Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

11 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)

Bagi pendengar radio di Bandung pada penghujung dekade 1980-an, perpindahan dari jalur AM ke FM bukan sekadar perubahan angka pada pesawat radio. Ada pengalaman baru yang terasa begitu nyata yaitu suara menjadi lebih jernih, musik terdengar lebih hidup, dan stasiun-stasiun radio mulai memiliki karakter yang semakin kuat.

Namun, sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Jakarta Lebih Dulu Menyambut FM

Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, Frequency Modulation (FM) mulai membuka babak baru dalam dunia penyiaran radio Indonesia. Salah satu nama yang tercatat sebagai radio FM pertama adalah Suara Irama Indah, yang mulai beroperasi secara resmi pada 13 Juni 1974 di frekuensi 101,25 MHz.

Radio yang lahir atas gagasan Mas Yos itu memperkenalkan pendekatan berbeda terhadap siaran radio. Dengan semboyan “The Most and the Beautiful Music Station”, Suara Irama Indah lebih menonjolkan musik dibandingkan siaran kata. Radio ini membidik pendengar dari kalangan menengah atas dan intelektual.

Kehadiran FM memberikan pengalaman mendengarkan yang berbeda dibandingkan AM. Kualitas suaranya lebih jernih dan relatif lebih bersih dari gangguan, terutama untuk menikmati musik.

Bagi radio yang menjadikan musik sebagai menu utama, keunggulan tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri. Denting gitar, hentakan drum, karakter vokal, hingga detail aransemen terdengar lebih nyaman. Bagi pendengar yang sehari-hari ditemani radio, kualitas suara bukan lagi sekadar persoalan teknis. Ia menjadi bagian dari pengalaman menikmati musik.

Perubahan itu kemudian ikut dirasakan Prambors, yang sebelumnya dikenal melalui gelombang AM 666 KHz. Radio yang bermarkas di kawasan Menteng tersebut kemudian masuk ke jalur FM 101,2 MHz.

Perpindahan itu memperlihatkan bahwa FM mulai menjadi jalur yang semakin diperhitungkan, terutama bagi radio yang menyasar pendengar muda dan mengandalkan musik sebagai kekuatan utama.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip pada masa itu, seorang penyiar Prambors mengakui bahwa mereka sempat merasa tertinggal karena terlalu lama bertahan di AM.

“Kami keasyikan di AM. Tahu-tahu ketika diriset, jumlah pendengar kami sudah banyak yang lari ke FM.”

Perpindahan Prambors menjadi gambaran bahwa perubahan teknologi penyiaran juga mulai mengubah perilaku pendengar. FM bukan hanya menawarkan suara yang lebih nyaman, tetapi perlahan membentuk citra baru bagi radio-radio perkotaan.

Berbeda dengan FM, Short Wave (SW) atau gelombang pendek memiliki kemampuan menjangkau wilayah yang sangat jauh, bahkan lintas negara. Namun, penerimaannya dipengaruhi kondisi atmosfer dan propagasi gelombang.

Untuk radio perkotaan yang ingin menyapa pendengar di wilayah tertentu, FM memiliki karakter yang lebih sesuai.

FM memang memiliki jangkauan yang relatif lebih terbatas dan dipengaruhi kondisi geografis. Namun, justru di situlah letak kecocokannya dengan radio kota seperti Bandung.

Radio tidak lagi sekadar memancarkan suara. Perlahan, stasiun radio mulai membangun identitas seperti memilih musik, menentukan segmen pendengar, menciptakan gaya penyiar, menyusun program, hingga membangun hubungan dengan komunitasnya.

Dan ketika gelombang perubahan itu sampai ke Bandung, radio-radio lokal mulai bersiap meninggalkan AM.

Bandung Mulai Hijrah ke FM

Di Bandung, perubahan tersebut terasa semakin kuat menjelang akhir 1980-an.

Salah satu yang lebih dahulu mengambil langkah adalah Radio OZ. Radio yang sejak 1971 beroperasi di jalur AM itu memasuki jalur FM pada Desember 1987 dan mengudara pada frekuensi 103 MHz.

Keputusan tersebut bukan semata-mata mengikuti perkembangan teknologi.

“Radio OZ harus menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi broadcasting dan tuntutan masyarakat modern,” tutur Direktur Utama OZ, Drs. Ganjar Suwargani, sebagaimana dikutip pada masa itu.

