Di Serambi Masjid, Warga Bandung Belajar Arti Berkorban Melalui Donor Darah

6 menit baca
Uwes Fatoni
Ditulis oleh Uwes Fatoni diterbitkan Senin 18 Mei 2026, 09:19 WIB
 Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)

Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)

Memasuki pelataran Masjid Baitul Mu’min Jatiendah Cilengkrang Bandung pada Ahad pagi, 17 Mei 2026, saya tertegun melihat satu momen sederhana tetapi terasa sangat membekas: warga berbondong-bondong datang ke selasar Masjid bukan untuk beribadah ritual, tetapi melakukan bakti kemanusiaan, mendonorkan darah. Di serambi masjid itu, saya melihat bentuk pengorbanan yang terasa sunyi, tidak ramai dibicarakan, tetapi sangat berarti bagi kehidupan sesama manusia.

Di tengah kehidupan kota yang sering membuat orang sibuk dengan urusannya masing-masing, masih ada warga yang menyempatkan diri datang, antre, diperiksa kesehatannya, lalu menyumbangkan darahnya untuk orang yang bahkan mungkin tidak mereka kenal.

Tidak ada jamaah yang tahu darah yang didonorkannya akan disumbangkan kepada siapa, sukunya apa, agamanya apa, orang baik atau orang jahat. Satu niat yang dicanangkan dalam hari mereka ketika mendonorkan darahnya: ikhlas menyumbangkan darah bagi orang yang membutuhkan. Biar PMI yang menentukan setelah darah diserahkan, lebih lanjut akan diberikan kepada siapa.

Dalam ajaran Islam, aksi kemanusiaan seperti donor darah ini dapat dilihat melalui konsep hifz al-nafs dalam konsep Maqashid Syariah. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali hifz al-nafs berarti menjaga jiwa manusia. Nilai ini menegaskan bahwa menolong sesama tidak dibatasi oleh agama, asal-usul, atau status sosial. Setiap jiwa yang membutuhkan pertolongan memiliki hak untuk dibantu. Karena itu, donor darah menjadi bentuk pengamalan nilai Islam yang universal: menjaga kehidupan dan menghadirkan manfaat bagi siapa pun yang membutuhkan.

Di Ahad pagi itu, suasana Masjid Baitul Mu’min lebih hidup dari biasanya. Area serambi masjid yang biasanya pagi hari lengang dari aktivitas jamaah, berubah menjadi ruang pelayanan donor darah. Kursi antrean, meja pemeriksaan, perlengkapan medis, dan tempat donor disiapkan rapi oleh panitia dari Majelis Ta'lim Baitul Mu'min (MTBM).

Di sisi lain serambi masjid, para petugas dari PMI Kota Bandung juga terlihat sigap melayani peserta. Mereka memeriksa kondisi calon pendonor, mencatat data, mengecek tekanan darah, lalu mendampingi proses pengambilan darah dengan teliti.

Beberapa peserta duduk menunggu giliran. Ada yang memegang formulir, ada yang berbincang dengan jamaah lain, dan ada pula yang tersenyum ketika berinteraksi dengan petugas kesehatan.

Suasana kegiatan nampak tertib tidak terasa seperti pemeriksaan medis formal. Lebih terasa seperti pertemuan keluarga besar jamaah masjid yang sedang bekerja bersama untuk satu tujuan: membantu sesama.

Para pendonor yang memenuhi syarat kemudian berbaring di kursi donor. Petugas medis memasang alat dengan hati-hati dan memastikan peserta tetap nyaman selama proses berlangsung.

Di titik itulah saya melihat makna pengorbanan secara nyata. Para pendonor tidak datang untuk menerima sesuatu. Mereka datang untuk memberikan sebagian kecil dari dirinya agar orang lain memiliki harapan untuk sembuh.

Tindakan seperti ini bisa dibaca dari kacamata teori altruism dari C. Daniel Batson, seorang ahli psikologi sosial. Batson menjelaskan bahwa seseorang dapat menolong orang lain karena dorongan empati, bukan karena ingin mendapat imbalan langsung. Ketika seseorang mampu membayangkan penderitaan orang lain, muncul kepedulian yang mendorongnya untuk bertindak.

Donor darah menjadi contoh nyata dari empati itu. Para pendonor tidak tahu siapa penerima darahnya, tidak mengenal latar belakangnya, bahkan mungkin tidak akan pernah bertemu. Namun, mereka tetap memberi karena menyadari ada manusia lain yang sedang membutuhkan pertolongan.

Kegiatan ini diikuti oleh 96 pendaftar. Setelah melalui pemeriksaan kesehatan, sebanyak 84 labu kantong darah berhasil terkumpul. Sementara itu, 12 orang belum dapat mendonorkan darah karena tidak memenuhi persyaratan kesehatan pada saat pemeriksaan.

