Bandung selalu memiliki cara untuk membuat dirinya dikenang. Kota ini pernah menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika, melahirkan banyak gagasan kebudayaan, pendidikan, seni, musik, teknologi, hingga industri kreatif. Bandung juga memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat ekonomi, pendidikan, perdagangan, pariwisata, dan kreativitas di Indonesia.
Namun, memasuki era ketika kota-kota dunia saling berlomba menjadi pusat ekonomi, teknologi, budaya dan inovasi, Bandung menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana: mampukah Bandung benar-benar menjadi global city, atau sekadar menjadi kota besar yang terkenal tetapi belum memiliki daya saing internasional yang kuat?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan di tengah krisis global yang berlapis. Ketegangan geopolitik, perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, transformasi teknologi, kecerdasan buatan, perubahan pola kerja, dan meningkatnya biaya hidup menciptakan tekanan baru bagi kota-kota dunia.
Bagi masyarakat Bandung, krisis global bukan sesuatu yang berada jauh di luar sana. Ia hadir dalam harga kebutuhan hidup, kesempatan kerja, biaya pendidikan, kemacetan, kualitas udara, harga hunian, dan semakin sulitnya mempertahankan standar kehidupan yang layak.
Karena itu, ambisi menjadi global city tidak boleh berhenti pada pembangunan gedung, kawasan komersial, hotel, pusat perbelanjaan, atau festival internasional. Kota global pertama-tama harus menjadi kota yang mampu membuat warganya hidup secara bermartabat.
Bandung dan modal sebagai kota global. Bandung sebenarnya mempunyai modal yang cukup kuat. Kota ini memiliki universitas, komunitas kreatif, pelaku ekonomi digital, industri fesyen, kuliner, seni pertunjukan, musik, desain, teknologi informasi, serta jaringan masyarakat sipil yang relatif hidup.
Bandung juga memiliki daya tarik sejarah dan budaya yang tidak dimiliki banyak kota lain. Warisan Konferensi Asia-Afrika memberikan identitas historis sebagai kota yang pernah menjadi panggung diplomasi dunia.
Sebuah global city membutuhkan kemampuan yang lebih kompleks: konektivitas internasional, kualitas sumber daya manusia, infrastruktur modern, transportasi publik yang efisien, ekosistem inovasi, pemerintahan yang transparan, lingkungan yang sehat, keamanan, kualitas hidup, serta kemampuan menarik investasi dan talenta dari berbagai penjuru dunia.
Dengan kata lain, Bandung tidak cukup hanya menjadi kota yang dikunjungi. Bandung harus menjadi kota yang diperhitungkan. Masalahnya, dunia sedang mengalami paradoks. Di satu sisi, teknologi berkembang luar biasa cepat. Kecerdasan buatan, ekonomi digital, otomasi dan jaringan global membuka kesempatan baru.
Di sisi lain, masyarakat menghadapi ketidakpastian pekerjaan, tekanan biaya hidup, kesenjangan ekonomi dan ancaman perubahan iklim. Bandung berada tepat di tengah paradoks tersebut. Kota ini ingin bergerak menuju ekonomi digital dan kreatif, tetapi sebagian masyarakat masih berjuang memperoleh pekerjaan yang stabil.
Kota ingin menarik investasi, tetapi harga tanah dan hunian dapat semakin sulit dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah. Kota ingin menjadi destinasi wisata internasional, tetapi kemacetan dan persoalan transportasi dapat mengurangi kenyamanan.
Kota ingin menjadi smart city, tetapi kecanggihan aplikasi pemerintahan tidak akan banyak berarti jika warga masih kesulitan memperoleh pelayanan dasar yang cepat dan adil. Di sinilah ukuran kota global harus dikembalikan kepada manusia. Global city bukan kota yang kehilangan warganya.
Kota global membutuhkan mobilitas yang cepat, murah, aman dan terintegrasi. Bandung masih menghadapi persoalan kemacetan, dominasi kendaraan pribadi, keterbatasan integrasi antarmoda, serta hubungan transportasi dengan kawasan metropolitan yang lebih luas.

Padahal aktivitas masyarakat Bandung tidak berhenti pada batas administratif kota. Bandung terhubung erat dengan Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Sumedang dan kawasan metropolitan Bandung Raya. Karena itu, Bandung tidak dapat membangun dirinya sendiri. Diperlukan tata kelola metropolitan yang mampu mengintegrasikan transportasi, tata ruang, kawasan industri, perumahan, pengelolaan sampah, air, energi dan lingkungan.
Sisi lain yang perlu didorong adalah Bandung sebagai smart city harus berarti smart governance, smart mobility, smart economy, smart environment, dan pada akhirnya smart citizen. Lingkungan Bandung tidak boleh menjadi kota yang sesak dengan persoalan yang lebih mendasar: daya dukung lingkungan. Bandung berada dalam cekungan yang menghadapi persoalan kualitas udara, kepadatan, banjir, sampah, tekanan terhadap ruang terbuka hijau dan perubahan tata guna lahan.
Kota global abad ke-21 tidak dapat dibangun dengan paradigma abad ke-20. Kota masa depan harus rendah karbon, adaptif terhadap perubahan iklim, memiliki transportasi publik yang kuat, ruang hijau yang memadai, sistem pengelolaan sampah modern, serta perlindungan terhadap sumber air.
Karena itu, pembangunan Bandung harus mempertanyakan setiap proyek dari satu sudut sederhana: Apakah pembangunan ini membuat kota lebih layak dihuni dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang? Jika jawabannya tidak, maka pembangunan tersebut perlu ditinjau kembali.
Sebab global city tidak boleh diukur hanya dengan jumlah wisatawan, investasi atau gedung baru. Ia juga harus diukur melalui pertanyaan: Apakah warga dapat berjalan kaki dengan aman? Apakah anak-anak memperoleh pendidikan berkualitas? Apakah udara dapat dihirup dengan nyaman? Apakah transportasi publik dapat diandalkan? Apakah warga miskin memiliki ruang hidup? Apakah pekerja memperoleh pekerjaan layak? Apakah lansia dan penyandang disabilitas dapat menggunakan ruang publik? Apakah masyarakat dapat memperoleh pelayanan pemerintah tanpa birokrasi yang berbelit?

Jika jawabannya belum, maka pekerjaan Bandung sebagai kota global masih jauh dari selesai. Bandung harus berani berpikir melampaui batas administratif. Persoalan Bandung tidak dapat diselesaikan oleh Pemerintah Kota Bandung sendirian.
Bandung harus memilih model globalisasinya sendiri. Pada akhirnya, Bandung tidak harus menjadi tiruan Singapura, Seoul, Tokyo, Melbourne atau kota global lainnya. Bandung harus menemukan modelnya sendiri. Kota global tidak harus kehilangan karakter lokal.
Justru dalam ekonomi dunia yang semakin seragam, identitas lokal dapat menjadi kekuatan kompetitif. Bandung memiliki bahasa, sejarah, arsitektur, kuliner, kesenian, kreativitas, komunitas, lanskap dan tradisi yang dapat menjadi soft power. (*)