Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

5 menit baca
Juli Prasetya
Ditulis oleh Juli Prasetya diterbitkan
Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)

Saya ingin membuka tulisan ini, dengan mengutip sebuah hadis dari Rasulullah saw. Tentang menghormati orangtua. Bahwa ibu disebutkan 3 kali, dan ayah disebutkan 1 kali setelah ibu. Hadis ini menunjukkan tentang konteks penghormatan yang lebih besar kepada ibu dibandingkan ayah. Karena ibu dianggap memiliki peran yang amat vital dan penting dalam menemani tumbuh kembang anak, ibu menjadi sekolah pertama bagi anak, yang tentunya memiliki peran yang menentukan, bagaimana kelak anak akan tumbuh dan menjalani hidupnya dengan baik, atau malah terjerumus dalam kegelapan tak bertepi.

Namun tentu saja seharusnya peran untuk membimbing, membesarkan, dan mendidik anak ini, tidak hanya berada di pundak ibu, ia tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu semata. Tapi ada sosok ayah di sana. Dalam sebuah keluarga, sosok ayah sangat penting untuk membantu tumbuh kembang anak yang ideal. Sebuah keluarga tanpa sosok ayah  tentu saja akan mengalami kekosongan tersendiri di dalam jiwa anak. Entah itu untuk anak laki-laki terlebih anak perempuan.  Padahal peran ayah yang ideal adalah kehadiran dia di dalam keluarga tersebut, untuk melindungi, mengayomi, membimbing, menjadi tauladan, memberi rasa aman dan nyaman bagi keluarga tersebut, khususnya bagi anak.

Namun di era modern ini, apalagi ditambah dengan sistem patriarki yang mengakar kuat dalam kebudayaan kita, ternyata peran ayah dipandang hanya sebatas menjadi sosok pencari nafkah keluarga saja, dan untuk mengurus anak biasanya peran ini diberikan kepada ibunya. Kepada perempuan. Pembagian peran ini sekilas tentu saja terlihat ideal, bagus dan memang semestinya begitu, namun bukankah sudah seharusnya orang tua memberikan peran yang lengkap kepada anaknya, entah itu dari pihak ibu maupun dari pihak ayah.

Perlu diingat sosok ayah juga tak kalah penting untuk membentuk karakter dan kognisi anak, karen peran ayah ini juga memegang peran kunci dalam pembentukan karakter anak tersebut. Namun seringkali peran ayah ini terkendala oleh tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga yang mencari nafkah, sampai lupa bahwa sebenarnya ia juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang saa untuk mendidik, membimbing, dan menemani tumbuh kembang anak-anaknya.

Anak yang fatherless atau kurang peranan ayah/ tidak memiliki sosok ayah di dalam hidupnya, jiwanya sangat rentan. Menurut data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2024 menunjukkan sekitar 15,9 juta anak Indonesia (20,1%) mengalami fatherless. Angka ini mencakup 4,4 juta anak yang tidak tinggal bersama ayah dan 11,5 juta anak yang tinggal bersama ayah tetapi ayahnya memiliki jam kerja sangat tinggi (lebih dari 60 jam/minggu). Sebuah laporan dari UNICEF tahun 2021 juga menunjukkan sekitar 20,9% anak Indonesia mengalami fatherless. Lalu apa dampak atau akibat dari anak-anak fatherless ini, anak-anak yang tidak memiliki sosok ayah dalam hidupnya? Akan banyak hal yang akan dialami oleh anak yang tumbuh tanpa sosok ayah atau fatherless ini. Jiwa mereka akan menjadi rentan, gangguan emosional yang tidak stabil, kesepian, gangguan kecemasan, depresi,  rasa tidak aman, kenakalan remaja, dan yang paling parah adalah mereka akan menjadi pribadi yang rendah diri, tidak percaya diri.  Karena mereka tidak memiliki sosok atau role model seseorang yang bisa menjadi teladan dalam hidupnya, dan ini tentu saja memicu kekosongan sosok hero yang baik dan bertanggung jawab dalam jiwanya. Sehingga anak akan tumbuh tanpa memiliki perasaan itu,  dan sulit untuk mengambil keputusan di saat-saat paling kritis dalam hidupnya.

