Ruang Terakhir yang Kian Sempit

kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Rabu 08 Apr 2026, 08:38 WIB
Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, kematian kini tidak lagi sekadar peristiwa sunyi yang diiringi doa dan perpisahan. Ia mulai bersinggungan dengan satu hal yang semakin langka di perkotaan, yaitu ruang.

Lahan pemakaman yang dikelola pemerintah kian terbatas. Dilansir dari rakyatmediapress.co.id, Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan (Distamhut) DKI Jakarta, Fajar Sauri, mengungkapkan data terkini mengenai kondisi TPU di Jakarta. Dari 80 TPU yang tersebar di 5 wilayah DKI, sebanyak 69 TPU sudah penuh atau hampir penuh.

Sebagian besar TPU yang penuh menerapkan sistem pemakaman tumpang atau makam keluarga untuk memanfaatkan lahan yang ada. Sistem ini dilakukan dalam satu liang lahad keluarga dan dianggap sebagai solusi sementara yang efektif.

Sedangkan laporan dari jabarekspres.com, Kepala Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi, dan Tata Ruang (Cipta Bintar) Kota Bandung, Rulli Subhanuddin, mengatakan :“Dari total 14 TPU yang dikelola Pemkot Bandung, rata-rata kondisinya sudah penuh dan pendekatannya menggunakan makam tumpang. Hanya TPU Rancacili yang masih memiliki ruang karena adanya penambahan lahan pada 2022 dan 2024,” ujar Rulli, Rabu (21/1).

Di sejumlah tempat pemakaman umum, kebijakan pun harus diambil untuk mengoptimalkan ruang yang tersisa. Makam tumpang tindih menjadi pilihan yang tak terelakkan—bahkan hingga tiga jenazah dalam satu liang. Di atas kertas, ini adalah solusi. Namun di baliknya, tersimpan kenyataan yang lebih dalam: kota-kota kita perlahan kehabisan tempat, bahkan untuk yang telah pergi.

Bahkan disampaikan bahwa dua sampai tiga tahun mendatang DKI Jakarta dan Kota Bandung akan mengalami krisi lahan pemakaman. Daya tampung lahan pemakaman milik pemerintah benar-benar mencapai batasnya. Pertumbuhan penduduk yang tinggi, urbanisasi yang masif, serta keterbatasan lahan menjadikan kematian ikut masuk dalam persoalan tata ruang kota.

Kita membangun gedung-gedung tinggi, memperluas kawasan permukiman, membuka pusat-pusat ekonomi baru. Namun diam-diam, ada satu hal yang luput dari perhatian, yaitu ruang bagi akhir kehidupan.

Di tengah keterbatasan tersebut, sektor swasta mulai mengambil peran. Al Azhar Memorial Garden hadir, menawarkan tempat pemakaman yang terbaik dengan berbagai kemudahan dan kepastian. Tidak hanya menyediakan lahan, tetapi juga menghadirkan layanan terpadu: perawatan makam seumur hidup, kavling khusus pasangan, hingga area keluarga yang dapat menampung beberapa anggota dalam satu lokasi. Bahkan, seluruh prosesi pemakaman dapat ditangani secara profesional, cukup dengan satu kali pembayaran di awal.

Bagi sebagian orang, ini adalah solusi yang menenangkan. Tidak ada lagi kekhawatiran soal ketersediaan lahan. Tidak ada beban bagi keluarga yang ditinggalkan. Semuanya telah direncanakan dengan rapi, bahkan sejak seseorang masih hidup.

Dalam banyak hal, pendekatan ini menghadirkan kepastian dan ketertiban yang mungkin sulit ditemukan di pemakaman umum. Ia menjawab kebutuhan masyarakat urban yang semakin menginginkan segala sesuatu terencana, termasuk kematian itu sendiri.

Kavling Single di Al Azhar Memorial Garden. (Sumber: alazharmemorialgarden.com)
Kavling Single di Al Azhar Memorial Garden. (Sumber: alazharmemorialgarden.com)

Namun di sinilah pertanyaan yang lebih mendalam muncul.

Ketika liang lahat dapat dibeli dalam bentuk paket—single, pasangan, hingga keluarga besar—apakah kematian perlahan bergeser menjadi bagian dari transaksi ekonomi? Ketika sebagian orang mampu memilih tempat peristirahatan terakhir yang eksklusif dan terawat, sementara sebagian lainnya harus berbagi ruang dalam satu liang, apakah kesenjangan sosial juga ikut terbawa hingga ke dalam kematian?

