Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

11 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

  • Salah satu yang lebih dahulu mengambil langkah adalah Radio OZ. Radio yang sejak 1971 beroperasi di jalur AM itu memasuki jalur FM pada Desember 1987 dan mengudara pada frekuensi 103 MHz.

  • Pada awal 1980-an, radio yang menggunakan jalur FM masih relatif terbatas. Beberapa tahun kemudian, terutama menjelang akhir 1980-an dan memasuki 1990-an, udara Bandung semakin ramai.

Bagi pendengar radio di Bandung pada penghujung dekade 1980-an, perpindahan dari jalur AM ke FM bukan sekadar perubahan angka pada pesawat radio. Ada pengalaman baru yang terasa begitu nyata yaitu suara menjadi lebih jernih, musik terdengar lebih hidup, dan stasiun-stasiun radio mulai memiliki karakter yang semakin kuat.

Namun, sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Jakarta Lebih Dulu Menyambut FM

Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, Frequency Modulation (FM) mulai membuka babak baru dalam dunia penyiaran radio Indonesia. Salah satu nama yang tercatat sebagai radio FM pertama adalah Suara Irama Indah, yang mulai beroperasi secara resmi pada 13 Juni 1974 di frekuensi 101,25 MHz.

Radio yang lahir atas gagasan Mas Yos itu memperkenalkan pendekatan berbeda terhadap siaran radio. Dengan semboyan “The Most and the Beautiful Music Station”, Suara Irama Indah lebih menonjolkan musik dibandingkan siaran kata. Radio ini membidik pendengar dari kalangan menengah atas dan intelektual.

Kehadiran FM memberikan pengalaman mendengarkan yang berbeda dibandingkan AM. Kualitas suaranya lebih jernih dan relatif lebih bersih dari gangguan, terutama untuk menikmati musik.

Bagi radio yang menjadikan musik sebagai menu utama, keunggulan tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri. Denting gitar, hentakan drum, karakter vokal, hingga detail aransemen terdengar lebih nyaman. Bagi pendengar yang sehari-hari ditemani radio, kualitas suara bukan lagi sekadar persoalan teknis. Ia menjadi bagian dari pengalaman menikmati musik.

Perubahan itu kemudian ikut dirasakan Prambors, yang sebelumnya dikenal melalui gelombang AM 666 KHz. Radio yang bermarkas di kawasan Menteng tersebut kemudian masuk ke jalur FM 101,2 MHz.

Perpindahan itu memperlihatkan bahwa FM mulai menjadi jalur yang semakin diperhitungkan, terutama bagi radio yang menyasar pendengar muda dan mengandalkan musik sebagai kekuatan utama.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip pada masa itu, seorang penyiar Prambors mengakui bahwa mereka sempat merasa tertinggal karena terlalu lama bertahan di AM.

“Kami keasyikan di AM. Tahu-tahu ketika diriset, jumlah pendengar kami sudah banyak yang lari ke FM.”

Perpindahan Prambors menjadi gambaran bahwa perubahan teknologi penyiaran juga mulai mengubah perilaku pendengar. FM bukan hanya menawarkan suara yang lebih nyaman, tetapi perlahan membentuk citra baru bagi radio-radio perkotaan.

Berbeda dengan FM, Short Wave (SW) atau gelombang pendek memiliki kemampuan menjangkau wilayah yang sangat jauh, bahkan lintas negara. Namun, penerimaannya dipengaruhi kondisi atmosfer dan propagasi gelombang.

Untuk radio perkotaan yang ingin menyapa pendengar di wilayah tertentu, FM memiliki karakter yang lebih sesuai.

FM memang memiliki jangkauan yang relatif lebih terbatas dan dipengaruhi kondisi geografis. Namun, justru di situlah letak kecocokannya dengan radio kota seperti Bandung.

Radio tidak lagi sekadar memancarkan suara. Perlahan, stasiun radio mulai membangun identitas seperti memilih musik, menentukan segmen pendengar, menciptakan gaya penyiar, menyusun program, hingga membangun hubungan dengan komunitasnya.

Dan ketika gelombang perubahan itu sampai ke Bandung, radio-radio lokal mulai bersiap meninggalkan AM.

Bandung Mulai Hijrah ke FM

Di Bandung, perubahan tersebut terasa semakin kuat menjelang akhir 1980-an.

Salah satu yang lebih dahulu mengambil langkah adalah Radio OZ. Radio yang sejak 1971 beroperasi di jalur AM itu memasuki jalur FM pada Desember 1987 dan mengudara pada frekuensi 103 MHz.