Ketua Majelis Taklim Baitul Mu’min, Leni Tresnawati, ketika saya wawancara di sela-sela acara menyampaikan bahwa kegiatan donor darah ini menjadi bentuk kepedulian jamaah terhadap kebutuhan kemanusiaan. Menurutnya, majelis taklim tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga perlu hadir dalam aksi sosial yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Alhamdulillah, kegiatan Bakti Sosial Donor Darah Majelis Taklim Baitul Mu’min bekerja sama dengan PMI Kota Bandung berjalan lancar. Kami bersyukur karena jamaah dan warga sangat antusias. Setetes darah yang disumbangkan para pendonor sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Leni Tresnawati.

Leni menjelaskan bahwa sebelum kegiatan berlangsung, panitia telah menyampaikan persyaratan donor. Calon pendonor harus berusia 17 sampai 65 tahun, memiliki tekanan darah normal, tidak sedang mengonsumsi obat-obatan atau antibiotik tiga hari sebelum donor, serta beristirahat cukup sehari sebelumnya.

Bagi pendonor perempuan, panitia mengingatkan agar tidak sedang haid, hamil, atau menyusui. Peserta juga diminta membawa KTP, SIM, atau kartu identitas lain.

Syarat-syarat itu menunjukkan bahwa donor darah bukan hanya soal niat baik. Ada proses yang harus dilalui agar pendonor tetap aman dan darah yang diberikan layak digunakan untuk membantu pasien. Sebuah bentuk ibadah hablum minan naas, hubungan sesama manusia, yang tidak bisa dibantah kebermanfaatannya.

Surat dari PMI ucapan terima kasih untuk KDD Masjid Baitul Mu'min (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)
Surat dari PMI ucapan terima kasih untuk KDD Masjid Baitul Mu'min (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)

Selesai acara PMI Kota Bandung menyampaikan melalui surat resmi yang ditandatangani Ketua PMI Kota Bandung, Ade Koesjanto, memberikan apresiasi kepada Keluarga Donor Darah (KDD) di lingkungan Masjid Baitul Mu’min. PMI Kota Bandung ungkapnya mengucapkan terima kasih kepada pengurus KDD dan seluruh peserta donor yang telah berperan aktif dalam kegiatan tersebut.

PMI Kota Bandung mencatat bahwa donasi darah yang berhasil terkumpul mencapai 84 labu darah, sedangkan jumlah calon pendonor yang ditolak sebanyak 12 orang. dan

“Atas nama mereka yang telah tertolong dan terselamatkan jiwanya, kami menyampaikan terima kasih kepada para pendonor. Tuhan Yang Maha Kuasa mengetahui niat baik Bapak, Ibu, dan Saudara, dan semoga membalas semua kebaikan tersebut,” ungkapnya.

Kepala Unit Donor Darah PMI Kota Bandung, Dr. Hj. Uke Muktimanah, MH.Kes., juga berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut. Menurutnya, kegiatan donor darah berbasis komunitas sangat penting karena kebutuhan darah di masyarakat selalu ada setiap hari.

“Kami berharap pada masa yang akan datang kegiatan donor darah ini tetap terjalin dengan baik. PMI Kota Bandung menunggu informasi kegiatan donor darah selanjutnya,” ujar Dr. Hj. Uke Muktimanah, MH.Kes.

Bagi saya sebagai warga Bandung, kegiatan ini memberi pelajaran sederhana. Hidup di kota besar sering kali menguji kesabaran: antre, bekerja, mengejar waktu, dan menghadapi kesibukan yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun, di tengah semua itu, warga masih bisa memilih untuk berhenti sejenak dan melakukan sesuatu bagi orang lain.

Di serambi Masjid Baitul Mu’min, pengorbanan tersebut memang tidak terlihat besar. Ia hadir dalam bentuk waktu yang diluangkan, kesabaran menunggu giliran, dan keikhlasan memberi darah bagi orang yang membutuhkan.

Donor darah bukan hanya tindakan medis, tetapi juga tindakan sosial yang menunjukkan bahwa manusia dapat melampaui kepentingan dirinya sendiri. Di tengah kehidupan kota yang sering membuat orang sibuk mengejar kebutuhan pribadi, para pendonor memilih berhenti sejenak, mengantre, menjalani pemeriksaan, dan memberikan darahnya untuk orang lain. Pengorbanan mereka sederhana, tetapi memiliki nilai kemanusiaan yang besar.

Dari kegiatan ini saya sebagai warga melihat bahwa Bandung bukan hanya dibangun oleh jalan, gedung, dan aktivitas ekonomi. Bandung juga hidup oleh warga yang mau peduli.

Dari setetes darah, ada harapan. Dari serambi masjid, ada pesan kemanusiaan. Dan dari kegiatan sederhana ini, kita belajar bahwa bertahan di kota tidak cukup hanya dengan bekerja, tetapi juga dengan saling menguatkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Uwes Fatoni
Tentang Uwes Fatoni
Dosen dan peneliti kajian komunikasi di UIN SGD Bandung. Traveler pengagum keindahan dan keunikan Indonesia.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)