Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

6 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Bagi kaum urban dan mahasiswa pendatang yang tinggal di Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an, radio merupakan salah satu hiburan paling akrab dalam kehidupan sehari-hari. Pada masa ketika teknologi digital belum hadir seperti sekarang, radio menjadi teman setia di kamar-kamar kos sederhana yang dihuni para mahasiswa perantau, jauh dari keluarga dan kampung halaman.

Bandung pada masa itu dikenal sebagai kota tujuan pendidikan yang ramai oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Di tengah kehidupan perantauan yang serba sederhana, radio hadir sebagai penghubung dengan dunia luar. Suara penyiar yang hangat, musik yang mengalun dari pesawat radio kecil di meja belajar, atau dari rak buku di sudut kamar kos, menjadi pengusir sepi di sela-sela aktivitas kuliah dan belajar.

Bagi generasi yang lahir sebelum 1980, masa tersebut juga merupakan periode ketika komunikasi masih berlangsung secara konvensional. Surat, kartu pos, atau telegram menjadi sarana utama untuk menyampaikan kabar dari rumah. Tak jarang para mahasiswa menunggu kiriman wesel pos dari orang tua sebagai penopang kehidupan selama merantau menuntut ilmu.

Di tengah suasana itulah radio memainkan peranan penting. Lagu-lagu yang diputar bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga menghadirkan suasana kebersamaan bagi para pendengar yang sama-sama menjalani kehidupan sebagai perantau di kota pendidikan.

Salah satu program yang paling digemari adalah acara tangga lagu. Program semacam ini bukan sekadar memutar lagu populer, tetapi juga menjadi rujukan bagi pendengar untuk mengetahui perkembangan musik yang sedang digemari pada masanya.

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Bagi banyak mahasiswa dan kaum urban yang menetap di Bandung, THPI bukan sekadar program radio. Ia menjadi bagian dari rutinitas akhir pekan didengarkan sambil belajar, bercengkerama dengan teman kos, atau sekadar menemani malam yang sunyi di kota perantauan.

Radio Ganesha dan Lahirnya THPI

Pada era tersebut, Radio Ganesha yang berlokasi di Jalan Siliwangi, Bandung, menjadi salah satu radio yang cukup berpengaruh dalam dunia penyiaran musik populer. Radio ini dimiliki oleh musisi Ebiet G. Ade dan dikenal luas sebagai salah satu radio yang aktif mempromosikan musik pop Indonesia.

Dari radio inilah lahir program Top Hits Pop Indonesia (THPI), sebuah acara tangga lagu yang merangkum lagu-lagu pop Indonesia terpopuler berdasarkan pilihan pendengar.

Program ini digagas oleh Demas Korompis, sosok penting di balik produksi acara tersebut. Popularitas THPI berkembang pesat hingga kemudian disiarkan oleh puluhan stasiun radio di berbagai kota di Indonesia.

Dalam perkembangannya, lebih dari 50 stasiun radio turut menyiarkan program ini setiap minggu. Melalui jaringan tersebut, THPI menjelma menjadi salah satu barometer musik pop Indonesia pada masanya.

Acara ini secara rutin menampilkan lagu-lagu dari penyanyi dan grup band yang tengah populer, menghadirkan beragam warna musik pop Indonesia, mulai dari pop melankolis hingga pop bernuansa ceria yang sedang digemari masyarakat.

Bagi pendengar radio di Bandung, THPI menjadi salah satu referensi utama untuk mengetahui lagu-lagu yang tengah populer di berbagai daerah di Indonesia.

Informasi Musik di Era Pra-Digital

Pada masa sebelum internet hadir, informasi mengenai perkembangan musik tidak hanya diperoleh melalui radio. Para penggemar musik juga mengikuti kabar terbaru melalui berbagai media cetak.

Majalah musik, surat kabar, hingga buletin yang diterbitkan oleh perusahaan rekaman menjadi sumber informasi penting bagi para pecinta musik. Label rekaman pada masa itu kerap menerbitkan newsletter bulanan yang memuat informasi mengenai kaset-kaset baru yang akan beredar di pasaran.

Di dalamnya terdapat resensi album, daftar lagu, profil penyanyi, nama pencipta lagu, hingga para musisi yang terlibat dalam proses produksi rekaman. Bagi penggemar musik, buletin semacam ini menjadi jendela informasi untuk mengikuti perkembangan musik populer Indonesia.

THPI Edisi Desember 1990

Penulis bersama Bang Sonjaya Akbar, mantan penyiar Radio Ganesha Bandung yang pernah menjadi host THPI. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Penulis bersama Bang Sonjaya Akbar, mantan penyiar Radio Ganesha Bandung yang pernah menjadi host THPI. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Pada edisi Desember 1990, lagu “Ta’kan” yang dibawakan Guest Band berhasil merebut posisi puncak tangga lagu THPI setelah menggeser lagu populer “Lamunan” dari grup Andromedha. Kedua lagu tersebut sejak minggu sebelumnya bersaing ketat dengan perolehan suara yang relatif berimbang.