Keputusan tersebut bukan semata-mata mengikuti perkembangan teknologi.

“Radio OZ harus menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi broadcasting dan tuntutan masyarakat modern,” tutur Direktur Utama OZ, Drs. Ganjar Suwargani, sebagaimana dikutip pada masa itu.

Untuk berpindah ke FM, OZ disebut mengeluarkan biaya sekitar Rp180 juta untuk pengadaan perangkat keras dan perangkat lunak.

Perpindahan tersebut sekaligus membawa perubahan pada format siaran. Ketika masih berada di AM, OZ dikenal di kalangan muda Bandung sebagai salah satu radio yang paling getol menyiarkan musik rock. Namun, setelah berada di FM, porsi musik rock mulai dikurangi dan musik jazz ditambah.

Meski demikian, OZ tetap mempertahankan anak muda sebagai salah satu sasaran utama pendengarnya. Strategi tersebut tampaknya berjalan beriringan dengan perkembangan bisnis radio. Pada masa itu, pendapatan iklan OZ disebut terus meningkat dari bulan ke bulan.

OZ: Musik dan Energi Anak Muda

“You are the words, we are the music.”

Semboyan tersebut menjadi salah satu identitas PT Radio Ozza Mitra Gamma, yang lebih dikenal sebagai Radio OZ Bandung.

Dari kawasan Bandung Utara, Jalan Setrasari II No. 14, OZ membangun format yang bertumpu kuat pada musik.

Sejak awal memasuki FM, OZ membidik kalangan remaja. Porsi musik dibuat lebih dominan dibandingkan siaran kata, dengan sekitar 60 persen lagu Barat dan 40 persen lagu Indonesia.

Sajian musiknya mencakup pop, disko, hingga jenis musik yang pada masa itu disebut new music. Namun, OZ tidak hanya mengandalkan lagu.

Sandiwara radio “Gejolak Asmara Kembang Belia” menjadi salah satu warna programnya. Sementara “Pub on The Air” menghadirkan nama-nama seperti Trie Utami, Purwa Caraka, dan Nicko Hermanto.

Program-program tersebut memperlihatkan bagaimana radio pada masa itu berusaha menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan pendengar muda.

Radio bukan hanya tempat lagu diputar. Ia juga menjadi tempat penyiar berbicara, cerita dibangun, dan pendengar merasa disapa secara personal.

Kini, OZ Radio Bandung dikenal sebagai salah satu stasiun radio swasta legendaris di Kota Bandung yang mengudara pada frekuensi 103,1 FM dan menyasar segmen kaum muda. OZ Radio berdiri sejak 25 Desember 1971 dan beralamat di Jalan Setrasari II No. 14, Bandung 40152.

Slogannya kini adalah “We OZ U All the Time”.

Megantara: Musik Indonesia di Jalur FM

MGT Radio, yang sebelumnya bernama Radio Megantara, merupakan salah satu stasiun radio di Bandung yang kemudian mengudara melalui jalur FM. (Sumber: Istimewa)
MGT Radio, yang sebelumnya bernama Radio Megantara, merupakan salah satu stasiun radio di Bandung yang kemudian mengudara melalui jalur FM. (Sumber: Istimewa)

Pada Desember 1987, Radio Megantara juga memasuki jalur FM. Radio ini mengudara pada frekuensi 101,250 MHz dari Jalan Salendro Timur VII/12A, Bandung.

Berbeda dengan OZ, Megantara memberikan ruang yang lebih besar bagi musik Indonesia. Lagu-lagu Barat mendapat porsi sekitar 30 persen dari keseluruhan sajian musik. Pilihan tersebut menjadi warna tersendiri di tengah persaingan radio swasta Bandung.

Salah satu program andalannya adalah “Musik Negeri Ini”, yang melayani permintaan lagu dari pendengar melalui record telephone.

Pada zaman ketika interaksi pendengar belum mengenal pesan instan dan media sosial, telepon menjadi jembatan penting antara studio dan audiens.

Megantara juga menyasar pendengar dari kalangan menengah atas. Untuk mendukung operasionalnya, radio ini bermodal sekitar Rp40 juta, termasuk biaya penggantian transmitter pemancar menjadi model Ring Radio.

Jika OZ tampil dengan energi remaja dan porsi musik Barat yang lebih dominan, Megantara membangun identitas melalui kekuatan musik Indonesia.

Dua radio, satu jalur FM, tetapi dua karakter yang berbeda.

