Menelusuri semangat Proklamasi melalui lembaran majalah lawas yang masih menyimpan denyut sejarah, 57 tahun silam. Ada aroma khas yang selalu tercium ketika membuka majalah lawas. Kertasnya telah menguning, sudut-sudut halamannya mulai rapuh, bahkan tinta cetaknya perlahan memudar dimakan usia. Namun justru di situlah pesonanya. Setiap lembar seolah menjadi mesin waktu yang membawa kita kembali ke masa ketika Indonesia masih muda, penuh semangat membangun negeri dan merawat api kemerdekaan.
Begitulah kesan yang muncul saat membuka Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969. Di sampul depannya terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi". Sebuah edisi khusus yang diterbitkan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-24. Kini, 57 tahun kemudian, majalah itu bukan lagi sekadar bacaan mingguan. Ia telah menjelma menjadi dokumen sejarah yang merekam bagaimana bangsa Indonesia mengenang Proklamasi di penghujung dekade 1960-an.
Setiap peringatan 17 Agustus selalu membawa ingatan kembali ke pagi bersejarah di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, pada 17 Agustus 1945.
Di halaman rumah yang sederhana itu, Ir. Soekarno, didampingi Drs. Mohammad Hatta, membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan di hadapan rakyat yang berkumpul dengan penuh harap.
Hanya terdiri atas dua alinea singkat, tetapi kalimat-kalimat itu mengubah arah sejarah bangsa. Sejak saat itulah Indonesia menyatakan dirinya merdeka dan berhak menentukan masa depannya sendiri.
Namun sebuah proklamasi tidak akan menggema apabila hanya berhenti di tempat ia dibacakan. Kabar kemerdekaan harus segera menyebar ke seluruh penjuru Nusantara.
Media massa, berperan besar di balik berita kemerdekaan yang tersebar ke seluruh pelosok Nusantara dan belahan dunia lain. Di sinilah pers Indonesia memainkan peran yang tak kalah heroik.
Salah satu artikel utama dalam Selecta Nomor Proklamasi mengangkat tema "Peranan Mass-Media Pada Saat Proklamasi". Tulisan itu mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya dilakukan oleh mereka yang mengangkat senjata, tetapi juga oleh wartawan, penyiar radio, dan pekerja pers yang mempertaruhkan keselamatan demi menyampaikan kabar kemerdekaan.
Melalui jaringan Kantor Berita ANTARA, naskah Proklamasi berhasil diteruskan ke berbagai daerah bahkan menembus dunia internasional. Radio menjadi media tercepat menyebarkan berita, meski berada di bawah pengawasan ketat tentara Jepang.
Sementara itu, surat kabar seperti Soeara Asia, Tjahaja, Repoeblik Indonesia, Berita Indonesia, Merdeka, hingga berbagai buletin perjuangan menjadi ujung tombak penyebaran informasi di tengah situasi yang penuh risiko. Banyak wartawan bekerja secara sembunyi-sembunyi. Mereka menyelundupkan berita, menghindari sensor, bahkan mempertaruhkan nyawa agar kabar kemerdekaan sampai ke tangan rakyat. Di balik setiap lembar surat kabar yang terbit, tersimpan keberanian yang sering kali luput dari catatan sejarah.
Keistimewaan edisi ini tidak hanya terletak pada muatan sejarahnya. Majalah Selecta memilih aktris muda Alice Iskak sebagai penghias sampul depan sekaligus sampul belakang. Sebuah pilihan menarik yang memperlihatkan bagaimana semangat nasionalisme berpadu dengan pesona dunia hiburan Indonesia.
Saat tampil dalam edisi tersebut, Alice baru berusia 21 tahun dan sedang menikmati puncak popularitasnya. Putri pasangan R. Iskak, seorang perwira ALRI, dan Alida van de Kuinder itu dikenal sebagai salah satu ikon perfilman Indonesia pada era 1960-an.
Di dalam majalah juga dimuat ulasan mengenai film The Big Village karya maestro perfilman Indonesia, Usmar Ismail, yang dibintangi Alice bersama deretan aktor ternama seperti Rachmat Hidayat, Dicky Zulkarnaen, Rachmat Kartolo, Menzano, Soekarno M. Noor, Rosihan Anwar, Rima Melati, dan Mieke Widjaja.

Membaca Selecta edisi ini serasa membuka album kenangan Indonesia tempo dulu.
Halaman demi halaman menghadirkan potret kehidupan bangsa pada 1969. Ada liputan Pemilihan Ratu Djakarta 1969 yang dimenangkan Ratih Dargo Nitiwidjojo, laporan kunjungan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon ke Jakarta yang berlangsung sekitar 22 jam, hingga kisah perjuangan Raden Intan dan Raden Intan II, pahlawan dari Lampung.
Rubrik hiburannya pun menjadi cermin zamannya. Pembaca diajak mengikuti kabar artis dunia seperti Faye Dunaway dan Sammy Davis Jr., menikmati tulisan tentang maestro keroncong Waldjinah, membaca cerpen, hingga mengikuti sayembara berhadiah yang kala itu menjadi daya tarik hampir setiap majalah populer.
Semua itu memperlihatkan bahwa sebuah majalah bukan sekadar media informasi, melainkan juga potret kehidupan masyarakat pada masanya.
Pada era 1960-an hingga 1990-an, media cetak menikmati masa keemasannya. Menjelang Hari Kemerdekaan, surat kabar dan majalah berlomba menghadirkan edisi khusus yang sarat dengan kisah perjuangan, tokoh nasional, dan semangat membangun Indonesia.
Bagi masyarakat kala itu, membaca edisi kemerdekaan merupakan bagian dari tradisi bulan Agustus. Dari halaman-halaman itulah generasi muda mengenal kembali kisah para pahlawan, sementara generasi yang lebih tua mengenang perjalanan panjang menuju kemerdekaan.
Kini, tradisi itu perlahan memudar. Kehadiran media digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Banyak surat kabar dan majalah legendaris telah berhenti terbit, sementara edisi-edisi khusus seperti Nomor Proklamasi berubah menjadi koleksi langka yang diburu para pencinta sejarah.
Majalah Selecta Nomor Proklamasi bukan sekadar barang koleksi. Ia adalah saksi bisu perjalanan bangsa, merekam bagaimana Indonesia merayakan kemerdekaan ketika usia republik baru menginjak 24 tahun.

Kini, lebih dari setengah abad kemudian, pesan yang dibawanya tetap terasa relevan. Kemerdekaan tidak hanya lahir dari keberanian para pejuang di medan laga, tetapi juga dari dedikasi insan pers yang tanpa lelah menyebarkan kabar Proklamasi hingga ke pelosok negeri. Berkat merekalah gema kemerdekaan menjangkau seluruh rakyat Indonesia dan menumbuhkan keyakinan bahwa sebuah bangsa baru telah lahir.
Membuka kembali Majalah Selecta Nomor 413 terbitan 17 Agustus 1969 seakan membuka jendela menuju Indonesia tempo dulu. Dari lembaran-lembaran yang mulai menguning itu, kita belajar bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di buku pelajaran atau arsip negara, tetapi juga hidup di halaman-halaman majalah yang pernah menemani keseharian masyarakat. Bagi para kolektor surat kabar dan majalah lawas, setiap edisi bukan sekadar benda antik. Ia adalah serpihan memori bangsa, pengingat bahwa kemerdekaan dibangun oleh keberanian, dipelihara oleh persatuan, dan diwariskan melalui cerita-cerita yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. (*)