Ruang Terakhir yang Kian Sempit

4 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, kematian kini tidak lagi sekadar peristiwa sunyi yang diiringi doa dan perpisahan. Ia mulai bersinggungan dengan satu hal yang semakin langka di perkotaan, yaitu ruang.

Lahan pemakaman yang dikelola pemerintah kian terbatas. Dilansir dari rakyatmediapress.co.id, Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan (Distamhut) DKI Jakarta, Fajar Sauri, mengungkapkan data terkini mengenai kondisi TPU di Jakarta. Dari 80 TPU yang tersebar di 5 wilayah DKI, sebanyak 69 TPU sudah penuh atau hampir penuh.

Sebagian besar TPU yang penuh menerapkan sistem pemakaman tumpang atau makam keluarga untuk memanfaatkan lahan yang ada. Sistem ini dilakukan dalam satu liang lahad keluarga dan dianggap sebagai solusi sementara yang efektif.

Sedangkan laporan dari jabarekspres.com, Kepala Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi, dan Tata Ruang (Cipta Bintar) Kota Bandung, Rulli Subhanuddin, mengatakan :“Dari total 14 TPU yang dikelola Pemkot Bandung, rata-rata kondisinya sudah penuh dan pendekatannya menggunakan makam tumpang. Hanya TPU Rancacili yang masih memiliki ruang karena adanya penambahan lahan pada 2022 dan 2024,” ujar Rulli, Rabu (21/1).

Di sejumlah tempat pemakaman umum, kebijakan pun harus diambil untuk mengoptimalkan ruang yang tersisa. Makam tumpang tindih menjadi pilihan yang tak terelakkan—bahkan hingga tiga jenazah dalam satu liang. Di atas kertas, ini adalah solusi. Namun di baliknya, tersimpan kenyataan yang lebih dalam: kota-kota kita perlahan kehabisan tempat, bahkan untuk yang telah pergi.

Bahkan disampaikan bahwa dua sampai tiga tahun mendatang DKI Jakarta dan Kota Bandung akan mengalami krisi lahan pemakaman. Daya tampung lahan pemakaman milik pemerintah benar-benar mencapai batasnya. Pertumbuhan penduduk yang tinggi, urbanisasi yang masif, serta keterbatasan lahan menjadikan kematian ikut masuk dalam persoalan tata ruang kota.

Kita membangun gedung-gedung tinggi, memperluas kawasan permukiman, membuka pusat-pusat ekonomi baru. Namun diam-diam, ada satu hal yang luput dari perhatian, yaitu ruang bagi akhir kehidupan.

Di tengah keterbatasan tersebut, sektor swasta mulai mengambil peran. Al Azhar Memorial Garden hadir, menawarkan tempat pemakaman yang terbaik dengan berbagai kemudahan dan kepastian. Tidak hanya menyediakan lahan, tetapi juga menghadirkan layanan terpadu: perawatan makam seumur hidup, kavling khusus pasangan, hingga area keluarga yang dapat menampung beberapa anggota dalam satu lokasi. Bahkan, seluruh prosesi pemakaman dapat ditangani secara profesional, cukup dengan satu kali pembayaran di awal.

Bagi sebagian orang, ini adalah solusi yang menenangkan. Tidak ada lagi kekhawatiran soal ketersediaan lahan. Tidak ada beban bagi keluarga yang ditinggalkan. Semuanya telah direncanakan dengan rapi, bahkan sejak seseorang masih hidup.

Dalam banyak hal, pendekatan ini menghadirkan kepastian dan ketertiban yang mungkin sulit ditemukan di pemakaman umum. Ia menjawab kebutuhan masyarakat urban yang semakin menginginkan segala sesuatu terencana, termasuk kematian itu sendiri.

Kavling Single di Al Azhar Memorial Garden. (Sumber: alazharmemorialgarden.com)
Kavling Single di Al Azhar Memorial Garden. (Sumber: alazharmemorialgarden.com)

Namun di sinilah pertanyaan yang lebih mendalam muncul.

Ketika liang lahat dapat dibeli dalam bentuk paket—single, pasangan, hingga keluarga besar—apakah kematian perlahan bergeser menjadi bagian dari transaksi ekonomi? Ketika sebagian orang mampu memilih tempat peristirahatan terakhir yang eksklusif dan terawat, sementara sebagian lainnya harus berbagi ruang dalam satu liang, apakah kesenjangan sosial juga ikut terbawa hingga ke dalam kematian?

Kematian, yang selama ini dipahami sebagai titik paling setara dalam kehidupan manusia, justru mulai memperlihatkan wajah lain, ia tidak sepenuhnya lepas dari perbedaan kemampuan dan akses.

Fenomena ini tidak bisa disederhanakan menjadi benar atau salah. Pemakaman komersial hadir sebagai respons atas keterbatasan nyata yang dihadapi pemerintah. Ia membantu mengurangi tekanan terhadap lahan publik, sekaligus memberikan alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan.

Namun, menyerahkan sepenuhnya urusan ruang kematian kepada mekanisme pasar bukan tanpa risiko. Tanpa regulasi yang jelas, komersialisasi dapat melahirkan ketimpangan baru—yang mungkin tidak tampak mencolok, tetapi terasa dalam diam.

Di sisi lain, negara tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap warga, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memiliki akses terhadap pemakaman yang layak. Inovasi dalam tata kelola pemakaman menjadi kebutuhan mendesak. Pengembangan konsep pemakaman vertikal, optimalisasi lahan secara berkelanjutan, hingga integrasi perencanaan pemakaman dalam tata ruang kota perlu mulai dipikirkan secara serius.

Lebih dari itu, masyarakat juga perlu diajak untuk membuka ruang dialog—tentang bagaimana kita memandang kematian di tengah realitas kota modern yang terus berubah.

Pada akhirnya, persoalan keterbatasan lahan pemakaman bukan semata tentang tanah yang semakin sempit. Ia adalah cermin dari cara kita merancang kehidupan di kota: apa yang kita prioritaskan, dan apa yang kita abaikan.

Sebab kota yang baik bukan hanya yang mampu menampung kehidupan dengan segala dinamikanya, tetapi juga yang mampu menyediakan ruang yang layak bagi akhir kehidupan—tanpa harus kehilangan nilai kemanusiaannya.

Dan mungkin, dari keterbatasan ruang terakhir ini, kita diingatkan kembali tentang satu hal yang paling sederhana: bahwa pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah tempat yang luas, tetapi tempat yang layak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)