Kematian, yang selama ini dipahami sebagai titik paling setara dalam kehidupan manusia, justru mulai memperlihatkan wajah lain, ia tidak sepenuhnya lepas dari perbedaan kemampuan dan akses.

Fenomena ini tidak bisa disederhanakan menjadi benar atau salah. Pemakaman komersial hadir sebagai respons atas keterbatasan nyata yang dihadapi pemerintah. Ia membantu mengurangi tekanan terhadap lahan publik, sekaligus memberikan alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan.

Namun, menyerahkan sepenuhnya urusan ruang kematian kepada mekanisme pasar bukan tanpa risiko. Tanpa regulasi yang jelas, komersialisasi dapat melahirkan ketimpangan baru—yang mungkin tidak tampak mencolok, tetapi terasa dalam diam.

Di sisi lain, negara tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap warga, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memiliki akses terhadap pemakaman yang layak. Inovasi dalam tata kelola pemakaman menjadi kebutuhan mendesak. Pengembangan konsep pemakaman vertikal, optimalisasi lahan secara berkelanjutan, hingga integrasi perencanaan pemakaman dalam tata ruang kota perlu mulai dipikirkan secara serius.

Lebih dari itu, masyarakat juga perlu diajak untuk membuka ruang dialog—tentang bagaimana kita memandang kematian di tengah realitas kota modern yang terus berubah.

Pada akhirnya, persoalan keterbatasan lahan pemakaman bukan semata tentang tanah yang semakin sempit. Ia adalah cermin dari cara kita merancang kehidupan di kota: apa yang kita prioritaskan, dan apa yang kita abaikan.

Sebab kota yang baik bukan hanya yang mampu menampung kehidupan dengan segala dinamikanya, tetapi juga yang mampu menyediakan ruang yang layak bagi akhir kehidupan—tanpa harus kehilangan nilai kemanusiaannya.

Dan mungkin, dari keterbatasan ruang terakhir ini, kita diingatkan kembali tentang satu hal yang paling sederhana: bahwa pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah tempat yang luas, tetapi tempat yang layak. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Apr 2026, 17:15

Menjembatani Celah Kreativitas dan Hukum dalam Ekosistem Ekraf Bandung

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 08 Apr 2026, 15:50

Plastik Makin Mahal, Saatnya Warga Bandung 'Putus Hubungan' dengan Kantong Sekali Pakai

Harga plastik di Bandung naik, jadi momentum warga beralih dari kantong sekali pakai untuk mengurangi sampah.

Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Beranda 08 Apr 2026, 15:39

Cerita Ricky, Pemain Biola Jalanan yang Kerap Kucing-kucingan dengan Satpol PP

Di tengah kerasnya jalanan Bandung, Ricky Rustandi Pratama memilih bertahan hidup lewat alunan biola di sela-sela ancaman penertiban petugas.

Di tengah lalu lintas Kota Bandung, Ricky menghibur pengendara dengan alunan biola dari hasil belajar otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 14:08

Tombolo Pangandaran Menghubungkan Pulau Pananjung dengan Daratan Utama

Tombolo itu terbentuk bukan karena sebab tunggal. Prosesnya rumit dan memakan waktu yang panjang.

Tombolo Pangandaran, menyambung Pulau Pananjung dengan Daratan Utama dengan endapan pasir yang terbentuk secara bertahap. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Wisata & Kuliner 08 Apr 2026, 13:33

Jelajah Situ Cileunca sampai Hilir: dari Wisata, Pembangkit Listrik hingga Kearifan Lokal

Dibangun sejak era kolonial, Situ Cileunca berkembang menjadi sumber listrik, destinasi wisata unggulan, serta ruang aktivitas olahraga air bagi masyarakat Pangalengan.

Situ Cileunca, salah satu objek wisata favorit di Kabupaten Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ikon 08 Apr 2026, 13:19

Hikayat Gunung Kunci, Benteng Kamuflase Belanda di Tengah Kota Sumedang

Di balik hijaunya Gunung Kunci Sumedang, tersimpan sejarah benteng Belanda dan kisah pahit penahanan pejuang.

Tahura Gunung Kunci Sumedang. (Sumber: sumedangkab.go.id)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 11:22

Kaum Urban di Bandung Abad ke-19

Di Bandung pada abad ke-19 pun telah terjadi banyak lonjakan urbanisasi.

