bukan sekadar klaim. Selama tiga tahun berturut-turut, Desa Margamukti meraih penghargaan SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) empat kali berturut-turut. Penghargaan yang penilaiannya kompleks dan berbasis tiga indikator nyata: penurunan angka kemiskinan, penurunan stunting, dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

Membangun Sistem, Bukan Sekadar Produk

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kunci sesungguhnya dari keberhasilan Margamukti, dan sekaligus bagian yang paling sering luput dari perhatian, adalah sistem yang dirancang sangat solid. Fondasi ini meliputi hampir segala hal yang dikelola oleh ekonomi desa.

"Secara umum potensi Desa Margamukti ini sebetulnya mirip-mirip dengan desa-desa tetangga yang demografis atau geografisnya sama. Kita untuk menciptakan suatu yang unik, produk atau makanan, itu memang susah. Kita tidak punya keunikan khas, baik sosial, budaya, ataupun makanan. Tetapi menciptakan suatu sistem wirausaha, itulah yang kami coba gali di sini," ungkap Iman.

BUMDes Marga Makmur, yang dibentuk berdasarkan Peraturan Desa Margamukti Nomor 7 Tahun 2021, memilih dua unit usaha unggulan: budidaya melon premium dan peternakan ayam kampung. Keduanya bukan produk yang eksotis. Banyak desa bisa membudidayakannya. Tapi Margamukti membangun sesuatu yang lebih sulit ditiru: ekosistem jaringan dari produksi sampai pemasaran yang berdiri di atas kaki sendiri.

"Misalkan gini, produk BUMDes Marga Makmur ini adalah melon dan ayam, saya yakin semua desa juga bisa membudidayakannya. Tetapi sampai menciptakan ekosistem jaringan usaha, dari mulai produksi sampai pemasaran, yang tidak bergantung pada rantai distribusi orang lain, itu yang paling susah," kata Iman.

Untuk melon premium, BUMDes Marga Makmur menggunakan teknologi greenhouse yang memungkinkan dihasilkannya melon bermutu premium hingga 90 persen. Varietas melon premium mereka memiliki tingkat kemanisan rata-rata 14 brix, dengan ongkos produksi yang efisien—hanya sekitar Rp7.000 per tanaman. Hasilnya dijual di kisaran Rp30.000 hingga Rp45.000 per kilogram, ke klien-klien tetap seperti hotel, toko buah premium (Rumah Buah, Omah Buah), dan jaringan supermarket seperti Griya.

Perjuangan membangun jaringan ini tidak instan. Butuh tiga tahun (sejak 2022) untuk menciptakan ekosistem yang kini menjangkau se-Jawa Barat. Salah satu pengurusnya bahkan menjadi Ketua Asosiasi Melon Premium Jawa Barat, menjadikan Margamukti sebagai induk dari plasma-plasma di asosiasi tersebut.

"Jaringan sudah kuat, rantai distribusi sudah kuat, otomatis karena kita yang punya pasar dan segmentasi maka harga tidak akan ditentukan oleh orang lain. Kita yang menentukan harga dan inilah enaknya," kata Iman dengan bangga.

Untuk unit ayam kampung, pemilihan jenis ayam KUB Sentul adalah hasil dari percobaan-percobaan sebelumnya yang tidak selalu berhasil, tapi selalu memberikan pelajaran. Unit ini kini dikelola oleh generasi milenial, termasuk seorang warga desa yang pernah mendapat beasiswa kuliah dari BUMDes.

Secara angka, omzet melon premium mencapai Rp18 juta–Rp25 juta per bulan, sementara ayam kampung menghasilkan Rp6 juta–Rp10 juta per bulan. Gabungan keduanya berpotensi menyentuh Rp35 juta per bulan. Sebuah angka yang tidak kecil untuk desa dengan populasi 216 jiwa.

"Kalau secara brand dan keunikan, melon premium ini memang lebih menjanjikan dan menjadi kebanggaan tersendiri untuk BUMDes dari Desa Margamukti. Meski begitu, ternak ayam kampung ini masih vital, karena menjadi stabilitas cash flow bagi BUMDes," papar Iman.

Di antara tiga unit usaha unggulan BUMDes Marga Makmur, satu di antaranya tidak menghasilkan buah atau daging. Agen BRILink — unit layanan keuangan yang beroperasi di kantor desa — bekerja di momen yang lebih krusial: memastikan warga punya akses terhadap layanan perbankan.

Keberadaan BRILink awalnya adalah syarat administratif program Desa BRILiaN. Tapi Margamukti memberi nyawa lebih pada keberadaannya.

"Meskipun secara fungsi BRILink di BUMDes Marga Makmur ini punya fitur-fitur yang sama sebagaimana BRILink lain, tetapi kami menetapkan aturan yang jangan sampai menyaingi apalagi mematikan usaha warga," jelas Iman.

Caranya: BRILink milik BUMDes difokuskan pada transaksi besar (penyaluran dana sosial seperti PKH dan BPNT) sementara transaksi kecil harian diserahkan kepada warga yang juga mengelola BRILink mereka sendiri. Sebuah pembagian peran yang sederhana, tapi mencerminkan cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan: tidak tamak, dan selalu mempertanyakan siapa yang paling membutuhkan.

Bagi kelompok paling rentan (lansia dan keluarga prasejahtera penerima PKH dan BPNT) kehadiran agen di kantor desa memangkas jarak yang selama ini menjadi hambatan nyata.

