Membuka Nostalgia Lewat Kartu Pilihan Pendengar di Radio Bandung

7 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Sejumlah kartu pilihan pendengar yang pernah diterbitkan oleh berbagai stasiun radio sebagai bagian dari interaksi dan kedekatan radio dengan para pendengarnya. (Sumber: Foto dan dokumentasi Kin Sanubary)
Sejumlah kartu pilihan pendengar yang pernah diterbitkan oleh berbagai stasiun radio sebagai bagian dari interaksi dan kedekatan radio dengan para pendengarnya. (Sumber: Foto dan dokumentasi Kin Sanubary)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Pilihan Pendengar (Pilpen) menjadi ruang interaksi khas radio era 1980–1990-an, ketika kartu pos, kartu atensi, dan permintaan lagu menjadi cara pendengar berkirim salam dan membangun pertemanan.

  • Radio-radio Bandung memiliki program dan penyiar yang lekat dengan memori pendengarnya, termasuk pengalaman Kin Sanubary yang mengenal berbagai acara, penyiar, dan komunitas melalui Radio Warga Karya serta sejumlah stasiun radio lainnya.

  • Kartu dan gelombang radio membuka pertemanan melampaui batas kota, membawa nama pendengar dari Bandung ke Jakarta hingga stasiun mancanegara melalui kartu pos, kartu atensi, dan siaran gelombang pendek (SW).

Ketika kartu pos, kartu atensi, dan suara penyiar menjadi jembatan persahabatan.

Radio pernah menjadi bagian yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Jauh sebelum telepon seluler, SMS, media sosial, dan WhatsApp hadir, radio bukan sekadar sumber informasi dan hiburan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan, tempat orang saling menyapa, berkirim salam, berbagi cerita, bahkan menemukan sahabat.

Bagi generasi yang tumbuh pada era tahun 1980-an hingga tahun 1990-an, mendengarkan radio merupakan pengalaman tersendiri. Suara penyiar dari balik pesawat radio seolah mampu menghadirkan teman yang selalu menemani di rumah, kamar tidur, warung, kendaraan, maupun tempat kerja.

Salah satu yang paling membekas adalah program “Pilihan Pendengar”, yang populer dengan sebutan Pilpen, kirim -kirim salam atau dikenal pula sebagai acara music by request. Melalui acara semacam inilah pendengar dapat memilih lagu kesayangan sekaligus menitipkan salam kepada sahabat, keluarga, kerabat, atau seseorang yang istimewa.

Pada masa itu, tentu belum ada WhatsApp untuk mengirim pesan dalam hitungan detik. SMS pun belum dikenal. Komunikasi membutuhkan waktu dan kesabaran. Kartu pos, surat, kartu atensi, bahkan telepon koin menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi.

Kartu Pilpen, Benda Kecil yang Penuh Kenangan

Kartu Pilpen, atau kartu pilihan pendengar menjadi salah satu benda yang sangat akrab dengan dunia radio pada zamannya. Kartu tersebut biasanya didapat dari stasun radio kesayangan atau bisa diperoleh melalui agen atau tempat-tempat penjualan tertentu dengan harga yang relatif terjangkau.

Bentuknya mungkin sederhana, tetapi bagi pendengar radio, kartu itu mempunyai arti yang jauh lebih besar.

Melalui selembar kartu, seorang pendengar bisa menuliskan nama, alamat, lagu yang diminta, serta pesan atau salam yang ingin disampaikan. Kartu tersebut kemudian dikirimkan ke stasiun radio dan dibacakan oleh penyiar saat acara berlangsung.

Menunggu nama kita disebut penyiar menjadi sensasi tersendiri.

Ada rasa penasaran ketika radio mulai menyebut daftar permintaan lagu. Ada kegembiraan ketika nama sendiri, sahabat, atau seseorang yang ditunggu-tunggu akhirnya terdengar dari udara.

Bahkan, tidak sedikit yang sengaja menunggu acara Pilpen hanya untuk mendengarkan apakah kartu yang dikirim beberapa hari sebelumnya telah sampai dan dibacakan.

Di situlah letak keistimewaan radio pada masa lalu.

Radio memang menggunakan teknologi siaran satu arah, tetapi melalui acara Pilpen, pendengar merasa seolah-olah sedang berkomunikasi secara langsung dengan penyiar dan pendengar lainnya.

