Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

BANDUNG itu bukan sekadar sebuah kota. Ia juga adalah titik balik cara dunia melihat dirinya sendiri. Dari Bandung, sejarah tidak lagi hanya ditulis oleh yang menang.

Kita sama-sama ketahui, pada tahun 1955 lampau, puluhan negara Asia dan Afrika berkumpul dalam satu ruang yang sama. Mereka datang bukan sebagai kekuatan besar, tapi sebagai pengalaman bersama, yakni pernah dijajah. Dari situ, percakapan global mulai bergeser.

Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 sejatinya bukan hanya forum diplomasi. Ia adalah momen ketika suara yang selama ini dipinggirkan mulai terdengar dan sekaligus mengganggu tatanan lama.

Panggung sempit

Sebelum peristiwa bersejarah di Bandung itu, dunia internasional adalah panggung yang sempit, di mana hanya sedikit aktor yang benar-benar berbicara. Sisanya lebih sering menjadi bahan pembicaraan.

Negara-negara Asia-Afrika pada masa itu lebih sering hadir sebagai objek. Mereka dibicarakan dalam konteks konflik, sumber daya, atau ketertinggalan. Jarang sekali mereka dilihat sebagai subjek dengan kehendak sendiri.

Bandung akhirnya mengubah posisi itu secara perlahan dengan keberanian menyatakan posisi. Itu mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya panjang.

Untuk pertama kalinya, negara-negara yang sebelumnya terfragmentasi menemukan bahasa bersama: bahasa tentang kedaulatan, kesetaraan, dan penolakan terhadap dominasi. Dari situ, solidaritas mulai terbentuk.

Yang menarik, solidaritas itu tidak lahir dari kesamaan ideologi. Justru dari kesamaan pengalaman historis. Pengalaman dijajah ternyata lebih kuat daripada perbedaan politik.

Di titik ini, maka Bandung menjadi lebih dari peristiwa. Ia menjadi cara pandang, sebuah standpoint ihwal bagaimana dunia seharusnya dibaca.

Dalam kaitan ini, dunia tidak lagi dilihat dari pusat kekuasaan, melainkan dari pinggiran yang selama ini diabaikan. Dari situ, banyak asumsi lama mulai dipertanyakan.

Misalnya, anggapan bahwa modernitas hanya milik Barat. Bandung menunjukkan bahwa negara-negara lain juga punya aspirasi modernitasnya sendiri, dengan jalan yang berbeda.

Begitu juga dengan konsep pembangunan. Bandung membuka ruang bahwa pembangunan tidak harus mengikuti satu model tunggal. Ada banyak jalur, dan itu sah-sah saja.

Namun, transformasi dari objek menjadi subjek tidak terjadi seketika. Ia berjalan lambat, sering tersendat. Bahkan, kadang mundur.

Terjebak ketergantungan

Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)
Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)

Banyak negara Asia-Afrika setelah merdeka justru terjebak dalam ketergantungan baru. Secara formal bebas merdeka, tapi secara struktural masih terikat. Ini menunjukkan bahwa menjadi subjek bukan hanya soal status politik.

Menjadi subjek berarti mampu menentukan arah sendiri. Itu membutuhkan kapasitas, bukan sekadar kedaulatan. Di sinilah tantangan sebenarnya muncul.

Bandung memang telah memberi fondasi, tapi tidak memberikan jawaban final. Ia membuka pintu, bukan menyediakan jalan. Sisanya harus dibangun sendiri oleh masing-masing negara.

Dalam konteks ini, Bandung lebih tepat dilihat sebagai proses. Jadi, bukan sebuah titik akhir. 

Yang mungkin sering dilupakan, Bandung juga adalah proyek narasi. Ia mencoba menggeser cara dunia diceritakan, dari satu pusat ke banyak pusat.

Di sinilah politik pengetahuan mulai berperan. Siapa yang menceritakan dunia, akan menentukan bagaimana dunia dipahami. Dan Bandung mencoba merebut ruang itu.

Namun, ruang narasi global ini tidak pernah netral. Ia selalu diperebutkan. Dan seringkali, yang punya sumber daya lebih besar akan lebih dominan.

Karena itu, suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Kembali relevan

Hari ini, ketika dunia bergerak menuju multipolaritas, semangat Bandung kembali relevan. Banyak negara mulai mencari posisi yang lebih mandiri. Mereka tidak ingin sepenuhnya berada dalam orbit kekuatan besar.

Di titik ini, menjadi subjek global kembali menjadi isu penting. Bukan hanya bagi negara, tapi juga bagi kawasan. Asia dan Afrika kembali mencari suaranya.

Namun, tantangannya kini tentu berbeda. Jika dulu kolonialisme bersifat fisik, sekarang lebih halus. Ia berbentuk ekonomi, teknologi, bahkan data.

Ini membuat konsep subjek menjadi lebih kompleks. Artinya, kita tidak cukup hanya merdeka secara politik, melainkan harus juga berdaulat dalam banyak dimensi lain.

Bandung telah memberi kita kerangka awal untuk memahami itu. Bahwa kemandirian bukan sesuatu yang diberikan tapi diperjuangkan terus-menerus.

Dalam konteks diplomasi publik, ini menjadi menarik. Narasi Bandung bisa menjadi alat untuk membangun posisi. Namun, hanya jika narasi itu dihidupkan, bukan sekadar diingat.

Museum KAA hingga hari ini berdiri sebagai pengingat. Namun, ia sesungguhnya bisa lebih dari itu. Ia bisa menjadi ruang produksi makna baru.

Persoalannya, apakah kita masih melihat Bandung sebagai peristiwa masa lalu? Atau sebagai cara membaca dunia hari ini? Jawaban atas pesoalan omo akan menentukan arah ke depan.

Karena pada akhirnya, menjadi subjek global bukan status yang sekali jadi. Ia adalah proses yang terus dinegosiasikan. Bandung hanya salah satu titik awalnya.

Dan mungkin, justru di situlah kekuatan Bandung. Kota ini tidak menawarkan kepastian. Tapi, membuka banyak kemungkinan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)