Pengakuan Nasional, Ketika Esensi Lebih Kuat dari Seremoni

Iman Romansyah (baju orange), KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes Margamukti, Sumedang, bersama seorang warga peternak ayam, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Iman Romansyah (baju orange), KAUR Umum Tata Usaha dan Koordinator BUMDes Margamukti, Sumedang, bersama seorang warga peternak ayam, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung (Region 9), menjelaskan bahwa program Desa BRILiaN menggunakan empat indikator seleksi yang ketat: keberadaan BUMDes yang aktif dan beroperasi, inovasi desa dalam memecahkan persoalan ekonomi lokal, tingkat digitalisasi dan pemanfaatan produk perbankan, serta keberlanjutan program ekonomi yang sudah berjalan.

"Di luar empat indikator tersebut, komitmen aparat desa dan partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci. Kami percaya, tanpa kepemimpinan lokal yang kuat, program apa pun akan sulit berkelanjutan," papar Dewi.

Margamukti memenuhi semuanya. BUMDes aktif dengan beberapa unit usaha yang berjalan nyata, inovasi sirkular ekonomi yang sudah diakui Pemerintah Kabupaten sejak 2023, pemanfaatan BRILink, dan program ekonomi yang bukan sekadar proyek sesaat.

Di wilayah kerja BRI Regional Office Bandung sendiri, kini terdapat 495 Desa BRILiaN yang tersebar di seluruh Jawa Barat, dengan 17 desa baru yang masuk pada 2026. Keberhasilan Margamukti, menurut Dewi, mencerminkan dampak berlapis yang ingin dicapai program ini: peningkatan kapasitas UMKM, terciptanya lapangan kerja baru yang menekan urbanisasi, tata kelola keuangan BUMDes yang lebih profesional, serta integrasi rantai pasok lokal yang lebih kuat sehingga nilai tambah tetap berada di tangan masyarakat desa.

Di tingkat nasional, BUMDes Marga Makmur pada 2025 masuk kategori BUMDes Maju dalam perangkingan Kementerian Desa; level tertinggi dalam penilaian Kemendes yang kriterianya mencakup laporan keuangan dan persentase masyarakat yang berhasil diberdayakan.

***

Masuk 15 Besar Desa BRILiaN 2025 bukan titik akhir bagi Margamukti. Iman menyebutnya sebagai momentum; dan sekaligus tuntutan untuk terus bergerak.

Yang lebih penting dari penghargaan, bagi Margamukti, adalah agar pengakuan ini tidak berhenti menjadi seremoni. Mereka berharap BRI, sebagai BUMN, benar-benar memahami kebutuhan BUMDes di lapangan dan hadir secara konsisten, bukan hanya di momen kompetisi.

"Kita ingin Desa BRILiaN ini bisa memberikan manfaat tidak hanya sekadar program untuk diselebrasikan. Bahwa BRI, sebagai BUMN, bisa benar-benar paham apa yang dibutuhkan oleh BUMDes," tutup Iman.

Harapan itu sejalan dengan apa yang BRI sendiri canangkan. Dewi Hestiningrum menegaskan bahwa keberlanjutan dijaga melalui pendampingan Mantri BRI secara rutin, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta penghubungan produk unggulan desa ke pasar yang lebih luas, baik lewat pameran, platform digital, maupun jaringan mitra BRI.

Pada akhirnya, cerita Margamukti bukan tentang melon yang manis atau ayam kampung yang gurih. Ia tentang sebuah desa yang memilih membangun esensi (sistem, kepercayaan, dan ekosistem) jauh sebelum bicara tentang penghargaan. Dan ketika penghargaan itu datang, fondasinya sudah cukup kuat untuk menanggungnya.

Melon dijual ke pasar modern. Ayam kampung diminati konsumen lokal hingga luar desa. BRILink memastikan uang bantuan pemerintah sampai ke tangan yang tepat. Semuanya bekerja, bukan karena keajaiban, tapi karena ada sistem yang dibangun dengan serius, dari desa yang dulunya biasa saja. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 21 Jul 2026, 11:51

Debu Kapur Tak Kenal Batas Administratif, Derita Warga Cipatat Berlanjut

Sejauh ini, arah angin itu selalu membawa debu ke rumah-rumah warga, bukan ke meja rapat para pejabat yang seharusnya menanganinya sejak lama.

Pemandangan udara menunjukkan aktivitas pabrik pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat, yang dilalui jalur utama penghubung Bandung menuju Padalarang dan Cianjur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 10:34

Adaptasi Batik terhadap Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Modern

Adaptasi kain batik terhadap tren di era modern.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 10:33

Tamasya ke Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda di Bungbulang

Panduan lengkap wisata Leuwi Jurig Garut, mulai dari harga tiket, jam buka, rute menuju lokasi, fasilitas, hingga peringatan keselamatan saat berenang.

Leuwi Jurig Bungbulang Garut. (Sumber: YouTube budi ahmadr)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 09:41

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Di balik sebuah monumen, ternyata tumbuh ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 19:14

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati.

Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 18:01

Darurat Penerangan dan Melonjaknya Kriminalitas di Jalanan Kota Bandung

Bandung kini berbeda dan kenyamanan kotanya tak lagi sama. Kian hari tingkat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas kian menjamur tanpa ada solusi yang nyata untuk menyelesaikannya.

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)