Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Kamis 09 Apr 2026, 11:18 WIB
Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Bagi kaum urban dan mahasiswa pendatang yang tinggal di Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an, radio merupakan salah satu hiburan paling akrab dalam kehidupan sehari-hari. Pada masa ketika teknologi digital belum hadir seperti sekarang, radio menjadi teman setia di kamar-kamar kos sederhana yang dihuni para mahasiswa perantau, jauh dari keluarga dan kampung halaman.

Bandung pada masa itu dikenal sebagai kota tujuan pendidikan yang ramai oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Di tengah kehidupan perantauan yang serba sederhana, radio hadir sebagai penghubung dengan dunia luar. Suara penyiar yang hangat, musik yang mengalun dari pesawat radio kecil di meja belajar, atau dari rak buku di sudut kamar kos, menjadi pengusir sepi di sela-sela aktivitas kuliah dan belajar.

Bagi generasi yang lahir sebelum 1980, masa tersebut juga merupakan periode ketika komunikasi masih berlangsung secara konvensional. Surat, kartu pos, atau telegram menjadi sarana utama untuk menyampaikan kabar dari rumah. Tak jarang para mahasiswa menunggu kiriman wesel pos dari orang tua sebagai penopang kehidupan selama merantau menuntut ilmu.

Di tengah suasana itulah radio memainkan peranan penting. Lagu-lagu yang diputar bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga menghadirkan suasana kebersamaan bagi para pendengar yang sama-sama menjalani kehidupan sebagai perantau di kota pendidikan.

Salah satu program yang paling digemari adalah acara tangga lagu. Program semacam ini bukan sekadar memutar lagu populer, tetapi juga menjadi rujukan bagi pendengar untuk mengetahui perkembangan musik yang sedang digemari pada masanya.

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Bagi banyak mahasiswa dan kaum urban yang menetap di Bandung, THPI bukan sekadar program radio. Ia menjadi bagian dari rutinitas akhir pekan didengarkan sambil belajar, bercengkerama dengan teman kos, atau sekadar menemani malam yang sunyi di kota perantauan.

Radio Ganesha dan Lahirnya THPI

Pada era tersebut, Radio Ganesha yang berlokasi di Jalan Siliwangi, Bandung, menjadi salah satu radio yang cukup berpengaruh dalam dunia penyiaran musik populer. Radio ini dimiliki oleh musisi Ebiet G. Ade dan dikenal luas sebagai salah satu radio yang aktif mempromosikan musik pop Indonesia.

Dari radio inilah lahir program Top Hits Pop Indonesia (THPI), sebuah acara tangga lagu yang merangkum lagu-lagu pop Indonesia terpopuler berdasarkan pilihan pendengar.

Program ini digagas oleh Demas Korompis, sosok penting di balik produksi acara tersebut. Popularitas THPI berkembang pesat hingga kemudian disiarkan oleh puluhan stasiun radio di berbagai kota di Indonesia.

Dalam perkembangannya, lebih dari 50 stasiun radio turut menyiarkan program ini setiap minggu. Melalui jaringan tersebut, THPI menjelma menjadi salah satu barometer musik pop Indonesia pada masanya.

Acara ini secara rutin menampilkan lagu-lagu dari penyanyi dan grup band yang tengah populer, menghadirkan beragam warna musik pop Indonesia, mulai dari pop melankolis hingga pop bernuansa ceria yang sedang digemari masyarakat.

Bagi pendengar radio di Bandung, THPI menjadi salah satu referensi utama untuk mengetahui lagu-lagu yang tengah populer di berbagai daerah di Indonesia.

Informasi Musik di Era Pra-Digital

Pada masa sebelum internet hadir, informasi mengenai perkembangan musik tidak hanya diperoleh melalui radio. Para penggemar musik juga mengikuti kabar terbaru melalui berbagai media cetak.

Majalah musik, surat kabar, hingga buletin yang diterbitkan oleh perusahaan rekaman menjadi sumber informasi penting bagi para pecinta musik. Label rekaman pada masa itu kerap menerbitkan newsletter bulanan yang memuat informasi mengenai kaset-kaset baru yang akan beredar di pasaran.

Di dalamnya terdapat resensi album, daftar lagu, profil penyanyi, nama pencipta lagu, hingga para musisi yang terlibat dalam proses produksi rekaman. Bagi penggemar musik, buletin semacam ini menjadi jendela informasi untuk mengikuti perkembangan musik populer Indonesia.