Kini, Radio Megantara dikenal sebagai MGT Radio 101.1 FM dan beralamat di Jalan Buah Batu No. 8, Kota Bandung. Radio ini menyasar segmen dewasa dan keluarga muda, dengan sajian musik yang terdiri atas sekitar 80 persen lagu Indonesia dan 20 persen lagu Barat, termasuk lagu-lagu terbaik dari era 2000-an hingga hits terkini.

Radio Lain Ikut Berpindah

Hijrah ke FM tidak hanya dilakukan OZ dan Megantara.

Radio Continental Alpha, yang dikenal penggemarnya karena kerap mengawali siaran dengan salam “Assalaamu’alaikum”, juga termasuk generasi awal radio Bandung yang berpindah ke jalur FM. Alasannya cukup sederhana, karena jalur AM sudah semakin padat.

Untuk perpindahan tersebut, radio ini disebut mengeluarkan biaya sekitar Rp50 juta. Radio yang dikenal membawakan program bernuansa syiar Islam itu juga mulai melihat FM sebagai peluang untuk memperluas pasar iklan.

Hal serupa dilakukan Radio Megantara, yang sebelumnya telah bertahan selama 17 tahun di AM. Dengan sasaran pendengar dari kalangan menengah atas, perpindahan ke FM juga diharapkan membuka peluang iklan yang lebih besar.

Sementara itu, bagi pendengar yang masih setia pada AM, perubahan tersebut belum berarti akhir dari radio AM. Di tengah gejala eksodus sejumlah radio swasta menuju FM, masih banyak stasiun yang tetap bertahan di jalur AM.

Udara Bandung pun kemudian memiliki dua dunia yang berjalan berdampingan.

KLCBS dan Gelombang Jazz Bandung

Namun, cerita FM Bandung sebenarnya telah dimulai beberapa tahun sebelum OZ dan Megantara berpindah jalur.

Jauh sebelum penghujung 1980-an, telah hadir sebuah radio yang memilih jalan musikal berbeda yaitu Radio KLCBS.

Dengan identitas “The Jazz Wave”, KLCBS dikenal sebagai salah satu radio FM yang ikut mewarnai perkembangan penyiaran swasta di Bandung. Radio ini mulai mengudara pada awal dekade 1980-an dan disebut memperoleh izin resmi penyelenggaraan siaran pada 10 Maret 1982.

Saat itu, masyarakat masih sangat akrab dengan siaran AM. FM belum seramai kemudian.

KLCBS hadir ketika FM masih relatif baru. Namun, yang membuatnya menarik bukan semata-mata teknologi siarannya.

KLCBS memilih jazz sebagai identitas.

Jazz menjadi jantung siarannya. Musik tidak hanya ditempatkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari apresiasi terhadap seni, budaya, kreativitas, dan kehidupan.

Identitas itu kemudian melekat kuat melalui slogan “The Jazz Wave”.

Nama KLCBS merupakan singkatan dari Karang Layung Citra Budaya Suara. Nama tersebut berkaitan dengan lokasi awal studio KLCBS di kawasan Karang Layung, Bandung.

Sejumlah catatan menyebut alamat awal radio ini berada di Jalan Karang Layung No. 10. Dari kawasan tersebut, KLCBS membangun karakter yang kemudian menjadi bagian dari sejarah radio Bandung.

Pada masa awalnya, KLCBS menggunakan frekuensi 100,55 FM sebelum kemudian dikenal melalui 100,4 FM.

Bagi pendengar lama, angka 100,55 FM bukan sekadar angka.

Itulah angka yang dicari dengan memutar perlahan knop radio.

Sedikit terlalu jauh, suara menghilang.

Sedikit digeser kembali, terdengar musik.

Dan ketika jarum akhirnya berhenti pada frekuensi yang tepat, gelombang jazz KLCBS pun memenuhi ruangan.

Ada suasana tertentu ketika menemukan stasiun radio favorit di antara deretan angka pada pesawat penerima. Karakter suara penyiar, pilihan musik, jingle, dan cara sebuah radio menyapa pendengarnya perlahan menjadi sesuatu yang akrab.

KLCBS membangun keakraban itu melalui jazz. Pada saat sejumlah radio berlomba menghadirkan musik populer yang sedang digemari pasar, KLCBS memilih mempertahankan jalur musikalnya.

Jazz, smooth jazz, fusion, dan berbagai perkembangan musik jazz menjadi bagian dari perjalanan programnya.

Pilihan tersebut kemudian melahirkan komunitas pendengar tersendiri.

KLCBS bukan sekadar tempat mendengarkan musik. Bagi sebagian pendengarnya, radio ini menjadi ruang untuk mengenal lebih jauh dunia jazz.