Untuk berpindah ke FM, OZ disebut mengeluarkan biaya sekitar Rp180 juta untuk pengadaan perangkat keras dan perangkat lunak.

Perpindahan tersebut sekaligus membawa perubahan pada format siaran. Ketika masih berada di AM, OZ dikenal di kalangan muda Bandung sebagai salah satu radio yang paling getol menyiarkan musik rock. Namun, setelah berada di FM, porsi musik rock mulai dikurangi dan musik jazz ditambah.

Meski demikian, OZ tetap mempertahankan anak muda sebagai salah satu sasaran utama pendengarnya. Strategi tersebut tampaknya berjalan beriringan dengan perkembangan bisnis radio. Pada masa itu, pendapatan iklan OZ disebut terus meningkat dari bulan ke bulan.

OZ: Musik dan Energi Anak Muda

“You are the words, we are the music.”

Semboyan tersebut menjadi salah satu identitas PT Radio Ozza Mitra Gamma, yang lebih dikenal sebagai Radio OZ Bandung.

Dari kawasan Bandung Utara, Jalan Setrasari II No. 14, OZ membangun format yang bertumpu kuat pada musik.

Sejak awal memasuki FM, OZ membidik kalangan remaja. Porsi musik dibuat lebih dominan dibandingkan siaran kata, dengan sekitar 60 persen lagu Barat dan 40 persen lagu Indonesia.

Sajian musiknya mencakup pop, disko, hingga jenis musik yang pada masa itu disebut new music. Namun, OZ tidak hanya mengandalkan lagu.

Sandiwara radio “Gejolak Asmara Kembang Belia” menjadi salah satu warna programnya. Sementara “Pub on The Air” menghadirkan nama-nama seperti Trie Utami, Purwa Caraka, dan Nicko Hermanto.

Program-program tersebut memperlihatkan bagaimana radio pada masa itu berusaha menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan pendengar muda.

Radio bukan hanya tempat lagu diputar. Ia juga menjadi tempat penyiar berbicara, cerita dibangun, dan pendengar merasa disapa secara personal.

Kini, OZ Radio Bandung dikenal sebagai salah satu stasiun radio swasta legendaris di Kota Bandung yang mengudara pada frekuensi 103,1 FM dan menyasar segmen kaum muda. OZ Radio berdiri sejak 25 Desember 1971 dan beralamat di Jalan Setrasari II No. 14, Bandung 40152.

Slogannya kini adalah “We OZ U All the Time”.

Megantara: Musik Indonesia di Jalur FM

MGT Radio, yang sebelumnya bernama Radio Megantara, merupakan salah satu stasiun radio di Bandung yang kemudian mengudara melalui jalur FM. (Sumber: Istimewa)
MGT Radio, yang sebelumnya bernama Radio Megantara, merupakan salah satu stasiun radio di Bandung yang kemudian mengudara melalui jalur FM. (Sumber: Istimewa)

Pada Desember 1987, Radio Megantara juga memasuki jalur FM. Radio ini mengudara pada frekuensi 101,250 MHz dari Jalan Salendro Timur VII/12A, Bandung.

Berbeda dengan OZ, Megantara memberikan ruang yang lebih besar bagi musik Indonesia. Lagu-lagu Barat mendapat porsi sekitar 30 persen dari keseluruhan sajian musik. Pilihan tersebut menjadi warna tersendiri di tengah persaingan radio swasta Bandung.

Salah satu program andalannya adalah “Musik Negeri Ini”, yang melayani permintaan lagu dari pendengar melalui record telephone.

Pada zaman ketika interaksi pendengar belum mengenal pesan instan dan media sosial, telepon menjadi jembatan penting antara studio dan audiens.

Megantara juga menyasar pendengar dari kalangan menengah atas. Untuk mendukung operasionalnya, radio ini bermodal sekitar Rp40 juta, termasuk biaya penggantian transmitter pemancar menjadi model Ring Radio.

Jika OZ tampil dengan energi remaja dan porsi musik Barat yang lebih dominan, Megantara membangun identitas melalui kekuatan musik Indonesia.

Dua radio, satu jalur FM, tetapi dua karakter yang berbeda.

Kini, Radio Megantara dikenal sebagai MGT Radio 101.1 FM dan beralamat di Jalan Buah Batu No. 8, Kota Bandung. Radio ini menyasar segmen dewasa dan keluarga muda, dengan sajian musik yang terdiri atas sekitar 80 persen lagu Indonesia dan 20 persen lagu Barat, termasuk lagu-lagu terbaik dari era 2000-an hingga hits terkini.