THPI Edisi Desember 1990

Penulis bersama Bang Sonjaya Akbar, mantan penyiar Radio Ganesha Bandung yang pernah menjadi host THPI. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Penulis bersama Bang Sonjaya Akbar, mantan penyiar Radio Ganesha Bandung yang pernah menjadi host THPI. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Pada edisi Desember 1990, lagu “Ta’kan” yang dibawakan Guest Band berhasil merebut posisi puncak tangga lagu THPI setelah menggeser lagu populer “Lamunan” dari grup Andromedha. Kedua lagu tersebut sejak minggu sebelumnya bersaing ketat dengan perolehan suara yang relatif berimbang.

Keberhasilan lagu ciptaan Gustav tersebut menjadi angin segar bagi para pencipta lagu pop bergaya “trendy”. Hal ini cukup menarik karena dalam dua tahun sebelumnya industri musik Indonesia sempat didominasi oleh lagu-lagu rock yang sedang naik daun.

Memasuki penghujung tahun 1990, persaingan di papan atas tangga lagu semakin menghangat meskipun belum ada satu lagu yang benar-benar mendominasi jauh di atas yang lain.

Lagu “Dunia Boleh Tertawa” yang dinyanyikan duet Indra Lesmana dan Titi Dwi Jayati (Titi DJ) terus bergerak naik. Demikian pula lagu “Mengejar Angan-Angan” yang dibawakan Deddy Dores serta “Menggapai Matahari” yang dinyanyikan Reza Rezita, keduanya merupakan karya ciptaan Deddy Dores.

Menjelang akhir tahun, semakin banyak album baru yang beredar di pasaran. Fenomena ini juga terlihat dalam berbagai program musik di TVRI Pusat seperti Aneka Ria Safari, Selecta Pop, Nada dan Irama, Pesona Nada, hingga Musik Masa Kini.

Banyaknya lagu yang beredar membuat pilihan para penggemar musik semakin beragam. Berdasarkan data kupon lagu favorit yang dihimpun Harian Suara Pembaruan, suara pendengar mulai terpencar sehingga hanya beberapa lagu saja yang mampu meraih jumlah suara di atas seratus.

Tulisan mengenai tangga lagu ini dimuat dalam Harian Suara Pembaruan edisi 9 Desember 1990.

Top 20 Pop Indonesia

(THPI Edisi Desember 1990)

1. Ta’kan – Guest Band (Gustav)

2. Lamunan – Andromedha

3. Sedetik Lagi – Rischa Diana (E. Latupeirissa)

4. Kan Ada Aku – Dhyan Manna (Rummy)

5. Lupakan Segalanya – Lydia Nursaid (Dian PP & Deddy Dhukun)

6. Terserah Kamu – Sophia Latjuba (George L.)

7. Dunia Boleh Tertawa – Indra Lesmana & Titi DJ (Indra & Mira Lesmana)

8. Yakini Mu – Iwan Zein & UAB (Yani Libels)

9. Mengejar Angan-Angan – Deddy Dores

10. Menggapai Matahari – Reza Rezita (Deddy Dores)

11. Iya Kan – New Rollies (Utje F. Tekol & Deddy Dhukun)

12. Hilangnya Seorang Gadis – Freedom of Rhapsodia (Freedom)

13. Tiada Lagi Cinta – Mario AP (Jossie Hitijahubessy)

14. Halusinasi – Mel Shandy (Jockie Surjoprajogo & Sawung Jabo)

15. Setitik Air – Conny Dio (Deddy Dores)

16. Cinta Putih – KLa Project (Katon Bagaskara)

17. Di Kota Mati – Anggun C. Sasmi (Alam G.)

18. Ketika Senyummu Hadir – Tika Bisono (Dadang S. Manaf)

19. Pacarku – Rumpies (Sam Bobo & Deddy Dhukun)

20. Oh Celaka – Dewi Yull (Andi Mapajalos)

Kenangan yang Tetap Hidup

Bagi generasi yang tumbuh di era digital saat ini, kisah tentang kejayaan radio pada tahun 1980-an hingga 1990-an mungkin terasa sangat jauh.

Namun bagi mereka yang pernah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa atau kaum urban di Bandung pada masa itu, suara radio di kamar kos, lagu-lagu yang diputar setiap minggu, serta acara tangga lagu seperti Top Hits Pop Indonesia merupakan bagian dari kenangan yang sulit tergantikan.

Meskipun Radio Ganesha sudah tak mengudara lagi dan THPI bukanlah sekadar daftar lagu populer. Ia menjadi pengiring kehidupan para perantau muda di kota pendidikan bisa menemani masa kuliah, mengusir rindu pada kampung halaman, sekaligus menjadi penanda sebuah era ketika radio dan musik pop Indonesia begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)