Hubungan antara radio dan pendengar pun berkembang menjadi komunitas. Kehadiran KLCBS Jazz Alliance pada 2007 menjadi salah satu bentuk perkembangan tersebut.

Radio KLCBS,  menjadi salah satu pelopor siaran melalui jalur FM dan mulai mengudara di FM sejak 1982. (Sumber: Istimewa)
Radio KLCBS, menjadi salah satu pelopor siaran melalui jalur FM dan mulai mengudara di FM sejak 1982. (Sumber: Istimewa)

Komunitas ini menjadi ruang komunikasi bagi pencinta jazz untuk berbagi informasi mengenai koleksi musik, pertunjukan, workshop, diskusi, dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan jazz.

Di sinilah terlihat bahwa kekuatan radio tidak selalu ditentukan oleh seberapa luas jangkauan pemancarnya. Konsistensi format dan kedekatan dengan pendengar dapat menciptakan ikatan yang jauh lebih panjang.

Perjalanan KLCBS menjadi semakin menarik ketika ditempatkan dalam perkembangan radio swasta Bandung.

Kini, studio KLCBS berada di Jalan Lapangan Golf Dago Atas No. 78, Kota Bandung 40135.

KLCBS dikenal sebagai radio musik jazz FM yang telah hadir sejak 1982 di Kota Bandung. Radio ini mempertahankan jazz bukan sekadar sebagai jenis musik, tetapi sebagai bagian dari budaya, pengetahuan, kreativitas, rasa kemanusiaan, dan ekspresi seni.

“Enjoy Great Jazz Music!”

Ketika Radio Mulai Menjadi Identitas

Pada awal 1980-an, radio yang menggunakan jalur FM masih relatif terbatas. Beberapa tahun kemudian, terutama menjelang akhir 1980-an dan memasuki 1990-an, udara Bandung semakin ramai.

OZ, Megantara, Ardan, MGT, Rase, dan berbagai radio lainnya hadir dengan format dan karakter masing-masing.

Radio-radio tersebut tidak sekadar berebut frekuensi.

Mereka berebut perhatian.

Mereka mencari lagu yang tepat, penyiar yang tepat, program yang tepat, bahkan cara yang tepat untuk membuat pendengar tetap bertahan di depan pesawat radio.

Pada masa itu, memilih radio bisa terasa seperti memilih teman.

Ada radio untuk menemani belajar. Ada yang diputar ketika bersantai. Ada yang dicari untuk mendengarkan lagu terbaru. Ada pula yang menjadi teman ketika malam mulai sepi.

Radio akhirnya bukan hanya perangkat untuk menangkap suara dari udara. Radio menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kini, teknologi penyiaran telah berubah jauh.

Dari piringan hitam dan kaset, radio melewati era CD, internet, streaming, hingga platform digital. Cara orang menikmati musik pun ikut berubah.

KLCBS turut beradaptasi dengan menghadirkan siaran melalui platform digital dan streaming. Pendengarnya tidak lagi terbatas pada mereka yang berada dalam jangkauan pemancar FM.

Namun, ada sesuatu yang tetap bertahan: identitas.

KLCBS tetap dikenal dengan jazz dan “The Jazz Wave”.

OZ dikenang dengan energi musik dan kedekatannya dengan anak muda.

Megantara memiliki ceritanya sendiri melalui kekuatan musik Indonesia.

Ketiganya memperlihatkan bagaimana FM ikut mengubah wajah radio Bandung.

Perubahan itu bukan hanya soal kualitas suara yang lebih jernih.

FM membuka ruang bagi radio untuk menemukan karakter.

Ada radio yang memilih remaja. Ada yang mengutamakan musik Indonesia. Ada yang menjadikan jazz sebagai jalan musikal. Ada yang membangun komunitas dari kesamaan selera musik.

Di balik semua itu, ada pendengar yang setiap hari memutar knop radio, mencari frekuensi favorit, lalu membiarkan suara dari studio mengisi ruang di sekitarnya.

Bagi generasi yang mengalaminya, perpindahan dari AM ke FM pada akhir 1980-an mungkin tampak seperti perubahan teknologi sederhana.

Tetapi setelah bertahun-tahun berlalu, yang tersisa bukan hanya angka frekuensi.

Yang tersisa adalah suara. Suara penyiar,

suara musik, suara jingle, suara telepon pendengar. Dan suara radio yang pernah menemani sebuah kota.

Dari udara Bandung, suara-suara itu kemudian menjadi kenangan.

Dan kenangan, seperti radio, selalu punya cara sendiri untuk kembali mengudara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)