Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Mampukah Bandung benar-benar menjadi global city, atau sekadar menjadi kota besar yang terkenal tetapi belum memiliki daya saing internasional yang kuat?

  • Ambisi menjadi global city tidak boleh berhenti pada pembangunan gedung, kawasan komersial, hotel, pusat perbelanjaan, atau festival internasional.

  • Jika jawabannya belum, maka pekerjaan Bandung sebagai kota global masih jauh dari selesai. Bandung harus berani berpikir melampaui batas administratif.

Bandung selalu memiliki cara untuk membuat dirinya dikenang. Kota ini pernah menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika, melahirkan banyak gagasan kebudayaan, pendidikan, seni, musik, teknologi, hingga industri kreatif. Bandung juga memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat ekonomi, pendidikan, perdagangan, pariwisata, dan kreativitas di Indonesia.

Namun, memasuki era ketika kota-kota dunia saling berlomba menjadi pusat ekonomi, teknologi, budaya dan inovasi, Bandung menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana: mampukah Bandung benar-benar menjadi global city, atau sekadar menjadi kota besar yang terkenal tetapi belum memiliki daya saing internasional yang kuat?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan di tengah krisis global yang berlapis. Ketegangan geopolitik, perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, transformasi teknologi, kecerdasan buatan, perubahan pola kerja, dan meningkatnya biaya hidup menciptakan tekanan baru bagi kota-kota dunia.

Bagi masyarakat Bandung, krisis global bukan sesuatu yang berada jauh di luar sana. Ia hadir dalam harga kebutuhan hidup, kesempatan kerja, biaya pendidikan, kemacetan, kualitas udara, harga hunian, dan semakin sulitnya mempertahankan standar kehidupan yang layak.

Karena itu, ambisi menjadi global city tidak boleh berhenti pada pembangunan gedung, kawasan komersial, hotel, pusat perbelanjaan, atau festival internasional. Kota global pertama-tama harus menjadi kota yang mampu membuat warganya hidup secara bermartabat.

Bandung dan modal sebagai kota global. Bandung sebenarnya mempunyai modal yang cukup kuat. Kota ini memiliki universitas, komunitas kreatif, pelaku ekonomi digital, industri fesyen, kuliner, seni pertunjukan, musik, desain, teknologi informasi, serta jaringan masyarakat sipil yang relatif hidup.

Bandung juga memiliki daya tarik sejarah dan budaya yang tidak dimiliki banyak kota lain. Warisan Konferensi Asia-Afrika memberikan identitas historis sebagai kota yang pernah menjadi panggung diplomasi dunia.

Sebuah global city membutuhkan kemampuan yang lebih kompleks: konektivitas internasional, kualitas sumber daya manusia, infrastruktur modern, transportasi publik yang efisien, ekosistem inovasi, pemerintahan yang transparan, lingkungan yang sehat, keamanan, kualitas hidup, serta kemampuan menarik investasi dan talenta dari berbagai penjuru dunia.

Dengan kata lain, Bandung tidak cukup hanya menjadi kota yang dikunjungi. Bandung harus menjadi kota yang diperhitungkan. Masalahnya, dunia sedang mengalami paradoks. Di satu sisi, teknologi berkembang luar biasa cepat. Kecerdasan buatan, ekonomi digital, otomasi dan jaringan global membuka kesempatan baru.

Di sisi lain, masyarakat menghadapi ketidakpastian pekerjaan, tekanan biaya hidup, kesenjangan ekonomi dan ancaman perubahan iklim. Bandung berada tepat di tengah paradoks tersebut. Kota ini ingin bergerak menuju ekonomi digital dan kreatif, tetapi sebagian masyarakat masih berjuang memperoleh pekerjaan yang stabil.

Kota ingin menarik investasi, tetapi harga tanah dan hunian dapat semakin sulit dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah. Kota ingin menjadi destinasi wisata internasional, tetapi kemacetan dan persoalan transportasi dapat mengurangi kenyamanan.

Kota ingin menjadi smart city, tetapi kecanggihan aplikasi pemerintahan tidak akan banyak berarti jika warga masih kesulitan memperoleh pelayanan dasar yang cepat dan adil. Di sinilah ukuran kota global harus dikembalikan kepada manusia. Global city bukan kota yang kehilangan warganya.

Kota global membutuhkan mobilitas yang cepat, murah, aman dan terintegrasi. Bandung masih menghadapi persoalan kemacetan, dominasi kendaraan pribadi, keterbatasan integrasi antarmoda, serta hubungan transportasi dengan kawasan metropolitan yang lebih luas.

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Padahal aktivitas masyarakat Bandung tidak berhenti pada batas administratif kota. Bandung terhubung erat dengan Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Sumedang dan kawasan metropolitan Bandung Raya. Karena itu, Bandung tidak dapat membangun dirinya sendiri. Diperlukan tata kelola metropolitan yang mampu mengintegrasikan transportasi, tata ruang, kawasan industri, perumahan, pengelolaan sampah, air, energi dan lingkungan.

Sisi lain yang perlu didorong adalah Bandung sebagai smart city harus berarti smart governance, smart mobility, smart economy, smart environment, dan pada akhirnya smart citizen. Lingkungan Bandung tidak boleh menjadi kota yang sesak dengan persoalan yang lebih mendasar: daya dukung lingkungan. Bandung berada dalam cekungan yang menghadapi persoalan kualitas udara, kepadatan, banjir, sampah, tekanan terhadap ruang terbuka hijau dan perubahan tata guna lahan.

Kota global abad ke-21 tidak dapat dibangun dengan paradigma abad ke-20. Kota masa depan harus rendah karbon, adaptif terhadap perubahan iklim, memiliki transportasi publik yang kuat, ruang hijau yang memadai, sistem pengelolaan sampah modern, serta perlindungan terhadap sumber air.

Karena itu, pembangunan Bandung harus mempertanyakan setiap proyek dari satu sudut sederhana: Apakah pembangunan ini membuat kota lebih layak dihuni dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang? Jika jawabannya tidak, maka pembangunan tersebut perlu ditinjau kembali.

Sebab global city tidak boleh diukur hanya dengan jumlah wisatawan, investasi atau gedung baru. Ia juga harus diukur melalui pertanyaan: Apakah warga dapat berjalan kaki dengan aman? Apakah anak-anak memperoleh pendidikan berkualitas? Apakah udara dapat dihirup dengan nyaman? Apakah transportasi publik dapat diandalkan? Apakah warga miskin memiliki ruang hidup? Apakah pekerja memperoleh pekerjaan layak? Apakah lansia dan penyandang disabilitas dapat menggunakan ruang publik? Apakah masyarakat dapat memperoleh pelayanan pemerintah tanpa birokrasi yang berbelit?

Jika jawabannya belum, maka pekerjaan Bandung sebagai kota global masih jauh dari selesai. Bandung harus berani berpikir melampaui batas administratif. Persoalan Bandung tidak dapat diselesaikan oleh Pemerintah Kota Bandung sendirian.

Bandung harus memilih model globalisasinya sendiri. Pada akhirnya, Bandung tidak harus menjadi tiruan Singapura, Seoul, Tokyo, Melbourne atau kota global lainnya. Bandung harus menemukan modelnya sendiri. Kota global tidak harus kehilangan karakter lokal.

Justru dalam ekonomi dunia yang semakin seragam, identitas lokal dapat menjadi kekuatan kompetitif. Bandung memiliki bahasa, sejarah, arsitektur, kuliner, kesenian, kreativitas, komunitas, lanskap dan tradisi yang dapat menjadi soft power. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)