Jalan Raya Pos Bandung masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 08:38

Ruang Terakhir yang Kian Sempit

Lahan pemakaman yang dikelola pemerintah kian terbatas.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 07 Apr 2026, 20:09

Rapor Hijau Perbankan Jawa Barat di Tengah Tren Pengetatan Sektor Unggulan

Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat menunjukkan performa perbankan yang solid, meski dihadapkan tantangan diversifikasi sektor dan manajemen risiko kredit yang makin selektif.

Ilustrasi. Dinamika ekonomi global yang fluktuatif di awal tahun 2026 tidak menyurutkan ketahanan sektor jasa keuangan di Jawa Barat. (Sumber: Pixabay)
Bandung 07 Apr 2026, 19:47

Strategi Market Chicken Steak Bertahan di Tengah Geliat Kuliner Pasar Cihapit

Siapa sangka ada kelezatan steak di sudut pasar tradisional? Simak kisah Sutrisno mengubah peluang jadi keunikan kuliner di Pasar Cihapit yang kini jadi primadona.

Kios Market Chicken Steak milik Sutrisno yang menghadirkan menu Barat di tengah deretan kuliner tradisional Pasar Cihapit, Bandung. Meski berukuran terbatas, kios ini menjadi destinasi baru bagi pemburu kuliner. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Komunitas 07 Apr 2026, 18:44

Ekspresi Tanpa Suara, Komunitas Karya Seni Tuli Bangun Jembatan antara Teman Tuli dan Dengar

Ruang ini menjadi tempat berbagi cerita, belajar, dan mengekspresikan diri tanpa batas, sekaligus mempererat hubungan antara teman tuli dan teman dengar dalam semangat saling memahami.

Suasana hangat pertemuan Karya Seni Tuli dipenuhi interaksi melalui bahasa isyarat, tawa, dan semangat berkarya bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 07 Apr 2026, 16:23

Tumbuh Pesat! Penyaluran Kredit UMKM Jawa Barat Tembus Rp186 Triliun, Kota Bandung Jadi Motor Utama

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat.

Ilustrasi. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 07 Apr 2026, 15:22

Panduan Wisata Talaga Bodas Garut, Kawah Belerang yang Pernah jadi Primadona Orang Eropa

Talaga Bodas pernah populer sejak abad ke-19 melalui kartu pos kolonial, sebelum kembali bangkit sebagai destinasi wisata alam unggulan di Garut.

Objek Wisata Talaga Bodas, Garut. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 14:35

Pendidikan Bertumbuh Dimulai dari Guru yang Growth Mindset

Pendidik adalah agen pembelajar sepanjang hidup untuk memberikan stimulus kepada para murid dalam menuntun menumbuhkembangkan potensi secara kodrati.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 11:04

Kisah Pendatang yang Tak Sengaja Ciptakan ‘Batagor’ Makanan Favorit Kota Bandung

Batagor pertama kali muncul di Bandung pada tahun 1970-an.

Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ikon 07 Apr 2026, 10:25

Hikayat Jalan Soekarno Hatta Bandung, Bypass Lurus Panjang Buatan Orde Baru

Dibangun pada 1980-an sebagai jalan elak, Jalan Soekarno Hatta kini berubah menjadi koridor padat yang merekam pertumbuhan Bandung dari pinggiran ke pusat aktivitas.

Suasana Jalan Soekarno Hatta, Bandung. (Foto: Irfan Al Faritsi/Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 08:57

Inilah 5 Hierarki Kebutuhan Mahasiswa dari Garut di UIN Bandung Tahun 2002

Tahun 2002, saya resmi jadi mahasiswa di UIN Bandung. Modalnya? Nekat.

Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 18:12

Tantangan Komunikasi Perantau

Pasca mudik Lebaran, kota-kota besar didatangi para perantau baru.

Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 06 Apr 2026, 17:02

Menghadapi "Paradoks Rebana", Antara Ambisi Industri dan Realitas Kompetensi Lokal

Kawasan Metropolitan Rebana yang meliputi Cirebon (Kota), Cirebon (Kabupaten), Indramayu, Majalengka, Kuningan hingga Subang kini tengah bersiap menjadi motor penggerak ekonomi masa depan Jawa Barat.

Kawasan Rebana kini telah didukung oleh konektivitas terbaik salah satunya Pelabuhan Patimban untuk ekspor-impor, yang merupakan magnet bagi investor global. (Sumber: portalkemhub.go.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 17:02

10 Netizen Terpilih Maret 2026: Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan

Tulisan-tulisan terbaik yang masuk ke kanal Ayo Netizen sepanjang Maret 2026.

Umat Islam setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di pelataran Gedung Sate. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)