Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Ada aroma zaman yang seolah ikut keluar dari lembar-lembar kertas yang mulai menguning. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970, terbit 56 tahun silam.
Sampul depannya menampilkan sosok Hastarita Abdullah, sementara halaman sampul belakang atau back cover menghadirkan Trio Nindya Sisters. Di antara keduanya, tersaji beragam cerita tentang selebritas, musik, mode, kehidupan sosial, politik, hingga kisah-kisah rumah tangga yang menjadi warna khas majalah hiburan pada zamannya.
Hastarita Abdullah, Gadis Wajah Sampul Selecta
Hastarita Abdullah masih berusia 17 tahun ketika wajahnya menghiasi sampul Majalah Selecta edisi Oktober 1970.
Hastarita merupakan putri seorang dokter terkenal, dr. Abdullah, yang berdinas di Jakarta. Di usia yang masih sangat muda, ia telah memasuki dunia modelling sebagai peragawati dan kerap tampil dalam berbagai peragaan busana yang berlangsung di Ibu Kota Jakarta.
Nama Rita, demikian ia dikenal, juga sempat muncul sebagai bintang tamu dalam film "Bunga-bunga pun Berguguran".
Sosoknya di sampul Selecta menjadi salah satu potret menarik tentang dunia mode dan hiburan Indonesia pada awal dekade 1970-an.
Nindya Sisters, Tiga Saudari dari Solo
Jika sampul depan menghadirkan Hastarita Abdullah, maka sampul belakang Selecta edisi ini menampilkan Trio Nindya Sisters, kelompok vokal asal Solo yang cukup dikenal pada era 1970-an.
Trio ini beranggotakan tiga saudari, yakni Srie Nurdewati Kandiningsih (Nuning), Diah Restuwati Kandiningsih (Didit), dan Nandi Rahayu Harisetyo Kandiningsih (Jajuk).
Nindya Sisters kemudian turut mewarnai blantika musik Indonesia. Debut album rekaman mereka bertajuk "Selamat Datang Ceria".
Melihat kembali nama dan wajah mereka di sampul belakang Selecta seperti membuka kembali album kenangan musik Indonesia dari masa ketika grup-grup vokal menjadi bagian penting dari hiburan masyarakat.
Indonesia–Malaysia: Dari Konfrontasi Menuju Persahabatan
Majalah Selecta tidak hanya berbicara mengenai dunia hiburan. Isu politik dan hubungan internasional juga mendapat tempat.
Salah satu tulisan menyoroti hubungan Indonesia dan Malaysia yang saat itu mulai memasuki suasana persahabatan setelah melewati masa konfrontasi pada era Orde Lama.
Keakraban antara Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman, menjadi simbol hubungan dua negara serumpun yang berusaha membangun kembali hubungan yang lebih baik.
Indonesia dan Malaysia memiliki posisi penting di kawasan Asia Tenggara. Dalam perkembangan berikutnya, kedua negara juga terlibat dalam berbagai persoalan dan forum internasional, termasuk isu Kamboja, Timur Tengah, Konferensi Gerakan Non-Blok, serta berbagai agenda dunia Islam.
Membaca tulisan tersebut dari perspektif hari ini tentu memberikan gambaran tentang bagaimana hubungan Indonesia–Malaysia dipandang oleh media Indonesia lebih dari lima dekade lalu.
WS Rendra dan Kisah Perkawinan
Nama besar lainnya yang muncul adalah W.S. Rendra, penyair dan budayawan yang sangat dikenal di Indonesia.
Dalam tulisan Selecta, Rendra mengemukakan pandangannya mengenai perkawinan dan kehidupan rumah tangga. Ia mengibaratkan perkawinan keduanya sebagai sebuah ekstension atau perluasan dari rumah tangga dan kepribadiannya.
Pada masa itu, Rendra memang tengah menjadi perhatian publik karena kehidupan perkawinannya. Ia menikahi Sita Laksmi, gadis berusia 19 tahun yang disebut sebagai keturunan Keraton Yogyakarta, putri Pangeran Prabuningrat dan keponakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sita Laksmi kemudian lebih dikenal dengan nama Sitoresmi Prabuningrat.
Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi tokoh seni dan budaya menjadi bagian dari pemberitaan majalah populer pada zamannya.
Alice Iskak Merantau ke Australia
Dunia hiburan juga membawa nama Alice Iskak ke halaman Selecta.
Alice dikisahkan berangkat ke Australia menyusul kakaknya, Boy Iskak, yang memperoleh pekerjaan di Negeri Kanguru tersebut.
Di Australia, Alice disebut ingin memperdalam pengetahuan di bidang show business, setelah kariernya di Tanah Air mulai meredup. Ia bahkan dikabarkan sempat bekerja di sebuah perusahaan pabrik gula-gula sebelum kemudian kembali menekuni dunia modelling, bidang yang sesuai dengan bakatnya.

