Di Serambi Masjid, Warga Bandung Belajar Arti Berkorban Melalui Donor Darah

6 menit baca
Uwes Fatoni
Ditulis oleh Uwes Fatoni diterbitkan
 Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)
Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)

Memasuki pelataran Masjid Baitul Mu’min Jatiendah Cilengkrang Bandung pada Ahad pagi, 17 Mei 2026, saya tertegun melihat satu momen sederhana tetapi terasa sangat membekas: warga berbondong-bondong datang ke selasar Masjid bukan untuk beribadah ritual, tetapi melakukan bakti kemanusiaan, mendonorkan darah. Di serambi masjid itu, saya melihat bentuk pengorbanan yang terasa sunyi, tidak ramai dibicarakan, tetapi sangat berarti bagi kehidupan sesama manusia.

Di tengah kehidupan kota yang sering membuat orang sibuk dengan urusannya masing-masing, masih ada warga yang menyempatkan diri datang, antre, diperiksa kesehatannya, lalu menyumbangkan darahnya untuk orang yang bahkan mungkin tidak mereka kenal.

Tidak ada jamaah yang tahu darah yang didonorkannya akan disumbangkan kepada siapa, sukunya apa, agamanya apa, orang baik atau orang jahat. Satu niat yang dicanangkan dalam hari mereka ketika mendonorkan darahnya: ikhlas menyumbangkan darah bagi orang yang membutuhkan. Biar PMI yang menentukan setelah darah diserahkan, lebih lanjut akan diberikan kepada siapa.

Dalam ajaran Islam, aksi kemanusiaan seperti donor darah ini dapat dilihat melalui konsep hifz al-nafs dalam konsep Maqashid Syariah. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali hifz al-nafs berarti menjaga jiwa manusia. Nilai ini menegaskan bahwa menolong sesama tidak dibatasi oleh agama, asal-usul, atau status sosial. Setiap jiwa yang membutuhkan pertolongan memiliki hak untuk dibantu. Karena itu, donor darah menjadi bentuk pengamalan nilai Islam yang universal: menjaga kehidupan dan menghadirkan manfaat bagi siapa pun yang membutuhkan.

Di Ahad pagi itu, suasana Masjid Baitul Mu’min lebih hidup dari biasanya. Area serambi masjid yang biasanya pagi hari lengang dari aktivitas jamaah, berubah menjadi ruang pelayanan donor darah. Kursi antrean, meja pemeriksaan, perlengkapan medis, dan tempat donor disiapkan rapi oleh panitia dari Majelis Ta'lim Baitul Mu'min (MTBM).

Di sisi lain serambi masjid, para petugas dari PMI Kota Bandung juga terlihat sigap melayani peserta. Mereka memeriksa kondisi calon pendonor, mencatat data, mengecek tekanan darah, lalu mendampingi proses pengambilan darah dengan teliti.

Beberapa peserta duduk menunggu giliran. Ada yang memegang formulir, ada yang berbincang dengan jamaah lain, dan ada pula yang tersenyum ketika berinteraksi dengan petugas kesehatan.

Suasana kegiatan nampak tertib tidak terasa seperti pemeriksaan medis formal. Lebih terasa seperti pertemuan keluarga besar jamaah masjid yang sedang bekerja bersama untuk satu tujuan: membantu sesama.

Para pendonor yang memenuhi syarat kemudian berbaring di kursi donor. Petugas medis memasang alat dengan hati-hati dan memastikan peserta tetap nyaman selama proses berlangsung.

Di titik itulah saya melihat makna pengorbanan secara nyata. Para pendonor tidak datang untuk menerima sesuatu. Mereka datang untuk memberikan sebagian kecil dari dirinya agar orang lain memiliki harapan untuk sembuh.

Tindakan seperti ini bisa dibaca dari kacamata teori altruism dari C. Daniel Batson, seorang ahli psikologi sosial. Batson menjelaskan bahwa seseorang dapat menolong orang lain karena dorongan empati, bukan karena ingin mendapat imbalan langsung. Ketika seseorang mampu membayangkan penderitaan orang lain, muncul kepedulian yang mendorongnya untuk bertindak.

Donor darah menjadi contoh nyata dari empati itu. Para pendonor tidak tahu siapa penerima darahnya, tidak mengenal latar belakangnya, bahkan mungkin tidak akan pernah bertemu. Namun, mereka tetap memberi karena menyadari ada manusia lain yang sedang membutuhkan pertolongan.

Kegiatan ini diikuti oleh 96 pendaftar. Setelah melalui pemeriksaan kesehatan, sebanyak 84 labu kantong darah berhasil terkumpul. Sementara itu, 12 orang belum dapat mendonorkan darah karena tidak memenuhi persyaratan kesehatan pada saat pemeriksaan.