Sosok ayah seharusnya juga memegang peran pendidik yang sama pentingnya dengan seorang ibu. Seorang ibu memang menjadi madrasah nomor satu bagi anak, namun jangan lupa sosok ayah adalah kepala madrasah tersebut, dan ia juga seharusnya memainkan peran yang sama pentingnya dalam proses tumbuh kembang anak, agar anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang baik, berkarakter, dan bisa mengambil keputusan dengan tepat ketika kelak ia dewasa,  sehingga diharapkan ia tidak akan kekurangan sosok teladan dalam hidupnya. Karena seperti pepatah mengatakan bahwa buah tak jauh jatuh dari pohonnya, maka suri teladan ayah dan kenangan yang diberikan sosok ayah kepada anaknya, pasti akan sangat membekas dan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak secara lahir maupun batinnya di masa depan.

Maka peran ayah dalam mendidik anak, membimbing anak, ini sama pentingnya dengan peran ibu, dan tugas ini seharusnya tidak bisa dilakukan hanya seorang diri. Karena tugas mendidik anak ini diperlukan kerjasama yang baik antara ayah dan ibu. Bukankah itu yang dinamakan dengan keluarga, sebagai rumah tangga yang ideal?

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya, sebagai kepala keluarga juga sebagai kepala madrasah bagi anak-anaknya. Sosok ayah yang meskipun hanya disebut satu kali di dalam hadis rasulullah tentang bakti kepada orang tua, tapi hal itu tidak mengurangi peran penting seorang ayah dalam sebuah keluarga. Peran pentingnya dalam menemani tumbuh kembang anak.

Kerja sama yang baik antara ayah dan ibu ini menjadi pilar penting dalam membentuk karakter anak, dan pembentukan karakter anak ini akan berpengaruh terhadap perkembangan peradaban sebuah bangsa dan negara. Karena pembangunan karakter bangsa itu pada dasarnya diawali dari rumah, dari keluarga terkecil dalam sebuah rumah tangga. Keluarga menjadi salah satu pilar yang akan membentuk sebuah bangsa menjadi bangsa yang besar atau malah akan melahirkan bangsa pecundang. Jadi jangan remehkan peran keluarga dalam pembentukan kebudayaan dan peradaban sebuah bangsa. Dan ini harus diawali dari peran yang seimbang antara ayah dan ibu untuk mendidik, mebimbing, dan menggali potensi anak secara optimal.

Peran ayah di sini tidak lagi dipandang sebagai sosok yang hanya memenuhi kebutuhan secara finansial semata, tapi juga harus bisa memenuhi kebutuhan batin dan jiwa dari sang anak. Sosok ayah harus memberikan kesan dan suri tauladan yang baik bagi anak, karena anak adalah seorang peniru ulung, mereka adalah seorang pengkopi andal jika menyangkut dengan meniru perilaku orangtuanya.   

Mendidik, membimbing, menemani tumbuh kembang, dan mengoptimalkan bakat anak adalah tanggung jawab bersama, dan di sini kita jadi menyadari bahwa memang tidak mudah menjadi orangtua. Diperlukan kerja sama dan komunikasi yang baik antara ayah dan ibu dalam membina, mendidik, dan mengembangkan karakter dan potensi anak. Maka di sinilah kedua orang tua harus memainkan peran yang sama pentingnya. Ayah harus mengambil bagian dalam mengurus dan menemani anak bermain dan belajar, ini tidak hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan secara fisik dan kognisi anak tapi juga terhadap sisi psikologisnya. Lalu ibu juga harus bekerja sama, dan menjadi partner yang baik bagi ayah untuk bersama melihat dan mengawasi tumbuh kembang anak di setiap harinya. Agar nantinya akan terlahir keluarga sakinah, mawaddah, dan rohmah. Disertai dengan keturunan yang saleh, saleha. Seorang anak yang berkarakter, cerdas,  berbudi luhur, berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Juli Prasetya
Tentang Juli Prasetya
Penulis asal Banyumas. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)