Radio Bandung dan Kenangan Para Pendengarnya

Penulis memperlihatkan kartu pilihan pendengar Radio Warga Karya, salah satu jejak kenangan dari era kejayaan siaran radio dan budaya berkirim kartu di kalangan pendengar. (Sumber: Kin Sanubary)
Penulis memperlihatkan kartu pilihan pendengar Radio Warga Karya, salah satu jejak kenangan dari era kejayaan siaran radio dan budaya berkirim kartu di kalangan pendengar. (Sumber: Kin Sanubary)

Kota Bandung memiliki sejarah panjang dalam perkembangan radio. Selain lembaga penyiaran seperti RRI Bandung, berbagai radio swasta dan radio komunitas pada masanya ikut meramaikan udara Bandung dengan beragam program.

Masing-masing radio memiliki karakter, penyiar, lagu, dan acara yang menjadi identitas tersendiri.

Bagi pendengar, nama-nama penyiar pun bukan sekadar suara dari balik radio. Mereka menjadi sosok yang dikenal, ditunggu, bahkan diidolakan.

Salah seorang pendengar radio yang mengalami masa itu adalah penulis sendiri, yakni Kin Sanubary.

Kecintaannya terhadap radio tumbuh sejak masih duduk di sekolah dasar. Pada masa itu, televisi belum menjadi barang yang mudah ditemui di setiap rumah. Radio menjadi salah satu sumber hiburan utama keluarga.

Di rumah, orang tuanya kerap mendengarkan drama radio legendaris, salah satunya “Butir-butir Pasir di Laut” yang disiarkan melalui RRI. Acara Dongeng Sunda dan Sandiwara Radio Saur Sepuh menjadi hiburan setiap hari. Dari situlah kedekatan Kin dengan dunia radio mulai tumbuh.

Namun, memasuki awal dekade 1990-an, perhatian Kin semakin tertuju pada acara-acara Pilihan Pendengar yang disiarkan radio-radio di Bandung dan beberapa radio yang ada di kota-kota lainnya di Jawa Barat.

Salah satunya adalah Radio Warga Karya, sebuah radio swasta Bandung yang hijrah ke Bekasi. Pada masa itu Radio Warga Karya memiliki acara Pilihan Pendengar yang cukup menarik perhatian para pendengarnya.

Radio yang cukup sering didengarkan Kin adalah Radio Gaya 792 nama udara Radio Warga Karya, yang mengudara pada frekuensi AM 792 kHz.

Radio ini kemudian menjadi salah satu pintu yang membawa Kin semakin dekat dengan dunia penyiaran dan komunitas pendengar radio.

Di radio tersebut, ia mengenal sejumlah penyiar yang menjadi idolanya, salah satunya almarhum Teddy Jassin.

Program “Suka-Suka” menjadi salah satu acara yang paling disukainya. Konsepnya sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan pendengar: memilih lagu kesayangan, menitipkan salam, menyapa sahabat, hingga mengirimkan pesan kepada seseorang yang dianggap istimewa.

Kin pun ikut menjadi bagian dari komunitas acara tersebut dan menggunakan nama udara “Mister Kin”.

Dari satu acara, namanya kemudian semakin dikenal di kalangan pendengar dan ia turut muncul dalam berbagai program lain, antara lain “Feb Show” dan “Radio Hits”, yang kala itu dipandu sejumlah penyiar muda, di antaranya Teh Febry Meuthia dan Mas Harry Darwinsyah.

Ada pula acara keluarga seperti “Pelangi” yang dipimpin Mbak Indah Soenoko, serta “Mustika” yang digawangi Kang Abbas Muhammad Achjar.

Nama-nama, suara penyiar, jingle, lagu pembuka, hingga gaya mereka menyapa pendengar menjadi bagian dari memori yang hingga kini masih tersimpan.

Selain itu, penulis juga kerap mendengarkan acara-acara serupa yang menyajikan pilihan lagu dari para pendengar. Di antaranya The New One By One dari Radio Famor, Pentas Indonesia Pilihan dari Radio Antasalam, Lintas Persada dari Radio Ardan, Oz Music By Request dari Radio Oz, MGT Mega Persada dari Radio MGT, Salam Sana Salam Sini dari Radio Continental, serta Kharisma Persada dari Radio GMR Rock Station.

Bukan hanya itu, masih banyak acara sejenis yang hadir di berbagai radio swasta di Bandung pada masanya. Program-program tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman mendengarkan radio, ketika lagu pilihan pendengar, nama pengirim, hingga pesan-pesan singkat yang dibacakan penyiar mampu menghadirkan kedekatan dan keakraban tersendiri antara radio dengan para pendengarnya.