Ketua Majelis Taklim Baitul Mu’min, Leni Tresnawati, ketika saya wawancara di sela-sela acara menyampaikan bahwa kegiatan donor darah ini menjadi bentuk kepedulian jamaah terhadap kebutuhan kemanusiaan. Menurutnya, majelis taklim tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga perlu hadir dalam aksi sosial yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Alhamdulillah, kegiatan Bakti Sosial Donor Darah Majelis Taklim Baitul Mu’min bekerja sama dengan PMI Kota Bandung berjalan lancar. Kami bersyukur karena jamaah dan warga sangat antusias. Setetes darah yang disumbangkan para pendonor sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Leni Tresnawati.

Leni menjelaskan bahwa sebelum kegiatan berlangsung, panitia telah menyampaikan persyaratan donor. Calon pendonor harus berusia 17 sampai 65 tahun, memiliki tekanan darah normal, tidak sedang mengonsumsi obat-obatan atau antibiotik tiga hari sebelum donor, serta beristirahat cukup sehari sebelumnya.

Bagi pendonor perempuan, panitia mengingatkan agar tidak sedang haid, hamil, atau menyusui. Peserta juga diminta membawa KTP, SIM, atau kartu identitas lain.

Syarat-syarat itu menunjukkan bahwa donor darah bukan hanya soal niat baik. Ada proses yang harus dilalui agar pendonor tetap aman dan darah yang diberikan layak digunakan untuk membantu pasien. Sebuah bentuk ibadah hablum minan naas, hubungan sesama manusia, yang tidak bisa dibantah kebermanfaatannya.

Surat dari PMI ucapan terima kasih untuk KDD Masjid Baitul Mu'min (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)
Surat dari PMI ucapan terima kasih untuk KDD Masjid Baitul Mu'min (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)

Selesai acara PMI Kota Bandung menyampaikan melalui surat resmi yang ditandatangani Ketua PMI Kota Bandung, Ade Koesjanto, memberikan apresiasi kepada Keluarga Donor Darah (KDD) di lingkungan Masjid Baitul Mu’min. PMI Kota Bandung ungkapnya mengucapkan terima kasih kepada pengurus KDD dan seluruh peserta donor yang telah berperan aktif dalam kegiatan tersebut.

PMI Kota Bandung mencatat bahwa donasi darah yang berhasil terkumpul mencapai 84 labu darah, sedangkan jumlah calon pendonor yang ditolak sebanyak 12 orang. dan

“Atas nama mereka yang telah tertolong dan terselamatkan jiwanya, kami menyampaikan terima kasih kepada para pendonor. Tuhan Yang Maha Kuasa mengetahui niat baik Bapak, Ibu, dan Saudara, dan semoga membalas semua kebaikan tersebut,” ungkapnya.

Kepala Unit Donor Darah PMI Kota Bandung, Dr. Hj. Uke Muktimanah, MH.Kes., juga berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut. Menurutnya, kegiatan donor darah berbasis komunitas sangat penting karena kebutuhan darah di masyarakat selalu ada setiap hari.

“Kami berharap pada masa yang akan datang kegiatan donor darah ini tetap terjalin dengan baik. PMI Kota Bandung menunggu informasi kegiatan donor darah selanjutnya,” ujar Dr. Hj. Uke Muktimanah, MH.Kes.

Bagi saya sebagai warga Bandung, kegiatan ini memberi pelajaran sederhana. Hidup di kota besar sering kali menguji kesabaran: antre, bekerja, mengejar waktu, dan menghadapi kesibukan yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun, di tengah semua itu, warga masih bisa memilih untuk berhenti sejenak dan melakukan sesuatu bagi orang lain.

Di serambi Masjid Baitul Mu’min, pengorbanan tersebut memang tidak terlihat besar. Ia hadir dalam bentuk waktu yang diluangkan, kesabaran menunggu giliran, dan keikhlasan memberi darah bagi orang yang membutuhkan.

Donor darah bukan hanya tindakan medis, tetapi juga tindakan sosial yang menunjukkan bahwa manusia dapat melampaui kepentingan dirinya sendiri. Di tengah kehidupan kota yang sering membuat orang sibuk mengejar kebutuhan pribadi, para pendonor memilih berhenti sejenak, mengantre, menjalani pemeriksaan, dan memberikan darahnya untuk orang lain. Pengorbanan mereka sederhana, tetapi memiliki nilai kemanusiaan yang besar.

Dari kegiatan ini saya sebagai warga melihat bahwa Bandung bukan hanya dibangun oleh jalan, gedung, dan aktivitas ekonomi. Bandung juga hidup oleh warga yang mau peduli.

Dari setetes darah, ada harapan. Dari serambi masjid, ada pesan kemanusiaan. Dan dari kegiatan sederhana ini, kita belajar bahwa bertahan di kota tidak cukup hanya dengan bekerja, tetapi juga dengan saling menguatkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Uwes Fatoni
Tentang Uwes Fatoni
Dosen dan peneliti kajian komunikasi di UIN SGD Bandung. Traveler pengagum keindahan dan keunikan Indonesia.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)