Radio Lain Ikut Berpindah

Hijrah ke FM tidak hanya dilakukan OZ dan Megantara.

Radio Continental Alpha, yang dikenal penggemarnya karena kerap mengawali siaran dengan salam “Assalaamu’alaikum”, juga termasuk generasi awal radio Bandung yang berpindah ke jalur FM. Alasannya cukup sederhana, karena jalur AM sudah semakin padat.

Untuk perpindahan tersebut, radio ini disebut mengeluarkan biaya sekitar Rp50 juta. Radio yang dikenal membawakan program bernuansa syiar Islam itu juga mulai melihat FM sebagai peluang untuk memperluas pasar iklan.

Hal serupa dilakukan Radio Megantara, yang sebelumnya telah bertahan selama 17 tahun di AM. Dengan sasaran pendengar dari kalangan menengah atas, perpindahan ke FM juga diharapkan membuka peluang iklan yang lebih besar.

Sementara itu, bagi pendengar yang masih setia pada AM, perubahan tersebut belum berarti akhir dari radio AM. Di tengah gejala eksodus sejumlah radio swasta menuju FM, masih banyak stasiun yang tetap bertahan di jalur AM.

Udara Bandung pun kemudian memiliki dua dunia yang berjalan berdampingan.

KLCBS dan Gelombang Jazz Bandung

Namun, cerita FM Bandung sebenarnya telah dimulai beberapa tahun sebelum OZ dan Megantara berpindah jalur.

Jauh sebelum penghujung 1980-an, telah hadir sebuah radio yang memilih jalan musikal berbeda yaitu Radio KLCBS.

Dengan identitas “The Jazz Wave”, KLCBS dikenal sebagai salah satu radio FM yang ikut mewarnai perkembangan penyiaran swasta di Bandung. Radio ini mulai mengudara pada awal dekade 1980-an dan disebut memperoleh izin resmi penyelenggaraan siaran pada 10 Maret 1982.

Saat itu, masyarakat masih sangat akrab dengan siaran AM. FM belum seramai kemudian.

KLCBS hadir ketika FM masih relatif baru. Namun, yang membuatnya menarik bukan semata-mata teknologi siarannya.

KLCBS memilih jazz sebagai identitas.

Jazz menjadi jantung siarannya. Musik tidak hanya ditempatkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari apresiasi terhadap seni, budaya, kreativitas, dan kehidupan.

Identitas itu kemudian melekat kuat melalui slogan “The Jazz Wave”.

Nama KLCBS merupakan singkatan dari Karang Layung Citra Budaya Suara. Nama tersebut berkaitan dengan lokasi awal studio KLCBS di kawasan Karang Layung, Bandung.

Sejumlah catatan menyebut alamat awal radio ini berada di Jalan Karang Layung No. 10. Dari kawasan tersebut, KLCBS membangun karakter yang kemudian menjadi bagian dari sejarah radio Bandung.

Pada masa awalnya, KLCBS menggunakan frekuensi 100,55 FM sebelum kemudian dikenal melalui 100,4 FM.

Bagi pendengar lama, angka 100,55 FM bukan sekadar angka.

Itulah angka yang dicari dengan memutar perlahan knop radio.

Sedikit terlalu jauh, suara menghilang.

Sedikit digeser kembali, terdengar musik.

Dan ketika jarum akhirnya berhenti pada frekuensi yang tepat, gelombang jazz KLCBS pun memenuhi ruangan.

Ada suasana tertentu ketika menemukan stasiun radio favorit di antara deretan angka pada pesawat penerima. Karakter suara penyiar, pilihan musik, jingle, dan cara sebuah radio menyapa pendengarnya perlahan menjadi sesuatu yang akrab.

KLCBS membangun keakraban itu melalui jazz. Pada saat sejumlah radio berlomba menghadirkan musik populer yang sedang digemari pasar, KLCBS memilih mempertahankan jalur musikalnya.

Jazz, smooth jazz, fusion, dan berbagai perkembangan musik jazz menjadi bagian dari perjalanan programnya.

Pilihan tersebut kemudian melahirkan komunitas pendengar tersendiri.

KLCBS bukan sekadar tempat mendengarkan musik. Bagi sebagian pendengarnya, radio ini menjadi ruang untuk mengenal lebih jauh dunia jazz.

Hubungan antara radio dan pendengar pun berkembang menjadi komunitas. Kehadiran KLCBS Jazz Alliance pada 2007 menjadi salah satu bentuk perkembangan tersebut.