Yang menarik, interaksi Kin dengan dunia radio tidak berhenti di Bandung.

Melalui kartu pos dan kartu atensi, namanya kemudian ikut mengembara ke berbagai stasiun radio, tidak hanya di Bandung, tetapi juga Jakarta dan bahkan sejumlah radio mancanegara yang dapat didengarkan melalui gelombang pendek (short wave/SW).

Pada era tersebut, mendengarkan radio SW juga memiliki sensasi tersendiri. Pendengar harus memutar tombol tuning, mencari frekuensi yang tepat, menghadapi suara berdesis dan gangguan sinyal, lalu menunggu sebuah stasiun dari tempat yang jauh muncul dengan suara yang samar tetapi menakjubkan.

Bagi penggemar radio, berhasil menangkap siaran dari luar negeri merupakan pengalaman yang membanggakan.

Kartu pos dan kartu atensi kemudian menjadi semacam “jejak” bahwa seorang pendengar pernah hadir di suatu frekuensi, mengenal penyiar, dan menjadi bagian dari komunitas radio.

Ketika Menunggu Nama Disebut Menjadi Kebahagiaan

Ada sesuatu yang mungkin sulit dipahami oleh generasi yang tumbuh bersama internet.

Dahulu, untuk menyampaikan salam melalui radio, seseorang harus menulis kartu, membeli perangko, mencari kotak pos atau tempat pengiriman, kemudian menunggu.

Tidak ada notifikasi.

Tidak ada tanda centang dua.

Tidak ada pesan “seen”.

Yang ada hanyalah penantian.

Dan justru karena harus menunggu itulah, kebahagiaan terasa lebih panjang.

Ketika penyiar akhirnya mengucapkan, “Salam dari Kin untuk...”, atau menyebut nama yang kita tuliskan di kartu, ada perasaan bangga dan bahagia yang sulit digantikan oleh pesan instan.

Begitu pula ketika lagu yang diminta akhirnya diputar.

Lagu itu seolah berubah menjadi pesan pribadi yang disampaikan melalui udara.

Bagi sebagian orang, radio mungkin kini dianggap sebagai media lama yang telah kehilangan tempat di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.

Namun, bagi mereka yang pernah tumbuh bersamanya, radio memiliki tempat yang tidak mudah digantikan.

Radio bukan hanya tentang berita, musik, drama, atau hiburan.

Radio adalah tentang suara dan kenangan.

Tentang penyiar yang suaranya masih terngiang meski puluhan tahun telah berlalu. Tentang lagu yang mengingatkan seseorang pada masa remaja. Tentang kartu pos yang pernah ditulis dengan tangan. Tentang kartu Pilpen yang dikirim dengan harapan nama kita disebut di udara.

Dan yang paling penting, radio pernah menjadi ruang sosial yang mempertemukan banyak orang tanpa mereka harus saling bertatap muka.

Kini, komunikasi dapat dilakukan dalam hitungan detik. Sebuah pesan dapat dikirim ke belahan dunia lain hanya dengan menyentuh layar ponsel.

Kemudahan itu tentu patut disyukuri.

Namun, di tengah segala kecepatan tersebut, ada bagian dari masa lalu yang layak dikenang, zaman ketika sebuah kartu pos mampu membuat seseorang menunggu dengan bahagia, ketika sebuah kartu Pilpen menjadi jembatan persahabatan, dan ketika suara penyiar dari sebuah radio di Bandung mampu membuat pendengar merasa tidak sendirian.

Bagi generasi sekarang, kisah tentang kartu Pilpen mungkin terdengar seperti cerita dari zaman yang sangat jauh.

Tetapi bagi mereka yang pernah mengalaminya, selembar kartu itu bukan sekadar kertas. Ia adalah tiket kecil menuju kenangan.

Kenangan tentang radio-radio Bandung, para penyiar yang pernah menjadi idola, lagu-lagu yang pernah menemani perjalanan hidup, serta persahabatan yang lahir dari balik suara yang mengudara.

Dan mungkin, ketika sebuah lagu lama tiba-tiba terdengar kembali, kenangan itu akan muncul dengan sendirinya:

tentang sebuah radio, sebuah kartu Pilpen, sebuah nama yang disebut penyiar dan sebuah masa yang ternyata belum benar-benar pergi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)