Pendidikan Bertumbuh Dimulai dari Guru yang Growth Mindset

3 menit baca
Disya Dwi Nurhidayah
Ditulis oleh Disya Dwi Nurhidayah diterbitkan
Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

Pendidikan menjadi aset dan investasi jangka panjang. Bahkan tidak sedikit orang yang terangkat derajatnya karena melalui pengalaman pendidikan. Melalui pendidikan dapat membentuk pola pikir dan emosional seseorang yang lebih matang. Walaupun memang pendidikan dapat dilakukan secara formal dan non formal. Namun, semua itu pada dasarnya pendidikan sebagai usaha secara sadar untuk membentuk jiwa dan kepribadian supaya menjadi manusia yang humanis dan berdampak bagi lingkungannya.

Pergerakan Taman Siswa dahulu sebagai bentuk nyata dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan saat itu menjadi alat mobilisasi politik dan penyejahtera umat, menghasilkan kepemimpinan anak bangsa untuk memimpin rakyat, dan memperoleh pemerataaan pendidikan yang bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Saat itu Ki Hadjar Dewantara mendobrak pendidikan kolonial yang dianggap tidak sesuai dengan jiwa kepribadian Bangsa Indonesia karena menekankan pada matearilistik, individualistik, dan intelektualistik, sehingga diluruskan oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi humanis dan populis, serta memayu hayuning bawana (memelihara kedamaian dunia). Oleh karena itu, pendidikan bukan mengajarkan kepintaran (sekadar pengajaran), tetapi mengembangkan kecerdasan secara kodrati untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Pendidik adalah agen yang krusial dalam membangun murid-murid menjadi manusia humanis dan menuntun secara kodrati. Pola pikir yang dimiliki seorang Guru perlu menerapkan pola pikir bertumbuh agar menuntun para muridnya didalam pengalaman pembelajarannya menjadi peluang untuk belajar tumbuh dan berkembang. Sebagaimana patrap Guru atau tingkah laku guru yang selama ini kita kenal dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi landasan untuk para pendidik dalam membentuk pola pikir bertumbuh, yaitu "Ing Ngarsa Sung Tulada" (di muka memberikan contoh), "Ing Madya Mangunkarsa" (Di tengah membangun cita-cita), dan "Tut Wuri Handayani" (mengikuti dan mendukungnya). Darisanalah kita bisa memandang bahwa Guru menjadi titik krusial yang memengaruhi timbal balik murid agar memiliki pola pikir bertumbuh secara kodrat alam dan kemajuan berjalan secara kodrati. Maka dari itu, kita perlu sepakat bahwa setiap karakter murid memiliki perbedaan, sehingga guru hanya perlu menuntun untuk tumbuh atau hidup kekuatannya agar bisa memperbaiki lakunya (bukan dasarnya). Begitupun Guru dengan pola pikir bertumbuh menentukan timbal balik merespon tantangan agar memotivasi dan menginovasi untuk mencapai keberhasilan murid, serta guru-guru di belakang harus bisa memengaruhi dan memberikan jalan dengan menuntun tumbuh kembang potensi diri.

pentingnya memberikan dukungan sesuai dengan minat bakat dan kreativitas (Sumber: tim tari SMPN 1 Kasokandel | Foto: Disya Dwi Nurhidayah)
pentingnya memberikan dukungan sesuai dengan minat bakat dan kreativitas (Sumber: tim tari SMPN 1 Kasokandel | Foto: Disya Dwi Nurhidayah)

Alternatif penulis pernah lakukan dalam pendidikan yang berpusat pada murid, yakni Guru tidak harus terfokus pada penyampaian materi pembelajaran yang disampaikan, melainkan materi pembelajaran adalah alat untuk melihat potensi murid. Darisanalah Guru didalam proses pembelajaran sebagai ruang untuk "mencari bibit" (murid diarahkan sesuai dengan minat dan bakatnya). Hal tersebut memberikan ruang kebebasan positif dan pemikiran merdeka (Ngemong) untuk menumbuhkembangkan potensi diri yang selama ini belum terekspose.

Melalui kegiatan tersebut murid-murid akan merasa nyaman dalam mengikuti pembelajaran karena diarahkan sesuai dengan hobi relevan dengan individu masing-masing. Serta yang paling penting dalam keberhasilan kegiatan tersebut adalah keterbukaan guru, dalam artian mau memberikan bimbingan tambahan di luar jam pelajaran, terkadang guru mau memberikan ruang untuk menggali potensi diri murid, namun enggan memberikan fleksibelitas kepada murid untuk tumbuh dan berkembang di luar jam pelajaran, sehingga perlu dibekali dengan eksplorasi tambahan, namun tidak absolut mengikuti rutinitas guru tetapkan, melainkan guru hanya perlu menuntunnya bukan memaksa muridnya.

mendidik adalah mengasuh untuk memberikan ruang eksplorasi (Sumber: murid SMPN 1 Kasokandel dalam kegiatan penampilan workshop Gamelan Sorawatu | Foto: Disya Dwi Nurhidayah)
mendidik adalah mengasuh untuk memberikan ruang eksplorasi (Sumber: murid SMPN 1 Kasokandel dalam kegiatan penampilan workshop Gamelan Sorawatu | Foto: Disya Dwi Nurhidayah)

Pendalaman materi filosofi pendidikan dan pendidikan nilai mulai saya perkuat dalam kegiatan perkuliahan Pendidikan Profesi Guru (PPG), termasuk didalamya berupa pemikiran dan visi pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara, serta kepribadian Guru itu sangat diperlukan memiliki pola pikir bertumbuh (Growth Mindset) yang menjadi timbal balik untuk para murid.

Keberhasilan murid didukung atas motivasi dan ruang positif untuk membangun cara belajar murid, serta fleksibelitas tanpa paksaan juga mendukung dalam mengeksplorasi minat dan bakatnya. Dengan demikian, perlu diketahui bahwa “murid tidak akan mau belajar dengan guru yang mereka tidak disukainya”. (*)

RUJUKAN

  1. Wiryopranoto,Suhartono. (2017). Ki Hadjar Dewantara Pemikiran dan Perjuangannya.Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Samho,Bartolomeus. (2013). Emong Among Pamong Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Tantangan dan Relevansi.Yogyakarta: Kanisius.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)