Keberhasilan lagu ciptaan Gustav tersebut menjadi angin segar bagi para pencipta lagu pop bergaya “trendy”. Hal ini cukup menarik karena dalam dua tahun sebelumnya industri musik Indonesia sempat didominasi oleh lagu-lagu rock yang sedang naik daun.

Memasuki penghujung tahun 1990, persaingan di papan atas tangga lagu semakin menghangat meskipun belum ada satu lagu yang benar-benar mendominasi jauh di atas yang lain.

Lagu “Dunia Boleh Tertawa” yang dinyanyikan duet Indra Lesmana dan Titi Dwi Jayati (Titi DJ) terus bergerak naik. Demikian pula lagu “Mengejar Angan-Angan” yang dibawakan Deddy Dores serta “Menggapai Matahari” yang dinyanyikan Reza Rezita, keduanya merupakan karya ciptaan Deddy Dores.

Menjelang akhir tahun, semakin banyak album baru yang beredar di pasaran. Fenomena ini juga terlihat dalam berbagai program musik di TVRI Pusat seperti Aneka Ria Safari, Selecta Pop, Nada dan Irama, Pesona Nada, hingga Musik Masa Kini.

Banyaknya lagu yang beredar membuat pilihan para penggemar musik semakin beragam. Berdasarkan data kupon lagu favorit yang dihimpun Harian Suara Pembaruan, suara pendengar mulai terpencar sehingga hanya beberapa lagu saja yang mampu meraih jumlah suara di atas seratus.

Tulisan mengenai tangga lagu ini dimuat dalam Harian Suara Pembaruan edisi 9 Desember 1990.

Top 20 Pop Indonesia

(THPI Edisi Desember 1990)

1. Ta’kan – Guest Band (Gustav)

2. Lamunan – Andromedha

3. Sedetik Lagi – Rischa Diana (E. Latupeirissa)

4. Kan Ada Aku – Dhyan Manna (Rummy)

5. Lupakan Segalanya – Lydia Nursaid (Dian PP & Deddy Dhukun)

6. Terserah Kamu – Sophia Latjuba (George L.)

7. Dunia Boleh Tertawa – Indra Lesmana & Titi DJ (Indra & Mira Lesmana)

8. Yakini Mu – Iwan Zein & UAB (Yani Libels)

9. Mengejar Angan-Angan – Deddy Dores

10. Menggapai Matahari – Reza Rezita (Deddy Dores)

11. Iya Kan – New Rollies (Utje F. Tekol & Deddy Dhukun)

12. Hilangnya Seorang Gadis – Freedom of Rhapsodia (Freedom)

13. Tiada Lagi Cinta – Mario AP (Jossie Hitijahubessy)

14. Halusinasi – Mel Shandy (Jockie Surjoprajogo & Sawung Jabo)

15. Setitik Air – Conny Dio (Deddy Dores)

16. Cinta Putih – KLa Project (Katon Bagaskara)

17. Di Kota Mati – Anggun C. Sasmi (Alam G.)

18. Ketika Senyummu Hadir – Tika Bisono (Dadang S. Manaf)

19. Pacarku – Rumpies (Sam Bobo & Deddy Dhukun)

20. Oh Celaka – Dewi Yull (Andi Mapajalos)

Kenangan yang Tetap Hidup

Bagi generasi yang tumbuh di era digital saat ini, kisah tentang kejayaan radio pada tahun 1980-an hingga 1990-an mungkin terasa sangat jauh.

Namun bagi mereka yang pernah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa atau kaum urban di Bandung pada masa itu, suara radio di kamar kos, lagu-lagu yang diputar setiap minggu, serta acara tangga lagu seperti Top Hits Pop Indonesia merupakan bagian dari kenangan yang sulit tergantikan.

Meskipun Radio Ganesha sudah tak mengudara lagi dan THPI bukanlah sekadar daftar lagu populer. Ia menjadi pengiring kehidupan para perantau muda di kota pendidikan bisa menemani masa kuliah, mengusir rindu pada kampung halaman, sekaligus menjadi penanda sebuah era ketika radio dan musik pop Indonesia begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Agu 2026, 07:38

Nama, Doa, dan Ikhtiar

Yang membuat nama menjadi bermakna bukan hanya rangkaian hurufnya. Ada harapan orang tua, perjalanan hidup yang mengiringinya, dan tanggung jawab pemilik nama untuk menjadikan doa sebagai kehidupan.

Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)