Radio KLCBS,  menjadi salah satu pelopor siaran melalui jalur FM dan mulai mengudara di FM sejak 1982. (Sumber: Istimewa)
Radio KLCBS, menjadi salah satu pelopor siaran melalui jalur FM dan mulai mengudara di FM sejak 1982. (Sumber: Istimewa)

Komunitas ini menjadi ruang komunikasi bagi pencinta jazz untuk berbagi informasi mengenai koleksi musik, pertunjukan, workshop, diskusi, dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan jazz.

Di sinilah terlihat bahwa kekuatan radio tidak selalu ditentukan oleh seberapa luas jangkauan pemancarnya. Konsistensi format dan kedekatan dengan pendengar dapat menciptakan ikatan yang jauh lebih panjang.

Perjalanan KLCBS menjadi semakin menarik ketika ditempatkan dalam perkembangan radio swasta Bandung.

Kini, studio KLCBS berada di Jalan Lapangan Golf Dago Atas No. 78, Kota Bandung 40135.

KLCBS dikenal sebagai radio musik jazz FM yang telah hadir sejak 1982 di Kota Bandung. Radio ini mempertahankan jazz bukan sekadar sebagai jenis musik, tetapi sebagai bagian dari budaya, pengetahuan, kreativitas, rasa kemanusiaan, dan ekspresi seni.

“Enjoy Great Jazz Music!”

Ketika Radio Mulai Menjadi Identitas

Pada awal 1980-an, radio yang menggunakan jalur FM masih relatif terbatas. Beberapa tahun kemudian, terutama menjelang akhir 1980-an dan memasuki 1990-an, udara Bandung semakin ramai.

OZ, Megantara, Ardan, MGT, Rase, dan berbagai radio lainnya hadir dengan format dan karakter masing-masing.

Radio-radio tersebut tidak sekadar berebut frekuensi.

Mereka berebut perhatian.

Mereka mencari lagu yang tepat, penyiar yang tepat, program yang tepat, bahkan cara yang tepat untuk membuat pendengar tetap bertahan di depan pesawat radio.

Pada masa itu, memilih radio bisa terasa seperti memilih teman.

Ada radio untuk menemani belajar. Ada yang diputar ketika bersantai. Ada yang dicari untuk mendengarkan lagu terbaru. Ada pula yang menjadi teman ketika malam mulai sepi.

Radio akhirnya bukan hanya perangkat untuk menangkap suara dari udara. Radio menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kini, teknologi penyiaran telah berubah jauh.

Dari piringan hitam dan kaset, radio melewati era CD, internet, streaming, hingga platform digital. Cara orang menikmati musik pun ikut berubah.

KLCBS turut beradaptasi dengan menghadirkan siaran melalui platform digital dan streaming. Pendengarnya tidak lagi terbatas pada mereka yang berada dalam jangkauan pemancar FM.

Namun, ada sesuatu yang tetap bertahan: identitas.

KLCBS tetap dikenal dengan jazz dan “The Jazz Wave”.

OZ dikenang dengan energi musik dan kedekatannya dengan anak muda.

Megantara memiliki ceritanya sendiri melalui kekuatan musik Indonesia.

Ketiganya memperlihatkan bagaimana FM ikut mengubah wajah radio Bandung.

Perubahan itu bukan hanya soal kualitas suara yang lebih jernih.

FM membuka ruang bagi radio untuk menemukan karakter.

Ada radio yang memilih remaja. Ada yang mengutamakan musik Indonesia. Ada yang menjadikan jazz sebagai jalan musikal. Ada yang membangun komunitas dari kesamaan selera musik.

Di balik semua itu, ada pendengar yang setiap hari memutar knop radio, mencari frekuensi favorit, lalu membiarkan suara dari studio mengisi ruang di sekitarnya.

Bagi generasi yang mengalaminya, perpindahan dari AM ke FM pada akhir 1980-an mungkin tampak seperti perubahan teknologi sederhana.

Tetapi setelah bertahun-tahun berlalu, yang tersisa bukan hanya angka frekuensi.

Yang tersisa adalah suara. Suara penyiar,

suara musik, suara jingle, suara telepon pendengar. Dan suara radio yang pernah menemani sebuah kota.

Dari udara Bandung, suara-suara itu kemudian menjadi kenangan.

Dan kenangan, seperti radio, selalu punya cara sendiri untuk kembali mengudara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)