Kisah Alice memberikan gambaran lain tentang perjalanan para figur hiburan Indonesia yang mencoba mencari pengalaman dan peluang di luar negeri.
Tinneke Pondaga, Ratu Kebaya Jawa Barat 1970
Dunia mode Jawa Barat juga mendapat ruang dalam Majalah Selecta.
Tinneke Pondaga, mahasiswi Universitas Parahyangan Bandung berusia 21 tahun, terpilih sebagai Ratu Kebaya Jawa Barat 1970.
Posisi berikutnya ditempati Tinni Sumiati, mahasiswi Aktripa Bandung, sebagai Runner Up I, dan Tiploek Sri Wahyuni, siswi SMA di Bandung, sebagai Runner Up II.
Gelar Miss Photogenic diraih Jotje Jolanda Abas dari Bogor, sedangkan Miss Personality diberikan kepada Henny Harryani dari Bandung.
Malam penobatan berlangsung di lobi Savoy Homann Hotel Bandung. Acara tersebut turut dihadiri Gubernur Jawa Barat Solichin GP, Miss Indonesia 1970 Irma Hardisurya, None Jakarta 1970 Ida Herawaty Abdi, serta Miss Jawa Tengah Jajuk Sri Rahayu.
Suasana semakin meriah dengan penampilan penyanyi-penyanyi terkenal dari Bandung, seperti Tetty Kadi, Anna Manthovani, dan Rossa Lesmana. Peragaan busana juga menghadirkan sejumlah peragawati ternama, antara lain Rima Melati, Sumi Hakim, Sylvia, Paula, dan sejumlah nama lainnya.
Dua Tahun Majalah D&R
Berita lain yang menarik adalah perayaan hari ulang tahun kedua Majalah Detektip dan Romantika (D&R) yang berlangsung pada 12 September 1970.
Perayaan dwiwarsa tersebut digelar di kantor redaksi D&R di Jalan Kebon Kacang 29/4, Jakarta. Acara berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan cukup meriah.
Hadir sejumlah tokoh pers, pejabat Departemen Penerangan, perwakilan SPS dan PWI, pimpinan media cetak, kepolisian, serta kalangan artis dan seniman.
Sejumlah nama terkenal turut memeriahkan acara, di antaranya Taty Saleh, Ida Kusumah, Rhoma Irama, R.O. Sunarsih, Wiwiek Abidin, Johanna Sattar, Lilly Syarief, Irni Jusnita, Laily Dimyati, Tien Agustine, serta Trio PJM dan Trio The King's.
Hiburan juga dimeriahkan oleh Band Commando's pimpinan Mayor Udara Drs. M. Masduki dan Orkes Melayu Pancaran Muda pimpinan Zakaria.
Membayangkan suasana pesta tersebut, kita seperti diajak kembali ke Jakarta pada awal 1970-an, ketika dunia pers, musik, film, dan panggung hiburan memiliki hubungan yang begitu erat.
Rubrik-Rubrik yang Menjadi Teman Pembaca
Seperti lazimnya majalah populer pada masa itu, Selecta memiliki sejumlah rubrik yang menjadi teman pembaca dari satu edisi ke edisi berikutnya.
Di antaranya : Luar Garis, Romantika Kehidupan, Horoskop, Serba-serbi, Soal-soal Perkawinan dan Keluarga, Humor, serta Quiz Serupa Tak Sama.
Untuk karya sastra, pembaca disuguhi cerita pendek Lingkaran Cinta karya Mamak S, serta cerita silat karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo berjudul Dendam Si Anak Har.
Begitulah majalah pada zamannya. Tidak hanya menyajikan berita, tetapi juga menjadi teman mengisi waktu luang, membawa pembaca dari kisah selebritas, mode, musik, politik, roman, hingga cerita silat.
Membaca kembali Majalah Selecta edisi Oktober 1970 bukan sekadar melihat lembaran kertas tua. Di dalamnya tersimpan potongan kehidupan Indonesia lebih dari lima dekade lalu.
Nama-nama yang pernah populer, wajah-wajah yang pernah menghiasi panggung hiburan, gaya busana, musik, kehidupan para tokoh, hingga cara media melihat persoalan sosial dan politik, semuanya menjadi semacam kapsul waktu.
Hari ini, ketika majalah cetak perlahan menjadi bagian dari sejarah media, membuka kembali Selecta terasa seperti mengetuk pintu masa lalu.
Dan dari balik lembar-lembar yang mulai menua itu, kenangan lama seakan kembali menyapa.
Sebuah romantisme membaca majalah lawas, ketika setiap halaman bukan hanya membawa cerita, tetapi juga membawa kita pulang kepada suasana sebuah zaman. (*)