Di tengah pesatnya modernisasi perkotaan, identitas budaya sering kali perlahan memudar akibat dominasi pembangunan yang seragam dan berorientasi ekonomi. Namun, Kota Tangerang masih memiliki ruang-ruang simbolik yang mampu menjaga memori kolektif masyarakatnya. Salah satu representasi paling nyata dari hal tersebut adalah Masjid Agung Al-Ittihad. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah umat Islam, melainkan juga cerminan sejarah panjang toleransi, akulturasi budaya, dan kehidupan multikultural masyarakat Kota Tangerang.
Keberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata. Berdiri sejak tahun 1961 di kawasan Jalan Kisamaun, masjid ini tumbuh di tengah wilayah bersejarah yang sejak lama menjadi titik pertemuan berbagai etnis dan budaya di Kota Tangerang. Kawasan di sekitarnya dikenal sebagai ruang hidup masyarakat Betawi, Sunda, Arab, hingga Tionghoa yang telah berabad-abad menjadi bagian penting dari identitas sosial Tangerang.
Keunikan paling menonjol dari Masjid Agung Al-Ittihad terlihat pada arsitekturnya. Bentuk kubahnya tidak sepenuhnya menyerupai kubah Timur Tengah seperti masjid pada umumnya, melainkan memiliki sentuhan menyerupai atap pagoda khas budaya Tionghoa. Perpaduan ini menunjukkan bahwa proses penyebaran Islam di Tangerang tidak berlangsung melalui penghapusan budaya lokal, tetapi melalui proses adaptasi dan akulturasi yang harmonis. Arsitektur tersebut menjadi simbol bahwa identitas keislaman dapat berjalan berdampingan dengan kebudayaan lokal tanpa kehilangan nilai spiritualnya.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa multikulturalisme bukan sekadar slogan sosial, tetapi hadir dalam bentuk nyata melalui ruang publik dan bangunan bersejarah. Masjid Agung Al-Ittihad menjadi simbol persatuan masyarakat lintas etnis. Letak masjid yang berada di dekat kawasan Pasar Lama semakin memperkuat posisinya sebagai titik temu sosial masyarakat. Tak jauh dari lokasi masjid terdapat situs budaya dan rumah ibadah lain yang mencerminkan keberagaman Kota Tangerang, seperti Museum Benteng Heritage dan Klenteng Boen Tek Bio. Kedekatan geografis antar ruang ibadah tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Tangerang memiliki tradisi hidup berdampingan.

Selain itu, Masjid Agung Al-Ittihad juga memiliki nilai historis yang penting. Pada masa lalu, kawasan di sekitar masjid berkaitan dengan pusat pemerintahan lama Kabupaten Tangerang dan menjadi titik persinggahan masyarakat dari berbagai daerah di Banten sebelum menuju Batavia. Masjid Agung Al-Ittihad menghadirkan pesan penting bahwa keberagaman tidak harus melahirkan konflik. Justru, identitas budaya yang berbeda dapat menjadi fondasi persatuan apabila dirawat melalui ruang sosial yang inklusif. Nilai inilah yang menjadikan masjid tersebut relevan sebagai simbol multikulturalisme modern di Kota Tangerang.
Masjid Agung Al-Ittihad pada akhirnya bukan sekadar bangunan monumental di pusat Kota Tangerang. Ia adalah representasi memori kolektif masyarakat Kota Benteng yang tumbuh melalui toleransi, akulturasi, dan semangat persatuan. Di tengah arus globalisasi dan homogenisasi budaya, keberadaan masjid ini menjadi pengingat bahwa identitas lokal yang inklusif merupakan modal penting dalam menjaga harmoni sosial masyarakat Indonesia yang majemuk. (*)